Sulit

Sepanjang hidup saya *udah hidup berapa lama, Gin?* ada beberapa hal yang menurut saya sangat sulit untuk diterjemahkan (selain menerjemahkan kodingan orang lain).

1. Senyum

Adalah hal yang sulit untuk menerjemahkan sesungging senyum di wajah. Sedih atau senang? Ketir atau bahagia? Senyum hormat atau senyum menghujat? Entah, kita hanya bisa berprasangka.

Tahu dari mana orang yang selalu tersenyum adalah orang yang bahagia? Bisa jadi, ia justru menyembunyikan nestapa maha dahsyat dalam hidupnya. Tahu dari mana orang yang tersenyum saat kita datang itu berarti ia senang dengan kehadiran kita? Bisa jadi, ia justru sedang tersenyum melecehkan kita di dalam pikirannya.

2. Terserah

Adalah hal yang sulit untuk menerjemahkan sepatah kata terserah. Terserah yang dalam KBBI berarti sudah diserahkan (kepada) atau tinggal bergantung (kepada), bisa berarti sebenarnya aku mau ini, tapi aku tidak mau bilang. Aku menunggu kamu mengerti apa yang aku mau.

Pertanyaan mudah seperti mau makan di mana, bisa saja menjadi bahan perdebatan panjang apabila kata terserah tadi melenceng dari makna sebenarnya. Ditanya mau makan di mana, bilangnya terserah. Ditawari makan ke warung A, katanya kurang enak. Dibilang warung B, katanya mahal. Terus giliran minta kepastian mau makan di mana, jawabannya tetap saja terserah. Terserah, tapi tidak mau berserah.

3. Sikap

Adalah hal yang sulit untuk menerjemahkan sikap seseorang. Yang ini jangan ditanya. Seringkali sikap orang lain kepada kita mengundang banyak tanda tanya. Sebenarnya bukan sikap orang tersebut yang salah, hanya kita saja yang sering salah memahami.

Contoh paling sederhana adalah sikap orang tua kepada anaknya. Seorang anak mungkin saja menganggap orang tuanya galak dan jahat karena sering melarang ia bermain ke luar rumah. Sang anak bisa jadi berharap agar ia terlahir dari orang tua yang berbeda. Padahal, seandainya sang anak tahu, sikap orang tuanya itu adalah bentuk kasih sayang mereka demi kebaikan sang anak.

Berbicara soal kebaikan, hal yang paling sulit dari yang hal-hal sulit di atas adalah menerjemahkan kebaikan orang lain. Sebenarnya tidak sulit, hanya ya itu tadi. Seringkali kebaikan seseorang itu yang membuat kita salah. Karena kebaikan seseorang bisa membuat kita salah memahami. Lebih jauh, kebaikan seseorang bisa membuat kita salah berharap.

Hati-hati dalam menerjemahkan sikap, hati-hati dalam menaruh harap 🙂

Menjelang maghrib, otw BSD-Bogor
12/5/2017

Pikiran Liar: “Smartphone”

Chibi Maruko-chan enggak bakal jadi anime yang mengesankan kalau Maruko dari awal sudah dikasih smartphone. Jika sedari awal Maruko sudah dikasih smartphone sama kakeknya, mungkin yang kita tonton sepanjang setengah jam hanyalah adegan Maruko asik nge-chat sama teman-temannya. Yang kita lihat hanya Maruko yang cekakak-cekikik ngeliatin layar ponselnya sambil baringan di kasur, asik ngobrol sama Tama-chan atau sekadar iseng berbagi kelakar dengan Hamaji. Opening-nya pun saya yakin berubah. Maruko ga perlu ganti baju agar menarik hati untuk mencari teman, cukup selfie pake kamera bagus, tambahin efek, dan install Tinder. Beres. Sekarang ayo selfie, agar menarik hati ayo kita mencari temaan~

Begitu juga Doraemon. Seandainya Nobita dari awal sudah punya smartphone, mungkin yang akan kita tonton adalah Nobita yang sibuk selfie atau update Instagram dengan alat-alat canggih dari kantong ajaibnya Doraemon. Beruntung, Doraemon berasal dari tahun 2112 dan bukan tahun 2017. Mungkin peradaban abad ke-22 sudah begitu bijak untuk tidak membiarkan gadget menguasai hidup manusia.

