Nekat, Hijrah, dan Al Azhar

Bisa dibilang saya ini orangnya nekat. Kadang begitu ada satu hal yang ingin saya lakukan, tanpa pertimbangan apapun langsung saya lakukan begitu saja, tidak peduli resiko apa yang muncul belakangan. Tindakan nekat ini kadang menimbulkan faidah, kadang juga berujung hati yang patah  😥

Saya tidak akan menceritakan tindakan nekat saya yang menyedihkan itu. Udah ga berfaidah, malah bikin galau kan jadinya. Mending yang berfaidah, kali aja ujung-ujungnya dapat hidayah 🙂

Semua berawal dari ketertarikan saya pada sebuah event organizer kajian, The Rabbaanians. Kajiannya keren-keren, terlihat dari teaser kajian mereka yang di-upload ke Youtube atau Instagram mereka. Dan waktu itu, pemateri kajiannya pun termasuk salah satu yang terfavorit bagi saya: Ust. Muhammad Nuzul Dzikri hafizhahullah. Mungkin buat temen-temen yang kepo sama kajian beliau, bisalah ditonton salah satu kajiannya yang menurut saya paling dahsyat dan paling baper sekaligus: Ketika Aku Jatuh Cinta.

kjnMasjid Agung Al Azhar, 11 Januari 2017, begitu yang tertera di poster kajian. Mengangkat tema tentang salah satu sahabat Nabi yang mungkin asing bagi kebanyakan dengan judulnya yang bikin kepo: Saat Semua Berpaling (Kisah Ka’ab bin Malik). Kajiannya dimulai ba’da isya. Bisa bangetlah saya datengin setelah pulang kantor.

Nah, nekatnya di sini. Saya nekat naik motor dari kantor saya di BSD sampai Masjid Al Azhar di Kebayoran Baru. Padahal saya sama sekali belum pernah ke sana, belum pernah ke Jakarta dengan motor sendiri, buta sama sekali dengan jalan di Jakarta. Modal saya hanya ponsel dengan baterai 83% dan sisa kuota internet Telkoms*l yang kudu mikir tiga kali kalau mau dihabiskan begitu saja karena mikirin harga paketnya.

Continue reading Nekat, Hijrah, dan Al Azhar

6th Anniversary

Udah 6 tahun ya kita barengan. Melewati berbagai rintangan yang ada bersama. Duh, di saat suka maupun duka, saat sulit maupun bahagia, kita selalu bisa berjalan bersama. Ada kalanya kamu membantuku di saat aku lemah, dan ada saatnya pula ketika aku yang memberimu dorongan di saat kamu tak berdaya. Terima kasih, Honda Blade-ku.

Haha, gajelas banget ya tulisan di atas? Tapi emang sih, ada kesan gimana gitu kalau flashback ke masa lalu, pas dibeliin motor ini saat gua SMA dulu. Dan lu tau apa pesan pertama yang disampaikan ibu gua?

“Gin, Ibu nggak bisa ngebayangin kamu ngebonceng perempuan yang ‘belum berhak’ buat kamu bonceng.”

Continue reading 6th Anniversary

Ironi KRL

Kereta lengang. Gak penuh, ga kosong. Semua kursi udah keisi, dan yang berdiri juga cuma beberapa. Tapi dari beberapa yang berdiri itu, muncul sebuah ironi.

Ada seorang wanita, diliat dari muka sama perawakannya kira-kira usia 20-an lah ya, berdiri persis di depan gua. Kegiatan seharian ini memaksa gua untuk tega tak memberikan kursi. Kaki gempor, tapi Bogor masih jauh. Ingin rasanya pura-pura tidur tak perhatikan sekitar. Sayangnya, wanita itu berhasil mencuri perhatian gua.

Gede banget bos…perutnya. Tapi dari segi muka dan proporsional badan, rasanya belum layak dikatakan berbadan dua. Jadilah ironi di sini. Kalau memang si wanita itu sedang mengandung, kenapa dia tidak ke bangku prioritas, tapi malah berdiri di depan gua yang ada di samping bangku prioritas? Padahal kalau mau ke bangku prioritas, tinggal geser. Tapi kalau nggak lagi mengandung, kenapa perutnya aduhai besarnya?

Gua jadi penasaran, apakah yang ada di perut itu bayi empat bulan, atau bakso empat mangkok?

