Diam

Menurutmu, bagaimana aku membahasakan rindu?

Adakah ia cukup dengan lantunan lirik sebuah lagu? Adakah ia cukup dengan rangkaian kata seorang pujangga? Menurutku tidak. Apa yang mampu diucap di lisan dan diindera di mata, tidak lebih luas dari setangkup rindu itu sendiri.

Menurutku, adalah diam yang mampu membahasakan rindu. Tidak semegah kalimat pengakuan cinta memang, tapi ia cukup untuk menjadi pembuktian rasa.

Diam mampu membuktikan kepada kita banyak hal. Ia mampu menjadi bukti, betapa keras usaha seseorang menahan letup-letup di hati. Ia mampu menjadi bukti, bahwa ada yang sedang berjuang dengan perasaannya sendiri. Ia mampu menjadi bukti, bahwa ada ego yang harus ditekan bila memang belum berhak memiliki.

Diam, mampu menjadi bukti, bahwa adakalanya kata-kata tidak cukup membahasakan rasa.

Sialnya, tidak semua orang paham akan bahasa rindu satu ini. Bukankah gunung tidak pernah mengerti arti diamnya pendaki di atas puncaknya? Bukankah laut tidak pernah mengerti arti diamnya penyelam di pinggir tepinya?

Maka mengertikah kamu arti diamku di depan matamu?

Jakarta, ba’da isya
13/10/2017

Advertisements

Seberapa Banyak

Banyak orang yang ngakunya mampu untuk tulus mencintai, tapi seberapa banyak orang yang benar-benar mampu untuk tulus melepaskan?

Banyak orang yang ngakunya siap untuk berkorban, tapi seberapa banyak orang yang benar-benar siap untuk merelakan?

Banyak orang yang ngakunya sanggup untuk memperjuangkan, tapi seberapa banyak orang yang benar-benar sanggup untuk melupakan?

Banyak memori indah yang kamu buat menjadi setumpuk kenangan, tapi seberapa banyak luka yang kamu buat dengan memberi harapan?

Bogor, menjelang maghrib
2/4/2017

Jatuh di Aspal Tidak Seindah Jatuh…

jatuh-di-aspalKatanya, jatuh di aspal itu tidak seindah jatuh cinta. Itu kata mereka. Ya, jatuh di aspal memang tidak seindah jatuh cinta. Tapi percayalah, rasa sakitnya sama.

Saya sudah berkali-kali jatuh di aspal. Luka memar atau robek karena jatuh di aspal tadi paling hanya bertahan beberapa bulan. Bekas lukanya pun bisa mudah hilang. Kalau pun masih ada bekasnya, ia sudah mengering. Kulit yang rusak sudah berganti dengan kulit yang baru.

Jatuh cinta? Jangan harap. Luka yang dihasilkan bisa lebih dalam, lebih merusak, dan bisa menyebabkan infeksi yang lebih luas. Jangan kira bekas lukanya akan cepat hilang. Ia bisa saja menganga lama, masih terluka meski tak berdarah, tak kunjung kering karena dibasahi air mata. Kalau pun sudah kering, lukanya bisa saja dengan mudah terbuka lagi karena sebuah sindrom akut: CLBK, Cinta Lama Bersemi Kembali. Sindrom yang bisa muncul begitu saja tanpa permisi. Sindrom yang bisa berawal dari sapaan kepada kawan lama, kedekatan yang muncul kembali setelah sekian lama pergi, atau bisa dengan mudahnya berawal dari sekadar chatting di malam hari.

Continue reading Jatuh di Aspal Tidak Seindah Jatuh…

Uncountable

Cinta itu ga pake itung-itungan. Kalo udah mulai mikir “pengorbanan” itu namanya “kalkulasi” -Sujiwo Tejo

Sudah merasa banyak berkorban ya? Padahal ini bukan tentang seberapa banyak, ini tentang seberapa tulus. Dan yang namanya tulus itu abstrak. Tidak ada satuannya, tidak bisa diukur, tidak dapat dihitung. Uncountable.

Berhenti mengeluh karena merasa banyak berkorban. Mengeluhlah karena mungkin, selama ini ternyata pengorbananmu yang belum tulus.

Perjuangan (2)

Kenapa kamu sudah mengaku kalah, kalau berjuang saja ternyata belum?

Jangan-jangan, kamu membayangkan urusan ini akan begitu mudah, sehingga kamu menyepelekan perjuangan yang akan kamu tempuh. Dan sekarang saat kamu baru mencapai tahap awal dari perjuangan itu, kamu sudah berlagak seakan telah melewati semuanya, seakan telah di puncak perjuangan itu sendiri. Padahal, menyentuh lerengnya saja pun belum.

Jangan lemah, kamu laki-laki.

________

Sebelumnya, Perjuangan (1)

Apakah Boleh?

Suatu hari kamu mengetahui ada seseorang yang menyukaimu tapi kamu biasa saja menanggapinya. Tidak pernah terbesit dalam hatimu ada rasa suka yang bisa digunakan untuk membalasnya. Lantas suatu hari, dia yang tidak pernah kamu duga itu berniat memperjuangkanmu. Apakah boleh?

Kamu terkejut, mungkin juga merasa tidak nyaman atas apa yang dia lakukan. Meski sebenarnya dia tidak berbuat hal aneh, bahkan tidak pernah menunjukkan bagaimana caranya dia berjuang. Hanya saja, pengetahuanmu tentangnya bahwa dia sedang memperjuangkanmu, membuat ketenanganmu terusik.

Padahal, dia sama sekali tidak mengusik. Hanya saja kamu menolaknya. Padahal dia tidak meminta apa-apa. Dia hanya berjuang, apakah boleh?

Satu hal yang mungkin harus kamu tahu, kamu tidak bisa menolak cinta seseorang sebab cinta itu adalah miliknya, tumbuh di dalam hatinya sendiri. Akan tetapi keputusan bagaimana kamu bersikap kepadanya adalah sepenuhnya hakmu.

Kadang atau mungkin memang lebih baik; ketidaktahuan kita tentang cinta seseorang itu jauh lebih aman daripada kita mengetahuinya.

Yogyakarta, 15 Maret 2016 | ©kurniawangunadi