Yang Lebih Besar Dosanya Dari Pencuri

Alkisah hiduplah seorang laki-laki biasa bernama si A. Nah, si A itu penumpang setia KRL commuter line seperti saya. Suatu hari si A ini kecopetan di Stasiun Manggarai. Pengalaman itu tentu jadi salah satu pengalaman terburuk dan meninggalkan kesan traumatis baginya.

Sejak saat itu si A selalu berburuk sangka (su’uzhon) kepada setiap orang asing yang ia temui di stasiun. Lihat orang menunggu di peron 5, dikira copet Tanah Abang. Lihat orang nangkring di peron 8, dikira copet Pasar Minggu. Lihat orang jongkok di peron 4, wah pasti copet yang mau kabur ke Bekasi tuh!

Sampai-sampai petugas stasiun dia kira sebagai copet yang menyamar. Pas abang petugasnya menghalangi si A menyeberang dari peron 5 ke peron 4, si A malah panik dikira abangnya mau ngapa-ngapain, padahal cuma biar si A nggak ditabrak aja.

Sejak saat itu, si A memvonis mereka-mereka yang berada di Stasiun Manggarai adalah pencopet. Kalau pun saat itu bukan copet, maka mereka adalah pencopet pada waktunya.

Kondisi inilah yang sesuai seperti yang dibilangin Ibnu Mas’ud, tentang orang yang jadi korban pencurian tapi malah dosanya lebih besar daripada pencurinya.

Orang yang dicuri terus menerus berburuk sangka, hingga dosanya pun lebih besar daripada pencuri.[1]

Nah, jangan-jangan kondisinya mirip tuh kayak kondisi akhir-akhir ini.

Ada ibu-ibu bikin cerita ngibul, terus akhirnya ribut satu negara. Eh, terus akhirnya dia mengaku deh kalau ceritanya bohongan. Akhirnya sejak saat itu si ibu-ibu di-bully habis-habisan. Kasihannya bukan cuma ibu itu aja, sampai anak dan menantunya juga ikut kena jadi bahan meme.

Lucu sih sebenarnya kalo dilihat-lihat, candaannya kocak-kocak (saya ngga mau bohong, saya sering ketawa sendiri gara-gara ini. Kalau bohong takut jadi bukan #GolonganKami).

Tapi kan…apa nanti nggak khawatir kalau…Orang yang dibohongi lebih besar dosanya dari si pembohong itu sendiri?

__________

[1] HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad 1289

 

Menjelang tengah malam di Stasiun Manggarai
5/10/2018

Advertisements

#2019gantipresiden

Pemilihan presiden masih tahun depan, tapi hawa panasnya sudah menyeruak dari sekarang. Media sosial sudah mulai tidak menyenangkan, netizen sudah terpolarisasi ke dua kutub -hal yang tidak berubah sejak 2014 lalu. Yang satu mendukung Jokowi, dan yang satu lagi entah mendukung siapa (karena masih belum jelas arahnya). Tapi yang jelas, kubu yang disebut terakhir memiliki satu semangat yang sama: asal bukan Jokowi. Hashtag #2019gantipresiden menjadi buktinya.

Tanyakan kepada mereka yang semangat membuat #2019gantipresiden jadi viral, siapa yang seharusnya jadi presiden? Saya yakin belum ada jawaban seragam dari mereka. Karena memang intinya ya ganti Jokowi, ganti dengan siapanya masih urusan belakangan. Beberapa nama sudah santer terdengar. Prabowo, TGB, AHY, dan Gatot Nurmantyo adalah beberapa nama yang banyak muncul di polling bursa capres 2019. Namun belum ada yang tahu siapa pastinya yang akan menjadi rival Jokowi di pilpres mendatang.

Bukan Pendukung Bukan Hater

Hal yang pertama kali harus saya luruskan dalam tulisan ini adalah saya bukan pendukung Jokowi. Ada banyak hal yang membuat saya kecewa dengan pemerintahan Jokowi. Salah satunya e-Government yang dulu saat masa kampanye katanya 2 minggu selesai, namun hingga saat ini belum ada bentuk riilnya. Saya sebagai seorang programmer merasa terhina karena statement Jokowi tersebut turut menyeret pekerjaan saya dalam janji politik yang ternyata tidak ia tepati.