Duh ironis sekali. Persilakan duduk, nanti dia geer dikira gua modus. Kalau enggak dikasih, gua bisa dicap amoral. Apa perlu gua kasih duduk sambil basa-basi, “Silakan bu, pasti capek ya bawa dedek bayi.”

Iya kalau bener, kalau salah kan gua yang digaplok.

Akhirnya setelah perenungan sepersekian menit, gua putuskan untuk banyak istighfar. Gua lupa prinsip ghadul bashar yang harusnya gua terapkan. Istighfar itu kemudian dilanjutkan dengan doa yang dahsyat, doa yang mengingatkan kita pada hakikat hidup dan mati.

“Bismika Allahumma amuutu wa ahya.”

Manggarai-Bogor, November 2016

Balada Mareza

Alkisah, di timur Kota Surabaya, hiduplah seorang mahasiswa rupawan yang sedang menunggu wisuda. Sebut saja namanya Mareza. Mareza ini kalau orang lihat, wajahnya tergolong eksotis karena memiliki perpaduan mata khas bangsa Timur Jauh dengan hidung yang ala-ala Timur Tengah. Rupawan sekali pokoknya, orang Korea pun iri karena mereka harus merogoh kocek lebih untuk operasi plastik demi hidung ala-ala itu.

Si Mareza ini biasanya kalau berkeliaran di kampus selalu tampil gagah dengan motor yang suara knalpotnya tiada dua. Tapi pada suatu hari di penghujung bulan Agustus, Mareza terlihat berjalan sendirian menyusuri jalanan kampus. Wajahnya tertekuk, kepalanya merunduk, peluh membasahi sekujur tubuhnya. Mareza menyeret langkah kakinya menembus keringnya udara musim kemarau di salah satu kota terpanas di Indonesia.

Beberapa adik tingkat Mareza yang kebetulan lewat berbaik hati menawarkan tumpangan,

Mau ke TC mas? Ayo bareng saya aja.

Mareza menyunggingkan senyum tipis, berusaha mengusir wajah lelah di hadapan adik tingkatnya,

Wah makasih ya, lu duluan aja. Gua mau ke kosan kok.

Adik tingkat baik hati itu pergi, Mareza berjalan lagi. Kembali berlelah-lelah sendiri. Lelahnya Mareza tidak hanya lelah di kaki, tapi juga di hati. Mood-nya rusak dalam sehari. Duhai, apa yang telah terjadi?

Begini ceritanya…

Continue reading Balada Mareza

Telepon Keluarga

Sebagai mahasiswa yang sedang merantau di luar kota, wajar dong kalo gua ga jarang ditelepon sama keluarga gua di rumah? Nah, kebiasaan telpon-telponan di keluarga gua ini sudah ada SOP-nya. Jadi ketika keluarga tercinta di Bogor nelepon gua yang lagi di Surabaya, akan terjadi perbincangan selama kurang lebih setengah-satu jam lewat (rekornya hampir dua jam) yang sudah terpola sedemikian rupa.

Ibu

Ibu gua ini kalo ngomong di telepon banyak memberikan petuah dan nasihat. Omongan beliau adalah omongan paling berfaidah dari omongan siapapun kalo lagi telponan. Beliau layaknya penjaga ruhiyah gua kalo-kalo gua lagi futur, atau penyemangat ketika gua lagi lesu. Nggak jarang beliau ngehibur gua dengan berbagai cerita yang beliau dapat, entah tentang apa yang terjadi di rumah, tentang pengajiannya, tentang kabar tetangga, atau kadang iseng menyentil tentang rencana masa depan gua.

“Gimana, Nak, udah ngaji hari ini?”

“Sehat-sehat ji[1] kan?”

“Puasa nggak minggu ini?”

“Kemarin Elin dapet tiket nonton konser SNSD gratis.”

“Jadi, gimana kabarnya cewek yang kamu suka?”

Biasanya, sesi obrolan sama beliaulah yang paling lama. Jadi semacam quality time gitu akhirnya kalo telponan sama beliau, hehe.

