Andai Dilan Orang Wakanda

Tahukah kamu, selain mewariskan hutang dan sistem hukum di Indonesia, penjajahan Belanda juga mewariskan standar good looking kepada masyarakat kita. Kulit putih misalnya, menjadi standar umum untuk menilai apakah seseorang dapat dikatakan tampan atau cantik. Terdengar rasis memang, tapi maaf, yang kulitnya lebih gelap mohon sadar diri, masyarakat Indonesia mungkin butuh waktu lebih untuk ikhlas menyebut anda tampan/cantik. Sementara untuk anda yang beruntung mewarisi kulit putih, apalagi kalau ditambah hidung mancung dan tinggi badan di atas rata-rata, selamat. Setidaknya separuh masalah hidup anda sudah selesai dengan sendirinya. Karena percaya atau tidak, fisik yang menarik bisa menyelesaikan banyak masalah dalam hidup. Dan film Dilan sudah membuktikannya, setidaknya pada saya.

Dulu saya kenal seseorang yang pernah mengejar wanita dambaannya lebih keras daripada Dilan mengejar Milea. Gombalan mautnya pun sebelas-dua belas dengan Dilan, bahkan menurut saya revolusioner di generasi seumurannya. Masih belum ada tuh gombalan macam “bapak kamu supir angkot ya?” atau semacamnya. Tingkat kepedeannya? Jangan ditanya.

Di kelas.

Duh, gua ga bawa pulpen nih. Ada pulpen ga?”

“Ada. Nih.”

“Yah, gua ga ada kertas juga. Bagi kertas dong”

“Nih.”

“Gua juga ga punya alamat rumah lu nih. Bisa tulisin ga?”

Dan sekelas pun gaduh.

Padahal zaman dulu belum ada gombalan ‘kalau mau serius, langsung datangi rumahnya‘ ala akhi ukhti galau kekinian. Dalam konteks ini, ia sudah melampaui tren di zamannya. Namun sayang, semua kata dan usaha yang ia berikan berakhir sia-sia. Pasalnya, daripada disebut mirip bangsa Eropa, ciri-ciri fisiknya lebih dekat dengan bangsa Dravida. Dan kita tahu bersama bahwa ciri fisik bangsa Dravida tidak memiliki banyak tempat lagi di hati masyarakat kita.

Sungguh berbeda dengan tokoh Dilan yang fisik aktornya memenuhi standar good looking. Kaum hawa seakan rela menunggu setiap huruf, setiap kata, dan setiap tanda baca yang keluar dari lisan Dilan. Mereka rela menunggu hingga titik terakhir kata-kata manisnya untuk membawa perasaan tinggi melayang. Sedangkan untuk teman saya? Ia bahkan tidak pernah menyelesaikan gombalannya dengan sempurna. Kekurangan fisiknya menjadikan kaum hawa kehilangan minat mendengar bujuk rayunya.

Wajar kalau muncul selorohan ‘untung Dilannya ganteng. Kalo Dilannya jelek sih najis!

Andai, andai Dilan adalah orang Wakanda yang fisiknya jauh dari standar good looking yang berlaku, masihkah ia tetap didengar? Bisakah ia mendapatkan hati Milea di tengah masyarakat yang -sedikit banyak- masih rasis ini? Lupakan soal hadiah TTS yang sudah diisi Dilan agar Milea tidak perlu mikir untuk mengisinya lagi. Toh, sekeping vibranium sudah cukup membuat Milea tidak perlu bekerja lagi seumur hidupnya. Milea juga tidak perlu khawatir ada yang menyakitinya. Orang Wakanda sudah ribuan tahun menyembunyikan keberadaan teknologinya, menghilangkan keberadaan satu orang yang menyakiti Milea bukan soal sulit tentunya. Rindu? Berat? Orang Wakanda bahkan bisa melepas rindu dengan orang yang sudah mati, apa susahnya melepas rindu dengan orang yang masih hidup?

Pertanyaannya, apakah Milea bisa mencintai Dilan dengan logika masyarakat umum? Apakah Milea akan mencintai Dilan yang orang Wakanda, ataukah ia akan mengikuti langkah Raisa yang lebih memilih Hamish Daud daripada Kamga?

