Welcoming Indantia.id

Memiliki media sendiri sudah menjadi impian saya sejak dulu. Impian saya ini berawal dari kegemaran saya, yakni membaca, yang membuat saya berpikir suatu saat kelak saya akan membuat sesuatu yang akan dibaca semua orang. Tentu tidak ada (atau mungkin belum ada?) motif politis atau mencari keuntungan ekonomi dari keinginan saya tersebut.

Saya memulai mendirikan media sendiri sejak kelas 8. Wih, muda amat? Iya, karena tugas sekolah. Jadi ceritanya dulu kami sekelas ditugaskan untuk berjualan sendiri-sendiri. Ketika teman-teman saya menjual makanan, pernak-pernik, atau sekadar kertas binder, saya mencoba peruntungan dengan cara saya sendiri: jualan majalah.

Majalahnya sederhana (kalau tidak mau dibilang jelek), hanya beberapa lembar kertas HVS yang dilipat dan kemudian disteples. Layout-nya saya buat dengan menggunakan penggaris seadanya, dan beritanya saya tulis tangan. Akses saya untuk mendapat berita masih terbatas saat itu. Keluarga saya tidak berlangganan koran, dan di rumah kami saat itu belum ada instalasi internet. Akhirnya saya membeli sebuah majalah yang terbit sebulan sekali. Beritanya mungkin tidak terlalu aktual, tapi cukup layak untuk dimasukkan lagi di dalam majalah saya.

Layout sederhana, dilengkapi berita yang ditulis tangan apa adanya, akhirnya membuat saya memutuskan satu nama untuk dijadikan nama majalah saya, yang nama itu masih saya ingat sampai sekarang: AcakAdutz Media.

Yang saya ingat, saya membuat enam eksemplar majalah dan terjual lima. Satu dibeli oleh guru (yang mungkin kasihan dengan saya), dan sisanya dibeli oleh teman-teman saya (setelah saya paksa). Senang? Jelas senang.

Menginjak bangku SMA, saya mengenal yang namanya blog. Saat itu platform blog yang saya gunakan adalah blogspot. Platform inilah yang saya gunakan sebagai media menulis hingga kuliah. Tercatat saya menelurkan beberapa blog yang hingga kini masih eksis dengan ribuan visitor setiap harinya meski sudah tidak di-update hampir lima tahun.

Ketika kuliah saya memutuskan menggunakan wordpress yang sekarang sedang kamu baca. Alasannya? Karena bosan dengan blogspot. Udah.

Dan setelah sekitar tiga tahun menggunakan platform blog dengan embel-embel .wordpress.com di domainnya, akhirnya saya memutuskan hijrah. Saya hijrah dari media wordpress menuju media milik saya sendiri.

Indantia.id

Saya harap, dengan kepindahan ke media tersebut, saya bisa lebih bebas dalam menulis dan berekspresi. Mengingat, domainnya tidak gratis, sayang kalau disia-siakan. Haha.

Semoga bermanfaat. Sampai berjumpa lagi di Indantia.id

Ditulis dengan tidak niat karena lapar menjelang makan siang
22/11/2017

Advertisements

SN vs KPK dan Rumitnya Hubungan Kita

Aku pusing melihat sikapmu yang dingin, netizen pusing pantengin kasus Pak SN.

Kamu tahu Pak SN kan? Itu loh, ketua dewan yang terhormat itu. Tahu nggak sih kenapa kok gara-gara beliau negara jadi heboh banget sekarang-sekarang ini? Padahal, kasus-kasusnya sebenarnya sudah mulai dari dulu loh. Emang sih kasusnya dimulai bahkan sebelum aku mengenal kamu, tapi percayalah, gaduhnya sama. Yang satu bikin gaduh satu negeri, yang satu bikin gaduh di hati.

Aku nggak bakal cerita soal kasus-kasus Pak SN kok, udah terlalu jauh. Kan katanya itu tinggal masa lalu, nggak usahlah dibicarain lagi. Kayak kamu yang nggak mau membicarakan cowok cemceman kamu zaman SMA dulu itu. Bukan karena masih ada rasa kan ya? Hemm…

Kita mulai dari yang akhir-akhir ini aja ya, mundur beberapa minggu dari chat terakhir kita.

Awalnya Pak SN, si ketua dewan yang terhormat itu, ‘hanya’ mangkir dari panggilan KPK saat ditetapkan jadi saksi hingga tersangka. Panggilan-panggilan KPK mungkin dianggap angin lalu olehnya, persis kamu yang tak pernah mengacuhkan pesan-pesanku. Maklum, beliau kan orang penting, sama kayak kamu kan?

Pesan-pesanku nggak seheboh KPK pas manggil SN sih. Nggak semegah konferensi pers-nya KPK yang ramai dengan wartawan, pesan-pesanku ke kamu cuma sesungging senyum kalau kita lagi papasan aja. Garing ya? Aku kan nggak mau mencintaimu dengan heboh. Aku ingin kayak Sapardi Djoko Damono yang mencintai dengan sederhana. Semoga kamu paham.

Continue reading SN vs KPK dan Rumitnya Hubungan Kita

Instagram dan Kesehatan Mental Orang yang Sedang Jatuh Cinta

Menurut saya, yang paling sulit dilakukan seseorang ketika sedang jatuh cinta adalah menahan rasa peduli kepada siapa yang ia cintai. Itu bahasa puitisnya. Bahasa mudahnya, sulit untuk nggak kepo.

