Berengsek

Yang saya percayai (dan saya rasakan), ditinggal gebetan yang memilih pacaran dengan orang lain itu lebih menyakitkan daripada ditinggal gebetan yang nikah duluan. Sama-sama sakit memang, tapi sakit yang dirasakan karena ditinggal menikah itu lebih terhormat daripada rasa sakit karena ditinggal pacaran. Karena setidaknya kalau ditinggal menikah, kita ‘merelakan’ dia bersama orang lain yang kelak akan bertanggung jawab atas hidupnya. Sedangkan ditinggal pacaran? Kita seakan merelakan ia menjalankan hidupnya dengan seorang berengsek.

Ya, kalian tidak salah baca. Berengsek. Saya sedang mengumpat di sini. Dan semoga ini satu-satunya umpatan yang ada di blog ini. Izinkan saya menuliskannya sekali lagi.

Berengsek.

Sebenarnya dari sudut pandang orang yang ditinggalkan, baik yang menikahi ataupun memacari seseorang yang menjadi segalanya bagi kita adalah sama-sama berengsek (ups, satu lagi umpatan di blog ini), tapi masa’ saya mengatakan orang yang menyempurnakan separuh agamanya sebagai orang berengsek? Wah, bisa kufur saya.

Itulah salah satu alasan pentingnya belajar agama, biar nggak asal ngatain orang walau perasaan sudah hancur lebur sedemikian rupa. Kudu sabar, sabar, sabar. Fashabrun jamiil.

Sungguh, saya ingin postingan pertama saya di 2018 jauh lebih berfaidah daripada tulisan ini, sayangnya hanya ini yang bisa saya tuliskan. Setidaknya dari tulisan ini kita bisa mendapatkan faidah berupa pemahaman bahwa kata ‘berengsek’ itu ada dalam KBBI. Sehingga lain kali kalau mau mengumpat orang, jangan tulis ‘brengsek’, karena itu tidak baku. Mulailah berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Mulailah menggunakan kata baku dari hal-hal sederhana, mengumpat orang contohnya.

Semoga tulisan ini tidak menjadi cela bagi saya ketika saya dipromosikan menjadi CEO Telkom kelak. Aaamiin.

BSD, sebelum ashar
8/1/2018

Advertisements

Bagaimana Bersikap di Depan Perempuan yang Kamu Suka

Hanya ada satu cara yang bisa kamu lakukan jika berhadapan dengan dia, perempuan yang kamu sukai: bersikaplah sebaliknya. Jika kamu memang benar-benar menyukai seseorang dari lubuk hati yang terdalam, maka bersikaplah seakan-akan kamu tidak menyukainya. Kalau perlu, bertindaklah seakan-akan kamu tidak ingin bertemu dia sama sekali. Citrakan dirimu menjadi sosok yang independen, yang tidak tergantung pada kehadirannya, yang tidak menanti salam dan sapanya, yang tidak perlu puji dan kagumnya.

Karena kalau kamu bersikap seperti pengemis cinta di hadapannya, maka kamu akan dipandang sebagai orang lemah, budak cinta, seseorang yang tidak punya prinsip dan tidak berpendirian dalam bersikap. Kamu akan dihujat dengan satu frasa yang akan menjadi label bagi kepribadianmu: orang baperan. Makanya, sikap berkebalikan dari perasaanmu inilah yang harusnya kamu ambil dan kamu terapkan

Secara praktis, langkah-langkah yang harus kamu lakukan bisa dijabarkan ke dalam poin-poin berikut,

Jangan mulai chat duluan

Tunjukkan kalau kamu adalah seseorang yang tidak mengemis perhatiannya dengan nge-chat tidak penting sejenis bertanya apa kabar, sudah makan atau belum, dan sebagainya. Kamu hanya akan terlihat sebagai seseorang yang bodoh, yang mengemis-ngemis atensi dengan cara yang murahan. Kalau sudah begitu, si dia akan jadi merasa di atas angin. Siap-siap kamu akan dipermainkan olehnya.

