Niqabis Jaman Now

Ada satu hal yang membuat saya kesal dengan fitur explore di Instagram. Ketika harusnya saya bisa refreshing sejenak dari rutinitas dengan melihat objek-objek indah di Instagram semacam foto-foto pemandangannya Naked Planet, atau post-post uniknya ifyouhigh, atau komik lucu-lucuannya War and Peas (akun-akun penyegar linimasa sejenis UI Cantik nggak perlu disebutin lah ya), mendadak mood saya rusak kalau pas lagi asik-asiknya nge-scroll tiba-tiba muncul akun ukhti-ukhti yang cadaran tapi keliatannya (cuma) buat lucu-lucuan.

Paham maksud saya?

Oh, ayolah. Saya berbicara kepada anda wahai generasi milennials pengguna smartphone, yang saya yakin lebih dari 23 banding 28 (susah amat perbandingannya) dari kalian memiliki akun sosial media satu ini. Bukan tanpa alasan Instagram mendapuk kita menjadi pasar terbesar di Asia Pasifik bagi mereka.

Instagram sebagai sebuah platform sosial media tentu memiliki dampak bagi kehidupan kita. Dan salah satu dampak dari Instagram yang paling saya rasakan: membentuk tren. Instagram layak berbangga, mereka menjadi kiblat bagi kids jaman now untuk menentukan apakah sesuatu itu ngehitz atau tidak. Bahkan ada sebuah kosakata baru yang tercipta karena Instagram, yang mana itu tidak terjadi pada media sosial lainnya. Bukankah kita mengenal kata instagrammable? Tolong segera koreksi kalau saya salah, karena saya belum pernah mendengar ada istilah facebookable atau twitterable.

Nah, salah satu tren yang sekarang sering mampir di linimasa Instagram saya adalah ukhti-ukhti cadaran tapi gayanya kayak buat lucu-lucuan.

Continue reading Niqabis Jaman Now

Advertisements

Mitos-mitos Absurd

Masa kecil saya dulu banyak dipenuhi dengan mitos. Maklum, lahir dan sempat tumbuh di sebuah kota kecil di Kalimantan yang terkenal dengan konfliknya membuat akses saya kepada buku bacaan berkualitas menjadi sulit. Ditambah lagi sebagai anak kecil nan polos, saya selalu menelan bulat apa-apa yang dikatakan orang lain. Padahal kalau diingat-ingat lagi, tak jarang saya cengar-cengir sendiri memikirkannya. Persis seperti ekspresi kamu ketika melihat status-status Facebook-mu lima tahun yang lalu.

“Kok bodoh banget ya gua dulu? Kok bisa ya gua mikir kayak gitu?”

katanya, ciuman bisa bikin hamil

Ini adalah tentang mitos yang saya ‘alami’ secara pribadi. Maksudnya, ini bukan tentang mitos yang sudah terlanjur tenar semacam ‘perempuan kalau dicium laki-laki nanti bisa hamil’ atau semacamnya (meski setengah dari mitos tersebut benar adanya). Mitos yang saya bicarakan ini adalah mitos berkenaan dengan pengalaman saya sendiri, yang ketika saya konfirmasikan mitos itu kepada teman saya, mereka menanggapinya dengan,

“Ah, itu mah cuma lu doang yang mikir kayak gitu”

Artinya, mungkin hanya saya yang (sempat-sempatnya) berpikiran demikian di dunia ini.

Perempuan tidak pernah kentut

Tidak hanya soal kentut. Dulu saya menganggap sesosok makhluk bernama perempuan itu adalah makhluk Tuhan paling suci. Mereka tidak pernah kentut, mereka tidak pernah buang air, mereka tidak pernah berkeringat. Kalau pun mereka berkeringat, saya yakin keringat mereka wangi.

Silakan menyalahkan teman-teman SD saya dulu, karena sikap merekalah yang membuat saya akhirnya percaya mitos ini.

Alkisah, ketika masih SD, saya pernah kentut sembarangan saat bermain di jam istirahat. Bukan kasus besar sebenarnya, hanya kentut biasa kok, bukan kentut berisi. Tapi ketika saya melihat ke arah teman-teman saya (yang saat itu kebanyakan perempuan), mereka semua melihat saya dengan tatapan jijik. Bagaimana sih kalau kamu jadi kotoran yang ngambang di kali? Nah, tatapannya kayak gitu.

