Andai Dilan Orang Wakanda

Tahukah kamu, selain mewariskan hutang dan sistem hukum di Indonesia, penjajahan Belanda juga mewariskan standar good looking kepada masyarakat kita. Kulit putih misalnya, menjadi standar umum untuk menilai apakah seseorang dapat dikatakan tampan atau cantik. Terdengar rasis memang, tapi maaf, yang kulitnya lebih gelap mohon sadar diri, masyarakat Indonesia mungkin butuh waktu lebih untuk ikhlas menyebut anda tampan/cantik. Sementara untuk anda yang beruntung mewarisi kulit putih, apalagi kalau ditambah hidung mancung dan tinggi badan di atas rata-rata, selamat. Setidaknya separuh masalah hidup anda sudah selesai dengan sendirinya. Karena percaya atau tidak, fisik yang menarik bisa menyelesaikan banyak masalah dalam hidup. Dan film Dilan sudah membuktikannya, setidaknya pada saya.

Dulu saya kenal seseorang yang pernah mengejar wanita dambaannya lebih keras daripada Dilan mengejar Milea. Gombalan mautnya pun sebelas-dua belas dengan Dilan, bahkan menurut saya revolusioner di generasi seumurannya. Masih belum ada tuh gombalan macam “bapak kamu supir angkot ya?” atau semacamnya. Tingkat kepedeannya? Jangan ditanya.

Di kelas.

Duh, gua ga bawa pulpen nih. Ada pulpen ga?”

“Ada. Nih.”

“Yah, gua ga ada kertas juga. Bagi kertas dong”

“Nih.”

“Gua juga ga punya alamat rumah lu nih. Bisa tulisin ga?”

Dan sekelas pun gaduh.

Padahal zaman dulu belum ada gombalan ‘kalau mau serius, langsung datangi rumahnya‘ ala akhi ukhti galau kekinian. Dalam konteks ini, ia sudah melampaui tren di zamannya. Namun sayang, semua kata dan usaha yang ia berikan berakhir sia-sia. Pasalnya, daripada disebut mirip bangsa Eropa, ciri-ciri fisiknya lebih dekat dengan bangsa Dravida. Dan kita tahu bersama bahwa ciri fisik bangsa Dravida tidak memiliki banyak tempat lagi di hati masyarakat kita.

Sungguh berbeda dengan tokoh Dilan yang fisik aktornya memenuhi standar good looking. Kaum hawa seakan rela menunggu setiap huruf, setiap kata, dan setiap tanda baca yang keluar dari lisan Dilan. Mereka rela menunggu hingga titik terakhir kata-kata manisnya untuk membawa perasaan tinggi melayang. Sedangkan untuk teman saya? Ia bahkan tidak pernah menyelesaikan gombalannya dengan sempurna. Kekurangan fisiknya menjadikan kaum hawa kehilangan minat mendengar bujuk rayunya.

Wajar kalau muncul selorohan ‘untung Dilannya ganteng. Kalo Dilannya jelek sih najis!

Andai, andai Dilan adalah orang Wakanda yang fisiknya jauh dari standar good looking yang berlaku, masihkah ia tetap didengar? Bisakah ia mendapatkan hati Milea di tengah masyarakat yang -sedikit banyak- masih rasis ini? Lupakan soal hadiah TTS yang sudah diisi Dilan agar Milea tidak perlu mikir untuk mengisinya lagi. Toh, sekeping vibranium sudah cukup membuat Milea tidak perlu bekerja lagi seumur hidupnya. Milea juga tidak perlu khawatir ada yang menyakitinya. Orang Wakanda sudah ribuan tahun menyembunyikan keberadaan teknologinya, menghilangkan keberadaan satu orang yang menyakiti Milea bukan soal sulit tentunya. Rindu? Berat? Orang Wakanda bahkan bisa melepas rindu dengan orang yang sudah mati, apa susahnya melepas rindu dengan orang yang masih hidup?

Pertanyaannya, apakah Milea bisa mencintai Dilan dengan logika masyarakat umum? Apakah Milea akan mencintai Dilan yang orang Wakanda, ataukah ia akan mengikuti langkah Raisa yang lebih memilih Hamish Daud daripada Kamga?

