Short Getaway: Gunung Batu

Mari saya kenalkan kalian kepada seorang sohib saya sejak SMP kelas 7. Nama lengkapnya Ahmad Adam Zari Ardi Ramadhan, tapi entah kenapa di media sosial atau di tempat lainnya ia hanya menggunakan nama Ahmad Adam Ramadhan atau Adam Zary. Dia biasa saya panggil dengan nama Adam, atau Ahmed, dan sering juga saya panggil Syaikh.

Sesuai dengan nama panggilannya yaitu Syaikh, yang secara harfiah artinya bapak tua, Adam adalah orang yang saya tuakan. Selain karena memang umurnya yang lebih tua daripada saya, kedalaman ilmunya juga jauh di atas saya. Jangan remehkan dia meski tidak pernah lulus dari sekolah agama, karena kemampuannya membaca kitab berbahasa Arab sudah di atas rata-rata. Itu kualitas dari sisi agama. Dunia? Jangan tanya. Lulusan S1 Teknik Mesin dari institut teknik yang digadang-gadang terbaik di negeri ini, dengan IP nyaris menyentuh angka cum laude, dan saat ini sedang bekerja di salah satu perusahaan Jepang di kawasan industri di Bekasi. Sosoknya adalah perwujudan mantu idaman versi mertua sepanjang zaman: alim, pintar, dan sudah mapan berpenghasilan.

Apa yang kalian bayangkan jika punya teman seperti ini? Banyak obrolan berfaidah, minim perkataan nirmanfaat. Penuh petuah kaya nasihat, sedikit kata yang tersia-sia. Iya, itu idealnya. Nyatanya, dia tidak sesuci itu kok. Mungkin karena bergaul dengan saya akhirnya dia jadi “rusak” sedikit.

Continue reading Short Getaway: Gunung Batu

Ironi KRL

Kereta lengang. Gak penuh, ga kosong. Semua kursi udah keisi, dan yang berdiri juga cuma beberapa. Tapi dari beberapa yang berdiri itu, muncul sebuah ironi.

Ada seorang wanita, diliat dari muka sama perawakannya kira-kira usia 20-an lah ya, berdiri persis di depan gua. Kegiatan seharian ini memaksa gua untuk tega tak memberikan kursi. Kaki gempor, tapi Bogor masih jauh. Ingin rasanya pura-pura tidur tak perhatikan sekitar. Sayangnya, wanita itu berhasil mencuri perhatian gua.

Gede banget bos…perutnya. Tapi dari segi muka dan proporsional badan, rasanya belum layak dikatakan berbadan dua. Jadilah ironi di sini. Kalau memang si wanita itu sedang mengandung, kenapa dia tidak ke bangku prioritas, tapi malah berdiri di depan gua yang ada di samping bangku prioritas? Padahal kalau mau ke bangku prioritas, tinggal geser. Tapi kalau nggak lagi mengandung, kenapa perutnya aduhai besarnya?

Gua jadi penasaran, apakah yang ada di perut itu bayi empat bulan, atau bakso empat mangkok?

Duh ironis sekali. Persilakan duduk, nanti dia geer dikira gua modus. Kalau enggak dikasih, gua bisa dicap amoral. Apa perlu gua kasih duduk sambil basa-basi, “Silakan bu, pasti capek ya bawa dedek bayi.”

Iya kalau bener, kalau salah kan gua yang digaplok.

Akhirnya setelah perenungan sepersekian menit, gua putuskan untuk banyak istighfar. Gua lupa prinsip ghadul bashar yang harusnya gua terapkan. Istighfar itu kemudian dilanjutkan dengan doa yang dahsyat, doa yang mengingatkan kita pada hakikat hidup dan mati.

“Bismika Allahumma amuutu wa ahya.”

Manggarai-Bogor, November 2016

Menunggu Wisuda: Ranu Kumbolo

img_20160821_061843_burst1

Bisa dibilang, ini adalah jalan-jalan terakhir gua sebagai mahasiswa sebelum akhirnya resmi mendapatkan gelar sarjana. Sedikit menyimpang memang, ketika harusnya waktu antara lulus sidang hingga wisuda digunakan untuk mencari kerja, waktu itu malah gua pakai untuk mencari hiburan atau jalan-jalan dengan alasan klasik: Kapan lagi bisa kayak gini. Maksud gua, menunggu wisuda adalah momen ketika lu masih berstatus mahasiswa, tapi udah nggak ada kuliah atau kesibukan lain, cuma tinggal nunggu waktu untuk lulus. Nah, momen-momen itulah yang menurut gua patut untuk dimanfaatkan, karena mungkin nggak bakal ada lagi kesempatan lu bisa main atau kumpul-kumpul sama temen-temen kuliah lu. Ke depannya, lu dan teman-teman lu akan menjemput nasibnya masing-masing, bertebaran di bumi ini dengan takdirnya sendiri-sendiri. Jadi ya, kapan lagi?

Sejujurnya, sebelum diajak berangkat ke Ranu Kumbolo ini gua sempat galau. Inginnya ada yang ngajak jalan, tapi ditunggu berhari-hari tak kunjung ada yang mengajak. Sementara timeline media sosial gua udah bertebaran foto-foto teman-teman gua yang udah jalan-jalan duluan, gua masih aja berkeliaran di kampus numpang internetan atau mendekam di kosan menghabiskan stok tontonan. Sedih memang.

Kalau kalian ingin tau seberapa sedih gua waktu itu, mungkin bisa terwakili oleh gambar ini.

Continue reading Menunggu Wisuda: Ranu Kumbolo

Tekad 2868mdpl

“Naik gunung itu bukan cuma fisik lo aja yang dibutuhin. Lebih ke tekad, lebih ke mental.”

Begitu yang disampaikan temanku, Mochammad Satrio Ramadhana Yudhono aka Satrio aka Pahlawanq, di suatu ketika saat kami sedang beristirahat di sebuah masjid di Yogyakarta November 2015 silam. Pada saat itu aku sempat tidak percaya. Aku, yang sangat minim pengalamannya dalam urusan pendakian, masih berpikir bahwa fisik adalah segalanya ketika berkaitan dengan naik gunung. Hingga beberapa bulan kemudian, aku terpaksa memercayai apa yang dikatakannya itu. Karena mau tidak mau, aku harus memercayai pengalamanku sendiri, kan?

Surabaya, dini hari

Jarum jam malu-malu melewati angka 12, dan hari pun genap berganti 25 Maret 2016. 15 orang mahasiswa sudah berkumpul di kampus tercinta lengkap dengan segunung bawaannya. Di saat orang lain sudah lelap beristirahat, kami justru sedang sibuk bersiap-siap. Padahal di antara kami ada yang sudah terkuras tenaganya seharian. Ada yang sibuk dengan kuliahnya, ada yang sibuk dengan tugas-tugasnya, ada yang sibuk dengan demo praktikumnya, dan ada yang sibuk mengurus event angkatannya. Mata-mata lelah dan tubuh-tubuh letih itu berkumpul dengan membawa satu tekad bersama: menaklukkan puncak Gunung Butak.

Continue reading Tekad 2868mdpl

Fun Bike!

Fun Bike

Kegiatannya PAMOR (Pecinta Alam Informatika) ITS, sebuah perkumpulan orang-orang hebat, kuat, dan perkasa. Berapa kilo pun jauhnya, seberat apapun medannya, seterjal apapun rintangannya, atas dasar cinta kepada alam, akan mereka lalui semuanya dengan tekad membaja. Itu cinta kepada alam, apalagi cinta kepada kamu?

Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini.