Menyerah

Muslim adalah menyerah. [1]

Pilihanmu untuk menjadi seorang muslim itu adalah pilihan untuk menyerah. Kalau memang kamu benar-benar seorang muslim, maka menyerahlah. Berhenti melawan.

Mana janji yang kamu ucapkan di setiap istiftah di dalam shalatmu,

Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku, hanya untuk Allah,

jika kamu masih saja enggan menyerah atas segala ketentuan-Nya yang ditetapkan atasmu?

Menjadi muslim berarti menjadi seorang yang menyerah. Menyerahkan hidup ini untuk sepenuhnya diatur oleh-Nya.  Menyerahkan diri dan seluruh urusan kita kepada Al ‘Alim, Al Khabir, Dzat Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu, Yang tiada yang luput dari ilmu dan kebijaksanaan-Nya.

Contoh kasus. Ada seorang mengalami kecelakaan. Oleh dokter diputuskan ia harus menjalani operasi amputasi kaki. Artinya, ia harus kehilangan kakinya. Dalam kondisi normal, apakah ia mau kehilangan kakinya? Kan tidak. Tapi kenapa ia begitu pasrah begitu diputuskan dokter untuk mengamputasi kakinya?

He’s the doctor, dia dokternya. Dokter lebih tahu mana yang terbaik bagi pasiennya.

Mengapa seseorang bisa dengan mudahnya percaya kepada keputusan dokter untuk mengamputasi kakinya, padahal dokter tersebut adalah manusia yang mungkin bisa saja salah? Karena dokter memiliki ilmu yang orang lain tidak punya, ia tahu apa yang terbaik bagi pasiennya berdasarkan ilmu dan pengalamannya.

Tapi mengapa kita tidak mau menyerahkan hidup kita untuk diatur Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui, Yang tiada satu pun yang luput dari pengetahuan-Nya?

Mengapa kita ketika disuruh shalat tepat waktu masih saja malas-malasan? Kenapa kita ketika diperintahkan untuk menjauhi zina masih saja mencari-cari alasan? Kenapa kita ketika diwajibkan menutup aurat masih saja membuat-buat pembenaran? Padahal itu semua adalah perintah dari Dzat yang mengetahui apa-apa yang terbaik bagi seluruh hamba-Nya.

Di mana akal sehat kita?

Kalau memang ada aturan-Nya yang kamu tidak suka, ada yang kamu benci, maka kamu tahu tahu pintu keluarnya di mana. Tidak ada yang memaksa kok.

Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” (QS. Al Kahfi: 29)

Tapi tolong, kalau memutuskan untuk menjadi seorang muslim, jangan setengah-setengah.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan” (QS. Al Baqarah: 208)

Tahu kenapa orang munafik berada di dasar kerak api neraka? Karena mereka mengaku muslim, tapi kufur terhadap kebenaran. Mereka mengaku menyerah, tetapi membangkang dan melawan. Ada aturan mereka lawan dengan akal. Ada perintah mereka lawan dengan logika. Ada larangan mereka bantah dengan ego.

Jika telah berhadapan dengan aturan-Nya, letakkan akal, logika, dan egomu di bawah aturan-Nya. Kamu tidak bisa melawan apa-apa yang sudah digariskan-Nya. Cukup berserah, karena Dia tahu apa-apa yang terbaik bagimu. Dialah sebaik-baik pemegang urusan.

Bukankah kamu telah melihat bagaimana gunung-gunung dipancangkan, langit ditinggikan, dan bumi dihamparkan? Indah, kan? Bayangkan jika hidupmu kamu serahkan pada Dzat yang telah mengatur alam ini dengan sebaik-baiknya, pasti akan baik pula.

Jadi muslim jangan setengah-setengah, menyerahlah. [2]

Tangerang Selatan, waktu dhuha
5/4/2017

__________

[1] https://muslim.or.id/26891-makna-islam.html

[2] Tulisan di atas adalah salah satu poin kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri berjudul “Gue Muslim” di akun youtube The Rabbaanians. Nonton deh, recommended parah.

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s