Tokoh Antagonis

Kalau kita membayangkan hidup ini adalah drama, pernahkah kita menunjuk diri sendiri sebagai tokoh antagonisnya? Atau jangan-jangan, kita selalu memposisikan diri sebagai tokoh protagonis dalam seluruh skenario hidup yang kita jalani?

Jika kita menjalani peran sebagai murid, mungkin kita akan memposisikan guru galak sebagai antagonisnya. Jika kita menjalani peran sebagai karyawan, kita memposisikan bos bawel sebagai antagonisnya. Jika kita menjalani peran sebagai orang yang sedang jatuh cinta, maka orang lain yang bersama dengan seseorang yang kita cintai otomatis akan jadi tokoh antagonisnya.

Kenapa kita selalu membutuhkan tokoh antagonis dalam setiap episode hidup kita? Apa karena kita merasa bahwa hidup ini adalah pementasan drama kita sendiri yang jadi tokoh utamanya, sehingga siapa-siapa yang menghalangi kebahagiaan kita, langsung bisa disebut sebagai tokoh antagonis?

Pernahkah berpikir, jangan-jangan selama ini kitalah yang menjadi tokoh antagonisnya? Hanya karena merasa bahwa kitalah tokoh utama, lantas kita lupa bahwa kita pun hadir dalam episode hidup orang lain.

Di dunia ini kita tidak pernah hidup sendiri. Jika populasi manusia saat ini ada enam milyar, artinya ada enam milyar drama, ada enam milyar narasi, ada enam milyar tokoh utama yang berjalan beriringan sekaligus dalam satu waktu. Kita boleh jadi tokoh utama dalam narasi kita sendiri, tapi dalam narasi orang lain? Mungkin kita adalah pemeran pembantu, mungkin juga kita jadi tokoh figuran, dan seringkali, kita memang tidak pernah mendapat peran dari awalnya.

Lantas apa kita berhak memvonis orang lain sebagai tokoh antagonis hanya karena ia menghalangi kebahagiaan kita (yang merasa menjadi) sang tokoh utama? Jangan geer dulu. Bisa jadi sebenarnya kita hanya pemeran pembantu, atau mungkin malah kita yang jadi tokoh antagonisnya. Kita belum tentu tahu definisi bahagia dalam narasi orang lain, kan?

Atau jangan-jangan, kita memang tidak pernah mendapat peran dalam narasi orang lain, yang ironisnya, sudah kita jadikan tokoh utama dalam hidup kita?

Makanya, jangan geer.

Stasiun Manggarai, sambil menunggu KRL terakhir menuju Tanah Abang
13/11/2017

Advertisements

Pertanyaan Terburuk

Dalam suatu sesi di kelas ketika kuliah dulu, dosen saya bertanya kepada seluruh mahasiswa yang ada di ruangan itu,

Pertanyaan terburuk apa yang pernah terlintas di kepala seseorang?

Kelas hening. Jika biasanya pertanyaan dosen kami adalah seputar algoritma pemrograman, atau seputar bagaimana merancang sebuah perangkat lunak dengan baik dan benar, kali ini dosen kami menanyakan tentang pertanyaan terburuk yang ada di kepala seseorang. Kulihat sekeliling, berharap ada satu dua jenius kelas kami yang berani menjawabnya.

Pertanyaan yang nggak logis, Bu,” jawab Si Jenius 1.

Pertanyaan yang nggak logis justru menantang logika kita sendiri,” ujar dosen kami.

Pertanyaan retoris,” kata Si Jenius 2 sambil malu-malu mengacungkan tangannya.

Pertanyaan retoris malah pertanyaan yang bagus, karena adakalanya pertanyaan retoris menyadarkan kita akan banyak hal,” ucap dosen kami sambil melihat belakang kelas, berharap ada jawaban lain muncul dari deretan bangku belakang. Maklum, Si Jenius 1 dan Si Jenius 2 selalu duduk di bangku depan dan bangku tengah. Membosankan sekali kalau hanya deretan depan dan deretan tengah saja yang aktif.

Nanya kunci jawaban, Bu!

Saya tahu, kali ini bukan Si Jenius 3 yang duduk di samping Si Jenius 1 yang menjawab pertanyaan itu, melainkan si Malas no. 34 yang ada di pojok belakang kelas kami. Gelak tawa seketika menyambut jawaban asal Si Malas no. 34.

Loh, nanya kunci jawaban itu justru adalah usaha terbaik seorang murid!” ujar dosen kami yang disambung gelak tawa lebih keras dari sebelumnya.

