#2019gantipresiden

Pemilihan presiden masih tahun depan, tapi hawa panasnya sudah menyeruak dari sekarang. Media sosial sudah mulai tidak menyenangkan, netizen sudah terpolarisasi ke dua kutub -hal yang tidak berubah sejak 2014 lalu. Yang satu mendukung Jokowi, dan yang satu lagi entah mendukung siapa (karena masih belum jelas arahnya). Tapi yang jelas, kubu yang disebut terakhir memiliki satu semangat yang sama: asal bukan Jokowi. Hashtag #2019gantipresiden menjadi buktinya.

Tanyakan kepada mereka yang semangat membuat #2019gantipresiden jadi viral, siapa yang seharusnya jadi presiden? Saya yakin belum ada jawaban seragam dari mereka. Karena memang intinya ya ganti Jokowi, ganti dengan siapanya masih urusan belakangan. Beberapa nama sudah santer terdengar. Prabowo, TGB, AHY, dan Gatot Nurmantyo adalah beberapa nama yang banyak muncul di polling bursa capres 2019. Namun belum ada yang tahu siapa pastinya yang akan menjadi rival Jokowi di pilpres mendatang.

Bukan Pendukung Bukan Hater

Hal yang pertama kali harus saya luruskan dalam tulisan ini adalah saya bukan pendukung Jokowi. Ada banyak hal yang membuat saya kecewa dengan pemerintahan Jokowi. Salah satunya e-Government yang dulu saat masa kampanye katanya 2 minggu selesai, namun hingga saat ini belum ada bentuk riilnya. Saya sebagai seorang programmer merasa terhina karena statement Jokowi tersebut turut menyeret pekerjaan saya dalam janji politik yang ternyata tidak ia tepati.

Apakah kekecewaan saya tersebut membuat saya menjadi hater-nya Jokowi? Tentu tidak. Seberat apapun kekecewaan saya kepada Jokowi, saya masih lebih kecewa dengan diri saya sendiri. Saya dulu pernah bertekad ingin terus shalat lima waktu berjama’ah di masjid, namun hingga kini tekad saya bagai pepesan kosong. Hanya tekad yang tidak disertai realisasi. Persis janji Jokowi. Saya juga sejak lulus kuliah bertekad untuk bisa hidup dengan biaya sendiri, tidak lagi disokong oleh orang tua. Tapi sayang pada kenyataannya, saya masih harus meminjam uang orang tua. Niatnya berdikari tapi rupanya tetap saja menambah hutang. Persis janji Jokowi.

Pemimpin Cerminan Rakyat

Ada pameo yang mengatakan bahwa pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Melihat diri saya sendiri yang masih saja demikian, maka tidak heran saya memiliki presiden seperti Jokowi.

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al An’aam: 129)

Jadi kalau mungkin anda menganggap Jokowi adalah pemimpin zhalim yang layak diganti, maka apa tidak sebaiknya anda berkata juga? Mungkin anda sendiri adalah orang yang banyak melakukan kezhaliman pada diri dan orang lain.

#2019gantipresiden Adalah Solusi?

Kenapa sebagian dari kita sedemikian bernafsu mengganti presiden daripada sibuk memperbaiki keadaan dirinya? Seolah yakin, bahwa dengan mengganti presiden yang saat ini berkuasa, kelak negeri ini akan menjadi lebih baik. Saya bukan sedang membela presiden saat ini, tapi memang ada yang tahu pasti?

Ngomong-ngomong, tulisan di bawah yang saya kutip dari status Facebook seseorang mungkin bisa dijadikan bahan renungan,

Ibnu Umar pernah mengatakan:

“Aku tidak ingin ini menjadi kebiasaan dalam Islam, setiap mereka tidak suka dengan penguasanya, mereka melengserkannya”

[Fadhailush Shahabah, 1/473, no 767, dengan sanad shahih]

Jika Anda berdoa kepada Allah, maka mintalah pemimpin terbaik. Jika memang pemimpin yang lama lebih baik, maka semoga ia tetap memimpin. Jika yang terbaik adalah yang baru, maka semoga Allah ganti pemimpinnya.

Karena tidak selalu pemimpin yang buruk, penggantinya pasti lebih baik. Bisa jadi lebih buruk, kita tidak tahu. Sedangkan Allah Maha Mengetahui yang terbaik.