Kalau memang perlu nge-chat duluan, mulailah dengan chat yang ketus dan tidak bersahabat, maka kamu akan terlihat cool dan misterius. Hindari penggunaan kata “hai” atau “halo” yang hangat, takutnya nanti dia geer. Langsung saja bicara ke pokok inti permasalahan. Alangkah lebih baik lagi kalau kamu buat chat-mu seperti orang yang ngajak gelut. Dia pasti akan memikirkanmu terus menerus karena paradoks yang kamu ciptakan. Karena di saat orang lain nge-chat duluan dengan sok-sok manis, kamu datang dengan chat yang ngajak tubir.

“Kamu dah ngerjain tugasnya belum, C*k?”

Balaslah chat sekenanya

Kadang bukan kita yang memulai, tapi dia duluan yang memancing. Ada kalanya kamu harus waspada kalau ada chat dari dia, karena bisa jadi itu adalah pancingan mautnya. Dia hanya ingin melihat bagaimana kamu bereaksi. Kalau dia nge-chat duluan, maka balaslah sekenanya dan seperlunya saja. Kamu ini cuma balas chat, bukan baca proklamasi, nggak perlu seksama tapi buatlah dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Buat chat-mu efektif, bayangkan kalau kamu sedang mengirim pager yang tarifnya dihargai sepanjang karakter pesan. Hindari kata “nggak” dan ganti dengan “g“, buang kata “oke” dan ganti dengan “k“.

Contoh kasus: dia ngajak ketemuan untuk ngerjain tugas. Dia nge-chat kamu “Eh jangan lupa jam 4 nanti kita ketemuan di kampus yaaa

Mari kita analsisis chat ini. Di sini dia menuliskan kata “ya” dengan mengguanakan tiga huruf ‘a’. Menilik teori Rizana yang berbunyi banyaknya huruf yang sama dalam satu kata berbanding lurus dengan ketertarikan seseorang, maka kata “ya” dengan tiga huruf ‘a’ ini menunjukkan dia sudah mulai tertarik denganmu, minimal sudah mau diajak makan di penyetan Keputih.

Apa kamu boleh senang? Mungkin boleh, tapi jangan luapkan kesenanganmu itu. Karena bisa jadi itu hanya pancingan atau memang dasarnya dia kalau nge-chat kayak manja-manja gitu ke semua orang. Ingat, balaslah sekenanya. Dia hanya perlu konfirmasimu untuk ketemuan jam 4. Cukup satu huruf saja untuk konfirmasi, kan?

“K”

End of chat.

Jangan buat hari ulang tahunnya menjadi hari spesial

Saya punya landasan ideologis tentang ini. Hari (yang katanya) ulang tahun Nabi dalam agama saya saja tidak saya jadikan hari spesial, apalagi ulang tahun dia yang (saat ini masih) bukan siapa-siapa bagi saya?

Oke, terlepas dari landasan ideologi yang kamu anut, jangan jadikan hari ulang tahun dia menjadi hari spesial. Bersikaplah sewajarnya meski lidah sudah kelu ingin mengucapkannya. Ingat, kamu bukan Facebook atau Google yang punya kewajiban untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Kamu adalah manusia bebas merdeka yang memiliki perasaan, dan kamu berhak atas kebebasan berperasaanmu sendiri. Jangan sampai hanya karena kamu menyukai seseorang, kamu tiba-tiba berkewajiban menjadi pengingat dan pengucap ulang tahun yang baik.

Kalau perlu, buatlah tausiyah atau siraman rohani yang mengajak pembacanya untuk mengingat dan merenungkan kematian. Di tengah-tengah euforia ulang tahun yang dia rasakan lewat berbagai kiriman pesan ucapan selamat di media sosialnya, kamu akan menjadi outlier yang tampil beda dari yang lain karena menyebarkan pesan pengingat kematian yang memutus semua kesenangan. Dia akan berpikir kalau kamu tidak ingat ulang tahunnya. Mungkin dia akan penasaran dan bertanya begini kepadamu,

“Kamu ga inget hari ini hari apa?”

