Qurrota A’yun

Segala puji bagi Allah, yang tiada Ilah selain Dia, yang telah memberi saya begitu banyak nikmat-Nya yang bahkan tidak pernah saya minta. Nikmat-Nya yang tidak terbatas hanya pada rejeki berupa kesehatan dan harta, tapi juga kejadian-kejadian yang mungkin bagi kita hanya sebuah kebetulan biasa, tapi justru kebetulan itu yang mengajari kita tanpa harus menggurui, yang membuat kita memaknai hidup ini jadi lebih berarti.

Salah satunya kemarin, selepas shalat ashar di musholla kantor, saya iseng mencuri dengar obrolan di salah satu pojok musholla.

A: “Anak gua sih, alhamdulillah, sekarang hapalannya udah masuk juz 28.”

B: “Wih, ajib bener tuh. Kalo anak gua kemaren baru ngapalin Al Mulk. Cara ngajarinnya gimana Bos? Pengen dah anak gua kayak gitu”

A: “Anak kecil mah masih gampang dibentuk, dengerin murottal anak aja terus-terusan, nanti dia insya Allah hapal. Jangan kasih liat kartun mulu.”

Saya sedih sendiri dengerinnya. Setahu saya kedua anak mereka umurnya masih sepantaran usia masuk SD, tetapi hapalannya udah jauh di atas saya, fresh grad S1 yang beruntung sudah dapat kerja.

*****

Di hari yang sama, sepulang dari kantor, saya mengunjungi salah seorang rekan kerja yang istrinya baru saja melahirkan. Saya tidak sendirian tentunya, sama teman-teman yang lain. Obrolannya tidak jauh dari masalah persalinan, kondisi kesehatan ibu dan anak, dan tentunya masalah nama dan harapan untuk si anak.

A: “Udah dapet nama belum?”

B: “Jadi pake nama Nabi siapa?

C: “Woah, pake nama Nabi terus ya.”

D: “Iyalah, siapa sih yang nggak mau punya anak yang taat?

*****

Ada satu renungan yang masih terngiang di kepala saya dari kajian Ustadz Subhan Bawazier,

Sudahkah kamu menjadi Qurrota A’yun? Sudahkah kamu sebagai anak menjadi penyejuk mata bagi kedua orangtuanya?

Sangat menarik diksi yang dipakai, penyejuk mata. Diksi yang tercatat di dalam Al Qur’an ketika Allah mensifati orang-orang yang beriman,

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqon: 74)

Gimana sih biar jadi penyejuk mata buat orang tua? Apa harus jadi yang bening-bening dulu biar bisa disebut penyejuk mata?

Ternyata enggak.

Setelah dari pengamatan saya kepada beberapa orang tua, anak yang cantik rupawan manis putih bening bercahaya itu namanya enak dilihat, bukan penyejuk mata. Penyejuk mata yang sesungguhnya adalah mereka yang selalu mempertontonkan keindahan di dalam ketaatan. [1]

Tidak percaya? Silakan punya anak sendiri, atau enggak tanya ke mereka-mereka yang punya orang tua.

Apa gunanya punya anak bening cakep hitz selebgram, tapi hobinya ngedumel ngeyel ngebantah orang tua? Orang lain dapet cakepnya, orang tua dapet sisanya.

Orang tua itu ga nuntut anaknya biar cakep kok. Serius. Orang tua juga nyadar diri kalau anaknya itu ya produk mereka sendiri, ga bisa diganggu gugat. Hanya satu yang diminta orang tua: baktimu sebagai anak mereka.

Sepengalaman saya, yang selalu diceritakan dan dibanggakan orang tua kepada teman-temannya adalah kebaikan-kebaikan anaknya, “Iya, anak saya alhamdulillah patuh kalo diminta bantu cuci piring. Malah kadang ga perlu disuruh dia nyadar sendiri bantuin ibunya.” Belum pernah saya denger ada orang yang cerita ke temannya, “Beuh anak gua bening coy, cakep dah. Follower IG-nya udah nembus 10k

Seperti pengalaman saya di atas. Yang ditanya tips biar si anak hapalan Qur’annya banyak, bukan tips sulam alis anak atau semacamnya.

Kalau mungkin anda-anda yang kebetulan terjebak baca tulisan ini posisinya adalah sebagai anak, dan masih diberikan kesempatan untuk dapat bersama dengan orang tua, mungkin mulai sekarang perlu terus menerus bertanya kepada diri sendiri,

“Sudahkah saya menjadi Qurrota A’yun, menjadi penyejuk mata bagi orang tua?”

Mumpung orang tua masih ada, mumpung pintu surga terdekat itu masih bersama kita, jangan disia-siakan 🙂

Tangerang Selatan, waktu dhuha
4/4/2017

_________

[1] https://rumaysho.com/3740-anak-penyejuk-mata.html

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s