Ayah

Ayah gua ini orangnya cool abis. Jangan harap kata sayang, cinta, kangen, rindu, dan sejenisnya akan keluar dari mulutnya. Tapi jangan salah, mulut boleh diam tapi tindakannya tidak. Semua ungkapan kata-kata yang tak terucap itu sudah tergurat jelas di wajah, tubuh, dan semua tindak tanduk beliau. Kalo ada sesosok manusia yang mengidolakan ayah gua secara diam-diam, jadi stalker utamanya, dan selalu penasaran dengan kisah hidupnya, itu pasti gua. Mungkin kalo ditulis semua ceritanya, bisa jadi novel best seller melebihi Ayah-nya Andrea Hirata. Kalo ngobrol di telepon sama ayah biasanya jadi obrolan paling singkat nomor dua. Tapi percayalah, kalo denger suara beliau perasaan itu jadi campur aduk.

“Gimana kabarnya? Sehat kan? Kegiatan hari ini ngapain aja?”

“Jangan lupa makan makanan bergizi!” (bukan iklan sosis kok ini)

“Gimana kondisi keuangan?”

Standarnya biasanya cuma berputar di pertanyaan-pertanyaan itu. Kalo dapet bonus biasanya ada cerita tentang pekerjaan beliau, atau cerita-cerita tentang lingkungan beliau.

Elin

Adik gua nomor 1, pas ini ditulis dia lagi di kelas XI. Adik gua paling cerewet, paling seru, paling hebring kalo ngobrol, punya bakat jadi drama queen. Biasanya obrolannya random, tapi sekalinya ngobrol bisa sampai satu jam sendiri.

Continue reading Telepon Keluarga

Indantian On Instagram!

Ceritanya ini curhat sekalian promosi aja yah.

Jadi gini temen-temen…hobi itu mesti disalurkan. Itu pasti. Penyaluran hobi itu juga harus ada medianya, dan pastikan medianya sesuai untuk menyalurkan hobi kita. Contohnya misal kita punya hobi ngegambar. Nah, pastiin dulu tuh, kalau kita mau ngegambar ya gambarlah di media yang tepat misal di buku gambar, di kertas, atau sejenisnya. Jangan jadikan tembok atau seragam SMA pas lulus yang jadi medianya. Atau misal ada orang punya hobi bergulat. Ya saya harap ia bisa menyalurkan hobinya tersebut ke dalam media yang tepat, tidak menjadikan wasit atau pemain sepak bola, atau teman-teman satu sekolahnya yang dijadikan media penyaluran hobi itu tadi.

Hingga saat ini saya masih punya hobi menulis. Saya suka nulis. Entah nulis status di media sosial, atau nulis caption di Instagram, atau nulis di blog ini. Nah, nulis kan butuh inspirasi, inspirasi itu datangnya bisa dari mana aja, dan seringnya inspirasi itu pergi begitu saja dengan cepatnya. Karena itu, saya butuh nulis di media yang instan, yang ngga perlu ribet, dan tetap menjaga inspirasi itu pada bentuknya.

Hal-hal yang saya tulis di blog ini kebanyakan adalah endapan inspirasi yang “beruntung” karena berhasil bertahan di kepala ini hingga akhirnya dituliskan. Padahal, sering kali dalam sehari ada begitu banyak inspirasi. Nah, inspirasi itu yang sering saya lepaskan begitu saja, gagal saya tangkap lalu dikristalisasikan dalam bentuk sebuah tulisan. Kemudian akhir-akhir ini saya ingat, ada sebuah media sosial tempat penggunanya berbagi foto ala-ala, yang biasanya dibubuhi caption atau kata-kata pemanis yang tidak kalah ala-ala pula: Instagram!

Jadilah saya kepikiran, untuk berusaha mengabadikan inspirasi saya dalam sebuah foto untuk kemudian dituliskan dalam kata-kata. Dan akhirnya lahirlah sebuah akun instagram dengan foto, caption, dan hashtag yang ala-ala-nya tidak kalah ala-ala ala remaja ala-ala.

Instagram.com/indantia

Hemm…sebenarnya kalian beruntung bisa mengetahui akun instagram ini, karena tidak pernah saya promosikan dalam media lain selain di blog ini. hehehe. Oh iya, tulisan dalam akun instagram tersebut hampir selalu saya tulis dalam keadaan yang kurang memungkinkan. Jadi jika memungkinkan, ada beberapa tulisan yang akan di-repost ke dalam blog ini. Nggak apa-apa kan? Lah ini kan terserah saya, blog-blog saya :p

Semoga bermanfaat, jangan lupa follow dan like-nya wkwk