9/1437 H

Malam 2 Ramadhan 1438 H. Saat saya menulis ini, saya sedang berada di kamar saya sendiri, di rumah bersama keluarga, setelah sebelumnya diberi kesempatan untuk berbuka puasa dengan masakan ibu tercinta. Alhamdulillah.

Padahal tepat setahun sebelumnya, 2 Ramadhan 1437 H, saya jauh dari rumah, termenung sendiri di tanah rantau di timur Pulau Jawa. Termenung bukan karena Ramadhan itu harus saya lalui sendiri jauh dari keluarga. Empat tahun sebelumnya pun saat jadi maba, saya sempat merasakan Ramadhan sendiri di Surabaya. Sulit memang ketika segalanya harus dilakukan sendiri saat bulan puasa. Tapi, kesendirian di Ramadhan 1437 H bukan hanya karena jauh dari orang tua. Lebih dari itu, saya harus menyelesaikan amanah yang mereka berikan kepada saya. Saya harus segera meraih gelar sarjana.

Nah, jadi tahu kan saya termenung karena apa? Saya duduk termenung di hadapan layar PC, berjibaku dengan peliknya urusan TA.

Lab NCC Sahur Squad

Ramadhan 1437 H dalam hidup saya adalah episode Ramadhan terindah yang pernah saya lalui hingga tulisan ini dibuat. Indah untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang. Cukup pelajarannya saja yang diulang, tapi tidak untuk pengalaman-pengalamannya. Kalau kata di film Blended (2014), What happens in Africa stays in Africa.

Continue reading 9/1437 H

Berhenti Bertanya

Bertanya tidak pernah membuatmu menjadi lebih tahu, jika kamu hanya ingin mengusir rasa ragu.

Bertanya tidak pernah memberimu manfaat, jika kamu hanya ingin jawaban yang sesuai dengan apa yang kamu harap.

Bertanya tidak pernah menjadi solusi, jika kamu hanya ingin untuk dimengerti.

Berhenti bertanya-tanya, karena yang sebenarnya kamu butuhkan bukan sebuah jawaban. Yang kamu butuhkan hanya sebuah kepastian.

Tidak cukupkah peduliku menjawab semua ragumu? Tidak cukupkah sikapku menjawab segala harapmu? Tidak cukupkah pengertianku menjawab segala kompleksitasmu?

Tidak semua tanya harus dijawab sekarang, dan yang namanya kepastian tidak pernah datang sebentar. Tapi tenang, yang namanya kepastian tidak pernah datang terlambat. Ia selalu datang di waktu yang tepat.

Bersabarlah.

BSD, ba’da isya
21/5/2017

Sulit

Sepanjang hidup saya *udah hidup berapa lama, Gin?* ada beberapa hal yang menurut saya sangat sulit untuk diterjemahkan (selain menerjemahkan kodingan orang lain).

1. Senyum

Adalah hal yang sulit untuk menerjemahkan sesungging senyum di wajah. Sedih atau senang? Ketir atau bahagia? Senyum hormat atau senyum menghujat? Entah, kita hanya bisa berprasangka.

Tahu dari mana orang yang selalu tersenyum adalah orang yang bahagia? Bisa jadi, ia justru menyembunyikan nestapa maha dahsyat dalam hidupnya. Tahu dari mana orang yang tersenyum saat kita datang itu berarti ia senang dengan kehadiran kita? Bisa jadi, ia justru sedang tersenyum melecehkan kita di dalam pikirannya.

2. Terserah

Adalah hal yang sulit untuk menerjemahkan sepatah kata terserah. Terserah yang dalam KBBI berarti sudah diserahkan (kepada) atau tinggal bergantung (kepada), bisa berarti sebenarnya aku mau ini, tapi aku tidak mau bilang. Aku menunggu kamu mengerti apa yang aku mau.

Pertanyaan mudah seperti mau makan di mana, bisa saja menjadi bahan perdebatan panjang apabila kata terserah tadi melenceng dari makna sebenarnya. Ditanya mau makan di mana, bilangnya terserah. Ditawari makan ke warung A, katanya kurang enak. Dibilang warung B, katanya mahal. Terus giliran minta kepastian mau makan di mana, jawabannya tetap saja terserah. Terserah, tapi tidak mau berserah.

3. Sikap

Adalah hal yang sulit untuk menerjemahkan sikap seseorang. Yang ini jangan ditanya. Seringkali sikap orang lain kepada kita mengundang banyak tanda tanya. Sebenarnya bukan sikap orang tersebut yang salah, hanya kita saja yang sering salah memahami.