Continue reading Mitos-mitos Absurd

Dilema Sebuah Nama

Katanya anak sekarang namanya aneh-aneh, unik-unik, beda kayak orang zaman dulu yang rata-rata namanya seragam dan mudah dikenal. Contohlah nama ibu saya, Asni. Nama yang catchy dan gampang nempel di kepala. Nulisnya pun singkat, satu kata, gak repot, dan gak perlu pakai spasi. Bisa saya bayangkan betapa cepat ibu saya mengisi nama di lembar jawaban ujian nasionalnya.

Bandingkan dengan nama saya, Regin Iqbal Mareza. Nama yang kalau saya sebut pertama kali ke orang yang baru kenal, harus saya ulang berkali-kali.

“Nama saya Regin”
“Hah? Regi?”
“Regin…”
“Egi?”
“Reg..in..”
“Gerin?”
“Udah, panggil Iqbal aja”
“Ooh, Iqbal. Bilang dong

Bukannya saya tidak suka dengan nama saya, nama saya yang sedemikian rupa menjadi kebanggaan tersendiri untuk saya sebagai tanda bukti bahwa saya adalah anak milennials dengan nama yang unik dan langka. Pernah saya coba googling, mencari Regin Iqbal Mareza lain di muka bumi ini, hasilnya nihil. Oke, hilangkan nama terakhir saya. ‘Regin Iqbal’. Hasilnya, saya menemukan satu Regin Mohammed Iqbal di India sana. Terakhir, saya coba googling nama ‘Regin’ saja, tidak seunik yang saya kira. Bahkan untuk nama Regin sudah punya halaman wikipedia sendiri.

Nama Regin sebenarnya gak pasaran-pasaran amat, hanya variannya saja yang banyak. Semacam Regia, Regi, Regina, hingga Reginia, yang celakanya, kebanyakan nama-nama tersebut dipakai oleh perempuan. Tidak sedikit orang pernah bertanya kepada saya,

“Nama kamu tuh sebenernya nama perempuan bukan sih? Kok dikasih nama Regin?”

Nama saya itu memiliki arti khusus. Bukan arti secara bahasa memang, karena nama ‘Regin’ tidak diambil dari bahasa mana-mana, tapi ia memiliki faktor historis sendiri mengapa nama Regin itu diambil. Begitu pun dengan Iqbal dan Mareza.

Atas alasan peliknya urusan nama Regin inilah, mulai dari perlu berkali-kali memastikan nama panggilannya ‘Regin’ dan bukan ‘Egi’ atau ‘Regi’, hingga pertanyaan-pertanyaan yang muncul karena penasaran asal nama ‘Regin’, saya sempat berkali-kali ingin mengubah nama panggilan saya menjadi ‘Iqbal’. Alasannya sederhana, karena nama ‘Iqbal’ lebih membumi di tengah masyarakat kita.

Continue reading Dilema Sebuah Nama

Diam

Menurutmu, bagaimana aku membahasakan rindu?

Adakah ia cukup dengan lantunan lirik sebuah lagu? Adakah ia cukup dengan rangkaian kata seorang pujangga? Menurutku tidak. Apa yang mampu diucap di lisan dan diindera di mata, tidak lebih luas dari setangkup rindu itu sendiri.

Menurutku, adalah diam yang mampu membahasakan rindu. Tidak semegah kalimat pengakuan cinta memang, tapi ia cukup untuk menjadi pembuktian rasa.

Diam mampu membuktikan kepada kita banyak hal. Ia mampu menjadi bukti, betapa keras usaha seseorang menahan letup-letup di hati. Ia mampu menjadi bukti, bahwa ada yang sedang berjuang dengan perasaannya sendiri. Ia mampu menjadi bukti, bahwa ada ego yang harus ditekan bila memang belum berhak memiliki.

Diam, mampu menjadi bukti, bahwa adakalanya kata-kata tidak cukup membahasakan rasa.

Sialnya, tidak semua orang paham akan bahasa rindu satu ini. Bukankah gunung tidak pernah mengerti arti diamnya pendaki di atas puncaknya? Bukankah laut tidak pernah mengerti arti diamnya penyelam di pinggir tepinya?