Tapi kalau Anda yakin sekali tanpa ragu bahwa pasti pemimpin selanjutnya akan lebih baik, ya silakan saja.

Jangan sampai karena ketidaksukaan kita kepada seseorang membuat kita lupa satu hal: berdoa, meminta yang terbaik kepada Allah ‘azza wa jalla.

Semoga Allah memperbaiki keadaaan kita dan para pemimpin kita, dan semoga Dia memberikan pemimpin yang terbaik.

Bogor, di bawah hujan menjelang maghrib
15/4/2018

Advertisements

Membela Palestina Sejak Dalam Pikiran

“Kita digiring untuk mempermasalahkan ibu kota Israel di Al Quds (Yerusalem) padahal masalah sebenarnya bukan ibu kota Israel. Masalah sebenarnya adalah keberadaan Israel di tanah Palestina itu sendiri. Jangankan ibu kota Israel di Yerusalem, di Tel Aviv pun kita tidak mengakuinya karena itu tanah hak kaum muslimin. Tidak sejengkal tanah, bahkan tidak setitik tanah pun di Palestina yang halal bagi yahudi zionis.

Kita hendak diberi dua pilihan oleh mereka yang dua-duanya menyakitkan. Yang pertama, Ibu kota Israel di Yerusalem dan itu sungguh menyakitkan dan menghinakan. Yang kedua, kita berlaku keras agar ibu kota Israel tetap di Tel Aviv, dan itu seakan-akan kita melegitimasi eksitensi negara mereka.

Semoga Allah menghancurkan Yahudi saudara-saudara babi dan monyet ini.”

-Ust. Fadlan Fahamsyah hafizhahullah dalam sebuah status Facebook-nya, dengan sedikit pengubahan tata letak dan tanda baca-

Andai, andai kita benar-benar peduli dan ingin membela Palestina, kita tidak perlu menunggu Donald Trump jadi presiden Amerika. Klaim Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Trump hanyalah sebuah peristiwa dari rangkaian panjang peristiwa lainnya yang mungkin terjadi akibat ketidakpedulian kita. Bukankah Trump sudah menjanjikan hal tersebut di masa kampanyenya? Trump hanya menjalankan janji kampanyenya, satu hal yang mungkin kita rindukan dari para pemimpin kita.

Tidak usah menyalah-nyalahkan pemimpin.Kita terlalu sibuk menagih janji mereka, tapi perjanjian kita sendiri dengan Tuhan masih bisa kita abaikan juga. Apa kabar kewajiban-kewajiban yang sudah kita tinggalkan? Sudahkah kita memohon ampun dengan tulus, atau hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja?

Tidak usah menyalah-nyalahkan Yahudi kalau kita masih hidup dengan gaya hidup mereka. Oke, mungkin kita tidak bisa lepas dari produk-produk mereka, tapi yang ada di kepala dan hatimu itu produk dari dirimu sendiri. Dan sayangnya, Minimnya pengamalanmu terhadap ilmu yang kamu punya, itu salah satu ciri khas mereka lho. Coba deh cek tafsir Surah Al Fatihah.

Kita tahu riba haram, tapi masih aja berkubang riba. Kita tahu pacaran itu dilarang, tapi biasa aja tuh ngeliat orang pacaran. Jangankan negur, keinginan mengingkari dalam hati aja jangan-jangan sudah nggak ada. Kita udah tahu kalau berpakaian itu kudu nutup aurat, eh malah nawar-nawar, persis Yahudi nawar ibadah hari Sabat supaya diganti.

Ohiya, jangan lupa kalau orang Yahudi itu suka kebanyakan nanya. Masih ingat kisah orang Yahudi yang disuruh nyari sapi betina untuk mengungkap pembunuhan saudaranya? Disuruh nyari sapi betina, eh malah banyak nanya sampai akhirnya nyusahin diri sendiri. Mirip sama kondisi kita sekarang nggak sih? Kalau ada aturan atau perintah, pakai ditanya-tanya dulu manfaat buat dirinya apa, khasiatnya apa, dll. Gaes, yang namanya syariat itu dijalani pakai iman yang intinya kamu percaya atau nggak kalau syariat itu bakal ngebuat kamu selamat dunia akhirat. Masa’ iya harus baca artikel kesehatan dulu baru percaya kalau makan minum harus duduk? Kalau kayak gitu, itu kamu beriman atau masih mempertanyakan?

