Diam

Menurutmu, bagaimana aku membahasakan rindu?

Adakah ia cukup dengan lantunan lirik sebuah lagu? Adakah ia cukup dengan rangkaian kata seorang pujangga? Menurutku tidak. Apa yang mampu diucap di lisan dan diindera di mata, tidak lebih luas dari setangkup rindu itu sendiri.

Menurutku, adalah diam yang mampu membahasakan rindu. Tidak semegah kalimat pengakuan cinta memang, tapi ia cukup untuk menjadi pembuktian rasa.

Diam mampu membuktikan kepada kita banyak hal. Ia mampu menjadi bukti, betapa keras usaha seseorang menahan letup-letup di hati. Ia mampu menjadi bukti, bahwa ada yang sedang berjuang dengan perasaannya sendiri. Ia mampu menjadi bukti, bahwa ada ego yang harus ditekan bila memang belum berhak memiliki.

Diam, mampu menjadi bukti, bahwa adakalanya kata-kata tidak cukup membahasakan rasa.

Sialnya, tidak semua orang paham akan bahasa rindu satu ini. Bukankah gunung tidak pernah mengerti arti diamnya pendaki di atas puncaknya? Bukankah laut tidak pernah mengerti arti diamnya penyelam di pinggir tepinya?

Maka mengertikah kamu arti diamku di depan matamu?

Jakarta, ba’da isya
13/10/2017

Advertisements

7 Alasan Kenapa Anak Muda Kebelet Nikah, Nomor 5 Bikin Netizen Melongo

Dulu zaman saya SMP, bicara urusan pernikahan adalah sebuah urusan yang berat. Urusan yang rasanya jauh sekali untuk saya jangkau kalau dilihat dari usia saya saat itu. Tapi sekarang, kok rasa-rasanya anak SD aja sudah berani masuk ke domain pembicaraan ini ya? Saya jadi ingat potongan lirik lagu Camelia Malik,

Kalau cinta sudah direkayasa..banyak bocah disulapnya dewasa

Kok bisa sih anak-anak muda yang masih unyu-unyu ini bisa jadi kayak kebelet nikah gini? Padahal kan kalau dilihat-lihat mereka belum siap untuk naik ke pelaminan. Mungkin, 7 alasan ini yang jadi penyebabnya.

1. Akun Instagram Nikah Muda

Terima kasih kepada akun Instagram macam @natta_reza, @wardahmaulina_, dan @alvin_411 yang dengan gencar mempromosikan (dan memprovokasi) nikah muda kepada jomblo-jomblo pemendam rasa fii sabilillah. Indah sekali ya hidup mereka. Diikuti fotografer yang tampaknya selalu ada untuk mereka, gaya-gaya mesra, jeprat-jepret, cari caption romantis yang syar’i, posting, terus tinggal tunggu ribuan like dan ratusan komen membanjiri. Coba cek komen-komennya deh, paling banyak diisi sama iklan peninggi badan dan cuitan follower yang mungkin pada ngiri.

“#relationshipgoals bangeeeettt”

Subhanallah…pengen deh kayak kakakk…

“Menanti dia yang bisa memperlakukanku seperti ini…”

Ketemu di Instagram? Taarufnya saling stalking ya Mas?

Duh, miris sekali baca komen mas mbak dan dedek-dedek yang lagi ngegalau ini. Panutannya lagi asik PDA sendiri, mereka malah curhat sana-sini.

2. Melamar Via Chat WA

Ini yang beberapa waktu lalu sempat viral, tentang seorang gadis yang diramal..eh, lamar, via chat WhatsApp. Banyak orang menganggap cara melamar macam ini adalah cara melamar yang keren dan relationship goals banget. Padahal menurut saya, cara ini malah cara yang payah. Dulu zaman saya SMP, kalo ada cowok nembak pacarnya via SMS (tanpa ngomong langsung), bakal divonis cupu, lemah, dan tidak berdaya.

Pacar yang ditembak dengan cara SMS, cuma layak pacaran lewat SMS-an saja. Gausah ketemuan atau jalan bareng segala. Masa’ nembak aja ga mau ketemu langsung?” Begitu ungkapan yang pernah saya dengar dulu.

Nah dengan logika seperti ini, apakah seseorang yang dilamar via chat WhatsApp hanya layak nikah dan hidup berumah tangga via WA saja? Di mana enaknya?

