7 Alasan Kenapa Anak Muda Kebelet Nikah, Nomor 5 Bikin Netizen Melongo

Dulu zaman saya SMP, bicara urusan pernikahan adalah sebuah urusan yang berat. Urusan yang rasanya jauh sekali untuk saya jangkau kalau dilihat dari usia saya saat itu. Tapi sekarang, kok rasa-rasanya anak SD aja sudah berani masuk ke domain pembicaraan ini ya? Saya jadi ingat potongan lirik lagu Camelia Malik,

Kalau cinta sudah direkayasa..banyak bocah disulapnya dewasa

Kok bisa sih anak-anak muda yang masih unyu-unyu ini bisa jadi kayak kebelet nikah gini? Padahal kan kalau dilihat-lihat mereka belum siap untuk naik ke pelaminan. Mungkin, 7 alasan ini yang jadi penyebabnya.

1. Akun Instagram Nikah Muda

Terima kasih kepada akun Instagram macam @natta_reza, @wardahmaulina_, dan @alvin_411 yang dengan gencar mempromosikan (dan memprovokasi) nikah muda kepada jomblo-jomblo pemendam rasa fii sabilillah. Indah sekali ya hidup mereka. Diikuti fotografer yang tampaknya selalu ada untuk mereka, gaya-gaya mesra, jeprat-jepret, cari caption romantis yang syar’i, posting, terus tinggal tunggu ribuan like dan ratusan komen membanjiri. Coba cek komen-komennya deh, paling banyak diisi sama iklan peninggi badan dan cuitan follower yang mungkin pada ngiri.

“#relationshipgoals bangeeeettt”

Subhanallah…pengen deh kayak kakakk…

“Menanti dia yang bisa memperlakukanku seperti ini…”

Ketemu di Instagram? Taarufnya saling stalking ya Mas?

Duh, miris sekali baca komen mas mbak dan dedek-dedek yang lagi ngegalau ini. Panutannya lagi asik PDA sendiri, mereka malah curhat sana-sini.

2. Melamar Via Chat WA

Ini yang beberapa waktu lalu sempat viral, tentang seorang gadis yang diramal..eh, lamar, via chat WhatsApp. Banyak orang menganggap cara melamar macam ini adalah cara melamar yang keren dan relationship goals banget. Padahal menurut saya, cara ini malah cara yang payah. Dulu zaman saya SMP, kalo ada cowok nembak pacarnya via SMS (tanpa ngomong langsung), bakal divonis cupu, lemah, dan tidak berdaya.

Pacar yang ditembak dengan cara SMS, cuma layak pacaran lewat SMS-an saja. Gausah ketemuan atau jalan bareng segala. Masa’ nembak aja ga mau ketemu langsung?” Begitu ungkapan yang pernah saya dengar dulu.

Nah dengan logika seperti ini, apakah seseorang yang dilamar via chat WhatsApp hanya layak nikah dan hidup berumah tangga via WA saja? Di mana enaknya?

Celakanya, cara melamar ini sudah kadung viral. Baiklah kalau begitu, kapan aku dimasukkan ke dalam grup WA keluargamu? Akan kulamar kamu di situ *malahngode*

3. Undangan Nikah Dari Orang Lain

Pertanyaan klasik yang tidak mudah untuk dijawab,

Kapan nyusul?

Terlebih, kalau undangan itu dari mantan atau gebetan di masa lalu. Cepat-cepat nikah jadi ajang balas dendam untuk menunjukkan kalau dia sudah berhasil move on.

Itu kalau undangan nikahnya dari teman-teman kamu. Beda lagi kalau undangannya berasal dari teman atau saudara orang tua kita. Bagaimana perasaanmu jika di tengah acara pernikahan, kamu dibisiki begini oleh ibumu,

Nak, sekarang kalau ibu datang ke kondangan, ibu selalu membayangin bagaimana kamu yang nanti jadi pengantinnya

Mantap, kan?