Apakah kekecewaan saya tersebut membuat saya menjadi hater-nya Jokowi? Tentu tidak. Seberat apapun kekecewaan saya kepada Jokowi, saya masih lebih kecewa dengan diri saya sendiri. Saya dulu pernah bertekad ingin terus shalat lima waktu berjama’ah di masjid, namun hingga kini tekad saya bagai pepesan kosong. Hanya tekad yang tidak disertai realisasi. Persis janji Jokowi. Saya juga sejak lulus kuliah bertekad untuk bisa hidup dengan biaya sendiri, tidak lagi disokong oleh orang tua. Tapi sayang pada kenyataannya, saya masih harus meminjam uang orang tua. Niatnya berdikari tapi rupanya tetap saja menambah hutang. Persis janji Jokowi.

Pemimpin Cerminan Rakyat

Ada pameo yang mengatakan bahwa pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Melihat diri saya sendiri yang masih saja demikian, maka tidak heran saya memiliki presiden seperti Jokowi.

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al An’aam: 129)

Jadi kalau mungkin anda menganggap Jokowi adalah pemimpin zhalim yang layak diganti, maka apa tidak sebaiknya anda berkata juga? Mungkin anda sendiri adalah orang yang banyak melakukan kezhaliman pada diri dan orang lain.

#2019gantipresiden Adalah Solusi?

Kenapa sebagian dari kita sedemikian bernafsu mengganti presiden daripada sibuk memperbaiki keadaan dirinya? Seolah yakin, bahwa dengan mengganti presiden yang saat ini berkuasa, kelak negeri ini akan menjadi lebih baik. Saya bukan sedang membela presiden saat ini, tapi memang ada yang tahu pasti?

Ngomong-ngomong, tulisan di bawah yang saya kutip dari status Facebook seseorang mungkin bisa dijadikan bahan renungan,

Ibnu Umar pernah mengatakan:

“Aku tidak ingin ini menjadi kebiasaan dalam Islam, setiap mereka tidak suka dengan penguasanya, mereka melengserkannya”

[Fadhailush Shahabah, 1/473, no 767, dengan sanad shahih]

Jika Anda berdoa kepada Allah, maka mintalah pemimpin terbaik. Jika memang pemimpin yang lama lebih baik, maka semoga ia tetap memimpin. Jika yang terbaik adalah yang baru, maka semoga Allah ganti pemimpinnya.

Karena tidak selalu pemimpin yang buruk, penggantinya pasti lebih baik. Bisa jadi lebih buruk, kita tidak tahu. Sedangkan Allah Maha Mengetahui yang terbaik.

Tapi kalau Anda yakin sekali tanpa ragu bahwa pasti pemimpin selanjutnya akan lebih baik, ya silakan saja.

Jangan sampai karena ketidaksukaan kita kepada seseorang membuat kita lupa satu hal: berdoa, meminta yang terbaik kepada Allah ‘azza wa jalla.

Semoga Allah memperbaiki keadaaan kita dan para pemimpin kita, dan semoga Dia memberikan pemimpin yang terbaik.

Bogor, di bawah hujan menjelang maghrib
15/4/2018

Andai Dilan Orang Wakanda

Tahukah kamu, selain mewariskan hutang dan sistem hukum di Indonesia, penjajahan Belanda juga mewariskan standar good looking kepada masyarakat kita. Kulit putih misalnya, menjadi standar umum untuk menilai apakah seseorang dapat dikatakan tampan atau cantik. Terdengar rasis memang, tapi maaf, yang kulitnya lebih gelap mohon sadar diri, masyarakat Indonesia mungkin butuh waktu lebih untuk ikhlas menyebut anda tampan/cantik. Sementara untuk anda yang beruntung mewarisi kulit putih, apalagi kalau ditambah hidung mancung dan tinggi badan di atas rata-rata, selamat. Setidaknya separuh masalah hidup anda sudah selesai dengan sendirinya. Karena percaya atau tidak, fisik yang menarik bisa menyelesaikan banyak masalah dalam hidup. Dan film Dilan sudah membuktikannya, setidaknya pada saya.