Ah, coba seandainya smartphone sudah ditemukan dari dulu, mungkin Hachi ‘anak yang sebatang kara pergi mencari ibunya di malam yang sangat dingin teringat mama‘ ga bakal ribet-ribet tanya ke sana ke mari buat nyari ibunya. Cukup buka Google Maps, terus tanya serangga terdekat, udah. Yang akan kita tonton adalah seorang anak lebah yang terus terbang sambil liatin layar smartphone biar ga salah jalan.

Continue reading Pikiran Liar: “Smartphone”

Jatuh di Aspal Tidak Seindah Jatuh…

jatuh-di-aspalKatanya, jatuh di aspal itu tidak seindah jatuh cinta. Itu kata mereka. Ya, jatuh di aspal memang tidak seindah jatuh cinta. Tapi percayalah, rasa sakitnya sama.

Saya sudah berkali-kali jatuh di aspal. Luka memar atau robek karena jatuh di aspal tadi paling hanya bertahan beberapa bulan. Bekas lukanya pun bisa mudah hilang. Kalau pun masih ada bekasnya, ia sudah mengering. Kulit yang rusak sudah berganti dengan kulit yang baru.

Jatuh cinta? Jangan harap. Luka yang dihasilkan bisa lebih dalam, lebih merusak, dan bisa menyebabkan infeksi yang lebih luas. Jangan kira bekas lukanya akan cepat hilang. Ia bisa saja menganga lama, masih terluka meski tak berdarah, tak kunjung kering karena dibasahi air mata. Kalau pun sudah kering, lukanya bisa saja dengan mudah terbuka lagi karena sebuah sindrom akut: CLBK, Cinta Lama Bersemi Kembali. Sindrom yang bisa muncul begitu saja tanpa permisi. Sindrom yang bisa berawal dari sapaan kepada kawan lama, kedekatan yang muncul kembali setelah sekian lama pergi, atau bisa dengan mudahnya berawal dari sekadar chatting di malam hari.

Continue reading Jatuh di Aspal Tidak Seindah Jatuh…

Pejuang Terbaikmu

Aku kira aku adalah orang yang paling serius mengejarmu. Selama ini, aku menganggap bahwa orang lain yang mengejarmu adalah orang-orang yang hanya ingin mempermainkanmu, bukan memperjuangkanmu. Dan aku menganggap hanya akulah yang sedang -dan berhak- memperjuangkanmu.

Persetan mereka dengan puluhan pesan singkat setiap malam. Persetan mereka dengan segala gombal rayu di setiap kesempatan. Mereka hanya sedang berusaha mempermainkanmu, mengaburkan pandanganmu dari pejuangmu yang sesungguhnya: Aku.

Jemawa. Aku sudah merasa perjuangan itu cukup ketika aku selalu merapal namamu di dalam doaku, di sebaik-baik waktu, ketika hujan misalnya. Sempurna. Aku terjebak di dalam kompleksitasku sendiri. Kombinasi semangat religiusitas, melankolisme hujan, dan obsesi posesif yang sedemikian kompulsif. Aku merangkai-rangkai postulatku sendiri: aku pejuang terbaikmu. Postulat yang tanpa teori, postulat yang tanpa teliti, apalagi bukti. Bukankah postulat adalah sebuah aksioma yang tak perlu bukti?