Setelah tawa seisi kelas mereda, dosen kami akhirnya melanjutkan kata-katanya.

Pertanyaan terburuk itu adalah, pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan. Pertanyaan yang tidak akan pernah mendapatkan jawaban.

Kelas hening, hanya desisan mulut mahasiswa yang berani mengusik.

*****

Keingintahuan adalah fitrah yang tertanam di setiap jiwa seseorang, karena jika tidak ada keingintahuan maka kita tidak memiliki keinginan belajar. Betapa banyak penemuan besar muncul dari rasa keingintahuan seseorang. Isaac Newton yang kejatuhan apel saja bisa menemukan teori gravitasi bumi, itu pasti karena keingintahuannya yang tidak berfaidah besar.

Keingintahuan memicu pertanyaan-pertanyaan, dan pertanyaan-pertanyaan itu menuntut jawaban, dan karena tuntutan akan pencarian jawaban itulah kita menjadi belajar. Kita jadi mencari tahu. Kita jadi bertindak dan bergerak. Dengan begitu, kita berhak mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita.

Lalu bagaimana dengan pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan? Adakah pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan memiliki hak untuk mendapatkan jawaban?

Kadang jawaban itu memang tidak pernah datang. Pertanyaan-pertanyaan yang terpendam itu hanya jadi semacam penyemangat dan pemacu kita dalam mencari jawaban yang kita harapkan, yang sayangnya, tidak pernah kita dapatkan. Kita terus bergerak, kita terus bertindak, tapi kita tidak pernah bertanya. Maka bagaimana bisa jawaban itu datang kalau kita tidak pernah bertanya? Kita hanya bisa menerka, menebak, dan merangkai peristiwa-peristiwa sebagai makna, berharap itu menjadi jawaban atas segala pertanyaan kita. Padahal, kita tidak pernah tahu persis akan jawaban yang sebenarnya.

Dan kadang, sebenarnya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu sudah terpampang jelas di depan mata kita. Sayangnya, seringkali kita sudah terlanjur dibutakan perasaan. Kita lalai mendapatkan jawaban yang sedianya sudah ada, hanya karena kita berharap mendapatkan jawaban lain yang kita inginkan.

Bertanyalah, sebelum tidak pernah mendapatkan jawaban. Bertanyalah, sebelum jawaban itu datang dengan cara yang menyakitkan.

BSD, di bawah naungan Super Blue Blood Moon
yang menjadi penutup Januari 2018

Kematian Jonghyun Adalah Tragedi, Kematian Warga Palestina Adalah Statistik

Maaf, saya tidak mengetahui apa-apa tentang Jonghyun. Jujur saya tidak pernah dengar nama itu sampai akhirnya ia meninggal dan berita tentang kematiannya menghiasi linimasa media sosial. Saya tahu kalau ada boyband Korea namanya Shinee, tapi tidak pernah tahu kalau ada member yang namanya Jonghyun.

Saya juga tidak mengenal Ibrahim Abu Tsurayya hingga berita tentang kematiannya muncul di media. Ketidaktahuan saya tentang Ibrahim persis seperti ketidaktahuan saya tentang Jonghyun. Saya hanya tahu kalau di Palestina sana ada banyak pejuang-pejuang tangguh, tapi saya tidak tahu ada salah satu di antaranya bernama Ibrahim Abu Tsurayya.

Saya sama-sama mengenal Jonghyun dan Ibrahim Abu Tsurayya dari berita di media. Bedanya, nama Jonghyun kerapkali tertera di judul berita (bahkan beberapa media sempat menjadikannya Breaking News), sedangkan nama Ibrahim Abu Tsurayya hanya tertera di tengah-tengah paragraf berita sebagai satu nama dari nama-nama korban tentara Zionis Israel.

Dengan mudah saya bisa menemukan berita mengenai kondisi jasad Jonghyun saat pertama kali ditemukan, kronologi meninggalnya Jonghyun, prosesi pemakaman Jonghyun, sampai berita yang tidak relevan seperti TVXQ yang meneriakkan nama Jonghyun ketika konser, atau Ima yang tidak percaya kalau Jonghyun bunuh diri.