Awas, ini pertanyaan jebakan. Tetaplah pada pendirianmu sebagai pengingat kematian.

“Ini hanyalah satu hari dari hari-hari yang terus mendekatkan kita kepada ajal. Bertaubatlah. Bertaubatlah.”

Hindari segala bentuk pertemuan

Pertemuan-pertemuan antara kamu dan dia adalah racun yang berbahaya bagi perasaanmu. Ingat, mungkin dia tidak memegang paham Witing Tresno Jalaran Soko Kulino yang kamu anut. Malah bisa jadi, semakin dia bertemu denganmu, semakin dia muak melihat tingkah lakumu. Kalau kamu masih belum yakin probabilitas keberhasilan hubunganmu dengan dia, maka hindari pertemuan. Begitu juga kalau kamu sudah yakin dia menyimpan perasaannya kepadamu, tetap saja, hindari pertemuan. Kenapa harus selalu menghindar? Untuk membuat dia haus akan kehadiranmu.

Tentu saja dalam menghindari pertemuan ini ada caranya, tidak asal menghindar begitu saja. Buatlah alasan untuk menghindari pertemuan dengan alasan yang keren, yang heroik, atau yang akhi-akhi banget. Terserah kamu, mau dengan citra apa kamu ingin dilihat olehnya.

Misalnya kamu di-chat begini oleh dia, “Kak, aku lagi main di Jakarta loh. Kakak kan masih punya janji nraktir aku, lunasin dong janjinya. Ketemuan yuk Sabtu ini.

Pancingan paling berbahaya adalah ajakan ketemuan di sela-sela waktu luang semacam ini. Ingat prinsip tadi, hindari pertemuan dengan menggunakan alasan yang menunjukkan bagaimana kamu ingin dipandang.

Maaf, Dek. Aku ada lembur sebulan ini. Proyek besar” jika kamu ingin dilihat sebagai pekerja keras profesional.

Duh, gua ada agenda 7 summits nih. Mau naik ke Elbrus” jika kamu ingin dilihat sebagai lelaki adventurous.

Aku mau ke Afrika, Dek. Jutaan orang terancam kelaparan di sana” jika kamu ingin dilihat sebagai pekerja sosial berkomitmen tinggi.

Afwan, ukhti, ana mau ke India gabung sama Zakir Naik” jika kamu ingin dilihat sebagai akhi-akhi aktivis tingkat internasional.

Jangan salting

Ada kalanya semesta dikondisikan untuk mempertemukan kamu dan dia meski pertemuan itu sudah dihindari sebisa mungkin. Kalau sudah begitu, usahakan untuk jangan salting alias salah tingkah. Bersikaplah sewajarnya, sewajar sikap kamu ke teman-teman yang lainnya.

Salting itu banyak bentuknya. Dan percaya atau tidak, dia bisa mengenali kalau kamu sedang salting lewat gerakan-gerakan kecil yang kamu lakukan tanpa sadar. Maka dari itu, gerakannya jangan nanggung-nanggung. Buat gerakan besar sekalian. Gerakan kaum buruh misalnya.

Dia tidak akan melihatmu sama seperti sebelumnya. Selain dipandang sebagai seorang yang progresif, kamu juga akan dilihat sebagai seseorang yang peduli nasib kaum proletar. Duhai, kurang seksi apa lagi coba. Hanya wanita yang matanya telah dibutakan kapitalisme saja yang rela menolakmu.

Hasil akhir

Saya pernah mempraktekkan seluruh tips di atas, dan hasilnya?

