Yang Lebih Besar Dosanya Dari Pencuri

Alkisah hiduplah seorang laki-laki biasa bernama si A. Nah, si A itu penumpang setia KRL commuter line seperti saya. Suatu hari si A ini kecopetan di Stasiun Manggarai. Pengalaman itu tentu jadi salah satu pengalaman terburuk dan meninggalkan kesan traumatis baginya.

Sejak saat itu si A selalu berburuk sangka (su’uzhon) kepada setiap orang asing yang ia temui di stasiun. Lihat orang menunggu di peron 5, dikira copet Tanah Abang. Lihat orang nangkring di peron 8, dikira copet Pasar Minggu. Lihat orang jongkok di peron 4, wah pasti copet yang mau kabur ke Bekasi tuh!

Sampai-sampai petugas stasiun dia kira sebagai copet yang menyamar. Pas abang petugasnya menghalangi si A menyeberang dari peron 5 ke peron 4, si A malah panik dikira abangnya mau ngapa-ngapain, padahal cuma biar si A nggak ditabrak aja.

Sejak saat itu, si A memvonis mereka-mereka yang berada di Stasiun Manggarai adalah pencopet. Kalau pun saat itu bukan copet, maka mereka adalah pencopet pada waktunya.

Kondisi inilah yang sesuai seperti yang dibilangin Ibnu Mas’ud, tentang orang yang jadi korban pencurian tapi malah dosanya lebih besar daripada pencurinya.

Orang yang dicuri terus menerus berburuk sangka, hingga dosanya pun lebih besar daripada pencuri.[1]

Nah, jangan-jangan kondisinya mirip tuh kayak kondisi akhir-akhir ini.

Ada ibu-ibu bikin cerita ngibul, terus akhirnya ribut satu negara. Eh, terus akhirnya dia mengaku deh kalau ceritanya bohongan. Akhirnya sejak saat itu si ibu-ibu di-bully habis-habisan. Kasihannya bukan cuma ibu itu aja, sampai anak dan menantunya juga ikut kena jadi bahan meme.

Lucu sih sebenarnya kalo dilihat-lihat, candaannya kocak-kocak (saya ngga mau bohong, saya sering ketawa sendiri gara-gara ini. Kalau bohong takut jadi bukan #GolonganKami).

Tapi kan…apa nanti nggak khawatir kalau…Orang yang dibohongi lebih besar dosanya dari si pembohong itu sendiri?

__________

[1] HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad 1289

 

Menjelang tengah malam di Stasiun Manggarai
5/10/2018

Advertisements

#2019gantipresiden

Pemilihan presiden masih tahun depan, tapi hawa panasnya sudah menyeruak dari sekarang. Media sosial sudah mulai tidak menyenangkan, netizen sudah terpolarisasi ke dua kutub -hal yang tidak berubah sejak 2014 lalu. Yang satu mendukung Jokowi, dan yang satu lagi entah mendukung siapa (karena masih belum jelas arahnya). Tapi yang jelas, kubu yang disebut terakhir memiliki satu semangat yang sama: asal bukan Jokowi. Hashtag #2019gantipresiden menjadi buktinya.

Tanyakan kepada mereka yang semangat membuat #2019gantipresiden jadi viral, siapa yang seharusnya jadi presiden? Saya yakin belum ada jawaban seragam dari mereka. Karena memang intinya ya ganti Jokowi, ganti dengan siapanya masih urusan belakangan. Beberapa nama sudah santer terdengar. Prabowo, TGB, AHY, dan Gatot Nurmantyo adalah beberapa nama yang banyak muncul di polling bursa capres 2019. Namun belum ada yang tahu siapa pastinya yang akan menjadi rival Jokowi di pilpres mendatang.

Bukan Pendukung Bukan Hater

Hal yang pertama kali harus saya luruskan dalam tulisan ini adalah saya bukan pendukung Jokowi. Ada banyak hal yang membuat saya kecewa dengan pemerintahan Jokowi. Salah satunya e-Government yang dulu saat masa kampanye katanya 2 minggu selesai, namun hingga saat ini belum ada bentuk riilnya. Saya sebagai seorang programmer merasa terhina karena statement Jokowi tersebut turut menyeret pekerjaan saya dalam janji politik yang ternyata tidak ia tepati.