Kalau berbuat adil saja sudah harus dilakukan sejak dalam pikiran, apalagi membela Palestina. Membela Palestina sejak dalam pikiran yang saya maksud di sini adalah sedari awal pikiran kita ada untuk Palestina, ada untuk saudara-saudara kita kaum muslimin di sana. Tidak hanya di Palestina, tapi juga di Suriah, Myanmar, dan di semua tempat yang mungkin tidak bisa kita jangkau secara fisik tapi bisa kita jangkau lewat doa.

Ingat, jangan harap kita mampu membela Palestina tapi masih bergaya hidup dan berpola pikir ala Yahudi. Apa mungkin kita bisa mengalahkan orang yang kita tiru? Kalau mau meniru, maka tirulah umat yang berhasil mengalahkan mereka. Tirulah kaum yang berhasil membebaskan tanah Palestina jauh sebelum ia terjajah. Kaum yang harum namanya di dalam sejarah. Siapa lagi kalau bukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal,sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk (mengikuti) ke dalamnya.

Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani?

Lalu beliau bersabda, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?“. (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah satukan hati-hati kita dalam kebenaran. Semoga Allah menolong saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Yaman, Myanmar, dan di seluruh tempat. Semoga Allah memenangkan Islam dan kaum muslimin.

BSD, waktu dhuha
16/12/2017

Nggak Ikut Reuni, Karena Memang Bukan Alumni

Ada pemandangan tidak lazim di Stasiun Bogor semalam. Stasiun yang biasanya cenderung sepi di atas pukul 21.00 (sok tahu banget padahal bukan anak KRL) nampak ramai malam itu. Bukan karena Vyanisti lagi pada ngumpul, karena kalau dilihat dari penampilannya mereka jauh dari kesan penggemar Via Vallen. Saya belum pernah melihat orang nonton dangdut koplo dengan tampilan berjubah, bersarung, dan berpeci, sementara ibu-ibunya berjilbab semua. Daripada disebut penonton OM SERA, lebih cocok dikira penonton Nasida Ria. Tapi kan, lagi nggak ada konser Nasida Ria. Terus ini ramai-ramai pada mau ke mana? Malam-malam pula.

Saya baru ingat ketika melihat tanggal. Mau ada reuni alumni 212. Saya yang seharian habis jalan-jalan di Jakarta seketika bersyukur tidak salah memilih tanggal jalan-jalan. Jakarta yang saya rasa sudah lengang seharian itu tentu tidak lengang lagi jika kelimpahan massa peserta aksi alumni 212 ini.

Ohiya. Reuni, bukan aksi.

Sebab, maaf-maaf kata, saya memang bukan alumni aksi 212 kemarin. Resmi jadi alumni ITS di tahun 2016 aja udah syukur, gimana mau jadi alumni 212? Saya belum siap menyandang dua gelar alumni sekaligus dalam setahun.

Meski tidak ikut dalam aksi 212, doa saya bersama mereka. Karena bagaimanapun mereka saudara saya. Meski tidak sepemikiran dengan konsep ‘jihad konstitusi’ yang menyeru massa untuk turun ke jalan, saya setuju kalau Ahok sudah sepantasnya dihukum atas kata-katanya yang, demi Allah, jika diletakkan di atas laut niscaya lautan itu akan keruh seluruhnya saking kotor dan hinanya kata-kata tersebut.

Saya bersimpati dengan gerakan 212, sampai akhirnya muncul seremoni-seremoni yang, maaf saja, saya rasa tidak perlu. Seperti misalnya muncul Presidium 212 hingga reuni alumni yang dilakukan hari ini.

Presidium 212 ini ada dan nyata, tapi jujur saya tidak tahu apa peran, fungsi, dan tujuannya. Yang saya tahu tentang Presidium 212 ini adalah sepak terjangnya dalam membela Harry Tanoe, mengorganisir aksi bela ulama 9 Juni, dan long march membela Hermansyah, pakar IT ITB yang dibacok beberapa waktu lalu. Yah, setidaknya saya masih bisa telusuri kinerja mereka lewat media. Tidak seperti gubernur DKI tandingan yang mungkin saking wara’-nya beliau hingga memilih bekerja dalam senyap tanpa sorot kamera.