Saya tidak berharap banyak Milea akan mencintai Dilan. Saya paham, konsekuensi mencintai Dilan amat berat. Saya ragu Milea bisa mengenalkan Dilan sebagai pacarnya yang datang dari Wakanda, negara dunia ketiga, kepada teman-temannya. Ia akan melawan opini umum masyarakat kita, yang artinya ia akan menjadi bahan julitan orang-orang. Selain itu, Milea bisa jadi akan ilfilĀ kalau melihat ekspresi cinta Dilan kepadanya.

“M’ilea forever!”

Dan Dilan tidak akan pernah lagi sama.

BSD, waktu dhuha
7/3/2018

Advertisements

Tokoh Antagonis

Kalau kita membayangkan hidup ini adalah drama, pernahkah kita menunjuk diri sendiri sebagai tokoh antagonisnya? Atau jangan-jangan, kita selalu memposisikan diri sebagai tokoh protagonis dalam seluruh skenario hidup yang kita jalani?

Jika kita menjalani peran sebagai murid, mungkin kita akan memposisikan guru galak sebagai antagonisnya. Jika kita menjalani peran sebagai karyawan, kita memposisikan bos bawel sebagai antagonisnya. Jika kita menjalani peran sebagai orang yang sedang jatuh cinta, maka orang lain yang bersama dengan seseorang yang kita cintai otomatis akan jadi tokoh antagonisnya.

Kenapa kita selalu membutuhkan tokoh antagonis dalam setiap episode hidup kita? Apa karena kita merasa bahwa hidup ini adalah pementasan drama kita sendiri yang jadi tokoh utamanya, sehingga siapa-siapa yang menghalangi kebahagiaan kita, langsung bisa disebut sebagai tokoh antagonis?

Pernahkah berpikir, jangan-jangan selama ini kitalah yang menjadi tokoh antagonisnya? Hanya karena merasa bahwa kitalah tokoh utama, lantas kita lupa bahwa kita pun hadir dalam episode hidup orang lain.

Di dunia ini kita tidak pernah hidup sendiri. Jika populasi manusia saat ini ada enam milyar, artinya ada enam milyar drama, ada enam milyar narasi, ada enam milyar tokoh utama yang berjalan beriringan sekaligus dalam satu waktu. Kita boleh jadi tokoh utama dalam narasi kita sendiri, tapi dalam narasi orang lain? Mungkin kita adalah pemeran pembantu, mungkin juga kita jadi tokoh figuran, dan seringkali, kita memang tidak pernah mendapat peran dari awalnya.

Lantas apa kita berhak memvonis orang lain sebagai tokoh antagonis hanya karena ia menghalangi kebahagiaan kita (yang merasa menjadi) sang tokoh utama? Jangan geer dulu. Bisa jadi sebenarnya kita hanya pemeran pembantu, atau mungkin malah kita yang jadi tokoh antagonisnya. Kita belum tentu tahu definisi bahagia dalam narasi orang lain, kan?

Atau jangan-jangan, kita memang tidak pernah mendapat peran dalam narasi orang lain, yang ironisnya, sudah kita jadikan tokoh utama dalam hidup kita?

Makanya, jangan geer.

Stasiun Manggarai, sambil menunggu KRL terakhir menuju Tanah Abang
13/11/2017

Pertanyaan Terburuk

Dalam suatu sesi di kelas ketika kuliah dulu, dosen saya bertanya kepada seluruh mahasiswa yang ada di ruangan itu,

Pertanyaan terburuk apa yang pernah terlintas di kepala seseorang?

Kelas hening. Jika biasanya pertanyaan dosen kami adalah seputar algoritma pemrograman, atau seputar bagaimana merancang sebuah perangkat lunak dengan baik dan benar, kali ini dosen kami menanyakan tentang pertanyaan terburuk yang ada di kepala seseorang. Kulihat sekeliling, berharap ada satu dua jenius kelas kami yang berani menjawabnya.

Pertanyaan yang nggak logis, Bu,” jawab Si Jenius 1.

Pertanyaan yang nggak logis justru menantang logika kita sendiri,” ujar dosen kami.

Pertanyaan retoris,” kata Si Jenius 2 sambil malu-malu mengacungkan tangannya.

Pertanyaan retoris malah pertanyaan yang bagus, karena adakalanya pertanyaan retoris menyadarkan kita akan banyak hal,” ucap dosen kami sambil melihat belakang kelas, berharap ada jawaban lain muncul dari deretan bangku belakang. Maklum, Si Jenius 1 dan Si Jenius 2 selalu duduk di bangku depan dan bangku tengah. Membosankan sekali kalau hanya deretan depan dan deretan tengah saja yang aktif.