Sedangkan untuk Ibrahim, maaf, hanya ada berita tentang kegigihannya memperjuangkan Palestina dari atas kursi rodanya. Saya tidak menemukan berita tentang unggahan foto menjelang kematiannya, pun tidak tahu bagaimana eksentrik gaya busananya ketika masih hidup. Jika tidak tentang perjuangan dari kursi rodanya, nama Ibrahim hanya muncul di tengah paragraf, tidak menjadi judul apalagi headline berita. Tidak ada artis yang meneriakkan namanya, tidak ada media yang meliput pemakamannya, dan tidak ada Ima yang mengomentari kematiannya.

The death of one man is a tragedy, the death of millions is a statistic” begitu yang konon Joseph Stalin katakan. Melihat pemberitaan tentang kematian Jonghyun dan gugurnya Abu Tsurayya, saya langsung teringat quotes dari mantan diktator Uni Soviet yang kesohor itu. Betapa melimpahnya pemberitaan tentang Jonghyun, dan betapa sedikitnya berita mengenai profil Ibrahim Abu Tsurayya. Karena mungkin dalam kacamata media (dan kita), kematian Ibrahim hanyalah satu statistik penambah angka-angka, sedangkan kematian Jonghyun adalah tragedi untuk umat manusia.

Statistik korban Operation Protective Edge sepanjang Juli-Agustus 2014. Sumber: BBC

Ada anak kehilangan orang tuanya, ada orang tua kehilangan anaknya, ada istri kehilangan suaminya, dan semua tragedi itu ditampilkan di media hanya menjadi digit-digit angka. Ada ribuan hikayat yang siap ditulis, ada ribuan kisah yang bisa diceritakan, ada ribuan pelajaran hidup yang bisa diambil, namun media lebih memilih untuk melipat itu semua dalam bentuk satu tabel statistik.

Saya mengerti, media juga cari duit di sini. Kematian sudah jadi barang murah di tanah perang. Orang sudah jemu melihat puluhan nyawa meregang sekaligus dalam satu kali konflik. Manusia sudah terlalu sibuk untuk mengetahui kisah-kisah para korban yang bergelimpangan. Peduli amat dia siapa, toh kalau sudah berkalang tanah sudah tidak penting lagi untuk dibahas. Puluhan nyawa melayang akhirnya hanya menjadi satu berita yang tampil dalam sekali tayang.

Di sisi lain, media yang cari keuntungan pasti lebih memilih berita yang punya nilai jual tinggi. Berita entertainment yang banyak orang gandrungi menjadi satu topik berita yang tidak pernah sepi pembicaraan. Tengok saja, betapa hidup matinya seorang artis begitu dieksploitasi ke publik, sampai-sampai media lupa untuk memilih mana yang kiranya relevan untuk hidup kita. Contohnya komentar Ima yang entah dia siapa.

Apa itu berarti kita perlu mengutuk-ngutuk media? Saya rasa tidak. Media berjalan dengan logikanya sendiri. Jika media memilih bungkam atas apa yang terjadi di Palestina, apakah itu bisa menjadi legitimasi bagi kita untuk memilih diam? Kamu punya logika dan rasa kemanusiaan sendiri yang tidak bisa disetir media. Orang tuamu tidak perlu masuk TV dulu untuk kamu cintai, kan? Begitu juga dengan saudara-saudaramu di Palestina, di Suriah, di Myanmar, dan di seluruh pelosok dunia.

Ini bukan masalah keberpihakan media, ini murni soal kepedulianmu yang mau kamu bawa ke mana. Apakah kematian ribuan warga Palestina kamu anggap tragedi, atau hanya bilangan statistik belaka?

Bogor, waktu dhuha
25/12/2017

Jhoni Boetja, Pahlawan Baru Kita

Dalam hidup, ada banyak pahlawan yang tidak pernah kita kenal. Betapa kita tidak mengenal semua pejuang di pasukan Diponegoro, pun kita tidak mengenal seluruh mujahidin di Perang Paderi. Mereka menjadi pahlawan tanpa ada satu pun yang mengingat nama mereka, padahal dengan harta, keringat, dan darah merekalah kita merdeka. Betapa kita tidak menghargai perjuangan mereka, bahkan untuk mengingat nama pun kita lupa.

Jangan ulangi kesalahan itu lagi. Hari ini, mari kita ingat satu nama yang kelak akan kita ceritakan kepada anak cucu kita, bahwa dialah yang memerdekakan kita dari belenggu tirani korporasi. Dialah yang membebaskan para kekasih dari keraguan menikah karena takut terbentur peraturan perusahaan tempat mereka bekerja.

Sambutlah Jhoni Boetja, pahlawan baru kita.