Dan tentang reuni 212. Reuni sih silakan-silakan saja. Tapi mengkombinasikan reuni umat dengan acara maulid Nabi, apa nyambung?

Poster publikasi Reuni 212

Begini gaes. Maulid Nabi adalah isu sensitif karena mempolarisasi umat ini ke dalam dua kutub ekstrim: pro maulid dan kontra maulid. Yang pro ya melaksanakan acara maulid Nabi dengan ritualnya masing-masing, sementara yang kontra tentu menolak segala bentuk pengkultusan satu hari di bulan Rabiul Awwal yang tanpa dalil ini. Yang satu mengatakan maulid Nabi sebagai bid’ah hasanah, sementara yang lain mengatakan bid’ah munkarah.

Saya berdiri di pihak yang menyatakan maulid Nabi adalah bid’ah munkarah. Pembahasannya panjang, tapi salah satu alasannya adalah karena 3 generasi pertama umat ini tidak pernah melakukannya. Tidak ada satu riwayat pun yang menyatakan bahwa mereka memperingati maulid Nabi setiap tahun. Padahal kita tahu, maulid adalah acara tahunan. Tidak mungkin para perawi hadits luput meriwayatkan tradisi ini dalam kitab-kitab mereka.

Dan saya yakin, pendapat ini juga dipegang oleh sebagian dari mereka yang ikut aksi, bahkan pentolannya. Yang saya ingin tanyakan kepada mereka, adalah konsistensi mereka dalam memandang maulid Nabi ini.

Mau dianggap apa maulid Nabi ini? Apakah bid’ah hasanah, atau bid’ah munkarah? Kalau memang dibilang bid’ah hasanah, ya konsisten adakan acara maulid tiap tahun. Kalau dibilang bid’ah munkarah, kenapa kok malah ikut-ikutan acara begituan? Mana nahi munkar-nya? Atau mungkin, maulid Nabi sudah masuk ke dalam khilafiyah yang mu’tabar ya? Sehingga tidak perlu melakukan nahi munkar.

Betapa oportunisnya sebagian dari kita hingga mengorbankan prinsip hanya demi jargon persatuan. Persatuan apa yang bisa terwujud jika tidak terjadi amar ma’ruf nahi munkar di dalamnya? Yang perlu disatukan tidak hanya barisannya saja, tapi juga pola pikir dan pemahamannya. Ingat, kita bersatu bukan dengan mentolerir kesalahan, tapi dengan sama-sama berpegang teguh pada kebenaran.

Sebenarnya saya tidak akan menulis tulisan ini jika acara reuni 212 hanya ditulis ‘Reuni 212’, tanpa embel-embel ‘Maulid Agung’. Bayangkan, ada ‘Maulid’ saja sudah salah, tambah lagi ada ‘Agung’-nya. Entah muncul dari mana ide menciptakan frase ‘Maulid Agung’ itu. Saya harap tidak terinspirasi dari frase ‘Jumat Agung’.

Menurut saya apa yang dilakukan Presidium 212 ini, daripada dibilang menyatukan ummat, lebih cocok kalau disebut mengakomodir kepentingan sebagian umat. Mengingat ada umat yang kontra dengan acara maulid, dan maulid Nabi juga harusnya kemarin, bukan hari ini. Perayaan ulang tahun yang telat sehari sekarang disebut agung ya?

Jadi nanti kalau kita lupa mengucapkan selamat milad ke seseorang di hari ulang tahunnya, kita bisa memberi ucapan selamat milad keesokan harinya: Selamat milad agung. Wish u all the best.

Bogor, sebelum zhuhur
2/12/2017

Niqabis Jaman Now

Ada satu hal yang membuat saya kesal dengan fitur explore di Instagram. Ketika harusnya saya bisa refreshing sejenak dari rutinitas dengan melihat objek-objek indah di Instagram semacam foto-foto pemandangannya Naked Planet, atau post-post uniknya ifyouhigh, atau komik lucu-lucuannya War and Peas (akun-akun penyegar linimasa sejenis UI Cantik nggak perlu disebutin lah ya), mendadak mood saya rusak kalau pas lagi asik-asiknya nge-scroll tiba-tiba muncul akun ukhti-ukhti yang cadaran tapi keliatannya (cuma) buat lucu-lucuan.

