Muka Tabok

Ada ya, orang yang mukanya memang mengundang buat ditabok. Padahal dia nggak ngapa-ngapain, cuma rasanya pengen aja nabok mukanya, enggak tau kenapa.

Dia diem, salah. Dia senyum, ngeselin parah. Dia sumringah, pengen muntah. Duh, jadi kayak lagunya Raisa dong, Serba Salah.

Beda dengan pandangan benci yang memang ada sebab musababnya, lah ini orangnya kenal aja enggak. Baru juga beberapa kali ketemu, tapi melihat susunan mata, hidung, mulut, dan alis yang tertata sedemikian rupa di wajahnya ternyata bisa begitu menggoda untuk ditabok.

Sampai-sampai ada anekdot yang gua dapet dari bapak gua:

Suatu hari ada seorang pengendara motor diberhentikan oleh seorang polisi di pinggir jalan. Tanpa tedeng aling-aling, si polisi langsung menghadiahi si pengendara motor dengan bogem mentah. Tak terima, si pengendara motor protes.

*Dialog dalam logat Sulawesi*

(+): “Eh, apa salahku ini pak? Helm pakai, surat-surat lengkap, jalan sesuai marka. Kenapa saya dipukul begini?”

(-): “Iya, memang ndak ada ji salahmu. Tapi saya pengen tinju itu mukamu”

Mungkin kalau sudah begini, solusinya adalah ghadul bashar (menahan pandangan). Bertambahlah constraint gua untuk apa yang patut dilihat dan apa yang tidak patut dilihat. Selain golongan mereka yang bening-bening itu, gua harus bisa menahan pandangan dari mereka yang ngebuat gua nafsu, nafsu nabokin maksudnya.

Apalagi, kalau si pemilik wajah itu ternyata penipu, yang kalau kata Tulus, “Sesaat dia datang, pesona bagai pangeran, dan beri kau harapan, bualan cinta di masa depan.

Aduh kalau yang begitu mah, geprak aja ga usah pake lama, langsung je mukanya, pakai kursi kalau perlu.

#cieregincemburu #uhuy

Ironi KRL

Kereta lengang. Gak penuh, ga kosong. Semua kursi udah keisi, dan yang berdiri juga cuma beberapa. Tapi dari beberapa yang berdiri itu, muncul sebuah ironi.

Ada seorang wanita, diliat dari muka sama perawakannya kira-kira usia 20-an lah ya, berdiri persis di depan gua. Kegiatan seharian ini memaksa gua untuk tega tak memberikan kursi. Kaki gempor, tapi Bogor masih jauh. Ingin rasanya pura-pura tidur tak perhatikan sekitar. Sayangnya, wanita itu berhasil mencuri perhatian gua.

Gede banget bos…perutnya. Tapi dari segi muka dan proporsional badan, rasanya belum layak dikatakan berbadan dua. Jadilah ironi di sini. Kalau memang si wanita itu sedang mengandung, kenapa dia tidak ke bangku prioritas, tapi malah berdiri di depan gua yang ada di samping bangku prioritas? Padahal kalau mau ke bangku prioritas, tinggal geser. Tapi kalau nggak lagi mengandung, kenapa perutnya aduhai besarnya?

Gua jadi penasaran, apakah yang ada di perut itu bayi empat bulan, atau bakso empat mangkok?

Duh ironis sekali. Persilakan duduk, nanti dia geer dikira gua modus. Kalau enggak dikasih, gua bisa dicap amoral. Apa perlu gua kasih duduk sambil basa-basi, “Silakan bu, pasti capek ya bawa dedek bayi.”

Iya kalau bener, kalau salah kan gua yang digaplok.

Akhirnya setelah perenungan sepersekian menit, gua putuskan untuk banyak istighfar. Gua lupa prinsip ghadul bashar yang harusnya gua terapkan. Istighfar itu kemudian dilanjutkan dengan doa yang dahsyat, doa yang mengingatkan kita pada hakikat hidup dan mati.

“Bismika Allahumma amuutu wa ahya.”