Contoh paling sederhana adalah sikap orang tua kepada anaknya. Seorang anak mungkin saja menganggap orang tuanya galak dan jahat karena sering melarang ia bermain ke luar rumah. Sang anak bisa jadi berharap agar ia terlahir dari orang tua yang berbeda. Padahal, seandainya sang anak tahu, sikap orang tuanya itu adalah bentuk kasih sayang mereka demi kebaikan sang anak.

Berbicara soal kebaikan, hal yang paling sulit dari yang hal-hal sulit di atas adalah menerjemahkan kebaikan orang lain. Sebenarnya tidak sulit, hanya ya itu tadi. Seringkali kebaikan seseorang itu yang membuat kita salah. Karena kebaikan seseorang bisa membuat kita salah memahami. Lebih jauh, kebaikan seseorang bisa membuat kita salah berharap.

Hati-hati dalam menerjemahkan sikap, hati-hati dalam menaruh harap 🙂

Menjelang maghrib, otw BSD-Bogor
12/5/2017

Clean

Maybe you lost someone you never expected you would lose.

Maybe you lost yourself. That’s even worse.

When you have bad days that just won’t let up, I just hope that you will look in the mirror and remind yourself of what you are and what you are not.

You are not your mistakes.

You are not damaged goods or muddy from your failed explorations.

You are not the opinion of someone who doesn’t know you.

You are a product of the lessons that you’ve learned.

You are wiser because you went through something terrible.

And you are the person who survived a bunch of rainstorms and kept walking.

I now believe that pain makes you stronger.

And now I believe that walking through a lot of rainstorms gets you…

Clean.

Salin rekat dari tulisan di
blog aisyafra.wordpress.com

Short Getaway: Gunung Batu

Mari saya kenalkan kalian kepada seorang sohib saya sejak SMP kelas 7. Nama lengkapnya Ahmad Adam Zari Ardi Ramadhan, tapi entah kenapa di media sosial atau di tempat lainnya ia hanya menggunakan nama Ahmad Adam Ramadhan atau Adam Zary. Dia biasa saya panggil dengan nama Adam, atau Ahmed, dan sering juga saya panggil Syaikh.

Sesuai dengan nama panggilannya yaitu Syaikh, yang secara harfiah artinya bapak tua, Adam adalah orang yang saya tuakan. Selain karena memang umurnya yang lebih tua daripada saya, kedalaman ilmunya juga jauh di atas saya. Jangan remehkan dia meski tidak pernah lulus dari sekolah agama, karena kemampuannya membaca kitab berbahasa Arab sudah di atas rata-rata. Itu kualitas dari sisi agama. Dunia? Jangan tanya. Lulusan S1 Teknik Mesin dari institut teknik yang digadang-gadang terbaik di negeri ini, dengan IP nyaris menyentuh angka cum laude, dan saat ini sedang bekerja di salah satu perusahaan Jepang di kawasan industri di Bekasi. Sosoknya adalah perwujudan mantu idaman versi mertua sepanjang zaman: alim, pintar, dan sudah mapan berpenghasilan.

Apa yang kalian bayangkan jika punya teman seperti ini? Banyak obrolan berfaidah, minim perkataan nirmanfaat. Penuh petuah kaya nasihat, sedikit kata yang tersia-sia. Iya, itu idealnya. Nyatanya, dia tidak sesuci itu kok. Mungkin karena bergaul dengan saya akhirnya dia jadi “rusak” sedikit.

Continue reading Short Getaway: Gunung Batu

Menyerah

Muslim adalah menyerah. [1]

Pilihanmu untuk menjadi seorang muslim itu adalah pilihan untuk menyerah. Kalau memang kamu benar-benar seorang muslim, maka menyerahlah. Berhenti melawan.

Mana janji yang kamu ucapkan di setiap istiftah di dalam shalatmu,

Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku, hanya untuk Allah,

jika kamu masih saja enggan menyerah atas segala ketentuan-Nya yang ditetapkan atasmu?

Menjadi muslim berarti menjadi seorang yang menyerah. Menyerahkan hidup ini untuk sepenuhnya diatur oleh-Nya.  Menyerahkan diri dan seluruh urusan kita kepada Al ‘Alim, Al Khabir, Dzat Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu, Yang tiada yang luput dari ilmu dan kebijaksanaan-Nya.

Contoh kasus. Ada seorang mengalami kecelakaan. Oleh dokter diputuskan ia harus menjalani operasi amputasi kaki. Artinya, ia harus kehilangan kakinya. Dalam kondisi normal, apakah ia mau kehilangan kakinya? Kan tidak. Tapi kenapa ia begitu pasrah begitu diputuskan dokter untuk mengamputasi kakinya?

He’s the doctor, dia dokternya. Dokter lebih tahu mana yang terbaik bagi pasiennya.

Continue reading Menyerah