Niqabis Jaman Now

Ada satu hal yang membuat saya kesal dengan fitur explore di Instagram. Ketika harusnya saya bisa refreshing sejenak dari rutinitas dengan melihat objek-objek indah di Instagram semacam foto-foto pemandangannya Naked Planet, atau post-post uniknya ifyouhigh, atau komik lucu-lucuannya War and Peas (akun-akun penyegar linimasa sejenis UI Cantik nggak perlu disebutin lah ya), mendadak mood saya rusak kalau pas lagi asik-asiknya nge-scroll tiba-tiba muncul akun ukhti-ukhti yang cadaran tapi keliatannya (cuma) buat lucu-lucuan.

Paham maksud saya?

Oh, ayolah. Saya berbicara kepada anda wahai generasi milennials pengguna smartphone, yang saya yakin lebih dari 23 banding 28 (susah amat perbandingannya) dari kalian memiliki akun sosial media satu ini. Bukan tanpa alasan Instagram mendapuk kita menjadi pasar terbesar di Asia Pasifik bagi mereka.

Instagram sebagai sebuah platform sosial media tentu memiliki dampak bagi kehidupan kita. Dan salah satu dampak dari Instagram yang paling saya rasakan: membentuk tren. Instagram layak berbangga, mereka menjadi kiblat bagi kids jaman now untuk menentukan apakah sesuatu itu ngehitz atau tidak. Bahkan ada sebuah kosakata baru yang tercipta karena Instagram, yang mana itu tidak terjadi pada media sosial lainnya. Bukankah kita mengenal kata instagrammable? Tolong segera koreksi kalau saya salah, karena saya belum pernah mendengar ada istilah facebookable atau twitterable.

Nah, salah satu tren yang sekarang sering mampir di linimasa Instagram saya adalah ukhti-ukhti cadaran tapi gayanya kayak buat lucu-lucuan.

Continue reading Niqabis Jaman Now

Advertisements

Dia Bukan Al Hajjaj

“Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zalim maka hendaklah mereka meninggalkan kezaliman yang mereka lakukan”
(Fakhruddin Ar Razi, dalam Tafsir At Tahrir wat Tanwir 8/74)

Mari saya kenalkan kalian kepada sosok Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi. Namanya asing? Iya, bagi kalian, tapi tidak bagi mereka yang hidup di abad pertama Hijriah. Nama ini begitu dikenal dalam sejarah sebagai sosok yang kejam, zhalim, dan sewenang-wenang saat menjadi gubernur Irak di masa Daulah Bani Umayyah.

Daftar kejahatannya? Jangan tanya. Entah sudah berapa banyak darah kaum muslimin tertumpah di tangannya. Dan bukan sembarang kaum muslimin yang jadi korbannya. Abdullah bin Zubair bin Awwam, putera sahabat Nabi yang agung, dan Said bin Jubair, ulama besar murid Ibnu Abbas itu, tak luput dari sabetan pedang tentaranya. Ah, jangankan itu. Hingga Ka’bah, rumah Allah yang mulia pun, sempat hancur dinding-dindingnya karena ulah kelakuannya. Terbayang kan betapa ngerinya sosok Al Hajjaj ini?

Biar komentar Umar bin Abdul Aziz yang berbicara, memberi gambaran kepada kita bagaimana badass-nya tokoh kita satu ini.

“Kalau sekiranya setiap umat datang dengan para penjahatnya, dan kita datang dengan membawa Al Hajjaj, sungguh kita akan mengalahkan mereka semua.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 6/267, 9/158)

Continue reading Dia Bukan Al Hajjaj

9/1437 H

Malam 2 Ramadhan 1438 H. Saat saya menulis ini, saya sedang berada di kamar saya sendiri, di rumah bersama keluarga, setelah sebelumnya diberi kesempatan untuk berbuka puasa dengan masakan ibu tercinta. Alhamdulillah.

Padahal tepat setahun sebelumnya, 2 Ramadhan 1437 H, saya jauh dari rumah, termenung sendiri di tanah rantau di timur Pulau Jawa. Termenung bukan karena Ramadhan itu harus saya lalui sendiri jauh dari keluarga. Empat tahun sebelumnya pun saat jadi maba, saya sempat merasakan Ramadhan sendiri di Surabaya. Sulit memang ketika segalanya harus dilakukan sendiri saat bulan puasa. Tapi, kesendirian di Ramadhan 1437 H bukan hanya karena jauh dari orang tua. Lebih dari itu, saya harus menyelesaikan amanah yang mereka berikan kepada saya. Saya harus segera meraih gelar sarjana.

Nah, jadi tahu kan saya termenung karena apa? Saya duduk termenung di hadapan layar PC, berjibaku dengan peliknya urusan TA.

Lab NCC Sahur Squad

Ramadhan 1437 H dalam hidup saya adalah episode Ramadhan terindah yang pernah saya lalui hingga tulisan ini dibuat. Indah untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang. Cukup pelajarannya saja yang diulang, tapi tidak untuk pengalaman-pengalamannya. Kalau kata di film Blended (2014), What happens in Africa stays in Africa.

Continue reading 9/1437 H

Menyerah

Muslim adalah menyerah. [1]

Pilihanmu untuk menjadi seorang muslim itu adalah pilihan untuk menyerah. Kalau memang kamu benar-benar seorang muslim, maka menyerahlah. Berhenti melawan.

Mana janji yang kamu ucapkan di setiap istiftah di dalam shalatmu,

Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku, hanya untuk Allah,

jika kamu masih saja enggan menyerah atas segala ketentuan-Nya yang ditetapkan atasmu?