4. Status Jomblo yang Terus Di-Bully

Status jomblo selalu jadi bahan yang paling enak untuk mem-bully seseorang. Semua media seakan bersekutu untuk menyudutkan mereka yang masih tuna asmara. Mulai dari meme, video-video singkat lucu, sampai materi stand-up comedy yang rasanya tidak bisa lepas dari penghinaan kepada jomblo. Nah, solusi untuk merdeka dari pem-bully-an ini, tidak lain dan tidak bukan, adalah menikah.

Karena kalau cuma sekadar pacaran, masih ada peluang akan jadi mantan sebelum jadi manten.

5. Lagu Akad – Payung Teduh

Oh. Tidak. Cukup. Lelah hayati mendengar lagu ini.

Terima kasih Payung Teduh yang sudah membawakan lagu ini dengan syahdunya. Karena mungkin berkat lagu merekalah, tetangga saya yang baru masuk SD bisa fasih melafalkan huruf ‘R’

Bila nanti saatnya tlah tibaa…kuingin kau menjadi istlikuuu…Eh, istrrrikuuu….

6. Wisuda dan Nama yang Terlanjur Ditulis Di Buku TA

Yang terakhir ini saya dapati ketika saya menghadiri wisuda di kampus. Agaknya ungkapan “hidup kita hanyalah rangkaian pertanyaan yang berkelanjutan” adalah shahih. Dan pertanyaan yang dianggap wajar ketika wisuda, selain kapan kerja, adalah kapan nikah.

Sebenarnya mungkin banyak yang terbeban dengan pertanyaan macam ini. Akan tetapi yang saya lihat, mereka yang sudah menjalani hubungan sejak lama, yang bahkan bisa dipakai untuk nyicil rumah, memiliki beban lebih untuk menjawab pertanyaan ini.

Apalagi yang sudah sampai di tahap menjadi PW (Pendamping Wisuda), sudah asik foto-foto berdua pakai toga, atau bahkan foto bareng sekeluarga. Wah, sudah alamat direstui keluarga. Kapan sah-nya?

Yang paling berat adalah yang sudah menuliskan nama kekasihnya di kata pengantar buku TA atau skripsinya. Enak kalau nama yang ditulis sama dengan yang kelak tertulis di buku nikah, kalau beda?

7. Menyempurnakan Separuh Agama

Dari 6 alasan yang lain, hanya alasan ketujuh ini yang saya dukung penuh, jika memang benar-benar alasannya untuk menyempurnakan separuh agama dan menjaga kehormatan diri.

Dan dengan menggunakan alasan ini, usahakan setiap langkahnya sejalan dengan prinsip agama. Pastikan masing-masing pasangan, baik si laki-laki maupun perempuan, sudah tahu hak dan kewajiban suami-istri. Pastikan masing-masing calon sudah paham bagaimana mencari uang yang halal, bagaimana menyusun rencana dan mengelola keuangan dengan tanpa riba misalnya. Dan yang paling penting, sudah ada niat dan usaha untuk terus belajar dan berbenah bersama. Karena nikah, bukan hanya surat izin ena ena.

Tahu apa diksi yang dipakai di dalam kitab suci untuk menyebut pernikahan? Mitsaqan ghalizha, perjanjian yang kuat, komitmen yang kokoh. Karena urusan perasaan tidak pernah layak dijadikan mainan. Makanya saya jauh lebih menaruh respect kepada mereka yang cepat-cepat nikah daripada mereka yang lama-lama berpacaran. Tapi kalau memang belum siap, ya jangan diburu-buru.

Btw, minta tolong dong buat mereka yang nikah duluan. Tolong hargai dan hormati perasaan mereka yang belum nikah. Gausah nunjukin kemesraan sana-sini. Bahagia boleh, pamer diri jangan.

Ya, pesan terakhir ini untuk kamu, mantan gebetanku.

BSD, ba’da zhuhur
19/9/2017

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

One thought on “7 Alasan Kenapa Anak Muda Kebelet Nikah, Nomor 5 Bikin Netizen Melongo”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s