Saya tidak berharap banyak Milea akan mencintai Dilan. Saya paham, konsekuensi mencintai Dilan amat berat. Saya ragu Milea bisa mengenalkan Dilan sebagai pacarnya yang datang dari Wakanda, negara dunia ketiga, kepada teman-temannya. Ia akan melawan opini umum masyarakat kita, yang artinya ia akan menjadi bahan julitan orang-orang. Selain itu, Milea bisa jadi akan ilfil kalau melihat ekspresi cinta Dilan kepadanya.

“M’ilea forever!”

Dan Dilan tidak akan pernah lagi sama.

BSD, waktu dhuha
7/3/2018

Advertisements

Berengsek

Yang saya percayai (dan saya rasakan), ditinggal gebetan yang memilih pacaran dengan orang lain itu lebih menyakitkan daripada ditinggal gebetan yang nikah duluan. Sama-sama sakit memang, tapi sakit yang dirasakan karena ditinggal menikah itu lebih terhormat daripada rasa sakit karena ditinggal pacaran. Karena setidaknya kalau ditinggal menikah, kita ‘merelakan’ dia bersama orang lain yang kelak akan bertanggung jawab atas hidupnya. Sedangkan ditinggal pacaran? Kita seakan merelakan ia menjalankan hidupnya dengan seorang berengsek.

Ya, kalian tidak salah baca. Berengsek. Saya sedang mengumpat di sini. Dan semoga ini satu-satunya umpatan yang ada di blog ini. Izinkan saya menuliskannya sekali lagi.

Berengsek.

Sebenarnya dari sudut pandang orang yang ditinggalkan, baik yang menikahi ataupun memacari seseorang yang menjadi segalanya bagi kita adalah sama-sama berengsek (ups, satu lagi umpatan di blog ini), tapi masa’ saya mengatakan orang yang menyempurnakan separuh agamanya sebagai orang berengsek? Wah, bisa kufur saya.

Itulah salah satu alasan pentingnya belajar agama, biar nggak asal ngatain orang walau perasaan sudah hancur lebur sedemikian rupa. Kudu sabar, sabar, sabar. Fashabrun jamiil.

Sungguh, saya ingin postingan pertama saya di 2018 jauh lebih berfaidah daripada tulisan ini, sayangnya hanya ini yang bisa saya tuliskan. Setidaknya dari tulisan ini kita bisa mendapatkan faidah berupa pemahaman bahwa kata ‘berengsek’ itu ada dalam KBBI. Sehingga lain kali kalau mau mengumpat orang, jangan tulis ‘brengsek’, karena itu tidak baku. Mulailah berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Mulailah menggunakan kata baku dari hal-hal sederhana, mengumpat orang contohnya.

Semoga tulisan ini tidak menjadi cela bagi saya ketika saya dipromosikan menjadi CEO Telkom kelak. Aaamiin.

BSD, sebelum ashar
8/1/2018

Bagaimana Bersikap di Depan Perempuan yang Kamu Suka

Hanya ada satu cara yang bisa kamu lakukan jika berhadapan dengan dia, perempuan yang kamu sukai: bersikaplah sebaliknya. Jika kamu memang benar-benar menyukai seseorang dari lubuk hati yang terdalam, maka bersikaplah seakan-akan kamu tidak menyukainya. Kalau perlu, bertindaklah seakan-akan kamu tidak ingin bertemu dia sama sekali. Citrakan dirimu menjadi sosok yang independen, yang tidak tergantung pada kehadirannya, yang tidak menanti salam dan sapanya, yang tidak perlu puji dan kagumnya.

Karena kalau kamu bersikap seperti pengemis cinta di hadapannya, maka kamu akan dipandang sebagai orang lemah, budak cinta, seseorang yang tidak punya prinsip dan tidak berpendirian dalam bersikap. Kamu akan dihujat dengan satu frasa yang akan menjadi label bagi kepribadianmu: orang baperan. Makanya, sikap berkebalikan dari perasaanmu inilah yang harusnya kamu ambil dan kamu terapkan

Secara praktis, langkah-langkah yang harus kamu lakukan bisa dijabarkan ke dalam poin-poin berikut,

Jangan mulai chat duluan

Tunjukkan kalau kamu adalah seseorang yang tidak mengemis perhatiannya dengan nge-chat tidak penting sejenis bertanya apa kabar, sudah makan atau belum, dan sebagainya. Kamu hanya akan terlihat sebagai seseorang yang bodoh, yang mengemis-ngemis atensi dengan cara yang murahan. Kalau sudah begitu, si dia akan jadi merasa di atas angin. Siap-siap kamu akan dipermainkan olehnya.