Dulu saya kenal seseorang yang pernah mengejar wanita dambaannya lebih keras daripada Dilan mengejar Milea. Gombalan mautnya pun sebelas-dua belas dengan Dilan, bahkan menurut saya revolusioner di generasi seumurannya. Masih belum ada tuh gombalan macam “bapak kamu supir angkot ya?” atau semacamnya. Tingkat kepedeannya? Jangan ditanya.

Di kelas.

Duh, gua ga bawa pulpen nih. Ada pulpen ga?”

“Ada. Nih.”

“Yah, gua ga ada kertas juga. Bagi kertas dong”

“Nih.”

“Gua juga ga punya alamat rumah lu nih. Bisa tulisin ga?”

Dan sekelas pun gaduh.

Padahal zaman dulu belum ada gombalan ‘kalau mau serius, langsung datangi rumahnya‘ ala akhi ukhti galau kekinian. Dalam konteks ini, ia sudah melampaui tren di zamannya. Namun sayang, semua kata dan usaha yang ia berikan berakhir sia-sia. Pasalnya, daripada disebut mirip bangsa Eropa, ciri-ciri fisiknya lebih dekat dengan bangsa Dravida. Dan kita tahu bersama bahwa ciri fisik bangsa Dravida tidak memiliki banyak tempat lagi di hati masyarakat kita.

Sungguh berbeda dengan tokoh Dilan yang fisik aktornya memenuhi standar good looking. Kaum hawa seakan rela menunggu setiap huruf, setiap kata, dan setiap tanda baca yang keluar dari lisan Dilan. Mereka rela menunggu hingga titik terakhir kata-kata manisnya untuk membawa perasaan tinggi melayang. Sedangkan untuk teman saya? Ia bahkan tidak pernah menyelesaikan gombalannya dengan sempurna. Kekurangan fisiknya menjadikan kaum hawa kehilangan minat mendengar bujuk rayunya.

Wajar kalau muncul selorohan ‘untung Dilannya ganteng. Kalo Dilannya jelek sih najis!

Andai, andai Dilan adalah orang Wakanda yang fisiknya jauh dari standar good looking yang berlaku, masihkah ia tetap didengar? Bisakah ia mendapatkan hati Milea di tengah masyarakat yang -sedikit banyak- masih rasis ini? Lupakan soal hadiah TTS yang sudah diisi Dilan agar Milea tidak perlu mikir untuk mengisinya lagi. Toh, sekeping vibranium sudah cukup membuat Milea tidak perlu bekerja lagi seumur hidupnya. Milea juga tidak perlu khawatir ada yang menyakitinya. Orang Wakanda sudah ribuan tahun menyembunyikan keberadaan teknologinya, menghilangkan keberadaan satu orang yang menyakiti Milea bukan soal sulit tentunya. Rindu? Berat? Orang Wakanda bahkan bisa melepas rindu dengan orang yang sudah mati, apa susahnya melepas rindu dengan orang yang masih hidup?

Pertanyaannya, apakah Milea bisa mencintai Dilan dengan logika masyarakat umum? Apakah Milea akan mencintai Dilan yang orang Wakanda, ataukah ia akan mengikuti langkah Raisa yang lebih memilih Hamish Daud daripada Kamga?

Saya tidak berharap banyak Milea akan mencintai Dilan. Saya paham, konsekuensi mencintai Dilan amat berat. Saya ragu Milea bisa mengenalkan Dilan sebagai pacarnya yang datang dari Wakanda, negara dunia ketiga, kepada teman-temannya. Ia akan melawan opini umum masyarakat kita, yang artinya ia akan menjadi bahan julitan orang-orang. Selain itu, Milea bisa jadi akan ilfil kalau melihat ekspresi cinta Dilan kepadanya.

“M’ilea forever!”

Dan Dilan tidak akan pernah lagi sama.

BSD, waktu dhuha
7/3/2018

Berengsek

Yang saya percayai (dan saya rasakan), ditinggal gebetan yang memilih pacaran dengan orang lain itu lebih menyakitkan daripada ditinggal gebetan yang nikah duluan. Sama-sama sakit memang, tapi sakit yang dirasakan karena ditinggal menikah itu lebih terhormat daripada rasa sakit karena ditinggal pacaran. Karena setidaknya kalau ditinggal menikah, kita ‘merelakan’ dia bersama orang lain yang kelak akan bertanggung jawab atas hidupnya. Sedangkan ditinggal pacaran? Kita seakan merelakan ia menjalankan hidupnya dengan seorang berengsek.