Kalau nanti 10 hingga 20 tahun lagi hadir anak-anak muda yang ayah ibunya adalah rekan sekantor, maka mereka harus berterima kasih kepada Jhoni Boetja. Ya, dengan perantara perjuangan Jhoni Boetja-lah anak-anak muda itu ada. Jhoni Boetja berjasa membuat ayah ibu mereka yang sekantor bebas merdeka merayakan cinta.

Berawal dari salah satu rekannya yang di-PHK karena menikah dengan sesama karyawan PLN, Jhoni angkat suara melawan kezaliman korporat. Bermodalkan uang sendiri, ia rela bolak-balik Jakarta-Palembang demi memperjuangkan penghapusan satu frasa dari Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, tepatnya ada di pasal 153 ayat 1 huruf f.

Pekerja/buruh mempunyai pertalian darah dan/atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lainnya di dalam satu perusahaan, kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahan, atau perjanjian kerja bersama

Frase “kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja…” itulah yang seringkali dimanfaatkan oleh korporat-korporat produk kapitalis jahat untuk melarang karyawannya menikah dengan teman satu perusahaannya. Bayangkan, berapa banyak pasangan yang harus bimbang memilih antara menghalalkan kekasih atau mempertahankan karir karena peraturan zhalim ini. Berapa banyak kisah cinta yang kandas selain karena terhalang restu orang tua, juga kandas karena terancam PHK. *Backsound: Padi – Kasih Tak Sampai*

Tapi semua kisah pilu itu berakhir hari ini, 14 Desember 2017. Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan uji materi pasal bermasalah tersebut. Artinya, sebuah perusahaan tidak bisa menetapkan aturan yang melarang karyawannya menikah dengan rekan kerja satu kantor. MK dalam pertimbangannya menyatakan bahwa pertalian darah atau perkawinan adalah takdir, hal yang tak dapat dielakkan. Betapa kita tidak bisa memilih dengan siapa kita bersaudara, betapa kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta.

Saya kira hari kasih sayang jatuh pada 14 Februari, tapi ternyata sejak tahun 2017, sudah pindah ke 14 Desember. Terima kasih Jhoni Boetja.

BSD, waktu isya
14/12/2017

You Are the Proposal of My Daisakusen

“I realized that the regret from not doing something at all is more painful than failure.”
-Proposal Daisakusen-

Kalau saya disuruh memilih all-time favourite movies dan all-time favourite TV series dari seluruh film dan serial drama yang pernah saya tonton, saya sudah menetapkan satu judul yang menjadi pemuncak klasemen untuk masing-masingnya. Kalau film, saya memilih You Are the Apple of My Eye (2011) yang berasal dari Taiwan. Sedangkan untuk serial drama saya memilih Proposal Daisakusen (2007), sebuah serial drama asal Jepang.

Alasannya sederhana, saya tidak pernah bosan menonton keduanya. Meski sudah saya tonton ulang keduanya masing-masing hingga tiga kali (bused nganggur parah lu Gin), saya tidak pernah bosan dengan jalan ceritanya, saya masih tertawa dengan humor-humornya, dan yang paling penting, perasaan yang terlarut dalam emosi pun masih sama. Tiga kali saya nonton keduanya, tiga kali saya baper. Artinya kalau ditotal jadi enam kali saya baper karena dua tontonan bedebah ini (curhat, Gin?).

Kedua tontonan ini mengambil tema yang sama: dua orang yang saling jatuh cinta di masa SMA tapi masing-masing tidak mampu untuk mengungkapkannya. Cerita klasik akibat laki-lakinya yang tidak peka dan perempuannya yang lebih memilih diam memendam rasa, atau sebaliknya.

Kedua tontonan ini dengan baik membawa penonton mengikuti alur kisah cinta para pemeran utama di masa SMA mereka. Dan keuntungan kedua tontonan ini adalah mereka tidak perlu ribet menjelaskan kepada penonton bagaimana sih hidup di masa SMA itu, karena masing-masing dari kita pernah merasakannya bukan? Masa-masa saat mungkin kita pernah belajar dengan giat, atau sibuk dengan kegiatan ekstrakulikuler, atau sekadar bersenda gurau dengan teman dengan lawakan-lawakan yang kocak dan sedikit nakal. Baik Proposal Daisakusen maupun You Are the Apple of My Eye berhasil men-capture momen-momen SMA tersebut dan menyajikannya kepada penonton dengan apik. Sehingga jangan heran ketika kita menonton kedua tontonan ini, kita mampu merefleksikan adegan-adegan yang muncul ke dalam momen-momen SMA kita sendiri.