Kalau memang perlu nge-chat duluan, mulailah dengan chat yang ketus dan tidak bersahabat, maka kamu akan terlihat cool dan misterius. Hindari penggunaan kata “hai” atau “halo” yang hangat, takutnya nanti dia geer. Langsung saja bicara ke pokok inti permasalahan. Alangkah lebih baik lagi kalau kamu buat chat-mu seperti orang yang ngajak gelut. Dia pasti akan memikirkanmu terus menerus karena paradoks yang kamu ciptakan. Karena di saat orang lain nge-chat duluan dengan sok-sok manis, kamu datang dengan chat yang ngajak tubir.

“Kamu dah ngerjain tugasnya belum, C*k?”

Balaslah chat sekenanya

Kadang bukan kita yang memulai, tapi dia duluan yang memancing. Ada kalanya kamu harus waspada kalau ada chat dari dia, karena bisa jadi itu adalah pancingan mautnya. Dia hanya ingin melihat bagaimana kamu bereaksi. Kalau dia nge-chat duluan, maka balaslah sekenanya dan seperlunya saja. Kamu ini cuma balas chat, bukan baca proklamasi, nggak perlu seksama tapi buatlah dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Buat chat-mu efektif, bayangkan kalau kamu sedang mengirim pager yang tarifnya dihargai sepanjang karakter pesan. Hindari kata “nggak” dan ganti dengan “g“, buang kata “oke” dan ganti dengan “k“.

Contoh kasus: dia ngajak ketemuan untuk ngerjain tugas. Dia nge-chat kamu “Eh jangan lupa jam 4 nanti kita ketemuan di kampus yaaa

Mari kita analsisis chat ini. Di sini dia menuliskan kata “ya” dengan mengguanakan tiga huruf ‘a’. Menilik teori Rizana yang berbunyi banyaknya huruf yang sama dalam satu kata berbanding lurus dengan ketertarikan seseorang, maka kata “ya” dengan tiga huruf ‘a’ ini menunjukkan dia sudah mulai tertarik denganmu, minimal sudah mau diajak makan di penyetan Keputih.

Apa kamu boleh senang? Mungkin boleh, tapi jangan luapkan kesenanganmu itu. Karena bisa jadi itu hanya pancingan atau memang dasarnya dia kalau nge-chat kayak manja-manja gitu ke semua orang. Ingat, balaslah sekenanya. Dia hanya perlu konfirmasimu untuk ketemuan jam 4. Cukup satu huruf saja untuk konfirmasi, kan?

“K”

End of chat.

Jangan buat hari ulang tahunnya menjadi hari spesial

Saya punya landasan ideologis tentang ini. Hari (yang katanya) ulang tahun Nabi dalam agama saya saja tidak saya jadikan hari spesial, apalagi ulang tahun dia yang (saat ini masih) bukan siapa-siapa bagi saya?

Oke, terlepas dari landasan ideologi yang kamu anut, jangan jadikan hari ulang tahun dia menjadi hari spesial. Bersikaplah sewajarnya meski lidah sudah kelu ingin mengucapkannya. Ingat, kamu bukan Facebook atau Google yang punya kewajiban untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Kamu adalah manusia bebas merdeka yang memiliki perasaan, dan kamu berhak atas kebebasan berperasaanmu sendiri. Jangan sampai hanya karena kamu menyukai seseorang, kamu tiba-tiba berkewajiban menjadi pengingat dan pengucap ulang tahun yang baik.