Dia menikah dengan orang lain. Ya, secara de facto saya gagal memilikinya, meski saya tidak tahu persis apakah nama saya pernah terpatri di hatinya atau tidak. Apakah itu berarti tips-tips di atas salah? Tentu tidak. Tidak ada yang salah dari semua tulisan di atas. Tidak ada.

Hanya saya yang salah memilih.

.

…..

Ternyata dia budak korporat penghamba kapitalisme.

BSD, sebelum ashar
29/12/2017

Kematian Jonghyun Adalah Tragedi, Kematian Warga Palestina Adalah Statistik

Maaf, saya tidak mengetahui apa-apa tentang Jonghyun. Jujur saya tidak pernah dengar nama itu sampai akhirnya ia meninggal dan berita tentang kematiannya menghiasi linimasa media sosial. Saya tahu kalau ada boyband Korea namanya Shinee, tapi tidak pernah tahu kalau ada member yang namanya Jonghyun.

Saya juga tidak mengenal Ibrahim Abu Tsurayya hingga berita tentang kematiannya muncul di media. Ketidaktahuan saya tentang Ibrahim persis seperti ketidaktahuan saya tentang Jonghyun. Saya hanya tahu kalau di Palestina sana ada banyak pejuang-pejuang tangguh, tapi saya tidak tahu ada salah satu di antaranya bernama Ibrahim Abu Tsurayya.

Saya sama-sama mengenal Jonghyun dan Ibrahim Abu Tsurayya dari berita di media. Bedanya, nama Jonghyun kerapkali tertera di judul berita (bahkan beberapa media sempat menjadikannya Breaking News), sedangkan nama Ibrahim Abu Tsurayya hanya tertera di tengah-tengah paragraf berita sebagai satu nama dari nama-nama korban tentara Zionis Israel.

Dengan mudah saya bisa menemukan berita mengenai kondisi jasad Jonghyun saat pertama kali ditemukan, kronologi meninggalnya Jonghyun, prosesi pemakaman Jonghyun, sampai berita yang tidak relevan seperti TVXQ yang meneriakkan nama Jonghyun ketika konser, atau Ima yang tidak percaya kalau Jonghyun bunuh diri.

Sedangkan untuk Ibrahim, maaf, hanya ada berita tentang kegigihannya memperjuangkan Palestina dari atas kursi rodanya. Saya tidak menemukan berita tentang unggahan foto menjelang kematiannya, pun tidak tahu bagaimana eksentrik gaya busananya ketika masih hidup. Jika tidak tentang perjuangan dari kursi rodanya, nama Ibrahim hanya muncul di tengah paragraf, tidak menjadi judul apalagi headline berita. Tidak ada artis yang meneriakkan namanya, tidak ada media yang meliput pemakamannya, dan tidak ada Ima yang mengomentari kematiannya.

The death of one man is a tragedy, the death of millions is a statistic” begitu yang konon Joseph Stalin katakan. Melihat pemberitaan tentang kematian Jonghyun dan gugurnya Abu Tsurayya, saya langsung teringat quotes dari mantan diktator Uni Soviet yang kesohor itu. Betapa melimpahnya pemberitaan tentang Jonghyun, dan betapa sedikitnya berita mengenai profil Ibrahim Abu Tsurayya. Karena mungkin dalam kacamata media (dan kita), kematian Ibrahim hanyalah satu statistik penambah angka-angka, sedangkan kematian Jonghyun adalah tragedi untuk umat manusia.

Statistik korban Operation Protective Edge sepanjang Juli-Agustus 2014. Sumber: BBC

Ada anak kehilangan orang tuanya, ada orang tua kehilangan anaknya, ada istri kehilangan suaminya, dan semua tragedi itu ditampilkan di media hanya menjadi digit-digit angka. Ada ribuan hikayat yang siap ditulis, ada ribuan kisah yang bisa diceritakan, ada ribuan pelajaran hidup yang bisa diambil, namun media lebih memilih untuk melipat itu semua dalam bentuk satu tabel statistik.