Masa’ iya sih kamu tahan untuk nggak kepoin si doi? Kalau kamu tahan, nggak mungkin dong ada momen ketika kamu tiba-tiba nggak sengaja nge-like foto doi di Instagram pas lagi asik nge-scroll lucu. Udah gitu, kamu langsung berkilah, “eh sori kepencet hehe

Masa’ iya sih kamu tahan untuk nggak buka IG story dia? Nggak pengen tahu tuh dia lagi ngapain? Nggak pengen tau dia lagi sama siapa dan di mana? Emang kamu nggak pengen tahu kabarnya?

Kalau memang nggak ada story dari dia, nggak pengen buka story temen-temennya? Kali aja ada dia nongol-nongol cantik. Dengan begitu kamu bisa tahu kalau dia baik-baik saja tanpa perlu kamu tanya langsung kan?

Atau, kalau kamu memang sedemikian cemas dengan kabarnya, cobalah kamu buat satu story. Story apapun itu, nggak apa-apa meski story-nya nggak penting. Yang penting, dengan kamu posting story itu, kamu nanti bisa lihat kan siapa aja orang yang sudah (terjebak) melihat story kamu. Mungkin nanti ada nama dia dalam list mereka yang lihat story kamu. Dengan begitu kamu tahu, ternyata dalam 1×24 jam, dia masih baik-baik saja. Tuh buktinya dia rela buka story kamu.

Kalau setelah 24 jam nggak ada nama dia, kamu sudah harus bertanya pada dirimu sendiri, “ke mana saja dia selama 24 jam, kok dia nggak ngeliat story aku?

Kids jaman now kan dah pada pegang hp nih, masa’ iya dia nggak pegang hp selama 24 jam?

Kalau dia pegang hp, masa’ iya selama 24 jam dia pegang hp itu dia nggak ngeliat Instagram? Secara gitu loh, Instagram kan salah satu media sosial yang paling sering dibuka. Kalau dia ngeliat hp tapi nggak ngeliat Instagram, terus dia ngapain aja? Main sudoku?

Continue reading Instagram dan Kesehatan Mental Orang yang Sedang Jatuh Cinta

That Awkward Moment When…

Satu hal yang tidak mudah untuk seorang laki-laki jelaskan kepada orang tuanya, selain alasan memilih seorang perempuan untuk dijadikan istri, adalah alasan mengapa tiba-tiba ia mandi sebelum subuh.

Ya, jika kamu laki-laki single dan normal yang masih tinggal dengan orang tuanya, momen ini adalah momen yang kurang mengenakkan.

Ayah:Loh, Gin, kok tumben banget mandi subuh-subuh gini?”
Gua:Ya…pengen aja…
Ayah: “….”
Gua: “….”
Ayah: “Yaudah sana buruan pake baju. Masuk angin nanti kalo cuma handukan gitu”

Laki-laki macam apa yang tiba-tiba mandi jam setengah 4 pagi cuma karena pengen aja?

Udah Sipit, Cingkrang Pula

Saya tidak bisa bohong, kalau sepersekian darah di dalam tubuh saya mengalir darah Tionghoa. Dan saya juga tidak mengelak, bahwa dalam berkeyakinan sebagai seorang muslim, saya memegang prinsip bahwa memakai celana di atas mata kaki merupakan salah satu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

Saya sipit, dan celana saya cingkrang. Masalah?

Tidak masalah sebenarnya, kecuali kalau kamu tinggal di lingkungan yang mudah men-judge orang lain dengan berbagai stereotype. Bayangkan kalau anda menjadi saya yang tinggal di lingkungan yang gampang menjatuhkan vonis hanya karena penampilan luar saja.

Udah mah sipit, cingkrang pula. Udah non pribumi, wahabi lagi. Udah cina kafir, tambah lagi salafi sesat.

Continue reading Udah Sipit, Cingkrang Pula

Shalat Subuh Di Meikarta

Salah satu kebiasaan buruk saya yang ingin saya hentikan adalah terlambat shalat subuh. Tolong Jangan salah paham. Yang ingin saya hentikan itu terlambatnya loh ya, bukan shalat subuhnya. Saking terlambatnya, kadang saya dikira sedang shalat dhuha. Tapi tenang, ngga pernah nyampe dikira shalat qabliah zhuhur kok.

Mengenai alasan saya terlambat shalat subuh, apalagi kalau bukan karena terlambat bangun. Beberapa alibi yang saya gunakan sebagai pembenaran keterlambatan saya diantaranya,

Yang pertama, tidur larut malam

Bukan karena saya ingin tidur larut malam. Saya termasuk orang yang mencintai tidur. Sayangnya, rutinitas kadang memaksa saya untuk menghabiskan waktu yang sedianya saya pakai untuk tidur malah dipakai untuk hal lain. Kerja misalnya. Jarak rumah ke kantor yang lumayan jauh mengakibatkan saya lelah duluan di jalan. Sampai di rumah, bukannya langsung tidur, eh malah galau mikirin kamu. Jadi makin nggak bisa tidur kan.

Yang kedua, azan subuh yang tidak terdengar

Dasar anak milennials yang tidak ingin disalahkan. Diri sendiri yang tidak terbangun, malah speaker masjid yang disalahkan. Coba kalau speaker masjidnya gahar meraung, garang merobek cakrawala, saya tidak perlu memakai alarm yang tidak berguna itu. Kalau alarm kan bisa langsung refleks saya matikan, kalau dengar dari speaker azan kan masa’ saya matikan muazinnya.

Continue reading Shalat Subuh Di Meikarta