Manggarai-Bogor, November 2016

Life of Detty

Detty Kucing Kosan

Kenalin, ini namanya Detty. Udah sebut aja Detty, karena dia kucing penghuni kosan yang (katanya) paling kekinian se-keputih, Update 1. Tiap saya pulang, doi udah nunggu di depan kamar. Begitu saya buka pintu, doi langsung masuk begitu aja. Ya lumayanlah, ketika tetangga masukin cewek ke kamarnya, saya juga nggak mau kalah. Saya juga bisa masukin cewek, hamil pula, tapi dia kucing ._.

Awalnya saya kira kenapa dia sering main ke kamar adalah karena mau minta pertanggungjawaban ke saya. Maklum, kucing semlohai di daerah sini termasuk langka, dan mereka sering jadi korban layaknya zaman jahiliah ketika wanita dijajah pria. Untung ternyata bukan. Nggak mungkin saya ngomong ke orang tua kalau punya cucu dari spesies yang berbeda.

Kucing Galau

Saya heran sama Detty. Untuk kucing yang sering hamil, hidupnya tampak kurang bergairah. Hal itu terlihat dari kebiasaannya di kamar saya yang cuma bisa tidur-nguap-minta dielus. Mungkin karena beban hidup yang ia emban sebagai single mother, membuat dia butuh belaian dari pria yang hangat -seperti saya-. Sungguh amoral kucing-kucing liar itu, habis manis sepah dibuang, habis enak lupa bertanggung jawab. Mungkin ini ujian bagi saya untuk belajar mengambil tanggung jawab sebagai calon ayah yang hebat.

Hidupnya Detty ini, manis-manis-ngeselin. Kalau lagi muncul manjanya, doi manis minta nambah. Tapi kalau lagi muncul garongnya, sampai tumpukan baju pun bisa jadi bahan cakaran. Untung hidupnya murah, doi bisa mandiri. Selama saya keluar doi yang nyari makan sendiri. Toh kalau pun saya datang, cukup dikasih sepotong tempe doi ikhlas nggak menggugat. Sungguh hebat kamu Detty, rela diajak hidup susah. Seandainya kamu seorang wanita, dan cantik, akan saya temui ayah ibu kamu. Saya akan berterima kasih telah melahirkan wanita yang begitu memesona dan bersahaja. Tapi sayangnya, kamu adalah kucing. Suratan takdir telah menentukan kamu untuk hadir di dunia ini sebagai Felis catus, kasta kampung pula.

Kucing Dielus

Tapi bagaimanapun, terima kasih Detty sudah hadir dalam hidup saya. Apa daya belum berhak membelai seorang wanita, jadilah saya membelai kamu hai si kucing janda.

PS: Jika kamu membaca ini, kamu yang semoga dituliskan sebagai tulang rusuk saya yang hilang, maka ketahuilah bahwa tangan saya masih bersih dari membelai wanita yang tidak berhak saya belai. Dan satu-satunya makhluk berkelamin perempuan yang pernah masuk dalam kosan saya adalah kucing. Bagaimana dengan lalat? Nyamuk? Ah entahlah. Alat kelamin mereka begitu kecil. Eh, maksud saya karena ukuran mereka yang begitu kecil, jenis kelamin mereka tidak bisa saya pastikan. Dan yang harus kamu tahu, jika kucing liar yang begitu aja hadir dalam hidup saya, saya rawat dengan sebaik-baiknya, apalagi kamu yang sudah saya rencanakan untuk masuk ke dalam hidup saya saat ini dan seterusnya?

Surabaya, ketika sedang merindukan Detty..eh, kamu

21/11/2015

Kenapa di ITS Banyak Cowoknya?

supremasi sekolah teknik, memanggil jiwa-jiwa maskulin (?) yang siap beraksi
supremasi sekolah teknik, memanggil jiwa-jiwa maskulin (?) yang siap beraksi
A: “Kenapa di ITS banyak cowoknya?”
B: “Karena dia Sekolah Teknik!
A: “Salah
B: “yang bener apa dong?”
A: “Karena ITS tempat penangkaran burung
Well, kalo lu anak ITS, lu pasti tau ada tulisan larangan menembak burung di dekatnya gerbang depan ITS. Dan kalo lu cowok, lu bakal tau rasanya gimana tinggal di mana rasio cewek :  cowok itu bisa sampe 1 : 10.