Setelah SMA, terbitlah kuliah. Baik You Are the Apple of My Eye dan Proposal Daisakusen tidak menceritakan romansa yang terjadi di masa kuliah sedetil di masa SMA. Dalam kedua tontonan ini, baik tokoh utama laki-laki maupun tokoh utama perempuan tidak lagi berada di lingkungan yang sama. Dalam Proposal Daisakusen mereka berdua kuliah beda jurusan, sedangkan di You Are the Apple of My Eye kedua pemeran utama terpisah jauh antar kota (antar provinsi juga kali ya, biar AKAP). Namun demikian, cerita masih dibawakan dengan menarik karena ada beberapa momen penting yang terjadi saat kuliah tapi tidak terjadi di masa SMA.

Salah satunya momen ketika hubungan kedua pemeran utama memburuk. Ya, karena di masa kuliah inilah hubungan kedua orang yang saling jatuh cinta di masa SMA itu berantakan. Dan ujung-ujungnya sama: si perempuan menikah dengan laki-laki lain. Entah kenapa kedua tontonan ini sama-sama menjadikan tokoh perempuan yang nikah duluan.

Meski kalau dilihat dari latar, alur, dan penokohan yang dibangun di kedua tontonan ini sama, tapi perbedaan mencolok antara keduanya ada pada endingnya. Silakan kalian nonton sendirilah  biar lebih jelas sensasi dan feel-nya. Udah banyak kok bajakannya di internet.

SMA Oh SMA

Saya menulis ini sebenarnya bukan untuk me-review sebuah film atau drama. Ngapain? Wong yang lain dah banyak yang nge-review kok, dua tontonan ini kan udah jadul. Saya menulis tulisan ini lebih karena perasaan sentimentil yang muncul ketika semalam saya reuni dengan teman-teman SMA, dan pagi ini saya menonton kembali potongan-potongan adegan dari dua tontonan terfavorit saya tersebut. Terkutuklah suggested video dari Youtube.

Usia saya saat ini (masih) 22 tahun, yang sebenarnya kalau dihitung-hitung, saya baru melewati 5 tahun selepas lulus SMA. Tapi berkumpul lagi dengan teman-teman lama, dan menonton potongan-potongan kisah mengenai SMA, membuat saya entah kenapa jadi ingin kembali ke masa putih abu tersebut.

Masa-masa SMA adalah masa-masa terbaik untuk jatuh cinta. Kita bebas jatuh cinta kepada siapa saja, tanpa ada penghalang, tanpa ada beban tanggung jawab, dan kita bebas jatuh cinta hanya karena rasa suka. Tidak perlu alasan yang jelas kalau kamu jatuh cinta di masa SMA. Tidak perlu penjabaran apakah kamu jatuh cinta karena fisik, karena duit, atau karena perintah orang tua yang kebelet punya cucu. Kalau kamu mau jatuh cinta, ya jatuh cinta saja.

Kamu bisa mengekspresikan cintamu dengan bebas di kala SMA. Entah dengan cara kalem seperti kedip mata malu-malu, anggukan-anggukan canggung ketika bertemu, hingga dengan cara bodoh (atau romantis?) yang ekstrem seperti misal nembak dengan membariskan sepeda motor membentuk namanya. Meski saya tidak pernah pacaran, tapi pengekspresian-pengekspresian cinta yang bebas, yang malu-malu, hingga yang bergelora menyala-nyala, pasti terasa saja di lingkaran pertemanan saya, dan mungkin saya juga melakukannya tanpa sadar.

Berbeda ketika kamu jatuh cinta di usia 20-an. Soal perasaan tidak bisa lagi dipikirkan setengah matang. Harus dipikir betul kepada siapa kita jatuh cinta. Sebab, jatuh cinta tidak lagi hanya soal perasaan dua insan. Ego sudah harus mulai ditekan, dan komitmen sudah harus mulai ditanamkan.

Komitmen yang saya maksud di sini adalah yang dibangun di atas rasionalitas. Pada usia ini kamu bukan lagi orang yang tetap bertahan pada pilihanmu hanya karena terlalu cinta atau terlanjur sayang. Mulai ada variabel-variabel lain yang harus kamu perhitungkan: pekerjaan, pola pikir, hingga restu keluarga.

Lagipula jika menjalin hubungan di usia 20-an, menurut saya, sudah bukan lagi sekadar dua orang yang saling suka, tapi dua orang yang memproyeksikan diri masing-masing untuk saling memberi ruang dan saling menerima, yang tentu tujuannya untuk dapat hidup bersama.