Saya mengerti, media juga cari duit di sini. Kematian sudah jadi barang murah di tanah perang. Orang sudah jemu melihat puluhan nyawa meregang sekaligus dalam satu kali konflik. Manusia sudah terlalu sibuk untuk mengetahui kisah-kisah para korban yang bergelimpangan. Peduli amat dia siapa, toh kalau sudah berkalang tanah sudah tidak penting lagi untuk dibahas. Puluhan nyawa melayang akhirnya hanya menjadi satu berita yang tampil dalam sekali tayang.

Di sisi lain, media yang cari keuntungan pasti lebih memilih berita yang punya nilai jual tinggi. Berita entertainment yang banyak orang gandrungi menjadi satu topik berita yang tidak pernah sepi pembicaraan. Tengok saja, betapa hidup matinya seorang artis begitu dieksploitasi ke publik, sampai-sampai media lupa untuk memilih mana yang kiranya relevan untuk hidup kita. Contohnya komentar Ima yang entah dia siapa.

Apa itu berarti kita perlu mengutuk-ngutuk media? Saya rasa tidak. Media berjalan dengan logikanya sendiri. Jika media memilih bungkam atas apa yang terjadi di Palestina, apakah itu bisa menjadi legitimasi bagi kita untuk memilih diam? Kamu punya logika dan rasa kemanusiaan sendiri yang tidak bisa disetir media. Orang tuamu tidak perlu masuk TV dulu untuk kamu cintai, kan? Begitu juga dengan saudara-saudaramu di Palestina, di Suriah, di Myanmar, dan di seluruh pelosok dunia.

Ini bukan masalah keberpihakan media, ini murni soal kepedulianmu yang mau kamu bawa ke mana. Apakah kematian ribuan warga Palestina kamu anggap tragedi, atau hanya bilangan statistik belaka?

Bogor, waktu dhuha
25/12/2017

Membela Palestina Sejak Dalam Pikiran

“Kita digiring untuk mempermasalahkan ibu kota Israel di Al Quds (Yerusalem) padahal masalah sebenarnya bukan ibu kota Israel. Masalah sebenarnya adalah keberadaan Israel di tanah Palestina itu sendiri. Jangankan ibu kota Israel di Yerusalem, di Tel Aviv pun kita tidak mengakuinya karena itu tanah hak kaum muslimin. Tidak sejengkal tanah, bahkan tidak setitik tanah pun di Palestina yang halal bagi yahudi zionis.

Kita hendak diberi dua pilihan oleh mereka yang dua-duanya menyakitkan. Yang pertama, Ibu kota Israel di Yerusalem dan itu sungguh menyakitkan dan menghinakan. Yang kedua, kita berlaku keras agar ibu kota Israel tetap di Tel Aviv, dan itu seakan-akan kita melegitimasi eksitensi negara mereka.

Semoga Allah menghancurkan Yahudi saudara-saudara babi dan monyet ini.”

-Ust. Fadlan Fahamsyah hafizhahullah dalam sebuah status Facebook-nya, dengan sedikit pengubahan tata letak dan tanda baca-

Andai, andai kita benar-benar peduli dan ingin membela Palestina, kita tidak perlu menunggu Donald Trump jadi presiden Amerika. Klaim Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Trump hanyalah sebuah peristiwa dari rangkaian panjang peristiwa lainnya yang mungkin terjadi akibat ketidakpedulian kita. Bukankah Trump sudah menjanjikan hal tersebut di masa kampanyenya? Trump hanya menjalankan janji kampanyenya, satu hal yang mungkin kita rindukan dari para pemimpin kita.

Tidak usah menyalah-nyalahkan pemimpin.Kita terlalu sibuk menagih janji mereka, tapi perjanjian kita sendiri dengan Tuhan masih bisa kita abaikan juga. Apa kabar kewajiban-kewajiban yang sudah kita tinggalkan? Sudahkah kita memohon ampun dengan tulus, atau hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja?

