9/1437 H

Malam 2 Ramadhan 1438 H. Saat saya menulis ini, saya sedang berada di kamar saya sendiri, di rumah bersama keluarga, setelah sebelumnya diberi kesempatan untuk berbuka puasa dengan masakan ibu tercinta. Alhamdulillah.

Padahal tepat setahun sebelumnya, 2 Ramadhan 1437 H, saya jauh dari rumah, termenung sendiri di tanah rantau di timur Pulau Jawa. Termenung bukan karena Ramadhan itu harus saya lalui sendiri jauh dari keluarga. Empat tahun sebelumnya pun saat jadi maba, saya sempat merasakan Ramadhan sendiri di Surabaya. Sulit memang ketika segalanya harus dilakukan sendiri saat bulan puasa. Tapi, kesendirian di Ramadhan 1437 H bukan hanya karena jauh dari orang tua. Lebih dari itu, saya harus menyelesaikan amanah yang mereka berikan kepada saya. Saya harus segera meraih gelar sarjana.

Nah, jadi tahu kan saya termenung karena apa? Saya duduk termenung di hadapan layar PC, berjibaku dengan peliknya urusan TA.

Lab NCC Sahur Squad

Ramadhan 1437 H dalam hidup saya adalah episode Ramadhan terindah yang pernah saya lalui hingga tulisan ini dibuat. Indah untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang. Cukup pelajarannya saja yang diulang, tapi tidak untuk pengalaman-pengalamannya. Kalau kata di film Blended (2014), What happens in Africa stays in Africa.

***

Ramadhan 1437 H jatuh di periode sidang TA, yang juga kebetulan dekat dengan ulang tahun satu dari dua orang yang paling berhak saya bahagiakan: Ayah. Jadi dalam pikiran saya, saya sudah bisa membayangkan akan menelepon Ayah saya di hari ulang tahunnya sambil berkata,

Yah, aku punya hadiah buat Ayah. Aku lulus sidang. Semoga umurnya berkah ya, Yah.

Ah, jangankan lulus sidang. Bahkan hingga lewat deadline pengumpulan berkas untuk maju sidang saja, dosen pembimbing saya belum juga memberi lampu hijau terhadap progress TA saya. Katanya, konsep saya masih kurang bagus. Konsepnya saja kurang bagus, bagaimana dengan implementasi di kodingannya? Jauh dari kata layak maju sidang.

Sebenarnya akan lebih mudah kalau saya bisa tiap hari konsultasi ke ruangan beliau. Sayangnya, beliau sedang di Jepang. Meninggalkan saya dan TA yang belum juga menemui titik terangnya. Akhirnya konsultasi hanya bisa dilakukan via surel, yang saya yakin rekan-rekan mahasiswa tahu, akan sangat beruntung bila sang dosen berkenan untuk membacanya. Syukur-syukur kalau dibalas. Di titik ini saya merasa menunggu balasan chat dari doi tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan menunggu balasan surel dosen pembimbing.

Jadi begitulah, ketika teman-teman yang lain sudah riuh bergembira atas lulus sidangnya mereka, saya masih sibuk memperjuangkan nasib TA yang entah bisa maju sidang atau tidak. Sampai-sampai ada teman saya yang tidak enak sendiri kepada saya,

Gin, gua jadi gaenak sama lo. Udah, jangan kepengaruh sama temen-temen yang udah lulus sidang. Fokus aja sama TA lu. Semoga bisa maju sidang semester ini.

Jleb.

***

Saya sama sekali tidak bisa menyalahkan dosen pembimbing saya. Buktinya, teman-teman satu bimbingan saya sudah ada beberapa yang di-ACC sebelum beliau berangkat ke Jepang. Semua memang kesalahan ritme hidup saya sendiri yang berjalan dengan tempo yang demikian lambatnya. Saya terlalu santai dan sulit untuk fokus. Saya baru bisa fokus mengerjakan TA ketika deadline sudah di depan mata, dan itu tepat ketika Ramadhan tiba.

Sayangnya, ritme hidup saya selama Ramadhan masih saja tempo lambat, birama 3/4 jatuh pada ketukan pertama.

  • Pagi – Dzuhur: Tidur di kosan.
  • Dzuhur – Ashar: (Masih) mager di kosan.
  • Ashar – Menjelang maghrib: Berangkat ke lab, utak-atik TA sedikit.
  • Menjelang maghrib-isya: Berburu (baca: menjarah) ta’jil buka puasa, makan-makan.
  • Isya – pukul 8 malam: Shalat isya+tarawih. Bejat-bejat gini masih ikut tarawih.
  • Pukul 8 malam – pukul 2 pagi: (Katanya) fokus mengerjakan TA.
  • Pukul 2 pagi: Sudah masuk jam bego, enggak fokus lagi, ngegalau gak jelas. Sudah saatnya memesan delivery untuk sahur.
  • Pukul 4 pagi: sahur dengan menu yang rata-rata hedon. Lab kami sudah menjadi pelanggan tetap delivery RM Sederhana. Bisa menghamburkan uang sebanyak itu karena uang makan buka puasanya aman, sudah ada makanan gratis dari masjid sekitar kampus.
  • Subuh – pagi: setelah shalat subuh, biasanya masih utak-atik TA meskipun udah nggak tau lagi apa yang diutak-atik. Kalau matahari sudah berhasil menembus jendela NCC, artinya sudah waktunya pulang istirahat di kosan.