Kalau perlu, buatlah tausiyah atau siraman rohani yang mengajak pembacanya untuk mengingat dan merenungkan kematian. Di tengah-tengah euforia ulang tahun yang dia rasakan lewat berbagai kiriman pesan ucapan selamat di media sosialnya, kamu akan menjadi outlier yang tampil beda dari yang lain karena menyebarkan pesan pengingat kematian yang memutus semua kesenangan. Dia akan berpikir kalau kamu tidak ingat ulang tahunnya. Mungkin dia akan penasaran dan bertanya begini kepadamu,

“Kamu ga inget hari ini hari apa?”

Awas, ini pertanyaan jebakan. Tetaplah pada pendirianmu sebagai pengingat kematian.

“Ini hanyalah satu hari dari hari-hari yang terus mendekatkan kita kepada ajal. Bertaubatlah. Bertaubatlah.”

Hindari segala bentuk pertemuan

Pertemuan-pertemuan antara kamu dan dia adalah racun yang berbahaya bagi perasaanmu. Ingat, mungkin dia tidak memegang paham Witing Tresno Jalaran Soko Kulino yang kamu anut. Malah bisa jadi, semakin dia bertemu denganmu, semakin dia muak melihat tingkah lakumu. Kalau kamu masih belum yakin probabilitas keberhasilan hubunganmu dengan dia, maka hindari pertemuan. Begitu juga kalau kamu sudah yakin dia menyimpan perasaannya kepadamu, tetap saja, hindari pertemuan. Kenapa harus selalu menghindar? Untuk membuat dia haus akan kehadiranmu.

Tentu saja dalam menghindari pertemuan ini ada caranya, tidak asal menghindar begitu saja. Buatlah alasan untuk menghindari pertemuan dengan alasan yang keren, yang heroik, atau yang akhi-akhi banget. Terserah kamu, mau dengan citra apa kamu ingin dilihat olehnya.

Misalnya kamu di-chat begini oleh dia, “Kak, aku lagi main di Jakarta loh. Kakak kan masih punya janji nraktir aku, lunasin dong janjinya. Ketemuan yuk Sabtu ini.

Pancingan paling berbahaya adalah ajakan ketemuan di sela-sela waktu luang semacam ini. Ingat prinsip tadi, hindari pertemuan dengan menggunakan alasan yang menunjukkan bagaimana kamu ingin dipandang.

Maaf, Dek. Aku ada lembur sebulan ini. Proyek besar” jika kamu ingin dilihat sebagai pekerja keras profesional.

Duh, gua ada agenda 7 summits nih. Mau naik ke Elbrus” jika kamu ingin dilihat sebagai lelaki adventurous.

Aku mau ke Afrika, Dek. Jutaan orang terancam kelaparan di sana” jika kamu ingin dilihat sebagai pekerja sosial berkomitmen tinggi.

Afwan, ukhti, ana mau ke India gabung sama Zakir Naik” jika kamu ingin dilihat sebagai akhi-akhi aktivis tingkat internasional.

Jangan salting

Ada kalanya semesta dikondisikan untuk mempertemukan kamu dan dia meski pertemuan itu sudah dihindari sebisa mungkin. Kalau sudah begitu, usahakan untuk jangan salting alias salah tingkah. Bersikaplah sewajarnya, sewajar sikap kamu ke teman-teman yang lainnya.

Salting itu banyak bentuknya. Dan percaya atau tidak, dia bisa mengenali kalau kamu sedang salting lewat gerakan-gerakan kecil yang kamu lakukan tanpa sadar. Maka dari itu, gerakannya jangan nanggung-nanggung. Buat gerakan besar sekalian. Gerakan kaum buruh misalnya.

Dia tidak akan melihatmu sama seperti sebelumnya. Selain dipandang sebagai seorang yang progresif, kamu juga akan dilihat sebagai seseorang yang peduli nasib kaum proletar. Duhai, kurang seksi apa lagi coba. Hanya wanita yang matanya telah dibutakan kapitalisme saja yang rela menolakmu.

Hasil akhir

Saya pernah mempraktekkan seluruh tips di atas, dan hasilnya?

Dia menikah dengan orang lain. Ya, secara de facto saya gagal memilikinya, meski saya tidak tahu persis apakah nama saya pernah terpatri di hatinya atau tidak. Apakah itu berarti tips-tips di atas salah? Tentu tidak. Tidak ada yang salah dari semua tulisan di atas. Tidak ada.

