That Awkward Moment When…

Satu hal yang tidak mudah untuk seorang laki-laki jelaskan kepada orang tuanya, selain alasan memilih seorang perempuan untuk dijadikan istri, adalah alasan mengapa tiba-tiba ia mandi sebelum subuh.

Ya, jika kamu laki-laki single dan normal yang masih tinggal dengan orang tuanya, momen ini adalah momen yang kurang mengenakkan.

Ayah:Loh, Gin, kok tumben banget mandi subuh-subuh gini?”
Gua:Ya…pengen aja…
Ayah: “….”
Gua: “….”
Ayah: “Yaudah sana buruan pake baju. Masuk angin nanti kalo cuma handukan gitu”

Laki-laki macam apa yang tiba-tiba mandi jam setengah 4 pagi cuma karena pengen aja?

Advertisements

Dilema Sebuah Nama

Katanya anak sekarang namanya aneh-aneh, unik-unik, beda kayak orang zaman dulu yang rata-rata namanya seragam dan mudah dikenal. Contohlah nama ibu saya, Asni. Nama yang catchy dan gampang nempel di kepala. Nulisnya pun singkat, satu kata, gak repot, dan gak perlu pakai spasi. Bisa saya bayangkan betapa cepat ibu saya mengisi nama di lembar jawaban ujian nasionalnya.

Bandingkan dengan nama saya, Regin Iqbal Mareza. Nama yang kalau saya sebut pertama kali ke orang yang baru kenal, harus saya ulang berkali-kali.

“Nama saya Regin”
“Hah? Regi?”
“Regin…”
“Egi?”
“Reg..in..”
“Gerin?”
“Udah, panggil Iqbal aja”
“Ooh, Iqbal. Bilang dong

Bukannya saya tidak suka dengan nama saya, nama saya yang sedemikian rupa menjadi kebanggaan tersendiri untuk saya sebagai tanda bukti bahwa saya adalah anak milennials dengan nama yang unik dan langka. Pernah saya coba googling, mencari Regin Iqbal Mareza lain di muka bumi ini, hasilnya nihil. Oke, hilangkan nama terakhir saya. ‘Regin Iqbal’. Hasilnya, saya menemukan satu Regin Mohammed Iqbal di India sana. Terakhir, saya coba googling nama ‘Regin’ saja, tidak seunik yang saya kira. Bahkan untuk nama Regin sudah punya halaman wikipedia sendiri.

Nama Regin sebenarnya gak pasaran-pasaran amat, hanya variannya saja yang banyak. Semacam Regia, Regi, Regina, hingga Reginia, yang celakanya, kebanyakan nama-nama tersebut dipakai oleh perempuan. Tidak sedikit orang pernah bertanya kepada saya,

“Nama kamu tuh sebenernya nama perempuan bukan sih? Kok dikasih nama Regin?”

Nama saya itu memiliki arti khusus. Bukan arti secara bahasa memang, karena nama ‘Regin’ tidak diambil dari bahasa mana-mana, tapi ia memiliki faktor historis sendiri mengapa nama Regin itu diambil. Begitu pun dengan Iqbal dan Mareza.

Atas alasan peliknya urusan nama Regin inilah, mulai dari perlu berkali-kali memastikan nama panggilannya ‘Regin’ dan bukan ‘Egi’ atau ‘Regi’, hingga pertanyaan-pertanyaan yang muncul karena penasaran asal nama ‘Regin’, saya sempat berkali-kali ingin mengubah nama panggilan saya menjadi ‘Iqbal’. Alasannya sederhana, karena nama ‘Iqbal’ lebih membumi di tengah masyarakat kita.

Continue reading Dilema Sebuah Nama

Nekat, Hijrah, dan Al Azhar

Bisa dibilang saya ini orangnya nekat. Kadang begitu ada satu hal yang ingin saya lakukan, tanpa pertimbangan apapun langsung saya lakukan begitu saja, tidak peduli resiko apa yang muncul belakangan. Tindakan nekat ini kadang menimbulkan faidah, kadang juga berujung hati yang patah  😥

Saya tidak akan menceritakan tindakan nekat saya yang menyedihkan itu. Udah ga berfaidah, malah bikin galau kan jadinya. Mending yang berfaidah, kali aja ujung-ujungnya dapat hidayah 🙂

Semua berawal dari ketertarikan saya pada sebuah event organizer kajian, The Rabbaanians. Kajiannya keren-keren, terlihat dari teaser kajian mereka yang di-upload ke Youtube atau Instagram mereka. Dan waktu itu, pemateri kajiannya pun termasuk salah satu yang terfavorit bagi saya: Ust. Muhammad Nuzul Dzikri hafizhahullah. Mungkin buat temen-temen yang kepo sama kajian beliau, bisalah ditonton salah satu kajiannya yang menurut saya paling dahsyat dan paling baper sekaligus: Ketika Aku Jatuh Cinta.

kjnMasjid Agung Al Azhar, 11 Januari 2017, begitu yang tertera di poster kajian. Mengangkat tema tentang salah satu sahabat Nabi yang mungkin asing bagi kebanyakan dengan judulnya yang bikin kepo: Saat Semua Berpaling (Kisah Ka’ab bin Malik). Kajiannya dimulai ba’da isya. Bisa bangetlah saya datengin setelah pulang kantor.