Ya, kalian tidak salah baca. Berengsek. Saya sedang mengumpat di sini. Dan semoga ini satu-satunya umpatan yang ada di blog ini. Izinkan saya menuliskannya sekali lagi.

Berengsek.

Sebenarnya dari sudut pandang orang yang ditinggalkan, baik yang menikahi ataupun memacari seseorang yang menjadi segalanya bagi kita adalah sama-sama berengsek (ups, satu lagi umpatan di blog ini), tapi masa’ saya mengatakan orang yang menyempurnakan separuh agamanya sebagai orang berengsek? Wah, bisa kufur saya.

Itulah salah satu alasan pentingnya belajar agama, biar nggak asal ngatain orang walau perasaan sudah hancur lebur sedemikian rupa. Kudu sabar, sabar, sabar. Fashabrun jamiil.

Sungguh, saya ingin postingan pertama saya di 2018 jauh lebih berfaidah daripada tulisan ini, sayangnya hanya ini yang bisa saya tuliskan. Setidaknya dari tulisan ini kita bisa mendapatkan faidah berupa pemahaman bahwa kata ‘berengsek’ itu ada dalam KBBI. Sehingga lain kali kalau mau mengumpat orang, jangan tulis ‘brengsek’, karena itu tidak baku. Mulailah berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Mulailah menggunakan kata baku dari hal-hal sederhana, mengumpat orang contohnya.

Semoga tulisan ini tidak menjadi cela bagi saya ketika saya dipromosikan menjadi CEO Telkom kelak. Aaamiin.

BSD, sebelum ashar
8/1/2018

Kematian Jonghyun Adalah Tragedi, Kematian Warga Palestina Adalah Statistik

Maaf, saya tidak mengetahui apa-apa tentang Jonghyun. Jujur saya tidak pernah dengar nama itu sampai akhirnya ia meninggal dan berita tentang kematiannya menghiasi linimasa media sosial. Saya tahu kalau ada boyband Korea namanya Shinee, tapi tidak pernah tahu kalau ada member yang namanya Jonghyun.

Saya juga tidak mengenal Ibrahim Abu Tsurayya hingga berita tentang kematiannya muncul di media. Ketidaktahuan saya tentang Ibrahim persis seperti ketidaktahuan saya tentang Jonghyun. Saya hanya tahu kalau di Palestina sana ada banyak pejuang-pejuang tangguh, tapi saya tidak tahu ada salah satu di antaranya bernama Ibrahim Abu Tsurayya.

Saya sama-sama mengenal Jonghyun dan Ibrahim Abu Tsurayya dari berita di media. Bedanya, nama Jonghyun kerapkali tertera di judul berita (bahkan beberapa media sempat menjadikannya Breaking News), sedangkan nama Ibrahim Abu Tsurayya hanya tertera di tengah-tengah paragraf berita sebagai satu nama dari nama-nama korban tentara Zionis Israel.

Dengan mudah saya bisa menemukan berita mengenai kondisi jasad Jonghyun saat pertama kali ditemukan, kronologi meninggalnya Jonghyun, prosesi pemakaman Jonghyun, sampai berita yang tidak relevan seperti TVXQ yang meneriakkan nama Jonghyun ketika konser, atau Ima yang tidak percaya kalau Jonghyun bunuh diri.

Sedangkan untuk Ibrahim, maaf, hanya ada berita tentang kegigihannya memperjuangkan Palestina dari atas kursi rodanya. Saya tidak menemukan berita tentang unggahan foto menjelang kematiannya, pun tidak tahu bagaimana eksentrik gaya busananya ketika masih hidup. Jika tidak tentang perjuangan dari kursi rodanya, nama Ibrahim hanya muncul di tengah paragraf, tidak menjadi judul apalagi headline berita. Tidak ada artis yang meneriakkan namanya, tidak ada media yang meliput pemakamannya, dan tidak ada Ima yang mengomentari kematiannya.