Celakanya, cara melamar ini sudah kadung viral. Baiklah kalau begitu, kapan aku dimasukkan ke dalam grup WA keluargamu? Akan kulamar kamu di situ *malahngode*

3. Undangan Nikah Dari Orang Lain

Pertanyaan klasik yang tidak mudah untuk dijawab,

Kapan nyusul?

Continue reading 7 Alasan Kenapa Anak Muda Kebelet Nikah, Nomor 5 Bikin Netizen Melongo

Sulit

Sepanjang hidup saya *udah hidup berapa lama, Gin?* ada beberapa hal yang menurut saya sangat sulit untuk diterjemahkan (selain menerjemahkan kodingan orang lain).

1. Senyum

Adalah hal yang sulit untuk menerjemahkan sesungging senyum di wajah. Sedih atau senang? Ketir atau bahagia? Senyum hormat atau senyum menghujat? Entah, kita hanya bisa berprasangka.

Tahu dari mana orang yang selalu tersenyum adalah orang yang bahagia? Bisa jadi, ia justru menyembunyikan nestapa maha dahsyat dalam hidupnya. Tahu dari mana orang yang tersenyum saat kita datang itu berarti ia senang dengan kehadiran kita? Bisa jadi, ia justru sedang tersenyum melecehkan kita di dalam pikirannya.

2. Terserah

Adalah hal yang sulit untuk menerjemahkan sepatah kata terserah. Terserah yang dalam KBBI berarti sudah diserahkan (kepada) atau tinggal bergantung (kepada), bisa berarti sebenarnya aku mau ini, tapi aku tidak mau bilang. Aku menunggu kamu mengerti apa yang aku mau.

Pertanyaan mudah seperti mau makan di mana, bisa saja menjadi bahan perdebatan panjang apabila kata terserah tadi melenceng dari makna sebenarnya. Ditanya mau makan di mana, bilangnya terserah. Ditawari makan ke warung A, katanya kurang enak. Dibilang warung B, katanya mahal. Terus giliran minta kepastian mau makan di mana, jawabannya tetap saja terserah. Terserah, tapi tidak mau berserah.

3. Sikap

Adalah hal yang sulit untuk menerjemahkan sikap seseorang. Yang ini jangan ditanya. Seringkali sikap orang lain kepada kita mengundang banyak tanda tanya. Sebenarnya bukan sikap orang tersebut yang salah, hanya kita saja yang sering salah memahami.

Contoh paling sederhana adalah sikap orang tua kepada anaknya. Seorang anak mungkin saja menganggap orang tuanya galak dan jahat karena sering melarang ia bermain ke luar rumah. Sang anak bisa jadi berharap agar ia terlahir dari orang tua yang berbeda. Padahal, seandainya sang anak tahu, sikap orang tuanya itu adalah bentuk kasih sayang mereka demi kebaikan sang anak.

Berbicara soal kebaikan, hal yang paling sulit dari yang hal-hal sulit di atas adalah menerjemahkan kebaikan orang lain. Sebenarnya tidak sulit, hanya ya itu tadi. Seringkali kebaikan seseorang itu yang membuat kita salah. Karena kebaikan seseorang bisa membuat kita salah memahami. Lebih jauh, kebaikan seseorang bisa membuat kita salah berharap.

Hati-hati dalam menerjemahkan sikap, hati-hati dalam menaruh harap 🙂

Menjelang maghrib, otw BSD-Bogor
12/5/2017

Pikiran Liar: “Smartphone”

Chibi Maruko-chan enggak bakal jadi anime yang mengesankan kalau Maruko dari awal sudah dikasih smartphone. Jika sedari awal Maruko sudah dikasih smartphone sama kakeknya, mungkin yang kita tonton sepanjang setengah jam hanyalah adegan Maruko asik nge-chat sama teman-temannya. Yang kita lihat hanya Maruko yang cekakak-cekikik ngeliatin layar ponselnya sambil baringan di kasur, asik ngobrol sama Tama-chan atau sekadar iseng berbagi kelakar dengan Hamaji. Opening-nya pun saya yakin berubah. Maruko ga perlu ganti baju agar menarik hati untuk mencari teman, cukup selfie pake kamera bagus, tambahin efek, dan install Tinder. Beres. Sekarang ayo selfie, agar menarik hati ayo kita mencari temaan~

Begitu juga Doraemon. Seandainya Nobita dari awal sudah punya smartphone, mungkin yang akan kita tonton adalah Nobita yang sibuk selfie atau update Instagram dengan alat-alat canggih dari kantong ajaibnya Doraemon. Beruntung, Doraemon berasal dari tahun 2112 dan bukan tahun 2017. Mungkin peradaban abad ke-22 sudah begitu bijak untuk tidak membiarkan gadget menguasai hidup manusia.