Hidup saya tidak lepas dari 3 tempat: Kampus, kosan, dan masjid (untuk buka puasa). Melihat ritme hidup yang sedemikian rupa, adalah sebuah keajaiban jika saya benar-benar bisa lulus tepat waktu.

***

Berkah Ramadhan itu nyata, Kawan. Tinggal kita sendiri yang memilih, maukah kita mendulang berkahnya?

Kesibukan TA mengalihkan saya dari amalan-amalan utama di bulan Ramadhan. Dan mungkin inilah penyebab utama TA saya mandek: berkurangnya ketergantungan saya kepada Allah.

Saya begitu angkuh, sudah merasa mampu dengan kemampuan saya sendiri. Apalagi saya merasa jam pengerjaan TA saya di lab sudah maksimal. Saya terlalu memikirkan konsep TA saya, hingga lupa konsep penting dalam hidup: Bukan tentang berapa lama waktu yang kita habiskan, ini tentang adakah berkah di waktu yang kita jalani. Bukan tentang seberapa keras kita berusaha dengan kemampuan kita, yang penting adalah ketika Allah memampukan kita untuk melewati segalanya.

Inilah teguran pertama saya, tentang jauhnya saya dari keberkahan Ramadhan.

Ibu saya sampai menelepon demi mengingatkan,

Kamu udah tilawah hari ini?

Tilawah? Belum, Bu.

Ibu menarik napasnya dalam.

Gin, gelar sarjana itu hanya gelar di dunia. Tapi gelar orang bertakwa?…Ibu nggak apa-apa kalau akhirnya kamu nggak jadi lulus semester ini. Tapi ibu nggak rela kalau kamu justru menyia-nyiakan Ramadhan ini. Wisuda itu, semester depan pun masih bisa, insya Allah. Ramadhan?

Berpuasa itu tujuan akhirnya apa? La’allakum tattaquun, agar kamu menjadi orang yang bertwakwa”

Ini poin pentingnya, tentang berkah dan ketakwaan. Loh, apa hubungannya? Hei, bukannya Allah sudah janji, barangsiapa yang bertakwa kepada-Nya, maka Dia akan memberikan jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka?

Saya seakan lupa tentang semua itu.

***

Singkat cerita, secara ajaib saya diizinkan sidang setelah lebaran. Akhirnya Ramadhan di kampus bisa berjalan damai dan sejahtera dengan ritme hidup yang kurang lebih masih sama. Pagi sampai sore istirahat, malamnya kerja rodi mengejar deadline. Begitu terus hingga beberapa hari menjelang lebaran. Saat arus mudik mulai ramai, saya juga akhirnya pulang ke kampung halaman.

Lima hari setelah lebaran saya sudah stand by di perantauan. Karena meski sudah dijanjikan akan sidang setelah lebaran, jadwal saya belum kunjung keluar. Keputih masih sepi, masih beberapa warung saja yang berjualan lagi, saking awalnya saya kembali.

Sehari setelah kembali ke Surabaya, jadwal sidang saya keluar. 18 Juli 2016.

Entah harus senang atau panik, sidangnya tidak sampai seminggu setelah saya datang, tapi program masih nge-bug dan alat masih bermasalah.

Ya Allah, nggak nyangka juga akan secepat ini.

Akhirnya hidup saya kembali ke ritme sebelumnya, hanya berubah di jam makan saja. Kali ini hidup saya hanya berputar di dua tempat, kos dan lab.

H-1 sidang, semuanya berubah. Kampus mati lampu.

Panik, saya harus segera mencari tempat untuk menyelesaikan semuanya. Bayangkan, program masih nge-bug, alatnya masih bermasalah, dan buku TA-nya belum saya cetak karena masih dalam pengerjaan. Siang itu juga saya segera hijrah ke rumah teman saya. Kurang dari H-24 jam sidang.

H-12 jam sidang, tengah malam, ada kabar lebih buruk. Ini teguran kedua saya, and it hits me really hard. Salah seorang teman seangkatan saya ada yang meninggal, Hafidh Azmi namanya –rahimahullah-.

Meskipun angkatan saya sedang berduka, sidang masih harus tetap jalan. Subuhnya, hampir seluruh teman saya pergi melayat ke Trenggalek, kampung halaman Hafidh, sedangkan saya dan teman-teman yang lain yang sidang hari itu masih sibuk menyelesaikan urusan TA.

Jadwal sidang saya pukul 12 siang, dan saya baru mencetak buku TA pukul 10. H-2 jam. Kurang fearless apa lagi coba?

Jadwal sidangnya pukul 12.00-13.00, tapi saya masuk 12.20 dan keluar pukul 12.40. Nggak nyampe setengah jam. Kurang jago apa lagi coba?

Saat saya keluar dari ruang sidang (alias lab), saya melihat sekeliling. Sepi. Tidak ada orang yang menyambut, tidak ada sorak sorai bahagia, tidak ada bunga dan pita, tidak ada balon-balon lucu bertuliskan “S” “K” “O” “M” dan pernak-pernik segala rupa. Kampus sepi. Angkatan kami sepi. Ya, karena memang kami sedang berduka. Duka tepat saat saya menyabet gelar sarjana.

Seketika terngiang nasihat ibu saya, sepenggal kalimat yang menjadi trademark Ramadhan 1437 H dalam kehidupan saya,

Gelar sarjana itu hanya gelar di dunia. Tapi gelar orang bertakwa?”

Ramadhan selalu berhasil memberikan pelajaran-pelajaran terbaiknya, kalau kita mau berpikir.

Bogor, tengah malam
28/5/2017

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s