Instagram dan Kesehatan Mental Orang yang Sedang Jatuh Cinta

Menurut saya, yang paling sulit dilakukan seseorang ketika sedang jatuh cinta adalah menahan rasa peduli kepada siapa yang ia cintai. Itu bahasa puitisnya. Bahasa mudahnya, sulit untuk nggak kepo.

Masa’ iya sih kamu tahan untuk nggak kepoin si doi? Kalau kamu tahan, nggak mungkin dong ada momen ketika kamu tiba-tiba nggak sengaja nge-like foto doi di Instagram pas lagi asik nge-scroll lucu. Udah gitu, kamu langsung berkilah, “eh sori kepencet hehe

Masa’ iya sih kamu tahan untuk nggak buka IG story dia? Nggak pengen tahu tuh dia lagi ngapain? Nggak pengen tau dia lagi sama siapa dan di mana? Emang kamu nggak pengen tahu kabarnya?

Kalau memang nggak ada story dari dia, nggak pengen buka story temen-temennya? Kali aja ada dia nongol-nongol cantik. Dengan begitu kamu bisa tahu kalau dia baik-baik saja tanpa perlu kamu tanya langsung kan?

Atau, kalau kamu memang sedemikian cemas dengan kabarnya, cobalah kamu buat satu story. Story apapun itu, nggak apa-apa meski story-nya nggak penting. Yang penting, dengan kamu posting story itu, kamu nanti bisa lihat kan siapa aja orang yang sudah (terjebak) melihat story kamu. Mungkin nanti ada nama dia dalam list mereka yang lihat story kamu. Dengan begitu kamu tahu, ternyata dalam 1×24 jam, dia masih baik-baik saja. Tuh buktinya dia rela buka story kamu.

Kalau setelah 24 jam nggak ada nama dia, kamu sudah harus bertanya pada dirimu sendiri, “ke mana saja dia selama 24 jam, kok dia nggak ngeliat story aku?

Kids jaman now kan dah pada pegang hp nih, masa’ iya dia nggak pegang hp selama 24 jam?

Kalau dia pegang hp, masa’ iya selama 24 jam dia pegang hp itu dia nggak ngeliat Instagram? Secara gitu loh, Instagram kan salah satu media sosial yang paling sering dibuka. Kalau dia ngeliat hp tapi nggak ngeliat Instagram, terus dia ngapain aja? Main sudoku?

Continue reading Instagram dan Kesehatan Mental Orang yang Sedang Jatuh Cinta

Advertisements

Udah Sipit, Cingkrang Pula

Saya tidak bisa bohong, kalau sepersekian darah di dalam tubuh saya mengalir darah Tionghoa. Dan saya juga tidak mengelak, bahwa dalam berkeyakinan sebagai seorang muslim, saya memegang prinsip bahwa memakai celana di atas mata kaki merupakan salah satu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

Saya sipit, dan celana saya cingkrang. Masalah?

Tidak masalah sebenarnya, kecuali kalau kamu tinggal di lingkungan yang mudah men-judge orang lain dengan berbagai stereotype. Bayangkan kalau anda menjadi saya yang tinggal di lingkungan yang gampang menjatuhkan vonis hanya karena penampilan luar saja.

Udah mah sipit, cingkrang pula. Udah non pribumi, wahabi lagi. Udah cina kafir, tambah lagi salafi sesat.

Continue reading Udah Sipit, Cingkrang Pula

Niqabis Jaman Now

Ada satu hal yang membuat saya kesal dengan fitur explore di Instagram. Ketika harusnya saya bisa refreshing sejenak dari rutinitas dengan melihat objek-objek indah di Instagram semacam foto-foto pemandangannya Naked Planet, atau post-post uniknya ifyouhigh, atau komik lucu-lucuannya War and Peas (akun-akun penyegar linimasa sejenis UI Cantik nggak perlu disebutin lah ya), mendadak mood saya rusak kalau pas lagi asik-asiknya nge-scroll tiba-tiba muncul akun ukhti-ukhti yang cadaran tapi keliatannya (cuma) buat lucu-lucuan.

Paham maksud saya?

Oh, ayolah. Saya berbicara kepada anda wahai generasi milennials pengguna smartphone, yang saya yakin lebih dari 23 banding 28 (susah amat perbandingannya) dari kalian memiliki akun sosial media satu ini. Bukan tanpa alasan Instagram mendapuk kita menjadi pasar terbesar di Asia Pasifik bagi mereka.