Ah, coba seandainya smartphone sudah ditemukan dari dulu, mungkin Hachi ‘anak yang sebatang kara pergi mencari ibunya di malam yang sangat dingin teringat mama‘ ga bakal ribet-ribet tanya ke sana ke mari buat nyari ibunya. Cukup buka Google Maps, terus tanya serangga terdekat, udah. Yang akan kita tonton adalah seorang anak lebah yang terus terbang sambil liatin layar smartphone biar ga salah jalan.

Continue reading Pikiran Liar: “Smartphone”

Jatuh di Aspal Tidak Seindah Jatuh…

jatuh-di-aspalKatanya, jatuh di aspal itu tidak seindah jatuh cinta. Itu kata mereka. Ya, jatuh di aspal memang tidak seindah jatuh cinta. Tapi percayalah, rasa sakitnya sama.

Saya sudah berkali-kali jatuh di aspal. Luka memar atau robek karena jatuh di aspal tadi paling hanya bertahan beberapa bulan. Bekas lukanya pun bisa mudah hilang. Kalau pun masih ada bekasnya, ia sudah mengering. Kulit yang rusak sudah berganti dengan kulit yang baru.

Jatuh cinta? Jangan harap. Luka yang dihasilkan bisa lebih dalam, lebih merusak, dan bisa menyebabkan infeksi yang lebih luas. Jangan kira bekas lukanya akan cepat hilang. Ia bisa saja menganga lama, masih terluka meski tak berdarah, tak kunjung kering karena dibasahi air mata. Kalau pun sudah kering, lukanya bisa saja dengan mudah terbuka lagi karena sebuah sindrom akut: CLBK, Cinta Lama Bersemi Kembali. Sindrom yang bisa muncul begitu saja tanpa permisi. Sindrom yang bisa berawal dari sapaan kepada kawan lama, kedekatan yang muncul kembali setelah sekian lama pergi, atau bisa dengan mudahnya berawal dari sekadar chatting di malam hari.

Continue reading Jatuh di Aspal Tidak Seindah Jatuh…

Pejuang Terbaikmu

Aku kira aku adalah orang yang paling serius mengejarmu. Selama ini, aku menganggap bahwa orang lain yang mengejarmu adalah orang-orang yang hanya ingin mempermainkanmu, bukan memperjuangkanmu. Dan aku menganggap hanya akulah yang sedang -dan berhak- memperjuangkanmu.

Persetan mereka dengan puluhan pesan singkat setiap malam. Persetan mereka dengan segala gombal rayu di setiap kesempatan. Mereka hanya sedang berusaha mempermainkanmu, mengaburkan pandanganmu dari pejuangmu yang sesungguhnya: Aku.

Jemawa. Aku sudah merasa perjuangan itu cukup ketika aku selalu merapal namamu di dalam doaku, di sebaik-baik waktu, ketika hujan misalnya. Sempurna. Aku terjebak di dalam kompleksitasku sendiri. Kombinasi semangat religiusitas, melankolisme hujan, dan obsesi posesif yang sedemikian kompulsif. Aku merangkai-rangkai postulatku sendiri: aku pejuang terbaikmu. Postulat yang tanpa teori, postulat yang tanpa teliti, apalagi bukti. Bukankah postulat adalah sebuah aksioma yang tak perlu bukti?

Hingga akhirnya postulatku runtuh, hancur berkeping-keping dilindas institusi megah bernama pernikahan. Ketika seorang laki-laki menunjukkan kesungguhannya berjuang dengan melafalkan ikrar suci, dan sang perempuan menunjukkan kerelaannya diperjuangkan dengan bersanding di pelaminan bersama si laki-laki.

Continue reading Pejuang Terbaikmu