Paham maksud saya?

Oh, ayolah. Saya berbicara kepada anda wahai generasi milennials pengguna smartphone, yang saya yakin lebih dari 23 banding 28 (susah amat perbandingannya) dari kalian memiliki akun sosial media satu ini. Bukan tanpa alasan Instagram mendapuk kita menjadi pasar terbesar di Asia Pasifik bagi mereka.

Instagram sebagai sebuah platform sosial media tentu memiliki dampak bagi kehidupan kita. Dan salah satu dampak dari Instagram yang paling saya rasakan: membentuk tren. Instagram layak berbangga, mereka menjadi kiblat bagi kids jaman now untuk menentukan apakah sesuatu itu ngehitz atau tidak. Bahkan ada sebuah kosakata baru yang tercipta karena Instagram, yang mana itu tidak terjadi pada media sosial lainnya. Bukankah kita mengenal kata instagrammable? Tolong segera koreksi kalau saya salah, karena saya belum pernah mendengar ada istilah facebookable atau twitterable.

Nah, salah satu tren yang sekarang sering mampir di linimasa Instagram saya adalah ukhti-ukhti cadaran tapi gayanya kayak buat lucu-lucuan.

Tolong jangan salah paham dulu. Mengenai cadar, saya mengikuti pendapat ahli hadits abad ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah yang menyatakan hukum cadar itu tidak wajib. Itu mengenai cadar. Mengenai hijab syar’i, saya sepakat penuh kalau itu adalah wajib.

Saya sangat menghormati wanita berpakaian syar’i. Bagi saya, kemuliaan seorang wanita itu bisa dilihat dari seberapa baik usahanya untuk menutup auratnya. Dan bercadar, adalah salah satu dari beragam cara untuk menutup aurat dengan sempurna. Makanya kalau saya berpapasan dengan perempuan bercadar. Ah, jangankan bercadar, berpapasan dengan perempuan yang jilbabnya berkibar-kibar saja, mata saya sudah otomatis langsung berpaling ke arah lain. Kalau hijab mereka adalah berpakaian syar’i, bukankah hijab saya sebagai laki-laki adalah menundukkan pandangan?

Nah, sayangnya mata saya tidak berpaling secara otomatis ketika melihat niqabi-niqabi (wanita-wanita bercadar) yang hobinya foto-foto terus posting di Instagram. Kalau fotonya cuma satu dua, dan captionnya ilmiah berfaedah sih nggak masuk hitungan. Yang saya maksud di sini adalah para niqabis narsis berkedok ukhti ngasih tausiyah.

Macam-macam jenis niqabis narsis yang saya temui di jagad Instagram ini. Mulai dari niqabis doyan PDA (public display of affection), niqabis tukang galau, niqabis pengompor nikah muda, niqabis reseller hijab, hingga niqabis tukang endorse. Yang mana menurut saya mereka semua punya kesamaan: menjadikan cadar sebagai komoditas. Untuk kalian yang ingin dilihat banyak orang dan jadi selebgram terkenal, lupakan baju berbelahan dada rendah, lupakan rok berbelahan tinggi. Sudah bukan eranya lagi untuk pamer dada pamer paha. Sekarang sudah eranya ukhti-ukhti gaul dengan cadar modifan.

Bukan cuma saya kok yang resah dengan fenomena niqabis jaman now. Ukhti panutan saya sudah menurunkan beberapa tulisan mengenai fenomena ini. Mungkin antunna[1] bisa baca tulisan-tulisan beliau. Mengingat tulisan di blog ini adalah tulisan dari sudut pandang lelaki biasa, bukan akhi-akhi aktivis, apalagi ukhti-ukhti kajian.

Terakhir dari saya, saya sangat menghormati antunna yang sudah memutuskan untuk berjilbab syar’i. Kita sudah saling setuju kok kalau berjilbab syar’i itu wajib, apa mungkin nanti orang tua kita bisa juga saling berbesan ya? Ehem.