Instagram sebagai sebuah platform sosial media tentu memiliki dampak bagi kehidupan kita. Dan salah satu dampak dari Instagram yang paling saya rasakan: membentuk tren. Instagram layak berbangga, mereka menjadi kiblat bagi kids jaman now untuk menentukan apakah sesuatu itu ngehitz atau tidak. Bahkan ada sebuah kosakata baru yang tercipta karena Instagram, yang mana itu tidak terjadi pada media sosial lainnya. Bukankah kita mengenal kata instagrammable? Tolong segera koreksi kalau saya salah, karena saya belum pernah mendengar ada istilah facebookable atau twitterable.

Nah, salah satu tren yang sekarang sering mampir di linimasa Instagram saya adalah ukhti-ukhti cadaran tapi gayanya kayak buat lucu-lucuan.

Continue reading Niqabis Jaman Now

Diam

Menurutmu, bagaimana aku membahasakan rindu?

Adakah ia cukup dengan lantunan lirik sebuah lagu? Adakah ia cukup dengan rangkaian kata seorang pujangga? Menurutku tidak. Apa yang mampu diucap di lisan dan diindera di mata, tidak lebih luas dari setangkup rindu itu sendiri.

Menurutku, adalah diam yang mampu membahasakan rindu. Tidak semegah kalimat pengakuan cinta memang, tapi ia cukup untuk menjadi pembuktian rasa.

Diam mampu membuktikan kepada kita banyak hal. Ia mampu menjadi bukti, betapa keras usaha seseorang menahan letup-letup di hati. Ia mampu menjadi bukti, bahwa ada yang sedang berjuang dengan perasaannya sendiri. Ia mampu menjadi bukti, bahwa ada ego yang harus ditekan bila memang belum berhak memiliki.

Diam, mampu menjadi bukti, bahwa adakalanya kata-kata tidak cukup membahasakan rasa.

Sialnya, tidak semua orang paham akan bahasa rindu satu ini. Bukankah gunung tidak pernah mengerti arti diamnya pendaki di atas puncaknya? Bukankah laut tidak pernah mengerti arti diamnya penyelam di pinggir tepinya?

Maka mengertikah kamu arti diamku di depan matamu?

Jakarta, ba’da isya
13/10/2017

7 Alasan Kenapa Anak Muda Kebelet Nikah, Nomor 5 Bikin Netizen Melongo

Dulu zaman saya SMP, bicara urusan pernikahan adalah sebuah urusan yang berat. Urusan yang rasanya jauh sekali untuk saya jangkau kalau dilihat dari usia saya saat itu. Tapi sekarang, kok rasa-rasanya anak SD aja sudah berani masuk ke domain pembicaraan ini ya? Saya jadi ingat potongan lirik lagu Camelia Malik,

Kalau cinta sudah direkayasa..banyak bocah disulapnya dewasa

Kok bisa sih anak-anak muda yang masih unyu-unyu ini bisa jadi kayak kebelet nikah gini? Padahal kan kalau dilihat-lihat mereka belum siap untuk naik ke pelaminan. Mungkin, 7 alasan ini yang jadi penyebabnya.

1. Akun Instagram Nikah Muda

Terima kasih kepada akun Instagram macam @natta_reza, @wardahmaulina_, dan @alvin_411 yang dengan gencar mempromosikan (dan memprovokasi) nikah muda kepada jomblo-jomblo pemendam rasa fii sabilillah. Indah sekali ya hidup mereka. Diikuti fotografer yang tampaknya selalu ada untuk mereka, gaya-gaya mesra, jeprat-jepret, cari caption romantis yang syar’i, posting, terus tinggal tunggu ribuan like dan ratusan komen membanjiri. Coba cek komen-komennya deh, paling banyak diisi sama iklan peninggi badan dan cuitan follower yang mungkin pada ngiri.

“#relationshipgoals bangeeeettt”

Subhanallah…pengen deh kayak kakakk…

“Menanti dia yang bisa memperlakukanku seperti ini…”

Ketemu di Instagram? Taarufnya saling stalking ya Mas?

Duh, miris sekali baca komen mas mbak dan dedek-dedek yang lagi ngegalau ini. Panutannya lagi asik PDA sendiri, mereka malah curhat sana-sini.

