Menyerah

Muslim adalah menyerah. [1]

Pilihanmu untuk menjadi seorang muslim itu adalah pilihan untuk menyerah. Kalau memang kamu benar-benar seorang muslim, maka menyerahlah. Berhenti melawan.

Mana janji yang kamu ucapkan di setiap istiftah di dalam shalatmu,

Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku, hanya untuk Allah,

jika kamu masih saja enggan menyerah atas segala ketentuan-Nya yang ditetapkan atasmu?

Menjadi muslim berarti menjadi seorang yang menyerah. Menyerahkan hidup ini untuk sepenuhnya diatur oleh-Nya.  Menyerahkan diri dan seluruh urusan kita kepada Al ‘Alim, Al Khabir, Dzat Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu, Yang tiada yang luput dari ilmu dan kebijaksanaan-Nya.

Contoh kasus. Ada seorang mengalami kecelakaan. Oleh dokter diputuskan ia harus menjalani operasi amputasi kaki. Artinya, ia harus kehilangan kakinya. Dalam kondisi normal, apakah ia mau kehilangan kakinya? Kan tidak. Tapi kenapa ia begitu pasrah begitu diputuskan dokter untuk mengamputasi kakinya?

He’s the doctor, dia dokternya. Dokter lebih tahu mana yang terbaik bagi pasiennya.

Continue reading Menyerah

Qurrota A’yun

Segala puji bagi Allah, yang tiada Ilah selain Dia, yang telah memberi saya begitu banyak nikmat-Nya yang bahkan tidak pernah saya minta. Nikmat-Nya yang tidak terbatas hanya pada rejeki berupa kesehatan dan harta, tapi juga kejadian-kejadian yang mungkin bagi kita hanya sebuah kebetulan biasa, tapi justru kebetulan itu yang mengajari kita tanpa harus menggurui, yang membuat kita memaknai hidup ini jadi lebih berarti.

Salah satunya kemarin, selepas shalat ashar di musholla kantor, saya iseng mencuri dengar obrolan di salah satu pojok musholla.

A: “Anak gua sih, alhamdulillah, sekarang hapalannya udah masuk juz 28.”

B: “Wih, ajib bener tuh. Kalo anak gua kemaren baru ngapalin Al Mulk. Cara ngajarinnya gimana Bos? Pengen dah anak gua kayak gitu”

A: “Anak kecil mah masih gampang dibentuk, dengerin murottal anak aja terus-terusan, nanti dia insya Allah hapal. Jangan kasih liat kartun mulu.”

Saya sedih sendiri dengerinnya. Setahu saya kedua anak mereka umurnya masih sepantaran usia masuk SD, tetapi hapalannya udah jauh di atas saya, fresh grad S1 yang beruntung sudah dapat kerja.

*****

Di hari yang sama, sepulang dari kantor, saya mengunjungi salah seorang rekan kerja yang istrinya baru saja melahirkan. Saya tidak sendirian tentunya, sama teman-teman yang lain. Obrolannya tidak jauh dari masalah persalinan, kondisi kesehatan ibu dan anak, dan tentunya masalah nama dan harapan untuk si anak.

A: “Udah dapet nama belum?”

B: “Jadi pake nama Nabi siapa?

C: “Woah, pake nama Nabi terus ya.”

D: “Iyalah, siapa sih yang nggak mau punya anak yang taat?

*****

Ada satu renungan yang masih terngiang di kepala saya dari kajian Ustadz Subhan Bawazier,

Continue reading Qurrota A’yun

Tentang Fitnah

Mari berbicara tentang fitnah.

Fitnah yang akan kita bicarakan di sini, adalah fitnah sebagaimana definisi para ulama: apa-apa yang dapat menjadi peluang atau potensi maksiat bagi seseorang. Singkatnya, fitnah yang dibahas di sini adalah ujian. [1]

Untuk masing-masing orang, bisa jadi fitnahnya berbeda-beda. Misal, seorang pedagang. Fitnahnya (ujiannya) adalah berupa transaksi jual beli yang berpeluang menjadi riba. Apakah mungkin pedagang tersebut terfitnah dengan kasus mega korupsi e-ktp? Bisa jadi, tapi sangat kecil kemungkinannya ia terfitnah dengan hal tersebut.

Contoh lain, seorang pelajar SMA. Apakah mungkin ia akan terfitnah dengan kekuasaan seperti mengejar jabatan gubernur? Tidak mungkin. Paling fitnahnya ga jauh-jauh dari jujur-jujuran saat ulangan, atau masalah cinta-cintaan, dan seperangkat problematika remaja lainnya. Belum waktunya fitnah jabatan itu jatuh kepadanya. Kalau pun ada, paling jabatan ketua organisasi di sekolah dan kawan-kawannya.

