Dia Bukan Al Hajjaj

“Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zalim maka hendaklah mereka meninggalkan kezaliman yang mereka lakukan”
(Fakhruddin Ar Razi, dalam Tafsir At Tahrir wat Tanwir 8/74)

Mari saya kenalkan kalian kepada sosok Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi. Namanya asing? Iya, bagi kalian, tapi tidak bagi mereka yang hidup di abad pertama Hijriah. Nama ini begitu dikenal dalam sejarah sebagai sosok yang kejam, zhalim, dan sewenang-wenang saat menjadi gubernur Irak di masa Daulah Bani Umayyah.

Daftar kejahatannya? Jangan tanya. Entah sudah berapa banyak darah kaum muslimin tertumpah di tangannya. Dan bukan sembarang kaum muslimin yang jadi korbannya. Abdullah bin Zubair bin Awwam, putera sahabat Nabi yang agung, dan Said bin Jubair, ulama besar murid Ibnu Abbas itu, tak luput dari sabetan pedang tentaranya. Ah, jangankan itu. Hingga Ka’bah, rumah Allah yang mulia pun, sempat hancur dinding-dindingnya karena ulah kelakuannya. Terbayang kan betapa ngerinya sosok Al Hajjaj ini?

Biar komentar Umar bin Abdul Aziz yang berbicara, memberi gambaran kepada kita bagaimana badass-nya tokoh kita satu ini.

“Kalau sekiranya setiap umat datang dengan para penjahatnya, dan kita datang dengan membawa Al Hajjaj, sungguh kita akan mengalahkan mereka semua.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 6/267, 9/158)

Provokator Pemberontak

Bayangkan orang sejahat itu yang memimpin kita, sudah pasti akan banyak orang yang ingin melengserkannya dengan cara apapun, termasuk dengan jalan kekerasan. Nah, cara kekerasan seperti itu pun dicoba oleh mereka yang tidak tahan dengan pemerintahan Al Hajjaj. Tidak sedikit orang yang pada akhirnya menjadi provokator untuk membenci dan memberontak kepada Al Hajjaj. Cerdasnya, para provokator ini tidak mau sendirian. Mereka ingin mengumpulkan massa untuk melancarkan aksinya. Caranya, dengan mengajak ulama untuk ikut bersama mereka. Di zaman itu kedudukan ulama memang begitu dihormati di tengah masyarakat, fatwa ulama adalah titah suci bagi mereka. Para provokator ini mendatangi seorang ulama besar, salah satu pentolannya para tabi’in: Hasan Al Bashri rahimahullah.

“Wahai Abu Sa’id!” para provokator itu berkata kepada Hasan Al Bashri.

“Bagaimana pendapatmu mengenai kita memerangi penguasa yang menindas kita, menumpahkan darah tanpa hak, mengambil harta, dan melakukan demikian dan demikian (menyebutkan segala kezhaliman Al Hajjaj)?”

Hasan Al Bashri menjawab,

“Janganlah kalian memeranginya. Jika ini adalah hukuman dari Allah, maka kalian tidak akan bisa menghilangkannya dengan pedang-pedang kalian. Jika ini adalah ujian dari Allah, maka bersabarlah hingga datang keputusan-Nya. Dan Dialah sebaik-baiknya hakim.”

Maka para provokator ini kecewa dengan fatwa tersebut, dan akhirnya mereka tetap keluar untuk memberontak kepada Al Hajjaj, mengabaikan nasihat Hasan Al Bashri. Naas, mereka semua terbunuh dalam pemberontakan yang gagal itu. Dan sejarah mencatat, berbagai pemberontakkan yang berkobar di masa Al Hajjaj seluruhnya tidak ada yang berhasil. Al Hajjaj tetap langgeng di kursi kekuasaannya hingga ia wafat pada bulan Ramadhan tahun 95 H. Beberapa riwayat menyebutkan, tidak sedikit manusia yang berbahagia ketika Al Hajjaj menghembuskan napas terakhirnya. Bahkan, tidak sedikit yang merayakannya dengan melakukan sujud syukur, selebrasi atas wafatnya sang tirani.

Yang menarik, simaklah komentar Hasan Al Bashri untuk para pemberontak itu,

“Jika manusia bersabar atas ujian pemimpin yang zhalim, maka hal itu tidak akan lama sebelum Allah memberi jalan keluar kepada mereka. Namun, mereka terlalu terburu-buru dengan pedang mereka, hingga akhirnya mereka pergi dengan pedang-pedang itu (untuk memberontak). Demi Allah, tidak satu hari pun mereka mendatangkan kebaikan (dengan usaha-usaha mereka memberontak)” (Thabaqaat Al Kubraa 7/163-165) [1]

Ujian Pemimpin yang Zhalim

Gerah punya pemimpin yang zhalim? Ya. Pegal dipimpin oleh orang yang zhalim? Pasti. Pusing dengan segala kebijakan pemerintah yang menzhalimi rakyatnya? Nggak usah ditanya lagi. Namun yang mesti kita pahami adalah, bagaimana kita menyikapinya, bagaimana rakyat menyikapi penguasa yang zhalim ini.

Apa dengan sekonyong-konyong berteriak (baca: mengetik di keyboard untuk update status di sosmed) revolusi? Apa dengan provokasi massa? Apa dengan demonstrasi mengepung istana?