Apakah kekecewaan saya tersebut membuat saya menjadi hater-nya Jokowi? Tentu tidak. Seberat apapun kekecewaan saya kepada Jokowi, saya masih lebih kecewa dengan diri saya sendiri. Saya dulu pernah bertekad ingin terus shalat lima waktu berjama’ah di masjid, namun hingga kini tekad saya bagai pepesan kosong. Hanya tekad yang tidak disertai realisasi. Persis janji Jokowi. Saya juga sejak lulus kuliah bertekad untuk bisa hidup dengan biaya sendiri, tidak lagi disokong oleh orang tua. Tapi sayang pada kenyataannya, saya masih harus meminjam uang orang tua. Niatnya berdikari tapi rupanya tetap saja menambah hutang. Persis janji Jokowi.

Pemimpin Cerminan Rakyat

Ada pameo yang mengatakan bahwa pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Melihat diri saya sendiri yang masih saja demikian, maka tidak heran saya memiliki presiden seperti Jokowi.

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al An’aam: 129)

Jadi kalau mungkin anda menganggap Jokowi adalah pemimpin zhalim yang layak diganti, maka apa tidak sebaiknya anda berkata juga? Mungkin anda sendiri adalah orang yang banyak melakukan kezhaliman pada diri dan orang lain.

#2019gantipresiden Adalah Solusi?

Kenapa sebagian dari kita sedemikian bernafsu mengganti presiden daripada sibuk memperbaiki keadaan dirinya? Seolah yakin, bahwa dengan mengganti presiden yang saat ini berkuasa, kelak negeri ini akan menjadi lebih baik. Saya bukan sedang membela presiden saat ini, tapi memang ada yang tahu pasti?

Ngomong-ngomong, tulisan di bawah yang saya kutip dari status Facebook seseorang mungkin bisa dijadikan bahan renungan,

Ibnu Umar pernah mengatakan:

“Aku tidak ingin ini menjadi kebiasaan dalam Islam, setiap mereka tidak suka dengan penguasanya, mereka melengserkannya”

[Fadhailush Shahabah, 1/473, no 767, dengan sanad shahih]

Jika Anda berdoa kepada Allah, maka mintalah pemimpin terbaik. Jika memang pemimpin yang lama lebih baik, maka semoga ia tetap memimpin. Jika yang terbaik adalah yang baru, maka semoga Allah ganti pemimpinnya.

Karena tidak selalu pemimpin yang buruk, penggantinya pasti lebih baik. Bisa jadi lebih buruk, kita tidak tahu. Sedangkan Allah Maha Mengetahui yang terbaik.

Tapi kalau Anda yakin sekali tanpa ragu bahwa pasti pemimpin selanjutnya akan lebih baik, ya silakan saja.

Jangan sampai karena ketidaksukaan kita kepada seseorang membuat kita lupa satu hal: berdoa, meminta yang terbaik kepada Allah ‘azza wa jalla.

Semoga Allah memperbaiki keadaaan kita dan para pemimpin kita, dan semoga Dia memberikan pemimpin yang terbaik.

Bogor, di bawah hujan menjelang maghrib
15/4/2018

Andai Dilan Orang Wakanda

Tahukah kamu, selain mewariskan hutang dan sistem hukum di Indonesia, penjajahan Belanda juga mewariskan standar good looking kepada masyarakat kita. Kulit putih misalnya, menjadi standar umum untuk menilai apakah seseorang dapat dikatakan tampan atau cantik. Terdengar rasis memang, tapi maaf, yang kulitnya lebih gelap mohon sadar diri, masyarakat Indonesia mungkin butuh waktu lebih untuk ikhlas menyebut anda tampan/cantik. Sementara untuk anda yang beruntung mewarisi kulit putih, apalagi kalau ditambah hidung mancung dan tinggi badan di atas rata-rata, selamat. Setidaknya separuh masalah hidup anda sudah selesai dengan sendirinya. Karena percaya atau tidak, fisik yang menarik bisa menyelesaikan banyak masalah dalam hidup. Dan film Dilan sudah membuktikannya, setidaknya pada saya.

Dulu saya kenal seseorang yang pernah mengejar wanita dambaannya lebih keras daripada Dilan mengejar Milea. Gombalan mautnya pun sebelas-dua belas dengan Dilan, bahkan menurut saya revolusioner di generasi seumurannya. Masih belum ada tuh gombalan macam “bapak kamu supir angkot ya?” atau semacamnya. Tingkat kepedeannya? Jangan ditanya.

Di kelas.

Duh, gua ga bawa pulpen nih. Ada pulpen ga?”

