Tentang Fitnah

Mari berbicara tentang fitnah.

Fitnah yang akan kita bicarakan di sini, adalah fitnah sebagaimana definisi para ulama: apa-apa yang dapat menjadi peluang atau potensi maksiat bagi seseorang. Singkatnya, fitnah yang dibahas di sini adalah ujian. [1]

Untuk masing-masing orang, bisa jadi fitnahnya berbeda-beda. Misal, seorang pedagang. Fitnahnya (ujiannya) adalah berupa transaksi jual beli yang berpeluang menjadi riba. Apakah mungkin pedagang tersebut terfitnah dengan kasus mega korupsi e-ktp? Bisa jadi, tapi sangat kecil kemungkinannya ia terfitnah dengan hal tersebut.

Contoh lain, seorang pelajar SMA. Apakah mungkin ia akan terfitnah dengan kekuasaan seperti mengejar jabatan gubernur? Tidak mungkin. Paling fitnahnya ga jauh-jauh dari jujur-jujuran saat ulangan, atau masalah cinta-cintaan, dan seperangkat problematika remaja lainnya. Belum waktunya fitnah jabatan itu jatuh kepadanya. Kalau pun ada, paling jabatan ketua organisasi di sekolah dan kawan-kawannya.

Intinya, fitnah adalah setiap hal yang mampu menjadi peluang maksiat bagi seseorang. Fitnah itu bisa berupa harta kekayaan, jabatan kekuasaan, bahkan wajah rupawan atau kejelitaan seseorang pun bisa jadi fitnah bagi dirinya sendiri dan orang lain, bila ia gunakan hal itu untuk menabur harapan kosong di hati korban-korbannya. *apaansih

Setiap orang di dunia ini pasti terkena fitnah. Namanya juga dunia, tempat ujian. Makanya setiap tahiyat akhir sebelum salam ketika shalat, Nabi kita mengajarkan beberapa doa untuk dibaca, diantaranya doa meminta perlindungan dari empat hal: adzab jahannam, adzab kubur, fitnah hidup dan mati, dan fitnah Dajjal.

Nah, pertanyaannya, bagaimana seorang hamba bisa selamat dari fitnah? Yang perlu kita pahami terlebih dahulu, adalah kenapa bisa seorang hamba jatuh terjebak ke dalam fitnah.

Menurut ulama, penyebab seorang hamba bisa jatuh terjebak di dalam fitnah adalah karena banyaknya dosa yang tersembunyi, dan sedikitnya amal rahasia.

Paham maksudnya?

Seorang hamba dapat terjatuh ke dalam fitnah bisa jadi karena ia adalah seorang yang baik di hadapan orang banyak, sekaligus seorang penyembunyi dosa yang hebat. Di keramaian menjadi musuhnya setan, tetapi malah jadi temannya di kala sendirian. Orang-orang seperti ini yang jiwanya lemah, yang gampang diombang-ambingkan fitnah, yang sering jatuh terjerembab kala terkena ujian.

Sehingga, bagaimana agar seorang hamba bisa selamat dari fitnah? Gunakan mafhum mukhalafah alias pemahaman terbalik dari uraian di atas. Agar selamat dari fitnah, maka hendaknya kita perbanyak amal-amal rahasia kita, amal-amal yang cukup hanya kita dan Allah yang tahu. Jangan jadi temannya setan saat sendiri. Harusnya amal kebaikan yang diperbanyak ketika sendirian, bukannya maksiat. Orang yang demikian itu adalah orang yang jiwanya kokoh, yang kuat, yang dengan izin-Nya akan mampu menghadapi gelombang fitnah. Karena ia beramal bukan karena pandangan manusia, juga ia menghindari maksiat karena sadar akan pandangan Allah terhadapnya. [2]

Semoga Allah mengokohkan kita di dalam kebenaran.

Otw Bogor-BSD, 3/4/2017

__________

[1] https://muslim.or.id/25955-makna-fitnah-dalam-al-quran-1.html

[2] Tulisan di atas adalah salah satu poin faidah dari kajian Ustadz Syariful Mahya Lubis, Sabtu 1 April 2017 Ba’da Maghrib @Masjid Al Istiqamah, Taman Yasmin, Bogor

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s