Diam

Menurutmu, bagaimana aku membahasakan rindu?

Adakah ia cukup dengan lantunan lirik sebuah lagu? Adakah ia cukup dengan rangkaian kata seorang pujangga? Menurutku tidak. Apa yang mampu diucap di lisan dan diindera di mata, tidak lebih luas dari setangkup rindu itu sendiri.

Menurutku, adalah diam yang mampu membahasakan rindu. Tidak semegah kalimat pengakuan cinta memang, tapi ia cukup untuk menjadi pembuktian rasa.

Diam mampu membuktikan kepada kita banyak hal. Ia mampu menjadi bukti, betapa keras usaha seseorang menahan letup-letup di hati. Ia mampu menjadi bukti, bahwa ada yang sedang berjuang dengan perasaannya sendiri. Ia mampu menjadi bukti, bahwa ada ego yang harus ditekan bila memang belum berhak memiliki.

Diam, mampu menjadi bukti, bahwa adakalanya kata-kata tidak cukup membahasakan rasa.

Sialnya, tidak semua orang paham akan bahasa rindu satu ini. Bukankah gunung tidak pernah mengerti arti diamnya pendaki di atas puncaknya? Bukankah laut tidak pernah mengerti arti diamnya penyelam di pinggir tepinya?

Maka mengertikah kamu arti diamku di depan matamu?

Jakarta, ba’da isya
13/10/2017

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s