“Ada. Nih.”

“Yah, gua ga ada kertas juga. Bagi kertas dong”

“Nih.”

“Gua juga ga punya alamat rumah lu nih. Bisa tulisin ga?”

Dan sekelas pun gaduh.

Padahal zaman dulu belum ada gombalan ‘kalau mau serius, langsung datangi rumahnya‘ ala akhi ukhti galau kekinian. Dalam konteks ini, ia sudah melampaui tren di zamannya. Namun sayang, semua kata dan usaha yang ia berikan berakhir sia-sia. Pasalnya, daripada disebut mirip bangsa Eropa, ciri-ciri fisiknya lebih dekat dengan bangsa Dravida. Dan kita tahu bersama bahwa ciri fisik bangsa Dravida tidak memiliki banyak tempat lagi di hati masyarakat kita.

Sungguh berbeda dengan tokoh Dilan yang fisik aktornya memenuhi standar good looking. Kaum hawa seakan rela menunggu setiap huruf, setiap kata, dan setiap tanda baca yang keluar dari lisan Dilan. Mereka rela menunggu hingga titik terakhir kata-kata manisnya untuk membawa perasaan tinggi melayang. Sedangkan untuk teman saya? Ia bahkan tidak pernah menyelesaikan gombalannya dengan sempurna. Kekurangan fisiknya menjadikan kaum hawa kehilangan minat mendengar bujuk rayunya.

Wajar kalau muncul selorohan ‘untung Dilannya ganteng. Kalo Dilannya jelek sih najis!

Andai, andai Dilan adalah orang Wakanda yang fisiknya jauh dari standar good looking yang berlaku, masihkah ia tetap didengar? Bisakah ia mendapatkan hati Milea di tengah masyarakat yang -sedikit banyak- masih rasis ini? Lupakan soal hadiah TTS yang sudah diisi Dilan agar Milea tidak perlu mikir untuk mengisinya lagi. Toh, sekeping vibranium sudah cukup membuat Milea tidak perlu bekerja lagi seumur hidupnya. Milea juga tidak perlu khawatir ada yang menyakitinya. Orang Wakanda sudah ribuan tahun menyembunyikan keberadaan teknologinya, menghilangkan keberadaan satu orang yang menyakiti Milea bukan soal sulit tentunya. Rindu? Berat? Orang Wakanda bahkan bisa melepas rindu dengan orang yang sudah mati, apa susahnya melepas rindu dengan orang yang masih hidup?

Pertanyaannya, apakah Milea bisa mencintai Dilan dengan logika masyarakat umum? Apakah Milea akan mencintai Dilan yang orang Wakanda, ataukah ia akan mengikuti langkah Raisa yang lebih memilih Hamish Daud daripada Kamga?

Saya tidak berharap banyak Milea akan mencintai Dilan. Saya paham, konsekuensi mencintai Dilan amat berat. Saya ragu Milea bisa mengenalkan Dilan sebagai pacarnya yang datang dari Wakanda, negara dunia ketiga, kepada teman-temannya. Ia akan melawan opini umum masyarakat kita, yang artinya ia akan menjadi bahan julitan orang-orang. Selain itu, Milea bisa jadi akan ilfil kalau melihat ekspresi cinta Dilan kepadanya.

“M’ilea forever!”

Dan Dilan tidak akan pernah lagi sama.

BSD, waktu dhuha
7/3/2018

Semua Unek-unek Soal Nyinyiran Netizen, Peraturan Baru, dan Aksi #KartuKuningJokowi

“Sudah saatnya lidah netizen lebih kita takuti daripada lidah mertua.”

Sebelumnya saya minta maaf kepada para pembaca setia blog ini (yang saya juga ragu ada atau tidaknya mereka) kalau beberapa postingan terakhir blog ini keluar dari garis perjuangannya sebagai blog nyinyir dan julit-in orang-orang. Sudah saatnya Indantia.id kembali ke khittah awalnya: nyinyir. Dan dalam tulisan ini, izinkan saya menyinyiri kaum-kaum paling nyinyir sejagad. Siapa lagi kalau bukan netizen kita (yang ironisnya saya juga jadi bagian di dalamnya)?