Nanya kunci jawaban, Bu!

Saya tahu, kali ini bukan Si Jenius 3 yang duduk di samping Si Jenius 1 yang menjawab pertanyaan itu, melainkan si Malas no. 34 yang ada di pojok belakang kelas kami. Gelak tawa seketika menyambut jawaban asal Si Malas no. 34.

Loh, nanya kunci jawaban itu justru adalah usaha terbaik seorang murid!” ujar dosen kami yang disambung gelak tawa lebih keras dari sebelumnya.

Setelah tawa seisi kelas mereda, dosen kami akhirnya melanjutkan kata-katanya.

Pertanyaan terburuk itu adalah, pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan. Pertanyaan yang tidak akan pernah mendapatkan jawaban.

Kelas hening, hanya desisan mulut mahasiswa yang berani mengusik.

*****

Keingintahuan adalah fitrah yang tertanam di setiap jiwa seseorang, karena jika tidak ada keingintahuan maka kita tidak memiliki keinginan belajar. Betapa banyak penemuan besar muncul dari rasa keingintahuan seseorang. Isaac Newton yang kejatuhan apel saja bisa menemukan teori gravitasi bumi, itu pasti karena keingintahuannya yang tidak berfaidah besar.

Keingintahuan memicu pertanyaan-pertanyaan, dan pertanyaan-pertanyaan itu menuntut jawaban, dan karena tuntutan akan pencarian jawaban itulah kita menjadi belajar. Kita jadi mencari tahu. Kita jadi bertindak dan bergerak. Dengan begitu, kita berhak mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita.

Lalu bagaimana dengan pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan? Adakah pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan memiliki hak untuk mendapatkan jawaban?

Kadang jawaban itu memang tidak pernah datang. Pertanyaan-pertanyaan yang terpendam itu hanya jadi semacam penyemangat dan pemacu kita dalam mencari jawaban yang kita harapkan, yang sayangnya, tidak pernah kita dapatkan. Kita terus bergerak, kita terus bertindak, tapi kita tidak pernah bertanya. Maka bagaimana bisa jawaban itu datang kalau kita tidak pernah bertanya? Kita hanya bisa menerka, menebak, dan merangkai peristiwa-peristiwa sebagai makna, berharap itu menjadi jawaban atas segala pertanyaan kita. Padahal, kita tidak pernah tahu persis akan jawaban yang sebenarnya.

Dan kadang, sebenarnya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu sudah terpampang jelas di depan mata kita. Sayangnya, seringkali kita sudah terlanjur dibutakan perasaan. Kita lalai mendapatkan jawaban yang sedianya sudah ada, hanya karena kita berharap mendapatkan jawaban lain yang kita inginkan.

Bertanyalah, sebelum tidak pernah mendapatkan jawaban. Bertanyalah, sebelum jawaban itu datang dengan cara yang menyakitkan.

BSD, di bawah naungan Super Blue Blood Moon
yang menjadi penutup Januari 2018

Bagaimana Bersikap di Depan Perempuan yang Kamu Suka

Hanya ada satu cara yang bisa kamu lakukan jika berhadapan dengan dia, perempuan yang kamu sukai: bersikaplah sebaliknya. Jika kamu memang benar-benar menyukai seseorang dari lubuk hati yang terdalam, maka bersikaplah seakan-akan kamu tidak menyukainya. Kalau perlu, bertindaklah seakan-akan kamu tidak ingin bertemu dia sama sekali. Citrakan dirimu menjadi sosok yang independen, yang tidak tergantung pada kehadirannya, yang tidak menanti salam dan sapanya, yang tidak perlu puji dan kagumnya.