Hanya saya yang salah memilih.

.

…..

Ternyata dia budak korporat penghamba kapitalisme.

BSD, sebelum ashar
29/12/2017

Selamat Hari Guru

Saya bukan termasuk siswa yang berprestasi ketika sekolah dulu. Dari SD hingga SMA, rekam jejak akademik saya bisa dibilang termasuk kelas menengah. Dalam lingkar pergaulan pun, saya hanya anak rata-rata yang tidak menonjol. Saya bukan anak gaul, bukan anak akademisi, bukan pula anak organisatoris. Jadi, kontak saya dengan guru tidak banyak. Terbatas pada ruang kelas dan jam pelajaran yang ada. Berbeda dengan anak gaul yang mungkin mudah dikenali guru, atau anak akademisi yang rajin ikut lomba dan berprestasi, atau anak organisasi yang sibuk ngajuin proposal dan ngurus event. Mereka dengan mudah dikenali guru karena urusan mereka masing-masing yang membuat kontak mereka dengan guru cukup intens.

Sedangkan saya? Saya bukan anak yang meninggalkan banyak kesan kepada guru-guru saya. Entah masih adakah guru yang ingat kepada saya. Tapi bagaimanapun, meski saya tidak diingat dengan baik oleh guru-guru saya, saya mengingat baik siapa-siapa guru yang meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Contoh guru geografi zaman SMP dulu. Namanya Pak Rudi. Yang saya ingat dari beliau, beliau menganjurkan kami, anak didiknya, untuk menikah di musim dingin. Alasannya?

“Karena kalau musim dingin itu enak. Siangnya pendek, malamnya panjaaang.”

Atau contoh lain, guru bahasa Indonesia saya kelas X. Namanya Pak Agus Sunarya. Dulu saya dan teman-teman yang lain menyebut beliau Agus Suneo, tidak lain karena fisiknya mirip dengan tokoh kartun yang menjadi sohib Giant tersebut. Beliau berpesan kepada anak-anak di kelas kami, khusunya perempuan, untuk jangan mau jadi korban gombalan lelaki yang mengaku-ngaku menjadi Arjuna.

“Arjuna itu istrinya banyak. Jadi jangan bangga kalian kalau digombalin ‘akulah arjunamu’ sama laki-laki. Jangan-jangan, kalian nanti mau dijadiin istrinya yang ke-99 lagi.”

Pantas saja prestasi akademik saya tidak begitu cemerlang. Yang saya perhatikan dari guru ketika di kelas adalah tingkah laku mereka, bukan materi pelajaran yang mereka ajarkan. Bukan bermaksud apa-apa, tapi menurut saya hanya menyimak materi pelajaran saja ketika di kelas tentu membosankan. Bukankah materi itu sudah ada di buku teks? Guru berada di depan kelas tidak hanya untuk mengajarkan materi yang ada di kurikulum, tapi juga mengajarkan pelajaran-pelajaran yang tidak ada di kurikulum: pelajaran hidup. Mereka mengajar di depan kelas tidak hanya karena mereka menguasai apa yang ada di buku teks, tapi juga mereka memiliki pengalaman yang mungkin tidak akan kita dapatkan di buku teks manapun, dan itu yang harusnya kita perhatikan baik-baik.

Pak Agus Suneo misalnya. Di kelas X dulu, saya sudah diajarkan bahwa kelak jika kita menyusun skripsi ketika kuliah nanti, sebaik apapun tulisan kita dan sekeras apapun usaha kita merampungkan skripsi itu, pasti akan dicorat-coret sama dosen juga. Iya, itu dikatakan beliau ketika melihat tugas saya yang acak-acakan, dan saya berkelit bahwa saya sudah mengerjakan tugas itu sebaik mungkin.

“Nanti kamu bakal ngerasain, tugas yang sudah bolak-balik kamu kerjakan susah payah itu malah dibuang ke tempat sampah. Berkali-kali. Masih untung ini cuma saya corat-coret sekali. Jadi nanti, siapkan mental kamu ya.”