Tajamnya Lidah Netizen dan Hal-hal Baru di Pemerintah Kita

Tajamnya lidah netizen kita dalam menyinyiri orang sudah tidak perlu diragukan lagi. Saking tajamnya, salah satu politikus kita sampai-sampai mengusulkan agar pembuatan akun media sosial harus berdasarkan e-ktp. Kalau usulan ini ditindaklanjuti, siap-siap netizen kita kehilangan perisai anonimitasnya yang selama ini digunakan untuk menyinyiri orang lain.

Ohiya, sudah pada tahu belum kalau anggota dewan kita baru mengesahkan revisi UU MD3 yang salah satu pasalnya bisa memperkarakan orang-orang yang merendahkan kehormatan anggota dewan? Nah loh, selain orang-orang yang demo di depan gedung DPR, siapa lagi yang bisa merendahkan kehormatan anggota dewan selain netizen? Siap-siap netizen, nyinyiran kalian ke DPR akan dikriminalisasi.

Memang, dua hal yang disebut di atas tidak berhubungan langsung dengan nyinyiran netizen. Usulan pembuatan akun medsos dengan e-ktp lebih disebabkan karena banyaknya berita hoaks dan ujaran kebencian di media sosial. Begitu pun revisi UU MD3 yang memang tidak ada hubungan langsung dengan nyinyiran netizen. Namun yang perlu diperhatikan, lahirnya revisi UU dan usulan peraturan baru tersebut saya kira tidak lepas dari gaduhnya netizen kita berkoar dan bersuara di bilik media virtualnya. Baik lewat status di media sosial, atau tulisan-tulisan di blog, netizen kita seakan tidak pernah kehabisan ide untuk menyinyiri atau mengkritisi siapapun yang berseberangan atau dirasa tidak sreg dengan mereka, tidak terkecuali pemerintah dan anggota dewan.

Mulai dari cemoohan ke akun Twitter resmi DPR RI sampai meme-meme Setya Novanto memberi gambaran betapa gagahnya netizen kita merundung wakilnya yang duduk di kursi parlemen. Mereka seakan tidak takut dicyduk karena komentar-komentar pedas yang mereka layangkan. Mungkin karena netizen lebih takut tercyduk Deddy Corbuzier kali ya daripada dicyduk anggota DPR.

Tapi ingat netizen sejawat, UU MD3 yang baru sudah disahkan loh. Belum lagi kalau usulan pasal penghinaan presiden jadi disahkan, pemerintah baik eksekutif maupun legislatif haram kau nyinyiri karena nyinyiranmu itu bisa dikriminalisasi.

Nyinyiran Netizen, Zaadit, dan #KartuKuningJokowi

Saya ucapkan selamat kepada pemerintah kita yang sudah mengamankan posisi mereka dari tembakan nyinyiran para netizen. Sayangnya, belum ada UU atau peraturan khusus yang mampu melindungi warga biasa dari kebiadaban netizen kita. Contoh kasus kebiadaban netizen yang saya angkat dalam tulisan ini adalah kasus nyinyiran netizen kepada aksi #KartuKuningJokowi yang viralnya sempat saingan sama berbagai macam video parodi Dilan.

Yang perlu diketahui (dari yang saya ketahui), aksi #KartuKuningJokowi adalah aksi yang dilakukan oleh seorang dedek emesh bernama Zaadit Taqwa, Ketua BEM UI, yang ujug-ujug meniup peluit dan mengangkat buku kuning ketika Presiden Jokowi baru saja berpidato di acara Dies Natalis UI. Ada tiga isu yang diangkat dalam aksi ini, yaitu soal KLB Asmat, campur tangan perwira aktif dalam urusan sipil yang dikhawatirkan membangkitkan dwifungsi ABRI, dan draf peraturan baru mengenai organisasi mahasiswa (ormawa). Tiga isu ini tidak lahir dari otak Dek Zaadit sendirian, melainkan hasil dari kajian yang dilakukan dedek-dedek di BEM UI.

Sampai sini paham?

Baik. Saya kira lahirnya pro-kontra soal aksi Dek Zaadit ini wajar. Munculnya adu argumen sampai bisa membuat Dek Zaadit dan dedek-dedek ketua BEM yang lain masuk Mata Najwa juga biasa. Yang tidak wajar dan tidak biasa adalah nyinyiran netizennya.

Saya bisa bayangkan, hasil kajian yang sudah digodok oleh teman-teman BEM UI, yang sudah lewat pembahasan panjang, yang disuarakan oleh Dek Zaadit itu, langsung dipatahkan oleh nyinyiran netizen yang entah muncul dari mana, yang identitasnya tidak jelas pula. Yang lebih membuat saya tepok jidat lagi, nyinyiran netizen tidak memperhatikan substansi dari tiga isu yang disuarakan Dek Zaadit. Udah mah yang diangkat ada tiga isu, tapi nyinyirannya cuma soal Asmat.

