Berhenti Bertanya

Bertanya tidak pernah membuatmu menjadi lebih tahu, jika kamu hanya ingin mengusir rasa ragu.

Bertanya tidak pernah memberimu manfaat, jika kamu hanya ingin jawaban yang sesuai dengan apa yang kamu harap.

Bertanya tidak pernah menjadi solusi, jika kamu hanya ingin untuk dimengerti.

Berhenti bertanya-tanya, karena yang sebenarnya kamu butuhkan bukan sebuah jawaban. Yang kamu butuhkan hanya sebuah kepastian.

Tidak cukupkah peduliku menjawab semua ragumu? Tidak cukupkah sikapku menjawab segala harapmu? Tidak cukupkah pengertianku menjawab segala kompleksitasmu?

Tidak semua tanya harus dijawab sekarang, dan yang namanya kepastian tidak pernah datang sebentar. Tapi tenang, yang namanya kepastian tidak pernah datang terlambat. Ia selalu datang di waktu yang tepat.

Bersabarlah.

BSD, ba’da isya
21/5/2017

Rindu

Kata orang, rindu adalah jalan. Sayangnya, orang yang mengatakan rindu adalah jalan tidak pernah menjelaskan. Apakah rindu adalah jalan menuju pulang, atau jalan untuk tersesat jauh lebih dalam?

Kata orang, rindu adalah tujuan untuk kembali. Sayangnya, orang yang mengatakan rindu adalah tujuan kembali tidak pernah menjelaskan. Apakah rindu adalah tujuan untuk kembali ke rumah, atau justru kembali menyesatkan kita menuju antah berantah?

Banyak orang yang menemukan definisi rumah, menemukan tujuan pulang, karena rindu. Ketika rindu itu saling berbalas. Tapi tidak sedikit orang yang pada akhirnya tersesat, berjalan tak karuan di antah berantah, karena rindu. Ketika rindu (ternyata) tak harus bersambut.

Hati-hati menambatkan rindu.

Tangerang Selatan, ba’da zhuhur
27/12/2016

Pergi Untuk Kembali

Pergi untuk kembali…

Mana ada istilah kembali untuk tindakan yang justru membuat kita saling meninggalkan? Mungkin, kalimat di atas sebenarnya belum lengkap. Pasti masih ada kelanjutannya.

Pergi untuk kembali…pulang? Pergi untuk kembali kepada mereka yang terdefinisi sebagai rumah. Untuk kembali menghimpun remah rindu yang terserak oleh jarak, memungut senyum bahagia dari mereka yang kita panggil keluarga.

Atau mungkin, pergi untuk kembali…berjuang? Pergi untuk kembali bertarung di medan tempur yang baru. Untuk kembali menggantungkan impian-impian kita di langit, dan menjemputnya dengan usaha-usaha yang terbaik.

Atau jangan-jangan, pergi untuk kembali…asing? Pergi untuk kembali memulai segalanya dari awal lagi. Untuk kembali saling menyapa dengan sapaan canggung ketika bertemu, lupa bagaimana kita dahulu begitu akrab dan saling menyatu.

Tidak. Jangan. Tolong jangan kembali asing lagi. Karena ketika aku pergi, aku ingin kamu yang menjadi tempatku kembali.

“…And your eyes look like coming home…”

Bogor, ba’da isya
2 Muharram 1438 H

Juni!

Selamat pagi, Juni
Yang diam-diam hujannya menyimpan rindu pada pohon berbunga itu [1]

Selamat pagi, Juni
Yang mengajarkan bahwa cinta adalah tentang tak berkesudahannya sebuah doa [2]

Selamat pagi, Juni
Yang mempersilakan kita duduk dan aku memesan ilalang juga bunga rumput [3]

Selamat pagi, Juni
Yang membuat kita saling berbisik mengutuk fajar yang hendak terbit [4]

***

Hemm, agak random sih tulisan kali ini. Bait-bait di atas sebenarnya nggak ada artinya, cuma iseng aja buat habis baca kumpulan puisinya Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni, jadilah sajak asal di atas. Tapi lumayanlah buat kenang-kenangan, mengingat Juni tahun ini adalah Juni yang spesial, insya Allah 🙂

Oh iya, ada satu bait yang ketinggalan,

Selamat pagi, Juni
Yang deadline TA dan jadwal sidang menanti

__________

[1] Hujan Bulan Juni

[2] Dalam Doaku

[3] Di Restoran

[4] Sementara Kita Saling Berbisik

Membuatmu Kagum (1)

Entah dengan cara apa supaya aku bisa membuatmu kagum.

Apakah perlu dengan petikan-petikan gitar di bawah jendela?

Apakah perlu dengan gubahan kata bak karya para pujangga?

Apa kuharus operasi plastik agar wajahku menyerupai artis Korea?

Ah, lupakan saja kalau kekagumanmu ternyata hanya soal fisik. Mungkin yang kamu cari adalah model tampan di majalah remaja, bukan laki-laki biasa yang ‘hanya bisa’ berjanji untuk setia.

Surabaya waktu dhuha
12/5/16

2016

mdnh

Madinah…..

Seperti tahun-tahun yang lalu….

Malammu tak berubah…..

Tak ada bunyi petasan…

Tak ada tiupan terompet,

Dan tak ada nyala kembang api….

Engkau memilih diam disaat gegap gempita memenuhi semesta…

Semua tampak biasa dalam damai…

Hanya kidung adzan subuh yang berani memecah kesunyian malammu…

Aku dan mereka bahkan lupa tanggal berapa Desember saat ini..?

Ah…, andai ada yang bisa melukiskan sajak-sajak damai malammu itu untukku..

Agar ku kabarkan pada mereka..

Bahwa damaimu berkat aqidah yang terhujam dalam hati pendudukmu….

Dalam mazhab sunyi, engkau ajarkan kami izzah…

Bahwa kita bukan ummat pengekor…

Madinahku… semoga damaimu abadi…

_______________________

Disadur dari tulisan Ustadz Aan Chandra Thalib hafizhahullah. Di hari terakhir tahun 2015 masehi ini Indantia mengucapkan:

Selamat(kan diri anda dari) merayakan tahun baru masehi 2016 dengan tidak merayakannya.