Terbukti, materi-materi yang beliau ajarkan sudah banyak yang menguap dari kepala, tapi mental yang beliau tanamkan saat itu masih kuat mengakar dalam sanubari *ceilaah*

Terakhir, untuk menutup tulisan sederhana yang tidak jelas ini, saya ingin menuliskan sedikit tentang guru lain yang paling saya ingat. Namanya Pak Darwin, guru olahraga SMA. Kalau melihat sosok dan kepribadian beliau mungkin akan langsung teringat Ahok, mantan gubernur DKI itu. Hanya saja perutnya lebih besar dan saya tidak pernah mendengar beliau menistakan suatu agama. Tapi kalau masalah ceplas-ceplosnya mungkin sama.

“Lari 6 keliling GOR ngeluh? Ibu hamil aja bisa lari 7 keliling!”

“Ayo terus lari! Emang kalo hujan kenapa? Sapi aja hujan-hujanan!”

“Kalau saya jadi guru sosiologi kamu, saya bakal praktek langsung. Saya bakal bawa kamu ke stasiun, terus nunjukin mana muka copet, mana muka bajingan.”

Pengalaman hidup apa yang saya dapat dari Pak Darwin selain kata-katanya yang nyeleneh itu? Bahwa ternyata, kemalasan itu bisa membuat perut gendut.

“Saya ini dulu badannya bagus. Gara-gara ngajar kalian aja nih yang malas-malasan makanya saya jadi gendut.”

Terima kasih Pak Darwin, dan terima kasih untuk seluruh guru yang telah mengantarkan saya hingga saya bisa menjadi seperti ini.

Di nuansa hari guru ini, izinkan saya menulis tentang kalian. Pramoedya Ananta Toer pernah berkata bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Maka izinkanlah saya mengabadikan kalian, menjadi bahan cerita kelak di masa depan. Cerita yang baik-baik tentunya, bukan cerita lucu-lucuan seperti nama Suneo itu.

Kelak ketika saya membuka catatan kecil ini suatu saat nanti, saya akan ceritakan kepada anak cucu saya bahwa saya memiliki guru-guru yang inspiratif, dengan satu-dua ada yang absurd. Tidak ada yang melarang guru untuk absurd kan? Justru dengan itu kalian telah mendidik saya dengan lebih manusiawi.

Selamat hari guru!

*Kalian pasti bangga dengan saya saat menuliskan ini kan? Meski kalian tidak ingat saya, saya ingat kalian dengan baik. Saking ingatnya, saya sampai lupa kalau hari guru itu kemarin, bukan hari ini.*

 Bogor, ba’da maghrib
26/11/2017

Shalat Subuh Di Meikarta

Salah satu kebiasaan buruk saya yang ingin saya hentikan adalah terlambat shalat subuh. Tolong Jangan salah paham. Yang ingin saya hentikan itu terlambatnya loh ya, bukan shalat subuhnya. Saking terlambatnya, kadang saya dikira sedang shalat dhuha. Tapi tenang, ngga pernah nyampe dikira shalat qabliah zhuhur kok.

Mengenai alasan saya terlambat shalat subuh, apalagi kalau bukan karena terlambat bangun. Beberapa alibi yang saya gunakan sebagai pembenaran keterlambatan saya diantaranya,

Yang pertama, tidur larut malam

Bukan karena saya ingin tidur larut malam. Saya termasuk orang yang mencintai tidur. Sayangnya, rutinitas kadang memaksa saya untuk menghabiskan waktu yang sedianya saya pakai untuk tidur malah dipakai untuk hal lain. Kerja misalnya. Jarak rumah ke kantor yang lumayan jauh mengakibatkan saya lelah duluan di jalan. Sampai di rumah, bukannya langsung tidur, eh malah galau mikirin kamu. Jadi makin nggak bisa tidur kan.

Yang kedua, azan subuh yang tidak terdengar 

Dasar anak milennials yang tidak ingin disalahkan. Diri sendiri yang tidak terbangun, malah speaker masjid yang disalahkan. Coba kalau speaker masjidnya gahar meraung, garang merobek cakrawala, saya tidak perlu memakai alarm yang tidak berguna itu. Kalau alarm kan bisa langsung refleks saya matikan, kalau dengar dari speaker azan kan masa’ saya matikan muazinnya?