Aneh kalau kamu jatuh cinta di usia 20-an, tapi tidak ada pikiran sampai ke sana. Berarti kualitas diri kamu masih sama saja seperti anak SMA. Kamu melihat hubungan yang kamu jalani hanya akan berujung pada perpisahan. Kamu hanya akan berpindah dari satu mantan ke mantan yang lain. Di mana kematangan cara berpikirmu kalau begitu?

Dalam kedua tontonan yang saya ulas di atas, baik You Are the Apple of My Eye dan Proposal Daisakusen, tokoh utama perempuan sudah berpikir cukup matang untuk menikah dengan laki-laki lain selain tokoh utama laki-laki (meskipun di You Are the Apple of My Eye tidak dijelaskan siapa si pengantin prianya. Kalau dilihat dari perawakannya, mungkin bisa disebut sebagai om-om kaya). Sedangkan tokoh utama laki-lakinya? Masih saja nggak bisa move on. Tapi tenang, salah satu dari dua tontonan ini memiliki happy ending dengan bersatunya tokoh utama laki-laki dan perempuan kok. Meski yah….dengan cara yang tidak masuk di akal tentunya.

Makanya, jatuh cintalah dengan cara yang masuk akal.

Tengah malam, kala BSD bermandikan
cahaya purnama 14 Rabi’ul Awwal

2/12/2017

Welcoming Indantia.id

Memiliki media sendiri sudah menjadi impian saya sejak dulu. Impian saya ini berawal dari kegemaran saya, yakni membaca, yang membuat saya berpikir suatu saat kelak saya akan membuat sesuatu yang akan dibaca semua orang. Tentu tidak ada (atau mungkin belum ada?) motif politis atau mencari keuntungan ekonomi dari keinginan saya tersebut.

Saya memulai mendirikan media sendiri sejak kelas 8. Wih, muda amat? Iya, karena tugas sekolah. Jadi ceritanya dulu kami sekelas ditugaskan untuk berjualan sendiri-sendiri. Ketika teman-teman saya menjual makanan, pernak-pernik, atau sekadar kertas binder, saya mencoba peruntungan dengan cara saya sendiri: jualan majalah.

Majalahnya sederhana (kalau tidak mau dibilang jelek), hanya beberapa lembar kertas HVS yang dilipat dan kemudian disteples. Layout-nya saya buat dengan menggunakan penggaris seadanya, dan beritanya saya tulis tangan. Akses saya untuk mendapat berita masih terbatas saat itu. Keluarga saya tidak berlangganan koran, dan di rumah kami saat itu belum ada instalasi internet. Akhirnya saya membeli sebuah majalah yang terbit sebulan sekali. Beritanya mungkin tidak terlalu aktual, tapi cukup layak untuk dimasukkan lagi di dalam majalah saya.

Layout sederhana, dilengkapi berita yang ditulis tangan apa adanya, akhirnya membuat saya memutuskan satu nama untuk dijadikan nama majalah saya, yang nama itu masih saya ingat sampai sekarang: AcakAdutz Media.

Yang saya ingat, saya membuat enam eksemplar majalah dan terjual lima. Satu dibeli oleh guru (yang mungkin kasihan dengan saya), dan sisanya dibeli oleh teman-teman saya (setelah saya paksa). Senang? Jelas senang.

Menginjak bangku SMA, saya mengenal yang namanya blog. Saat itu platform blog yang saya gunakan adalah blogspot. Platform inilah yang saya gunakan sebagai media menulis hingga kuliah. Tercatat saya menelurkan beberapa blog yang hingga kini masih eksis dengan ribuan visitor setiap harinya meski sudah tidak di-update hampir lima tahun.

Ketika kuliah saya memutuskan menggunakan wordpress yang sekarang sedang kamu baca. Alasannya? Karena bosan dengan blogspot. Udah.

Dan setelah sekitar tiga tahun menggunakan platform blog dengan embel-embel .wordpress.com di domainnya, akhirnya saya memutuskan hijrah. Saya hijrah dari media wordpress menuju media milik saya sendiri.

Indantia.id

Saya harap, dengan kepindahan ke media tersebut, saya bisa lebih bebas dalam menulis dan berekspresi. Mengingat, domainnya tidak gratis, sayang kalau disia-siakan. Haha.

Semoga bermanfaat. Sampai berjumpa lagi di Indantia.id

Ditulis dengan tidak niat karena lapar menjelang makan siang
22/11/2017