History repeats itself. Zaman boleh berubah, tapi pada hakikatnya ia akan selalu berulang. Munculnya pemimpin yang zhalim bukan hanya sekali terjadi di dunia ini. Jika mungkin saat ini tidak sedikit orang yang menganggap Presiden Jokowi sebagai pemimpin yang zhalim, maka ketahuilah, telah lewat pemimpin-pemimpin zhalim lain yang jauh lebih zhalim daripada Presiden Jokowi yang dianggap zhalim saat ini. Dan contoh ekstremnya, Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi.

Bersyukurlah, presiden kita tidak menumpahkan darah sebagaimana Al Hajjjaj menumpahkan darah, presiden kita tidak sewenang-wenang sebagaimana Al Hajjaj memerintah, presiden kita tidak merusak dinding-dinding masjid dengan ketapel-ketapel batu sebagaimana Al Hajjaj melakukannya kepada Ka’bah yang mulia.

Pun jika presiden kita sudah separah itu tindak tanduknya, sudah separah Al Hajjaj kezhalimannya, apa kita langsung boleh memberontak mengangkat senjata? Apa kita langsung berhak memprovokasi massa melawannya?

Sebelum menyalahkan penguasa atas segala kejahatannya, cobalah bercermin untuk memeriksa keburukan diri sendiri.

Buruknya Pemimpin, Buruknya Rakyat

Kisah Al Hajjaj selalu menjadi pelajaran terbaik tentang bagaimana rakyat yang buruk akan dikuasakan atas mereka pemimpin yang buruk.

Mari simak komentar lain dari Hasan Al Bashri tentang pemerintahan Al Hajjaj,

“Sesungguhnya kemunculan Al Hajjaj adalah disebabkan dari azab Allah, maka janganlah kamu melawan azab Allah dengan tangan-tangan kamu. Akan tetapi wajib bagi kamu untuk tunduk dan memohon dengan merendah diri karena sesungguhnya Allah telah berfirman (maksudnya): Dan sesungguhnya Kami telah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (QS. Al Mu’minun: 76)” [2]

Ibnu Katsir, ahli tafsir dan penulis kitab sejarah Al Bidayah wan Nihayah juga tidak ketinggalan berkomentar,

“Secara umum, bahwa Al Hajjaj adalah bencana yang ditimpakan ke atas penduduk Irak karena dosa-dosa lalu mereka dan perbuatan khuruj (keluar dari ketaatan) mereka kepada para pemimpin, menghinakan mereka, memaksiati mereka, menyelisihi mereka, dan tidak menghargai mereka. [3]” (Al Bidayah wa An Nihayah, 9/151)

Mungkin kita perlu membuka kembali mushaf Al Qur’an kita, dan merenungi lagi ayat-ayat di dalamnya, yakni ketika Allah berfirman,

Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan” (QS Al An’am:129)

Karena Pemimpin yang Baik Muncul dari Rakyat yang Baik

Bukankah pemimpin itu muncul dari rakyatnya? Dan bagaimanakah rakyat bermimpi memiliki pemimpin yang baik jika mereka tidak memperbaiki diri mereka sendiri?

Terakhir, kisah penutup sekaligus inti dari tulisan ini.

Alkisah ada seorang khawarij (pemberontak) yang datang menemui Ali bin Abi Thalib yang sedang menjabat sebagai khalifah seraya berkata,

“Wahai khalifah Ali, mengapa pemerintahanmu banyak dikritik oleh orang tidak sebagaimana pemerintahannya Abu Bakar dan Umar?!”

Maka Ali Menjawab,

“Karena pada zaman Abu Bakar dan Umar, yang menjadi rakyat adalah aku dan orang-orang yang semisalku, sedangkan rakyatku adalah kamu dan orang-orang yang semisalmu.” (Syarh Riyadhus Shalihin, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin).

Jika kita ingin pemimpin seperti Abu Bakar dan Umar, sudahkah kita menjadi rakyat yang baik sebagaimana Ali dan Utsman? Jika perilaku kita, adab kita, tingkah laku kita, masih begini-begini saja, atau bahkan menjadi lebih buruk, jangan kaget kalau kita dikuasakan di tangan orang-orang yang zhalim.

Semoga Allah memperbaiki keadaan kita dan keadaan para pemimpin kita. [4]

BSD, sebelum zhuhur
31/7/2017

____________

[1] Diterjemahkan secara bebas dari http://www.manhaj.com/manhaj/articles/ltnje-al-hasan-al-basree-d-110h-al-hajjaaj-bin-yusuf-is-the-punishment-of-allaah.cfm

[2] Minhajus Sunnah 4/528, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

[3] Jika ingin melihat bagaimana buruknya sifat penduduk Irak ini, mungkin bisa dibaca sejarah tentang zaman fitnah di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, hingga pada peristiwa pembunuhan Al Husain bin Ali di Karbala. Silakan merujuk ke kitab-kitab sejarah ahlussunnah seperti Al Awashim minal Qawashim nya Ibnul Arabi (sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Meluruskan Sejarah Menguak Tabir Fitnah), atau buku Inilah Faktanya karya Syaikh Utsman Al Khamis yang sudah diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy Syafi’i.

[4] Daftar bacaan bermanfaat, merujuk ke sini dan ke sini

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s