Yang ketiga, waktu subuh di Indonesia yang terlalu cepat

Inilah alibi paling syar’i yang saya miliki. Saya berkilah dengan menggunakan alasan kalau waktu shalat subuh di Indonesia ini perlu dikoreksi karena terlalu cepat. Ini bukan rekaan saya loh ya. Masalah ini sudah ada sejak lama.

Dulu ketika saya kuliah, ada masjid di seberang kosan saya yang azan subuhnya selalu terlambat sekitar 20-30 menit dari masjid lainnya. Ketika saya tanya pengurusnya, ia menjawab kalau waktu shalat subuh di Indonesia perlu dikoreksi. Katanya, waktu subuh di Indonesia itu menggunakan fajar kadzib yang muncul beberapa waktu sebelum fajar shadiq, padahal waktu shalat subuh yang tepat adalah fajar shadiq. Jadi, katanya, waktu subuh yang tepat adalah sekitar setengah jam dari waktu subuh yang umum digunakan di Indonesia. Mana yang benar? Wallahu a’lam. Mungkin artikel ini bisa dijadikan referensi.

Apa Solusinya?

Menghadapi masalah keterlambatan shalat subuh ini, dengan melihat alibi-alibi saya di atas, mungkin ada satu solusi yang harus saya coba: Pindah ke Meikarta.

Saya tidak perlu menghabiskan waktu di jalan. Wong ke mana-mana dekat, aksesnya juga mudah. Ke jalan tol dekatke stasiun dekatke bandara dan lrt juga dekat. Saya juga tidak perlu galau mikirin kamu. Masa’ iya sih kamu nggak mau diajak hidup bersama di Meikarta?

Saya tidak perlu menyalahkan masjid karena speaker-nya yang kurang kencang. Karena yang saya lihat dari iklannya, tidak ada masjid di Meikarta.

Kalau pun ada masjid dan terdengar azan di Meikarta, saya tidak perlu khawatir tentang waktu shalat subuhnya. Kata teman saya, di Meikarta subuhnya jam 10.00. Sungguh nikmat yang hqq.

Ketika curhat di medsos berujung solusi yang brilian

Sampai ketemu, di Meikarta! (kalau jadi)

BSD, waktu ashar
26/10/2017

SN vs KPK dan Rumitnya Hubungan Kita

Aku pusing melihat sikapmu yang dingin, netizen pusing pantengin kasus Pak SN.

Kamu tahu Pak SN kan? Itu loh, ketua dewan yang terhormat itu. Tahu nggak sih kenapa kok gara-gara beliau negara jadi heboh banget sekarang-sekarang ini? Padahal, kasus-kasusnya sebenarnya sudah mulai dari dulu loh. Emang sih kasusnya dimulai bahkan sebelum aku mengenal kamu, tapi percayalah, gaduhnya sama. Yang satu bikin gaduh satu negeri, yang satu bikin gaduh di hati.

Aku nggak bakal cerita soal kasus-kasus Pak SN kok, udah terlalu jauh. Kan katanya itu tinggal masa lalu, nggak usahlah dibicarain lagi. Kayak kamu yang nggak mau membicarakan cowok cemceman kamu zaman SMA dulu itu. Bukan karena masih ada rasa kan ya? Hemm…

Kita mulai dari yang akhir-akhir ini aja ya, mundur beberapa minggu dari chat terakhir kita.

Awalnya Pak SN, si ketua dewan yang terhormat itu, ‘hanya’ mangkir dari panggilan KPK saat ditetapkan jadi saksi hingga tersangka. Panggilan-panggilan KPK mungkin dianggap angin lalu olehnya, persis kamu yang tak pernah mengacuhkan pesan-pesanku. Maklum, beliau kan orang penting, sama kayak kamu kan?

Pesan-pesanku nggak seheboh KPK pas manggil SN sih. Nggak semegah konferensi pers-nya KPK yang ramai dengan wartawan, pesan-pesanku ke kamu cuma sesungging senyum kalau kita lagi papasan aja. Garing ya? Aku kan nggak mau mencintaimu dengan heboh. Aku ingin kayak Sapardi Djoko Damono yang mencintai dengan sederhana. Semoga kamu paham.

Continue reading SN vs KPK dan Rumitnya Hubungan Kita