Kadang netizen kurang cerdas dalam melihat isu. Netizen kita lebih cerdas dalam membunuh karakter 🙂

Dear netizens, coba kalau mau nyinyir lihat masalahnya secara keseluruhan. Bukan cuma soal Asmat, ada juga soal terlibatnya perwira aktif di ranah sipil, juga soal peraturan baru tentang ormawa. Jangan hanya karena Zaadit tidak berangkat ke Asmat kalian jadi lupa soal dua isu lainnya. Kalau sampai ada kejadian dipopor senjata kayak zaman orba baru deh tahu rasa.

Baik, silakan nyinyir soal Zaadit yang ternyata omdo karena tidak ikut ke Papua. Kalian berhak nyinyir soal itu. Saya juga mau deh ikutan nyinyir kalau bahasnya itu. Nyinyirlah sepuas-puasnya. Selama Zaadit masih jadi Ketua BEM UI, selama nilai-nilainya masih jeblok, selama badannya masih tambun, selama dia mirip Farhat Abbas, selama dia masih pinjam jas kuning kalau mau konferensi pers, silakan nyinyiri sebiadab-biadabnya.

Nyinyiri saja Zaadit Taqwa, sebelum ia jadi presiden, sebelum ia jadi anggota DPR. Sebab jika ia jadi presiden atau berhasil duduk di parlemen, siap-siap dijerat pasal penghinaan presiden atau kena UU MD3. Jangan-jangan dia screenshot semua nyinyiran kita.

Bogor, waktu dhuha
18/2/2018

____________

Sumber gambar:

-Youtube Cyanide and Happines

-Youtube Deddy Corbuzier

Tokoh Antagonis

Kalau kita membayangkan hidup ini adalah drama, pernahkah kita menunjuk diri sendiri sebagai tokoh antagonisnya? Atau jangan-jangan, kita selalu memposisikan diri sebagai tokoh protagonis dalam seluruh skenario hidup yang kita jalani?

Jika kita menjalani peran sebagai murid, mungkin kita akan memposisikan guru galak sebagai antagonisnya. Jika kita menjalani peran sebagai karyawan, kita memposisikan bos bawel sebagai antagonisnya. Jika kita menjalani peran sebagai orang yang sedang jatuh cinta, maka orang lain yang bersama dengan seseorang yang kita cintai otomatis akan jadi tokoh antagonisnya.

Kenapa kita selalu membutuhkan tokoh antagonis dalam setiap episode hidup kita? Apa karena kita merasa bahwa hidup ini adalah pementasan drama kita sendiri yang jadi tokoh utamanya, sehingga siapa-siapa yang menghalangi kebahagiaan kita, langsung bisa disebut sebagai tokoh antagonis?

Pernahkah berpikir, jangan-jangan selama ini kitalah yang menjadi tokoh antagonisnya? Hanya karena merasa bahwa kitalah tokoh utama, lantas kita lupa bahwa kita pun hadir dalam episode hidup orang lain.

Di dunia ini kita tidak pernah hidup sendiri. Jika populasi manusia saat ini ada enam milyar, artinya ada enam milyar drama, ada enam milyar narasi, ada enam milyar tokoh utama yang berjalan beriringan sekaligus dalam satu waktu. Kita boleh jadi tokoh utama dalam narasi kita sendiri, tapi dalam narasi orang lain? Mungkin kita adalah pemeran pembantu, mungkin juga kita jadi tokoh figuran, dan seringkali, kita memang tidak pernah mendapat peran dari awalnya.

Lantas apa kita berhak memvonis orang lain sebagai tokoh antagonis hanya karena ia menghalangi kebahagiaan kita (yang merasa menjadi) sang tokoh utama? Jangan geer dulu. Bisa jadi sebenarnya kita hanya pemeran pembantu, atau mungkin malah kita yang jadi tokoh antagonisnya. Kita belum tentu tahu definisi bahagia dalam narasi orang lain, kan?

Atau jangan-jangan, kita memang tidak pernah mendapat peran dalam narasi orang lain, yang ironisnya, sudah kita jadikan tokoh utama dalam hidup kita?

Makanya, jangan geer.