Intinya, fitnah adalah setiap hal yang mampu menjadi peluang maksiat bagi seseorang. Fitnah itu bisa berupa harta kekayaan, jabatan kekuasaan, bahkan wajah rupawan atau kejelitaan seseorang pun bisa jadi fitnah bagi dirinya sendiri dan orang lain, bila ia gunakan hal itu untuk menabur harapan kosong di hati korban-korbannya. *apaansih

Setiap orang di dunia ini pasti terkena fitnah. Namanya juga dunia, tempat ujian. Makanya setiap tahiyat akhir sebelum salam ketika shalat, Nabi kita mengajarkan beberapa doa untuk dibaca, diantaranya doa meminta perlindungan dari empat hal: adzab jahannam, adzab kubur, fitnah hidup dan mati, dan fitnah Dajjal.

Nah, pertanyaannya, bagaimana seorang hamba bisa selamat dari fitnah? Yang perlu kita pahami terlebih dahulu, adalah kenapa bisa seorang hamba jatuh terjebak ke dalam fitnah.

Menurut ulama, penyebab seorang hamba bisa jatuh terjebak di dalam fitnah adalah karena banyaknya dosa yang tersembunyi, dan sedikitnya amal rahasia.

Paham maksudnya?

Continue reading Tentang Fitnah

Seberapa Banyak

Banyak orang yang ngakunya mampu untuk tulus mencintai, tapi seberapa banyak orang yang benar-benar mampu untuk tulus melepaskan?

Banyak orang yang ngakunya siap untuk berkorban, tapi seberapa banyak orang yang benar-benar siap untuk merelakan?

Banyak orang yang ngakunya sanggup untuk memperjuangkan, tapi seberapa banyak orang yang benar-benar sanggup untuk melupakan?

Banyak memori indah yang kamu buat menjadi setumpuk kenangan, tapi seberapa banyak luka yang kamu buat dengan memberi harapan?

Bogor, menjelang maghrib
2/4/2017

Topeng

Mungkin kamu yang terlalu hebat dalam menyembunyikan aib, sehingga menyisakan banyak ruang untuk kekaguman orang lain terhadap diri kamu itu.

Jangan terpedaya kekaguman orang banyak, pujian-pujian mereka tidak pernah menggambarkan dirimu yang sebenarnya. Dirimu bukanlah apa-apa yang mereka lihat, dirimu adalah apa-apa yang selalu kamu sembunyikan.

Bersyukurlah kamu punya teman-teman yang naif, yang mudah saja ditipu dengan topeng kamuflasemu. Ia indah, berwarna–warni. Topeng itu selalu mewarnai hidup orang lain di sekitarmu, yang dengan warna itu kamu tunjukkan dirimu pada dunia. Padahal, sejatinya ia menutupi dirimu yang sesungguhnya, yang suram tanpa warna.

If I wear a mask
I can fool the world
But I cannot fool my heart

Kalau sudah begitu, tidakkah kamu merasa bersalah pada hatimu?

Waktu dhuha di Tangerang Selatan
1/4/2017

Pikiran Liar: “Smartphone”

Chibi Maruko-chan enggak bakal jadi anime yang mengesankan kalau Maruko dari awal sudah dikasih smartphone. Jika sedari awal Maruko sudah dikasih smartphone sama kakeknya, mungkin yang kita tonton sepanjang setengah jam hanyalah adegan Maruko asik nge-chat sama teman-temannya. Yang kita lihat hanya Maruko yang cekakak-cekikik ngeliatin layar ponselnya sambil baringan di kasur, asik ngobrol sama Tama-chan atau sekadar iseng berbagi kelakar dengan Hamaji. Opening-nya pun saya yakin berubah. Maruko ga perlu ganti baju agar menarik hati untuk mencari teman, cukup selfie pake kamera bagus, tambahin efek, dan install Tinder. Beres. Sekarang ayo selfie, agar menarik hati ayo kita mencari temaan~

Begitu juga Doraemon. Seandainya Nobita dari awal sudah punya smartphone, mungkin yang akan kita tonton adalah Nobita yang sibuk selfie atau update Instagram dengan alat-alat canggih dari kantong ajaibnya Doraemon. Beruntung, Doraemon berasal dari tahun 2112 dan bukan tahun 2017. Mungkin peradaban abad ke-22 sudah begitu bijak untuk tidak membiarkan gadget menguasai hidup manusia.

Ah, coba seandainya smartphone sudah ditemukan dari dulu, mungkin Hachi ‘anak yang sebatang kara pergi mencari ibunya di malam yang sangat dingin teringat mama‘ ga bakal ribet-ribet tanya ke sana ke mari buat nyari ibunya. Cukup buka Google Maps, terus tanya serangga terdekat, udah. Yang akan kita tonton adalah seorang anak lebah yang terus terbang sambil liatin layar smartphone biar ga salah jalan.

Continue reading Pikiran Liar: “Smartphone”