Karena kalau kamu bersikap seperti pengemis cinta di hadapannya, maka kamu akan dipandang sebagai orang lemah, budak cinta, seseorang yang tidak punya prinsip dan tidak berpendirian dalam bersikap. Kamu akan dihujat dengan satu frasa yang akan menjadi label bagi kepribadianmu: orang baperan. Makanya, sikap berkebalikan dari perasaanmu inilah yang harusnya kamu ambil dan kamu terapkan

Secara praktis, langkah-langkah yang harus kamu lakukan bisa dijabarkan ke dalam poin-poin berikut,

Jangan mulai chat duluan

Tunjukkan kalau kamu adalah seseorang yang tidak mengemis perhatiannya dengan nge-chat tidak penting sejenis bertanya apa kabar, sudah makan atau belum, dan sebagainya. Kamu hanya akan terlihat sebagai seseorang yang bodoh, yang mengemis-ngemis atensi dengan cara yang murahan. Kalau sudah begitu, si dia akan jadi merasa di atas angin. Siap-siap kamu akan dipermainkan olehnya.

Kalau memang perlu nge-chat duluan, mulailah dengan chat yang ketus dan tidak bersahabat, maka kamu akan terlihat cool dan misterius. Hindari penggunaan kata “hai” atau “halo” yang hangat, takutnya nanti dia geer. Langsung saja bicara ke pokok inti permasalahan. Alangkah lebih baik lagi kalau kamu buat chat-mu seperti orang yang ngajak gelut. Dia pasti akan memikirkanmu terus menerus karena paradoks yang kamu ciptakan. Karena di saat orang lain nge-chat duluan dengan sok-sok manis, kamu datang dengan chat yang ngajak tubir.

“Kamu dah ngerjain tugasnya belum, C*k?”

Balaslah chat sekenanya

Kadang bukan kita yang memulai, tapi dia duluan yang memancing. Ada kalanya kamu harus waspada kalau ada chat dari dia, karena bisa jadi itu adalah pancingan mautnya. Dia hanya ingin melihat bagaimana kamu bereaksi. Kalau dia nge-chat duluan, maka balaslah sekenanya dan seperlunya saja. Kamu ini cuma balas chat, bukan baca proklamasi, nggak perlu seksama tapi buatlah dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Buat chat-mu efektif, bayangkan kalau kamu sedang mengirim pager yang tarifnya dihargai sepanjang karakter pesan. Hindari kata “nggak” dan ganti dengan “g“, buang kata “oke” dan ganti dengan “k“.

Contoh kasus: dia ngajak ketemuan untuk ngerjain tugas. Dia nge-chat kamu “Eh jangan lupa jam 4 nanti kita ketemuan di kampus yaaa

Mari kita analsisis chat ini. Di sini dia menuliskan kata “ya” dengan mengguanakan tiga huruf ‘a’. Menilik teori Rizana yang berbunyi banyaknya huruf yang sama dalam satu kata berbanding lurus dengan ketertarikan seseorang, maka kata “ya” dengan tiga huruf ‘a’ ini menunjukkan dia sudah mulai tertarik denganmu, minimal sudah mau diajak makan di penyetan Keputih.

Apa kamu boleh senang? Mungkin boleh, tapi jangan luapkan kesenanganmu itu. Karena bisa jadi itu hanya pancingan atau memang dasarnya dia kalau nge-chat kayak manja-manja gitu ke semua orang. Ingat, balaslah sekenanya. Dia hanya perlu konfirmasimu untuk ketemuan jam 4. Cukup satu huruf saja untuk konfirmasi, kan?

“K”

End of chat.

Jangan buat hari ulang tahunnya menjadi hari spesial

Saya punya landasan ideologis tentang ini. Hari (yang katanya) ulang tahun Nabi dalam agama saya saja tidak saya jadikan hari spesial, apalagi ulang tahun dia yang (saat ini masih) bukan siapa-siapa bagi saya?

Oke, terlepas dari landasan ideologi yang kamu anut, jangan jadikan hari ulang tahun dia menjadi hari spesial. Bersikaplah sewajarnya meski lidah sudah kelu ingin mengucapkannya. Ingat, kamu bukan Facebook atau Google yang punya kewajiban untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Kamu adalah manusia bebas merdeka yang memiliki perasaan, dan kamu berhak atas kebebasan berperasaanmu sendiri. Jangan sampai hanya karena kamu menyukai seseorang, kamu tiba-tiba berkewajiban menjadi pengingat dan pengucap ulang tahun yang baik.