Maksud saya, semoga Allah istiqamahkan kita di atas langkah-langkah kebaikan. Jika memang sudah memutuskan untuk berhijab atau bercadar, maka baiknya yang diperbanyak itu ilmu dan amal, bukan model hijab kekinian. Saya bukannya melarang antunna untuk tampil modis. Tampil modis ya silakan, tapi antunna tampil modis itu untuk (si)apa sebenarnya? Modisnya juga jangan menabrak tujuan antunna sekalian bercadar.

Jangan sampai antunna niatnya bercadar untuk melindungi diri dari pandangan liar, tapi malah di tengah jalan antunna mabuk pujian di media sosial.

BSD, ba’da zhuhur
24/10/2017

____________________________

[1] antunna: kata ganti kedua dalam bahasa Arab untuk perempuan jamak

Niqabis Jaman Now

Ada satu hal yang membuat saya kesal dengan fitur explore di Instagram. Ketika harusnya saya bisa refreshing sejenak dari rutinitas dengan melihat objek-objek indah di Instagram semacam foto-foto pemandangannya Naked Planet, atau post-post uniknya ifyouhigh, atau komik lucu-lucuannya War and Peas (akun-akun penyegar linimasa sejenis UI Cantik nggak perlu disebutin lah ya), mendadak mood saya rusak kalau pas lagi asik-asiknya nge-scroll tiba-tiba muncul akun ukhti-ukhti yang cadaran tapi keliatannya (cuma) buat lucu-lucuan.

Paham maksud saya?

Oh, ayolah. Saya berbicara kepada anda wahai generasi milennials pengguna smartphone, yang saya yakin lebih dari 23 banding 28 (susah amat perbandingannya) dari kalian memiliki akun sosial media satu ini. Bukan tanpa alasan Instagram mendapuk kita menjadi pasar terbesar di Asia Pasifik bagi mereka.

Instagram sebagai sebuah platform sosial media tentu memiliki dampak bagi kehidupan kita. Dan salah satu dampak dari Instagram yang paling saya rasakan: membentuk tren. Instagram layak berbangga, mereka menjadi kiblat bagi kids jaman now untuk menentukan apakah sesuatu itu ngehitz atau tidak. Bahkan ada sebuah kosakata baru yang tercipta karena Instagram, yang mana itu tidak terjadi pada media sosial lainnya. Bukankah kita mengenal kata instagrammable? Tolong segera koreksi kalau saya salah, karena saya belum pernah mendengar ada istilah facebookable atau twitterable.

Nah, salah satu tren yang sekarang sering mampir di linimasa Instagram saya adalah ukhti-ukhti cadaran tapi gayanya kayak buat lucu-lucuan.

Continue reading Niqabis Jaman Now

Dia Bukan Al Hajjaj

“Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zalim maka hendaklah mereka meninggalkan kezaliman yang mereka lakukan”
(Fakhruddin Ar Razi, dalam Tafsir At Tahrir wat Tanwir 8/74)

Mari saya kenalkan kalian kepada sosok Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi. Namanya asing? Iya, bagi kalian, tapi tidak bagi mereka yang hidup di abad pertama Hijriah. Nama ini begitu dikenal dalam sejarah sebagai sosok yang kejam, zhalim, dan sewenang-wenang saat menjadi gubernur Irak di masa Daulah Bani Umayyah.

Daftar kejahatannya? Jangan tanya. Entah sudah berapa banyak darah kaum muslimin tertumpah di tangannya. Dan bukan sembarang kaum muslimin yang jadi korbannya. Abdullah bin Zubair bin Awwam, putera sahabat Nabi yang agung, dan Said bin Jubair, ulama besar murid Ibnu Abbas itu, tak luput dari sabetan pedang tentaranya. Ah, jangankan itu. Hingga Ka’bah, rumah Allah yang mulia pun, sempat hancur dinding-dindingnya karena ulah kelakuannya. Terbayang kan betapa ngerinya sosok Al Hajjaj ini?

Biar komentar Umar bin Abdul Aziz yang berbicara, memberi gambaran kepada kita bagaimana badass-nya tokoh kita satu ini.

“Kalau sekiranya setiap umat datang dengan para penjahatnya, dan kita datang dengan membawa Al Hajjaj, sungguh kita akan mengalahkan mereka semua.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 6/267, 9/158)

Continue reading Dia Bukan Al Hajjaj