Menjadi muslim berarti menjadi seorang yang menyerah. Menyerahkan hidup ini untuk sepenuhnya diatur oleh-Nya.  Menyerahkan diri dan seluruh urusan kita kepada Al ‘Alim, Al Khabir, Dzat Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu, Yang tiada yang luput dari ilmu dan kebijaksanaan-Nya.

Contoh kasus. Ada seorang mengalami kecelakaan. Oleh dokter diputuskan ia harus menjalani operasi amputasi kaki. Artinya, ia harus kehilangan kakinya. Dalam kondisi normal, apakah ia mau kehilangan kakinya? Kan tidak. Tapi kenapa ia begitu pasrah begitu diputuskan dokter untuk mengamputasi kakinya?

He’s the doctor, dia dokternya. Dokter lebih tahu mana yang terbaik bagi pasiennya.

Continue reading Menyerah

Qurrota A’yun

Segala puji bagi Allah, yang tiada Ilah selain Dia, yang telah memberi saya begitu banyak nikmat-Nya yang bahkan tidak pernah saya minta. Nikmat-Nya yang tidak terbatas hanya pada rejeki berupa kesehatan dan harta, tapi juga kejadian-kejadian yang mungkin bagi kita hanya sebuah kebetulan biasa, tapi justru kebetulan itu yang mengajari kita tanpa harus menggurui, yang membuat kita memaknai hidup ini jadi lebih berarti.

Salah satunya kemarin, selepas shalat ashar di musholla kantor, saya iseng mencuri dengar obrolan di salah satu pojok musholla.

A: “Anak gua sih, alhamdulillah, sekarang hapalannya udah masuk juz 28.”

B: “Wih, ajib bener tuh. Kalo anak gua kemaren baru ngapalin Al Mulk. Cara ngajarinnya gimana Bos? Pengen dah anak gua kayak gitu”

A: “Anak kecil mah masih gampang dibentuk, dengerin murottal anak aja terus-terusan, nanti dia insya Allah hapal. Jangan kasih liat kartun mulu.”

Saya sedih sendiri dengerinnya. Setahu saya kedua anak mereka umurnya masih sepantaran usia masuk SD, tetapi hapalannya udah jauh di atas saya, fresh grad S1 yang beruntung sudah dapat kerja.

*****

Di hari yang sama, sepulang dari kantor, saya mengunjungi salah seorang rekan kerja yang istrinya baru saja melahirkan. Saya tidak sendirian tentunya, sama teman-teman yang lain. Obrolannya tidak jauh dari masalah persalinan, kondisi kesehatan ibu dan anak, dan tentunya masalah nama dan harapan untuk si anak.

A: “Udah dapet nama belum?”

B: “Jadi pake nama Nabi siapa?

C: “Woah, pake nama Nabi terus ya.”

D: “Iyalah, siapa sih yang nggak mau punya anak yang taat?

*****

Ada satu renungan yang masih terngiang di kepala saya dari kajian Ustadz Subhan Bawazier,

Continue reading Qurrota A’yun

Tentang Fitnah

Mari berbicara tentang fitnah.

Fitnah yang akan kita bicarakan di sini, adalah fitnah sebagaimana definisi para ulama: apa-apa yang dapat menjadi peluang atau potensi maksiat bagi seseorang. Singkatnya, fitnah yang dibahas di sini adalah ujian. [1]

Untuk masing-masing orang, bisa jadi fitnahnya berbeda-beda. Misal, seorang pedagang. Fitnahnya (ujiannya) adalah berupa transaksi jual beli yang berpeluang menjadi riba. Apakah mungkin pedagang tersebut terfitnah dengan kasus mega korupsi e-ktp? Bisa jadi, tapi sangat kecil kemungkinannya ia terfitnah dengan hal tersebut.

Contoh lain, seorang pelajar SMA. Apakah mungkin ia akan terfitnah dengan kekuasaan seperti mengejar jabatan gubernur? Tidak mungkin. Paling fitnahnya ga jauh-jauh dari jujur-jujuran saat ulangan, atau masalah cinta-cintaan, dan seperangkat problematika remaja lainnya. Belum waktunya fitnah jabatan itu jatuh kepadanya. Kalau pun ada, paling jabatan ketua organisasi di sekolah dan kawan-kawannya.

Intinya, fitnah adalah setiap hal yang mampu menjadi peluang maksiat bagi seseorang. Fitnah itu bisa berupa harta kekayaan, jabatan kekuasaan, bahkan wajah rupawan atau kejelitaan seseorang pun bisa jadi fitnah bagi dirinya sendiri dan orang lain, bila ia gunakan hal itu untuk menabur harapan kosong di hati korban-korbannya. *apaansih

Setiap orang di dunia ini pasti terkena fitnah. Namanya juga dunia, tempat ujian. Makanya setiap tahiyat akhir sebelum salam ketika shalat, Nabi kita mengajarkan beberapa doa untuk dibaca, diantaranya doa meminta perlindungan dari empat hal: adzab jahannam, adzab kubur, fitnah hidup dan mati, dan fitnah Dajjal.

Nah, pertanyaannya, bagaimana seorang hamba bisa selamat dari fitnah? Yang perlu kita pahami terlebih dahulu, adalah kenapa bisa seorang hamba jatuh terjebak ke dalam fitnah.

Menurut ulama, penyebab seorang hamba bisa jatuh terjebak di dalam fitnah adalah karena banyaknya dosa yang tersembunyi, dan sedikitnya amal rahasia.

Paham maksudnya?

Continue reading Tentang Fitnah