Tidak usah menyalah-nyalahkan Yahudi kalau kita masih hidup dengan gaya hidup mereka. Oke, mungkin kita tidak bisa lepas dari produk-produk mereka, tapi yang ada di kepala dan hatimu itu produk dari dirimu sendiri. Dan sayangnya, Minimnya pengamalanmu terhadap ilmu yang kamu punya, itu salah satu ciri khas mereka lho. Coba deh cek tafsir Surah Al Fatihah.

Kita tahu riba haram, tapi masih aja berkubang riba. Kita tahu pacaran itu dilarang, tapi biasa aja tuh ngeliat orang pacaran. Jangankan negur, keinginan mengingkari dalam hati aja jangan-jangan sudah nggak ada. Kita udah tahu kalau berpakaian itu kudu nutup aurat, eh malah nawar-nawar, persis Yahudi nawar ibadah hari Sabat supaya diganti.

Ohiya, jangan lupa kalau orang Yahudi itu suka kebanyakan nanya. Masih ingat kisah orang Yahudi yang disuruh nyari sapi betina untuk mengungkap pembunuhan saudaranya? Disuruh nyari sapi betina, eh malah banyak nanya sampai akhirnya nyusahin diri sendiri. Mirip sama kondisi kita sekarang nggak sih? Kalau ada aturan atau perintah, pakai ditanya-tanya dulu manfaat buat dirinya apa, khasiatnya apa, dll. Gaes, yang namanya syariat itu dijalani pakai iman yang intinya kamu percaya atau nggak kalau syariat itu bakal ngebuat kamu selamat dunia akhirat. Masa’ iya harus baca artikel kesehatan dulu baru percaya kalau makan minum harus duduk? Kalau kayak gitu, itu kamu beriman atau masih mempertanyakan?

Kalau berbuat adil saja sudah harus dilakukan sejak dalam pikiran, apalagi membela Palestina. Membela Palestina sejak dalam pikiran yang saya maksud di sini adalah sedari awal pikiran kita ada untuk Palestina, ada untuk saudara-saudara kita kaum muslimin di sana. Tidak hanya di Palestina, tapi juga di Suriah, Myanmar, dan di semua tempat yang mungkin tidak bisa kita jangkau secara fisik tapi bisa kita jangkau lewat doa.

Ingat, jangan harap kita mampu membela Palestina tapi masih bergaya hidup dan berpola pikir ala Yahudi. Apa mungkin kita bisa mengalahkan orang yang kita tiru? Kalau mau meniru, maka tirulah umat yang berhasil mengalahkan mereka. Tirulah kaum yang berhasil membebaskan tanah Palestina jauh sebelum ia terjajah. Kaum yang harum namanya di dalam sejarah. Siapa lagi kalau bukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal,sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk (mengikuti) ke dalamnya.

Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani?

Lalu beliau bersabda, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?“. (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah satukan hati-hati kita dalam kebenaran. Semoga Allah menolong saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Yaman, Myanmar, dan di seluruh tempat. Semoga Allah memenangkan Islam dan kaum muslimin.

BSD, waktu dhuha
16/12/2017

Jhoni Boetja, Pahlawan Baru Kita

Dalam hidup, ada banyak pahlawan yang tidak pernah kita kenal. Betapa kita tidak mengenal semua pejuang di pasukan Diponegoro, pun kita tidak mengenal seluruh mujahidin di Perang Paderi. Mereka menjadi pahlawan tanpa ada satu pun yang mengingat nama mereka, padahal dengan harta, keringat, dan darah merekalah kita merdeka. Betapa kita tidak menghargai perjuangan mereka, bahkan untuk mengingat nama pun kita lupa.