2. Melamar Via Chat WA

Ini yang beberapa waktu lalu sempat viral, tentang seorang gadis yang diramal..eh, lamar, via chat WhatsApp. Banyak orang menganggap cara melamar macam ini adalah cara melamar yang keren dan relationship goals banget. Padahal menurut saya, cara ini malah cara yang payah. Dulu zaman saya SMP, kalo ada cowok nembak pacarnya via SMS (tanpa ngomong langsung), bakal divonis cupu, lemah, dan tidak berdaya.

Pacar yang ditembak dengan cara SMS, cuma layak pacaran lewat SMS-an saja. Gausah ketemuan atau jalan bareng segala. Masa’ nembak aja ga mau ketemu langsung?” Begitu ungkapan yang pernah saya dengar dulu.

Nah dengan logika seperti ini, apakah seseorang yang dilamar via chat WhatsApp hanya layak nikah dan hidup berumah tangga via WA saja? Di mana enaknya?

Celakanya, cara melamar ini sudah kadung viral. Baiklah kalau begitu, kapan aku dimasukkan ke dalam grup WA keluargamu? Akan kulamar kamu di situ *malahngode*

3. Undangan Nikah Dari Orang Lain

Pertanyaan klasik yang tidak mudah untuk dijawab,

Kapan nyusul?

Continue reading 7 Alasan Kenapa Anak Muda Kebelet Nikah, Nomor 5 Bikin Netizen Melongo

Sulit

Sepanjang hidup saya *udah hidup berapa lama, Gin?* ada beberapa hal yang menurut saya sangat sulit untuk diterjemahkan (selain menerjemahkan kodingan orang lain).

1. Senyum

Adalah hal yang sulit untuk menerjemahkan sesungging senyum di wajah. Sedih atau senang? Ketir atau bahagia? Senyum hormat atau senyum menghujat? Entah, kita hanya bisa berprasangka.

Tahu dari mana orang yang selalu tersenyum adalah orang yang bahagia? Bisa jadi, ia justru menyembunyikan nestapa maha dahsyat dalam hidupnya. Tahu dari mana orang yang tersenyum saat kita datang itu berarti ia senang dengan kehadiran kita? Bisa jadi, ia justru sedang tersenyum melecehkan kita di dalam pikirannya.

2. Terserah

Adalah hal yang sulit untuk menerjemahkan sepatah kata terserah. Terserah yang dalam KBBI berarti sudah diserahkan (kepada) atau tinggal bergantung (kepada), bisa berarti sebenarnya aku mau ini, tapi aku tidak mau bilang. Aku menunggu kamu mengerti apa yang aku mau.

Pertanyaan mudah seperti mau makan di mana, bisa saja menjadi bahan perdebatan panjang apabila kata terserah tadi melenceng dari makna sebenarnya. Ditanya mau makan di mana, bilangnya terserah. Ditawari makan ke warung A, katanya kurang enak. Dibilang warung B, katanya mahal. Terus giliran minta kepastian mau makan di mana, jawabannya tetap saja terserah. Terserah, tapi tidak mau berserah.

3. Sikap

Adalah hal yang sulit untuk menerjemahkan sikap seseorang. Yang ini jangan ditanya. Seringkali sikap orang lain kepada kita mengundang banyak tanda tanya. Sebenarnya bukan sikap orang tersebut yang salah, hanya kita saja yang sering salah memahami.

Contoh paling sederhana adalah sikap orang tua kepada anaknya. Seorang anak mungkin saja menganggap orang tuanya galak dan jahat karena sering melarang ia bermain ke luar rumah. Sang anak bisa jadi berharap agar ia terlahir dari orang tua yang berbeda. Padahal, seandainya sang anak tahu, sikap orang tuanya itu adalah bentuk kasih sayang mereka demi kebaikan sang anak.

Berbicara soal kebaikan, hal yang paling sulit dari yang hal-hal sulit di atas adalah menerjemahkan kebaikan orang lain. Sebenarnya tidak sulit, hanya ya itu tadi. Seringkali kebaikan seseorang itu yang membuat kita salah. Karena kebaikan seseorang bisa membuat kita salah memahami. Lebih jauh, kebaikan seseorang bisa membuat kita salah berharap.

Hati-hati dalam menerjemahkan sikap, hati-hati dalam menaruh harap 🙂

Menjelang maghrib, otw BSD-Bogor
12/5/2017