The death of one man is a tragedy, the death of millions is a statistic” begitu yang konon Joseph Stalin katakan. Melihat pemberitaan tentang kematian Jonghyun dan gugurnya Abu Tsurayya, saya langsung teringat quotes dari mantan diktator Uni Soviet yang kesohor itu. Betapa melimpahnya pemberitaan tentang Jonghyun, dan betapa sedikitnya berita mengenai profil Ibrahim Abu Tsurayya. Karena mungkin dalam kacamata media (dan kita), kematian Ibrahim hanyalah satu statistik penambah angka-angka, sedangkan kematian Jonghyun adalah tragedi untuk umat manusia.

Statistik korban Operation Protective Edge sepanjang Juli-Agustus 2014. Sumber: BBC

Ada anak kehilangan orang tuanya, ada orang tua kehilangan anaknya, ada istri kehilangan suaminya, dan semua tragedi itu ditampilkan di media hanya menjadi digit-digit angka. Ada ribuan hikayat yang siap ditulis, ada ribuan kisah yang bisa diceritakan, ada ribuan pelajaran hidup yang bisa diambil, namun media lebih memilih untuk melipat itu semua dalam bentuk satu tabel statistik.

Saya mengerti, media juga cari duit di sini. Kematian sudah jadi barang murah di tanah perang. Orang sudah jemu melihat puluhan nyawa meregang sekaligus dalam satu kali konflik. Manusia sudah terlalu sibuk untuk mengetahui kisah-kisah para korban yang bergelimpangan. Peduli amat dia siapa, toh kalau sudah berkalang tanah sudah tidak penting lagi untuk dibahas. Puluhan nyawa melayang akhirnya hanya menjadi satu berita yang tampil dalam sekali tayang.

Di sisi lain, media yang cari keuntungan pasti lebih memilih berita yang punya nilai jual tinggi. Berita entertainment yang banyak orang gandrungi menjadi satu topik berita yang tidak pernah sepi pembicaraan. Tengok saja, betapa hidup matinya seorang artis begitu dieksploitasi ke publik, sampai-sampai media lupa untuk memilih mana yang kiranya relevan untuk hidup kita. Contohnya komentar Ima yang entah dia siapa.

Apa itu berarti kita perlu mengutuk-ngutuk media? Saya rasa tidak. Media berjalan dengan logikanya sendiri. Jika media memilih bungkam atas apa yang terjadi di Palestina, apakah itu bisa menjadi legitimasi bagi kita untuk memilih diam? Kamu punya logika dan rasa kemanusiaan sendiri yang tidak bisa disetir media. Orang tuamu tidak perlu masuk TV dulu untuk kamu cintai, kan? Begitu juga dengan saudara-saudaramu di Palestina, di Suriah, di Myanmar, dan di seluruh pelosok dunia.

Ini bukan masalah keberpihakan media, ini murni soal kepedulianmu yang mau kamu bawa ke mana. Apakah kematian ribuan warga Palestina kamu anggap tragedi, atau hanya bilangan statistik belaka?

Bogor, waktu dhuha
25/12/2017

Pejabat Easy Come Easy Go

Ketika saya mencari kerja sewaktu masih fresh-graduate dulu, salah satu pertimbangan dalam memilih pekerjaan adalah masa kontrak atau semacam masa uji coba yang diberlakukan oleh perusahaan untuk pegawai barunya. Misal begini, saya menolak beberapa tawaran pekerjaan yang meski kantornya dekat dan mudah diakses dari rumah saya, namun karyawan barunya harus menunggu selama satu hingga dua tahun untuk diangkat menjadi pegawai tetap. Jika dalam rentang waktu itu si karyawan baru ini keluar atau resign dari perusahaan tersebut, maka ia akan dikenakan denda atau penalti yang besarnya bisa setara dengan dana parpolnya Nasdem di DKI. Padahal kalau dilihat dari gaji, wah, mungkin cuma seharga bungkus permen yang nyelip di tas Hermes-nya Friedrich Yunadi.