Nah, nekatnya di sini. Saya nekat naik motor dari kantor saya di BSD sampai Masjid Al Azhar di Kebayoran Baru. Padahal saya sama sekali belum pernah ke sana, belum pernah ke Jakarta dengan motor sendiri, buta sama sekali dengan jalan di Jakarta. Modal saya hanya ponsel dengan baterai 83% dan sisa kuota internet Telkoms*l yang kudu mikir tiga kali kalau mau dihabiskan begitu saja karena mikirin harga paketnya.

Continue reading Nekat, Hijrah, dan Al Azhar

6th Anniversary

Udah 6 tahun ya kita barengan. Melewati berbagai rintangan yang ada bersama. Duh, di saat suka maupun duka, saat sulit maupun bahagia, kita selalu bisa berjalan bersama. Ada kalanya kamu membantuku di saat aku lemah, dan ada saatnya pula ketika aku yang memberimu dorongan di saat kamu tak berdaya. Terima kasih, Honda Blade-ku.

Haha, gajelas banget ya tulisan di atas? Tapi emang sih, ada kesan gimana gitu kalau flashback ke masa lalu, pas dibeliin motor ini saat gua SMA dulu. Dan lu tau apa pesan pertama yang disampaikan ibu gua?

“Gin, Ibu nggak bisa ngebayangin kamu ngebonceng perempuan yang ‘belum berhak’ buat kamu bonceng.”

Continue reading 6th Anniversary

Ironi KRL

Kereta lengang. Gak penuh, ga kosong. Semua kursi udah keisi, dan yang berdiri juga cuma beberapa. Tapi dari beberapa yang berdiri itu, muncul sebuah ironi.

Ada seorang wanita, diliat dari muka sama perawakannya kira-kira usia 20-an lah ya, berdiri persis di depan gua. Kegiatan seharian ini memaksa gua untuk tega tak memberikan kursi. Kaki gempor, tapi Bogor masih jauh. Ingin rasanya pura-pura tidur tak perhatikan sekitar. Sayangnya, wanita itu berhasil mencuri perhatian gua.

Gede banget bos…perutnya. Tapi dari segi muka dan proporsional badan, rasanya belum layak dikatakan berbadan dua. Jadilah ironi di sini. Kalau memang si wanita itu sedang mengandung, kenapa dia tidak ke bangku prioritas, tapi malah berdiri di depan gua yang ada di samping bangku prioritas? Padahal kalau mau ke bangku prioritas, tinggal geser. Tapi kalau nggak lagi mengandung, kenapa perutnya aduhai besarnya?

Gua jadi penasaran, apakah yang ada di perut itu bayi empat bulan, atau bakso empat mangkok?

Duh ironis sekali. Persilakan duduk, nanti dia geer dikira gua modus. Kalau enggak dikasih, gua bisa dicap amoral. Apa perlu gua kasih duduk sambil basa-basi, “Silakan bu, pasti capek ya bawa dedek bayi.”

Iya kalau bener, kalau salah kan gua yang digaplok.

Akhirnya setelah perenungan sepersekian menit, gua putuskan untuk banyak istighfar. Gua lupa prinsip ghadul bashar yang harusnya gua terapkan. Istighfar itu kemudian dilanjutkan dengan doa yang dahsyat, doa yang mengingatkan kita pada hakikat hidup dan mati.

“Bismika Allahumma amuutu wa ahya.”

Manggarai-Bogor, November 2016

Balada Mareza

Alkisah, di timur Kota Surabaya, hiduplah seorang mahasiswa rupawan yang sedang menunggu wisuda. Sebut saja namanya Mareza. Mareza ini kalau orang lihat, wajahnya tergolong eksotis karena memiliki perpaduan mata khas bangsa Timur Jauh dengan hidung yang ala-ala Timur Tengah. Rupawan sekali pokoknya, orang Korea pun iri karena mereka harus merogoh kocek lebih untuk operasi plastik demi hidung ala-ala itu.

Si Mareza ini biasanya kalau berkeliaran di kampus selalu tampil gagah dengan motor yang suara knalpotnya tiada dua. Tapi pada suatu hari di penghujung bulan Agustus, Mareza terlihat berjalan sendirian menyusuri jalanan kampus. Wajahnya tertekuk, kepalanya merunduk, peluh membasahi sekujur tubuhnya. Mareza menyeret langkah kakinya menembus keringnya udara musim kemarau di salah satu kota terpanas di Indonesia.

Beberapa adik tingkat Mareza yang kebetulan lewat berbaik hati menawarkan tumpangan,

Mau ke TC mas? Ayo bareng saya aja.

Mareza menyunggingkan senyum tipis, berusaha mengusir wajah lelah di hadapan adik tingkatnya,

Wah makasih ya, lu duluan aja. Gua mau ke kosan kok.

Adik tingkat baik hati itu pergi, Mareza berjalan lagi. Kembali berlelah-lelah sendiri. Lelahnya Mareza tidak hanya lelah di kaki, tapi juga di hati. Mood-nya rusak dalam sehari. Duhai, apa yang telah terjadi?

Begini ceritanya…

Continue reading Balada Mareza