Short Getaway: Gunung Batu

Mari saya kenalkan kalian kepada seorang sohib saya sejak SMP kelas 7. Nama lengkapnya Ahmad Adam Zari Ardi Ramadhan, tapi entah kenapa di media sosial atau di tempat lainnya ia hanya menggunakan nama Ahmad Adam Ramadhan atau Adam Zary. Dia biasa saya panggil dengan nama Adam, atau Ahmed, dan sering juga saya panggil Syaikh.

Sesuai dengan nama panggilannya yaitu Syaikh, yang secara harfiah artinya bapak tua, Adam adalah orang yang saya tuakan. Selain karena memang umurnya yang lebih tua daripada saya, kedalaman ilmunya juga jauh di atas saya. Jangan remehkan dia meski tidak pernah lulus dari sekolah agama, karena kemampuannya membaca kitab berbahasa Arab sudah di atas rata-rata. Itu kualitas dari sisi agama. Dunia? Jangan tanya. Lulusan S1 Teknik Mesin dari institut teknik yang digadang-gadang terbaik di negeri ini, dengan IP nyaris menyentuh angka cum laude, dan saat ini sedang bekerja di salah satu perusahaan Jepang di kawasan industri di Bekasi. Sosoknya adalah perwujudan mantu idaman versi mertua sepanjang zaman: alim, pintar, dan sudah mapan berpenghasilan.

Apa yang kalian bayangkan jika punya teman seperti ini? Banyak obrolan berfaidah, minim perkataan nirmanfaat. Penuh petuah kaya nasihat, sedikit kata yang tersia-sia. Iya, itu idealnya. Nyatanya, dia tidak sesuci itu kok. Mungkin karena bergaul dengan saya akhirnya dia jadi “rusak” sedikit.

Seperti misalnya kemarin, 8 April 2017, tiba-tiba ada chat darinya,

Mau naik gunung lagi ga gin?

Saya cek betul-betul siapa pengirimnya. Saya kira yang ngajak orang lain, eh ternyata Adam. Saya cek lagi isinya, ini ajakan naik gunung. Entah ada angin apa, saya kira ngajaknya ke kajian atau ke toko buku (Masya Allah, super banget nggak sih) seperti biasa, tapi yang ini jelas di luar kebiasaan.

Singkat cerita, tersusunlah agenda naik Gunung Batu hari Sabtu tanggal 15 April 2017. Setelah sebelumnya mengugurkan rencana ke Gunung Gede karena kehabisan kuota dan minimnya peserta. Target pesertanya sebenarnya banyak, karena yang diajak satu grup beranggotakan 20-an orang. Tapi apa daya, pada punya agenda sendiri semua. Hingga akhirnya yang jalan cuma dua orang, saya dan Adam ini.

Sabtu pagi, yang awalnya janjian di smansa akhirnya pindah ke depan Giant Taman Yasmin setelah melihat rute perjalanan yang ternyata lebih dekat kalau start dari sana. Dari Yasmin sampai ke Gunung Batu cukup mudah sebenarnya, ikutin Google Maps. Beres. Nyasar dikit tinggal tanya warlok (baca: warga lokal).

Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan dengan pemandangan kembang desa yang ala-ala lukisan anak SD. Dua gunung dengan sungai mengalir di bawahnya. Lumayan untuk mendamaikan kepala yang diamuk deadline.

Sampai di lokasi, sebenarnya sempat heran aja. Ini judulnya naik gunung, tapi yang kita lihat adalah sebuah bongkahan bukit batu besar. Mungkin biar keren aja kali ya, dan biar hits akhirnya judulnya jadi wisata pendakian Gunung Batu.

Naiknya, yaampun. Lebih lama duduk di motor selama perjalanan daripada mendakinya. Ga nyampe sejam sampai di puncak, segitu udah sempat foto-foto dan ngobrol sama pendaki lain. Jangan harap ada alun-alun edelweis atau tanah lapang yang bisa kalian jalan-jalan imut di atasnya, yang ada hanya tanjakan dan tanjakan. Karena itu, hanya butuh waktu singkat untuk sampai di puncak. Tapi jangan kira, medannya tidak seramah ketinggiannya yang ‘cuma’ 875 mdpl. Medan berbatu dan terjal bisa jadi pengikis napas dan pemacu adrenalin buat para pendakinya. Apalagi, gunung emesh ini pernah memakan korban. Khanmaen. Nggak heran kalau di sepanjang treknya disediakan tali. Jadi kalau dah capek tinggal gelantungan aja deh. Atau kalau buat yang dah ga kuat sama semua ini, tinggal lilit aja talinya di leher. Solusi instan dengan konsekuensi yang kekal.

Turunnya, mudah sekali. Tinggal turun, sama kayak naiknya yang tinggal naik. Nggak ada view yang wah sekali di gunung ini. Kecuali kalau kamu punya aplikasi pengedit gambar di ponsel kamu, pemandangannya bisa disulap jadi foto yang hits di Instagram kamu.

Di gunung inilah saya baru merasa apa yang pernah teman saya katakan,

Sebenernya ga ada yang lo dapet dari naik gunung. Cuma naik, liat-liat, turun, udah. Naik gunung itu cuma getaway aja dari rutinitas lo.

Iya, ini cuma getaway. Getaway yang adiktif. Terbukti, sepulang dari Gunung Batu, Adam yang baru pertama kali naik gunung langsung mewacanakan untuk pendakian selanjutnya. Entah kapan, entah ke mana.

Hati-hati akan adiksi ketinggian.

BSD, sebelum zhuhur
17/4/2017

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s