Maka mengertikah kamu arti diamku di depan matamu?

Jakarta, ba’da isya
13/10/2017

7 Alasan Kenapa Anak Muda Kebelet Nikah, Nomor 5 Bikin Netizen Melongo

Dulu zaman saya SMP, bicara urusan pernikahan adalah sebuah urusan yang berat. Urusan yang rasanya jauh sekali untuk saya jangkau kalau dilihat dari usia saya saat itu. Tapi sekarang, kok rasa-rasanya anak SD aja sudah berani masuk ke domain pembicaraan ini ya? Saya jadi ingat potongan lirik lagu Camelia Malik,

Kalau cinta sudah direkayasa..banyak bocah disulapnya dewasa

Kok bisa sih anak-anak muda yang masih unyu-unyu ini bisa jadi kayak kebelet nikah gini? Padahal kan kalau dilihat-lihat mereka belum siap untuk naik ke pelaminan. Mungkin, 7 alasan ini yang jadi penyebabnya.

1. Akun Instagram Nikah Muda

Terima kasih kepada akun Instagram macam @natta_reza, @wardahmaulina_, dan @alvin_411 yang dengan gencar mempromosikan (dan memprovokasi) nikah muda kepada jomblo-jomblo pemendam rasa fii sabilillah. Indah sekali ya hidup mereka. Diikuti fotografer yang tampaknya selalu ada untuk mereka, gaya-gaya mesra, jeprat-jepret, cari caption romantis yang syar’i, posting, terus tinggal tunggu ribuan like dan ratusan komen membanjiri. Coba cek komen-komennya deh, paling banyak diisi sama iklan peninggi badan dan cuitan follower yang mungkin pada ngiri.

“#relationshipgoals bangeeeettt”

Subhanallah…pengen deh kayak kakakk…

“Menanti dia yang bisa memperlakukanku seperti ini…”

Ketemu di Instagram? Taarufnya saling stalking ya Mas?

Duh, miris sekali baca komen mas mbak dan dedek-dedek yang lagi ngegalau ini. Panutannya lagi asik PDA sendiri, mereka malah curhat sana-sini.

2. Melamar Via Chat WA

Ini yang beberapa waktu lalu sempat viral, tentang seorang gadis yang diramal..eh, lamar, via chat WhatsApp. Banyak orang menganggap cara melamar macam ini adalah cara melamar yang keren dan relationship goals banget. Padahal menurut saya, cara ini malah cara yang payah. Dulu zaman saya SMP, kalo ada cowok nembak pacarnya via SMS (tanpa ngomong langsung), bakal divonis cupu, lemah, dan tidak berdaya.

Pacar yang ditembak dengan cara SMS, cuma layak pacaran lewat SMS-an saja. Gausah ketemuan atau jalan bareng segala. Masa’ nembak aja ga mau ketemu langsung?” Begitu ungkapan yang pernah saya dengar dulu.

Nah dengan logika seperti ini, apakah seseorang yang dilamar via chat WhatsApp hanya layak nikah dan hidup berumah tangga via WA saja? Di mana enaknya?

Celakanya, cara melamar ini sudah kadung viral. Baiklah kalau begitu, kapan aku dimasukkan ke dalam grup WA keluargamu? Akan kulamar kamu di situ *malahngode*

3. Undangan Nikah Dari Orang Lain

Pertanyaan klasik yang tidak mudah untuk dijawab,

Kapan nyusul?

Continue reading 7 Alasan Kenapa Anak Muda Kebelet Nikah, Nomor 5 Bikin Netizen Melongo

Pemahat Bulan

“Aku selalu suka bulan sabit”

Begitu katamu, sambil menatap langit gelap di atas sana, saat kita duduk menunggu kereta terakhir malam itu.

“Andai rembulan selalu berbentuk sabit seperti malam ini, aku pasti akan senang sekali”

Seketika gugusan bintang memudar, kalah terang dengan pendaran cahaya dari matamu saat mengatakan hal itu. Begitukah dirimu jika sedang bahagia? Sungguh, apapun akan kulakukan demi melihat mata bahagia itu lagi.

Apapun. Bahkan ketika itu berarti aku harus memahat bulan.

Continue reading Pemahat Bulan