Kalau perlu, buatlah tausiyah atau siraman rohani yang mengajak pembacanya untuk mengingat dan merenungkan kematian. Di tengah-tengah euforia ulang tahun yang dia rasakan lewat berbagai kiriman pesan ucapan selamat di media sosialnya, kamu akan menjadi outlier yang tampil beda dari yang lain karena menyebarkan pesan pengingat kematian yang memutus semua kesenangan. Dia akan berpikir kalau kamu tidak ingat ulang tahunnya. Mungkin dia akan penasaran dan bertanya begini kepadamu,

“Kamu ga inget hari ini hari apa?”

Awas, ini pertanyaan jebakan. Tetaplah pada pendirianmu sebagai pengingat kematian.

“Ini hanyalah satu hari dari hari-hari yang terus mendekatkan kita kepada ajal. Bertaubatlah. Bertaubatlah.”

Hindari segala bentuk pertemuan

Pertemuan-pertemuan antara kamu dan dia adalah racun yang berbahaya bagi perasaanmu. Ingat, mungkin dia tidak memegang paham Witing Tresno Jalaran Soko Kulino yang kamu anut. Malah bisa jadi, semakin dia bertemu denganmu, semakin dia muak melihat tingkah lakumu. Kalau kamu masih belum yakin probabilitas keberhasilan hubunganmu dengan dia, maka hindari pertemuan. Begitu juga kalau kamu sudah yakin dia menyimpan perasaannya kepadamu, tetap saja, hindari pertemuan. Kenapa harus selalu menghindar? Untuk membuat dia haus akan kehadiranmu.

Tentu saja dalam menghindari pertemuan ini ada caranya, tidak asal menghindar begitu saja. Buatlah alasan untuk menghindari pertemuan dengan alasan yang keren, yang heroik, atau yang akhi-akhi banget. Terserah kamu, mau dengan citra apa kamu ingin dilihat olehnya.

Misalnya kamu di-chat begini oleh dia, “Kak, aku lagi main di Jakarta loh. Kakak kan masih punya janji nraktir aku, lunasin dong janjinya. Ketemuan yuk Sabtu ini.

Pancingan paling berbahaya adalah ajakan ketemuan di sela-sela waktu luang semacam ini. Ingat prinsip tadi, hindari pertemuan dengan menggunakan alasan yang menunjukkan bagaimana kamu ingin dipandang.

Maaf, Dek. Aku ada lembur sebulan ini. Proyek besar” jika kamu ingin dilihat sebagai pekerja keras profesional.

Duh, gua ada agenda 7 summits nih. Mau naik ke Elbrus” jika kamu ingin dilihat sebagai lelaki adventurous.

Aku mau ke Afrika, Dek. Jutaan orang terancam kelaparan di sana” jika kamu ingin dilihat sebagai pekerja sosial berkomitmen tinggi.

Afwan, ukhti, ana mau ke India gabung sama Zakir Naik” jika kamu ingin dilihat sebagai akhi-akhi aktivis tingkat internasional.

Jangan salting

Ada kalanya semesta dikondisikan untuk mempertemukan kamu dan dia meski pertemuan itu sudah dihindari sebisa mungkin. Kalau sudah begitu, usahakan untuk jangan salting alias salah tingkah. Bersikaplah sewajarnya, sewajar sikap kamu ke teman-teman yang lainnya.

Salting itu banyak bentuknya. Dan percaya atau tidak, dia bisa mengenali kalau kamu sedang salting lewat gerakan-gerakan kecil yang kamu lakukan tanpa sadar. Maka dari itu, gerakannya jangan nanggung-nanggung. Buat gerakan besar sekalian. Gerakan kaum buruh misalnya.

Dia tidak akan melihatmu sama seperti sebelumnya. Selain dipandang sebagai seorang yang progresif, kamu juga akan dilihat sebagai seseorang yang peduli nasib kaum proletar. Duhai, kurang seksi apa lagi coba. Hanya wanita yang matanya telah dibutakan kapitalisme saja yang rela menolakmu.

Hasil akhir

Saya pernah mempraktekkan seluruh tips di atas, dan hasilnya?

Dia menikah dengan orang lain. Ya, secara de facto saya gagal memilikinya, meski saya tidak tahu persis apakah nama saya pernah terpatri di hatinya atau tidak. Apakah itu berarti tips-tips di atas salah? Tentu tidak. Tidak ada yang salah dari semua tulisan di atas. Tidak ada.

Hanya saya yang salah memilih.

.

…..

Ternyata dia budak korporat penghamba kapitalisme.

BSD, sebelum ashar
29/12/2017