Stasiun Manggarai, sambil menunggu KRL terakhir menuju Tanah Abang
13/11/2017

Pertanyaan Terburuk

Dalam suatu sesi di kelas ketika kuliah dulu, dosen saya bertanya kepada seluruh mahasiswa yang ada di ruangan itu,

Pertanyaan terburuk apa yang pernah terlintas di kepala seseorang?

Kelas hening. Jika biasanya pertanyaan dosen kami adalah seputar algoritma pemrograman, atau seputar bagaimana merancang sebuah perangkat lunak dengan baik dan benar, kali ini dosen kami menanyakan tentang pertanyaan terburuk yang ada di kepala seseorang. Kulihat sekeliling, berharap ada satu dua jenius kelas kami yang berani menjawabnya.

Pertanyaan yang nggak logis, Bu,” jawab Si Jenius 1.

Pertanyaan yang nggak logis justru menantang logika kita sendiri,” ujar dosen kami.

Pertanyaan retoris,” kata Si Jenius 2 sambil malu-malu mengacungkan tangannya.

Pertanyaan retoris malah pertanyaan yang bagus, karena adakalanya pertanyaan retoris menyadarkan kita akan banyak hal,” ucap dosen kami sambil melihat belakang kelas, berharap ada jawaban lain muncul dari deretan bangku belakang. Maklum, Si Jenius 1 dan Si Jenius 2 selalu duduk di bangku depan dan bangku tengah. Membosankan sekali kalau hanya deretan depan dan deretan tengah saja yang aktif.

Nanya kunci jawaban, Bu!

Saya tahu, kali ini bukan Si Jenius 3 yang duduk di samping Si Jenius 1 yang menjawab pertanyaan itu, melainkan si Malas no. 34 yang ada di pojok belakang kelas kami. Gelak tawa seketika menyambut jawaban asal Si Malas no. 34.

Loh, nanya kunci jawaban itu justru adalah usaha terbaik seorang murid!” ujar dosen kami yang disambung gelak tawa lebih keras dari sebelumnya.

Setelah tawa seisi kelas mereda, dosen kami akhirnya melanjutkan kata-katanya.

Pertanyaan terburuk itu adalah, pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan. Pertanyaan yang tidak akan pernah mendapatkan jawaban.

Kelas hening, hanya desisan mulut mahasiswa yang berani mengusik.

*****

Keingintahuan adalah fitrah yang tertanam di setiap jiwa seseorang, karena jika tidak ada keingintahuan maka kita tidak memiliki keinginan belajar. Betapa banyak penemuan besar muncul dari rasa keingintahuan seseorang. Isaac Newton yang kejatuhan apel saja bisa menemukan teori gravitasi bumi, itu pasti karena keingintahuannya yang tidak berfaidah besar.

Keingintahuan memicu pertanyaan-pertanyaan, dan pertanyaan-pertanyaan itu menuntut jawaban, dan karena tuntutan akan pencarian jawaban itulah kita menjadi belajar. Kita jadi mencari tahu. Kita jadi bertindak dan bergerak. Dengan begitu, kita berhak mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita.

Lalu bagaimana dengan pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan? Adakah pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan memiliki hak untuk mendapatkan jawaban?

Kadang jawaban itu memang tidak pernah datang. Pertanyaan-pertanyaan yang terpendam itu hanya jadi semacam penyemangat dan pemacu kita dalam mencari jawaban yang kita harapkan, yang sayangnya, tidak pernah kita dapatkan. Kita terus bergerak, kita terus bertindak, tapi kita tidak pernah bertanya. Maka bagaimana bisa jawaban itu datang kalau kita tidak pernah bertanya? Kita hanya bisa menerka, menebak, dan merangkai peristiwa-peristiwa sebagai makna, berharap itu menjadi jawaban atas segala pertanyaan kita. Padahal, kita tidak pernah tahu persis akan jawaban yang sebenarnya.

Dan kadang, sebenarnya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu sudah terpampang jelas di depan mata kita. Sayangnya, seringkali kita sudah terlanjur dibutakan perasaan. Kita lalai mendapatkan jawaban yang sedianya sudah ada, hanya karena kita berharap mendapatkan jawaban lain yang kita inginkan.

Bertanyalah, sebelum tidak pernah mendapatkan jawaban. Bertanyalah, sebelum jawaban itu datang dengan cara yang menyakitkan.

BSD, di bawah naungan Super Blue Blood Moon
yang menjadi penutup Januari 2018