Dilema Sebuah Nama

Katanya anak sekarang namanya aneh-aneh, unik-unik, beda kayak orang zaman dulu yang rata-rata namanya seragam dan mudah dikenal. Contohlah nama ibu saya, Asni. Nama yang catchy dan gampang nempel di kepala. Nulisnya pun singkat, satu kata, gak repot, dan gak perlu pakai spasi. Bisa saya bayangkan betapa cepat ibu saya mengisi nama di lembar jawaban ujian nasionalnya.

Bandingkan dengan nama saya, Regin Iqbal Mareza. Nama yang kalau saya sebut pertama kali ke orang yang baru kenal, harus saya ulang berkali-kali.

“Nama saya Regin”
“Hah? Regi?”
“Regin…”
“Egi?”
“Reg..in..”
“Gerin?”
“Udah, panggil Iqbal aja”
“Ooh, Iqbal. Bilang dong

Bukannya saya tidak suka dengan nama saya, nama saya yang sedemikian rupa menjadi kebanggaan tersendiri untuk saya sebagai tanda bukti bahwa saya adalah anak milennials dengan nama yang unik dan langka. Pernah saya coba googling, mencari Regin Iqbal Mareza lain di muka bumi ini, hasilnya nihil. Oke, hilangkan nama terakhir saya. ‘Regin Iqbal’. Hasilnya, saya menemukan satu Regin Mohammed Iqbal di India sana. Terakhir, saya coba googling nama ‘Regin’ saja, tidak seunik yang saya kira. Bahkan untuk nama Regin sudah punya halaman wikipedia sendiri.

Nama Regin sebenarnya gak pasaran-pasaran amat, hanya variannya saja yang banyak. Semacam Regia, Regi, Regina, hingga Reginia, yang celakanya, kebanyakan nama-nama tersebut dipakai oleh perempuan. Tidak sedikit orang pernah bertanya kepada saya,

“Nama kamu tuh sebenernya nama perempuan bukan sih? Kok dikasih nama Regin?”

Nama saya itu memiliki arti khusus. Bukan arti secara bahasa memang, karena nama ‘Regin’ tidak diambil dari bahasa mana-mana, tapi ia memiliki faktor historis sendiri mengapa nama Regin itu diambil. Begitu pun dengan Iqbal dan Mareza.

Atas alasan peliknya urusan nama Regin inilah, mulai dari perlu berkali-kali memastikan nama panggilannya ‘Regin’ dan bukan ‘Egi’ atau ‘Regi’, hingga pertanyaan-pertanyaan yang muncul karena penasaran asal nama ‘Regin’, saya sempat berkali-kali ingin mengubah nama panggilan saya menjadi ‘Iqbal’. Alasannya sederhana, karena nama ‘Iqbal’ lebih membumi di tengah masyarakat kita.

Sialnya, saking membuminya, nama Iqbal sudah jadi terlalu pasaran. Dulu zaman SMA, pernah ada tiga Iqbal dalam satu ruang kelas. Si guru pengawas ujiannya sampai bingung, adakah Iqbal keempat, kelima, dan keenam di ruang kelas yang lain? Sepanjang yang saya tahu selama masa saya menempuh masa pendidikan, mulai dari SD sampai kuliah, pasti akan ada (minimal) satu Iqbal dalam tiap angkatannya. Hal ini tentu menjadi kesulitan bagi saya yang ingin mengganti nama panggilan saya.

Salah satu kesempatan emas saya untuk mengganti nama panggilan adalah ketika menjadi mahasiswa baru. Di jurusan saya, tidak ada satu pun orang yang berasal dari kota yang sama dengan saya. Kesempatan bagus, saya bisa memulai hidup baru dengan nama yang baru. Ternyata, ada dua Iqbal lain yang ada di angkatan saya, dan masing-masing Iqbal tersebut tidak ada yang ingin mengganti nama panggilan mereka dengan nama yang lain. Akhirnya saya putuskan saya akan memulai hidup saya di kota tempat saya berkuliah dengan nama yang saya ambil dari nama belakang saya: Reza.

Sayangnya, nama Reza yang saya pakai tidak pernah benar-benar menjadi nama panggilan saya. Saya hanya sempat menggunakan nama itu untuk berkenalan dengan dua-tiga orang. Sampai akhirnya mereka melihat nama yang tergantung di leher saya: Regin Iqbal M. Reza-nya di mana?

Alasan lain nama Reza tidak bertahan lama menjadi nama panggilan saya adalah karena nama Reza dianggap tidak cocok untuk saya. Menurut anggapan mereka, nama Reza itu terlalu megah untuk saya. Kurang ajar, dikira diri saya ini gubuk apa sampai-sampai nggak cocok pakai nama Reza yang katanya megah itu.

“Emang yang cocok pakai nama Reza, siapa?” begitu saya tanya ke teman saya.

Contohnya…ya itu. Reza Rahadian. Cocok tuh antara nama sama muka.”

Solusi sutradara kita ketika bingung mencari pemeran pria: Reza Rahadian

Kurang ajyar.

21 tahun saya hidup dengan nama panggilan Regin, dan ketika hampir menginjak usia 22, saya kembali mendapatkan kesempatan untuk mengganti nama panggilan saya.

Setelah lulus kuliah, saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di daerah BSD. Satu lagi tempat yang menjadi batu loncatan baru dalam hidup saya setelah sebelumnya empat tahun berkuliah di Surabaya. Dan hebatnya, ketika saya masuk kerja, di kantor ini tidak ada satu pun orang yang bernama Iqbal! Luar biasa, akhirnya nama panggilan Iqbal belum taken. Segera saya mengenalkan diri dengan nama Iqbal.

Dua minggu penuh saya dipanggil Iqbal, nama yang entah kenapa menjadi obsesi bagi saya. Dan akhirnya, setelah dua minggu, ada satu orang yang masuk kantor setelah melaksanakan ibadah umroh. Ia duduk tidak jauh dari tempat duduk saya, karena kita satu divisi dan satu departemen.

Namanya Iqbal.

Sudah saya tulis di atas mengenai dua Iqbal lain di angkatan saya ketika kuliah, kan? Nah, dia salah satunya. Muhammad Iqbal Tanjung.

Kembali saya menggunakan nama Regin. Akibatnya, saya perlu mengklarifikasi mengenai nama saya kepada orang-orang yang sudah terlanjur mengenal saya sebagai Iqbal.

“Nama saya Regin. Regin Iqbal”

Saya dianggap melakukan penipuan publik. Apa perlu saya ganti nama jadi Dwi Hartanto?

Ah, mending ganti nama jadi Amin aja, biar namaku selalu disebut dalam setiap doamu.

BSD, waktu dhuha
17/10/2017

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s