Jangan ulangi kesalahan itu lagi. Hari ini, mari kita ingat satu nama yang kelak akan kita ceritakan kepada anak cucu kita, bahwa dialah yang memerdekakan kita dari belenggu tirani korporasi. Dialah yang membebaskan para kekasih dari keraguan menikah karena takut terbentur peraturan perusahaan tempat mereka bekerja.

Sambutlah Jhoni Boetja, pahlawan baru kita.

Kalau nanti 10 hingga 20 tahun lagi hadir anak-anak muda yang ayah ibunya adalah rekan sekantor, maka mereka harus berterima kasih kepada Jhoni Boetja. Ya, dengan perantara perjuangan Jhoni Boetja-lah anak-anak muda itu ada. Jhoni Boetja berjasa membuat ayah ibu mereka yang sekantor bebas merdeka merayakan cinta.

Berawal dari salah satu rekannya yang di-PHK karena menikah dengan sesama karyawan PLN, Jhoni angkat suara melawan kezaliman korporat. Bermodalkan uang sendiri, ia rela bolak-balik Jakarta-Palembang demi memperjuangkan penghapusan satu frasa dari Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, tepatnya ada di pasal 153 ayat 1 huruf f.

Pekerja/buruh mempunyai pertalian darah dan/atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lainnya di dalam satu perusahaan, kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahan, atau perjanjian kerja bersama

Frase “kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja…” itulah yang seringkali dimanfaatkan oleh korporat-korporat produk kapitalis jahat untuk melarang karyawannya menikah dengan teman satu perusahaannya. Bayangkan, berapa banyak pasangan yang harus bimbang memilih antara menghalalkan kekasih atau mempertahankan karir karena peraturan zhalim ini. Berapa banyak kisah cinta yang kandas selain karena terhalang restu orang tua, juga kandas karena terancam PHK. *Backsound: Padi – Kasih Tak Sampai*

Tapi semua kisah pilu itu berakhir hari ini, 14 Desember 2017. Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan uji materi pasal bermasalah tersebut. Artinya, sebuah perusahaan tidak bisa menetapkan aturan yang melarang karyawannya menikah dengan rekan kerja satu kantor. MK dalam pertimbangannya menyatakan bahwa pertalian darah atau perkawinan adalah takdir, hal yang tak dapat dielakkan. Betapa kita tidak bisa memilih dengan siapa kita bersaudara, betapa kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta.

Saya kira hari kasih sayang jatuh pada 14 Februari, tapi ternyata sejak tahun 2017, sudah pindah ke 14 Desember. Terima kasih Jhoni Boetja.

BSD, waktu isya
14/12/2017

Pejabat Easy Come Easy Go

Ketika saya mencari kerja sewaktu masih fresh-graduate dulu, salah satu pertimbangan dalam memilih pekerjaan adalah masa kontrak atau semacam masa uji coba yang diberlakukan oleh perusahaan untuk pegawai barunya. Misal begini, saya menolak beberapa tawaran pekerjaan yang meski kantornya dekat dan mudah diakses dari rumah saya, namun karyawan barunya harus menunggu selama satu hingga dua tahun untuk diangkat menjadi pegawai tetap. Jika dalam rentang waktu itu si karyawan baru ini keluar atau resign dari perusahaan tersebut, maka ia akan dikenakan denda atau penalti yang besarnya bisa setara dengan dana parpolnya Nasdem di DKI. Padahal kalau dilihat dari gaji, wah, mungkin cuma seharga bungkus permen yang nyelip di tas Hermes-nya Friedrich Yunadi.

Alasannya, karena perusahaan sudah memiliki pengalaman buruk dengan pegawai yang easy come easy go. Kontrak kerja yang main penalti-penaltian ini dibuat untuk mengikat orang-orang yang mudah datang mudah pergi itu tadi. Jadi seenggaknya kalau karyawan barunya mau keluar, sudah berkontribusilah buat kantor, minimal setara dengan biaya rekrutmen yang dihabiskan perusahaan.