Alasannya, karena perusahaan sudah memiliki pengalaman buruk dengan pegawai yang easy come easy go. Kontrak kerja yang main penalti-penaltian ini dibuat untuk mengikat orang-orang yang mudah datang mudah pergi itu tadi. Jadi seenggaknya kalau karyawan barunya mau keluar, sudah berkontribusilah buat kantor, minimal setara dengan biaya rekrutmen yang dihabiskan perusahaan.

Untuk mencari pekerjaan bagi seorang fresh graduate saja sudah begitu resikonya. Harus berhati-hati memilih pekerjaan dan mengerjakan pekerjaannya dengan bertanggung jawab, tidak bisa seenak jidat keluar perusahaan hanya karena ada tawaran yang lebih menarik dari perusahaan lain.

Sekarang mari kita lihat potret sebagian pejabat publik kita, yang sayangnya, mudah datang mudah pergi.

Emil Dardak contohnya. Lahir dari keluarga terpandang, mengenyam pendidikan tinggi hingga S3 di luar negeri, perjalanan karirnya cemerlang, pulang ke rumah langsung disambut Arumi Bachsin pula. Entah apa lagi yang dicari Emil Dardak di dunia ini.

Oh, ternyata ia mengincar jabatan politis. Mungkin banginya, harta dan wanita tiada lengkap tanpa tahta.

Dan ternyata ia mendapatkannya di Trenggalek 2016 silam. Saya kira menjadi orang nomor satu di tingkat kabupaten sudah memuaskan hasrat politiknya, tapi ternyata tidak. Rupanya menjadi nomor satu di kabupaten tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan menjadi nomor dua di provinsi. Dengan alasan dijodohkan para kiai untuk mendampingi Bu Khofifah, ia maju menjadi cawagub dalam kontestasi pilkada Jatim, meninggalkan masyarakat Trenggalek yang telah memilihnya.

Emil Dardak yang maju pilkada, partainya yang minta maaf. Setidaknya partainya sadar bahwa meninggalkan amanah yang sedang diemban demi mengincar jabatan yang lebih tinggi merupakan sebuah tindakan yang tercela. Mungkin kalau cuma setingkat kabupaten ngincar tingkat provinsi itu tercela, tapi kalau ngincar kursi presiden mah gapapa. Iya gak, PDI-P?

Ohiya, selain meminta maaf kepada publik Trenggalek, PDI-P juga menindak tegas kelakuan Emil Dardak ini dengan memecatnya. Meski yah, saya sendiri nggak tau alasan sebenarnya dia dipecat dari keanggotaan partai. Apakah karena ‘berkhianat’ kepada warga Trenggalek kah, atau karena maju pilgub dengan partai lain? Kalau buat maju ke pilpres sih kayaknya masyarakat ditinggal juga nggak apa-apa kali ya.

Yaudah, itu urusan PDI-P. Sekarang coba itung-itung, dari pengangkatan Emil Dardak jadi bupati sampai pencalonannya di pilgub Jatim itu nggak sampai dua tahun loh. Dari lima tahun masa jabatan, setengahnya saja belum dapat. Andai, andai loh ya, Emil Dardak terikat kontrak layaknya karyawan baru di sebuah perusahaan yang mengenal sistem denda-dendaan, entah berapa ratus juta (atau milyar) yang harus dibayarnya. Tolonglah, dikira pilkada gratis apa? Dikira warga datang ke TPS nggak pakai ongkos apa? Setelah memenangi kontestasi yang biayanya hingga milyaran itu, terus digaji pakai uang rakyat, mau langsung cabut ninggalin amanah begitu aja? Enak banget hidup kalau gitu.

Karena itu, belajar dari kasus Emil Dardak, melalui tulisan ini saya mengusulkan adanya penambahan klausul baru dalam sumpah jabatan kepala daerah. Jika mungkin sumpah yang sudah berbunyi, “Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban saya sebagai gubernur/wakil gubernur…, bupati/wakil bupati…, walikota/wakil walikota… dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya…” saja masih mudah bagi kepala daerah untuk meninggalkan amanahnya, mungkin perlu ditambah klausul, “siap membayar denda sebesar ….milyar jika meninggalkan kewajiban saya sebelum habis masa jabatan saya

Karena mungkin zaman sekarang, sumpah dengan nama tuhan di hadapan rakyat sudah dianggap murah.

BSD, waktu dhuha
13/12/2017