Hingga akhirnya postulatku runtuh, hancur berkeping-keping dilindas institusi megah bernama pernikahan. Ketika seorang laki-laki menunjukkan kesungguhannya berjuang dengan melafalkan ikrar suci, dan sang perempuan menunjukkan kerelaannya diperjuangkan dengan bersanding di pelaminan bersama si laki-laki.

Continue reading Pejuang Terbaikmu

Muka Tabok

Ada ya, orang yang mukanya memang mengundang buat ditabok. Padahal dia nggak ngapa-ngapain, cuma rasanya pengen aja nabok mukanya, enggak tau kenapa.

Dia diem, salah. Dia senyum, ngeselin parah. Dia sumringah, pengen muntah. Duh, jadi kayak lagunya Raisa dong, Serba Salah.

Beda dengan pandangan benci yang memang ada sebab musababnya, lah ini orangnya kenal aja enggak. Baru juga beberapa kali ketemu, tapi melihat susunan mata, hidung, mulut, dan alis yang tertata sedemikian rupa di wajahnya ternyata bisa begitu menggoda untuk ditabok.

Sampai-sampai ada anekdot yang gua dapet dari bapak gua:

Suatu hari ada seorang pengendara motor diberhentikan oleh seorang polisi di pinggir jalan. Tanpa tedeng aling-aling, si polisi langsung menghadiahi si pengendara motor dengan bogem mentah. Tak terima, si pengendara motor protes.

*Dialog dalam logat Sulawesi*

(+): “Eh, apa salahku ini pak? Helm pakai, surat-surat lengkap, jalan sesuai marka. Kenapa saya dipukul begini?”

(-): “Iya, memang ndak ada ji salahmu. Tapi saya pengen tinju itu mukamu”

Mungkin kalau sudah begini, solusinya adalah ghadul bashar (menahan pandangan). Bertambahlah constraint gua untuk apa yang patut dilihat dan apa yang tidak patut dilihat. Selain golongan mereka yang bening-bening itu, gua harus bisa menahan pandangan dari mereka yang ngebuat gua nafsu, nafsu nabokin maksudnya.

Apalagi, kalau si pemilik wajah itu ternyata penipu, yang kalau kata Tulus, “Sesaat dia datang, pesona bagai pangeran, dan beri kau harapan, bualan cinta di masa depan.

Aduh kalau yang begitu mah, geprak aja ga usah pake lama, langsung je mukanya, pakai kursi kalau perlu.

#cieregincemburu #uhuy

Menariknya Laqab Salafi

Berbeda dengan bertahun-tahun ke belakang, sekarang tidak sedikit orang yang tidak malu lagi mengaku bahwa dirinya adalah seorang salafi [1], tidak ragu untuk menisbatkan diri mereka pada dakwah salaf yang mulia ini. Meski nyatanya, bisa jadi tindak-tanduk kesehariannya tidak mencerminkan akhlak dan pemahaman salafi.

Sebegitu menariknya laqab (sebutan) salafi, sampai-sampai mereka yang menggemboskan dakwah salaf ini tetap juga ingin diakui salafi.

Saking inginnya diakui, istilah salafi pun dimodifikasi sedemikian rupa sehingga ‘cocok’ dengan kemauannya. Adalah yang menyebut mereka salafi sejati, yang mengaku kokoh tak tergoyahkan. Ada lagi yang menyebut dirinya salafi haraki, yang mungkin merasa salafi yang lain adalah salaf(i) atau salaf imitasi . Terakhir, ada yang justru bangga dengan menggunakan istilah salafi freethinker, yang merasa pikirannya paling terbuka dan menyebut salafi yang lain kurang piknik. Allahu Akbar, dikira perkara manhaj itu mainan sampai ada pikniknya segala?

Sebegitu ‘seksi’-nya kah laqab salafi, sampai-sampai mereka yang diam-diam menusuk dakwah salaf ini justru ingin juga diakui sebagai salafi, meski dengan embel-embel yang justru tidak ada salafnya?

Continue reading Menariknya Laqab Salafi