Untuk mencari pekerjaan bagi seorang fresh graduate saja sudah begitu resikonya. Harus berhati-hati memilih pekerjaan dan mengerjakan pekerjaannya dengan bertanggung jawab, tidak bisa seenak jidat keluar perusahaan hanya karena ada tawaran yang lebih menarik dari perusahaan lain.

Sekarang mari kita lihat potret sebagian pejabat publik kita, yang sayangnya, mudah datang mudah pergi.

Emil Dardak contohnya. Lahir dari keluarga terpandang, mengenyam pendidikan tinggi hingga S3 di luar negeri, perjalanan karirnya cemerlang, pulang ke rumah langsung disambut Arumi Bachsin pula. Entah apa lagi yang dicari Emil Dardak di dunia ini.

Oh, ternyata ia mengincar jabatan politis. Mungkin banginya, harta dan wanita tiada lengkap tanpa tahta.

Dan ternyata ia mendapatkannya di Trenggalek 2016 silam. Saya kira menjadi orang nomor satu di tingkat kabupaten sudah memuaskan hasrat politiknya, tapi ternyata tidak. Rupanya menjadi nomor satu di kabupaten tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan menjadi nomor dua di provinsi. Dengan alasan dijodohkan para kiai untuk mendampingi Bu Khofifah, ia maju menjadi cawagub dalam kontestasi pilkada Jatim, meninggalkan masyarakat Trenggalek yang telah memilihnya.

Emil Dardak yang maju pilkada, partainya yang minta maaf. Setidaknya partainya sadar bahwa meninggalkan amanah yang sedang diemban demi mengincar jabatan yang lebih tinggi merupakan sebuah tindakan yang tercela. Mungkin kalau cuma setingkat kabupaten ngincar tingkat provinsi itu tercela, tapi kalau ngincar kursi presiden mah gapapa. Iya gak, PDI-P?

Ohiya, selain meminta maaf kepada publik Trenggalek, PDI-P juga menindak tegas kelakuan Emil Dardak ini dengan memecatnya. Meski yah, saya sendiri nggak tau alasan sebenarnya dia dipecat dari keanggotaan partai. Apakah karena ‘berkhianat’ kepada warga Trenggalek kah, atau karena maju pilgub dengan partai lain? Kalau buat maju ke pilpres sih kayaknya masyarakat ditinggal juga nggak apa-apa kali ya.

Yaudah, itu urusan PDI-P. Sekarang coba itung-itung, dari pengangkatan Emil Dardak jadi bupati sampai pencalonannya di pilgub Jatim itu nggak sampai dua tahun loh. Dari lima tahun masa jabatan, setengahnya saja belum dapat. Andai, andai loh ya, Emil Dardak terikat kontrak layaknya karyawan baru di sebuah perusahaan yang mengenal sistem denda-dendaan, entah berapa ratus juta (atau milyar) yang harus dibayarnya. Tolonglah, dikira pilkada gratis apa? Dikira warga datang ke TPS nggak pakai ongkos apa? Setelah memenangi kontestasi yang biayanya hingga milyaran itu, terus digaji pakai uang rakyat, mau langsung cabut ninggalin amanah begitu aja? Enak banget hidup kalau gitu.

Karena itu, belajar dari kasus Emil Dardak, melalui tulisan ini saya mengusulkan adanya penambahan klausul baru dalam sumpah jabatan kepala daerah. Jika mungkin sumpah yang sudah berbunyi, “Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban saya sebagai gubernur/wakil gubernur…, bupati/wakil bupati…, walikota/wakil walikota… dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya…” saja masih mudah bagi kepala daerah untuk meninggalkan amanahnya, mungkin perlu ditambah klausul, “siap membayar denda sebesar ….milyar jika meninggalkan kewajiban saya sebelum habis masa jabatan saya

Karena mungkin zaman sekarang, sumpah dengan nama tuhan di hadapan rakyat sudah dianggap murah.

BSD, waktu dhuha
13/12/2017