Jatuh di Aspal Tidak Seindah Jatuh…

jatuh-di-aspalKatanya, jatuh di aspal itu tidak seindah jatuh cinta. Itu kata mereka. Ya, jatuh di aspal memang tidak seindah jatuh cinta. Tapi percayalah, rasa sakitnya sama.

Saya sudah berkali-kali jatuh di aspal. Luka memar atau robek karena jatuh di aspal tadi paling hanya bertahan beberapa bulan. Bekas lukanya pun bisa mudah hilang. Kalau pun masih ada bekasnya, ia sudah mengering. Kulit yang rusak sudah berganti dengan kulit yang baru.

Jatuh cinta? Jangan harap. Luka yang dihasilkan bisa lebih dalam, lebih merusak, dan bisa menyebabkan infeksi yang lebih luas. Jangan kira bekas lukanya akan cepat hilang. Ia bisa saja menganga lama, masih terluka meski tak berdarah, tak kunjung kering karena dibasahi air mata. Kalau pun sudah kering, lukanya bisa saja dengan mudah terbuka lagi karena sebuah sindrom akut: CLBK, Cinta Lama Bersemi Kembali. Sindrom yang bisa muncul begitu saja tanpa permisi. Sindrom yang bisa berawal dari sapaan kepada kawan lama, kedekatan yang muncul kembali setelah sekian lama pergi, atau bisa dengan mudahnya berawal dari sekadar chatting di malam hari.

Saya mengatakan demikian bukan karena saya telah berkali-kali jatuh cinta. Jatuh cinta kok sering-sering amat, bukan lelaki setia dong namanya. Pengalaman dari teman-teman saya sudah cukup mengajarkan bahwa jatuh di aspal memang tidak seindah jatuh cinta, tapi jatuh cinta juga tidak seindah apa-apa yang diceritakan di dongeng ala-ala. Indah memang, kalau kamu seorang pangeran tampan kaya raya, dan pasanganmu adalah seorang putri cantik yang mana kalian saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi sayangnya tidak. Kenyataan justru lebih sering mencampakkan kamu hingga kamu jatuh sejatuh-jatuhnya. Yang bagai jatuh di aspal, tubuhmu menghantam bumi, hingga tidak tahu caranya untuk bangkit lagi.

Pernah jatuh di aspal kan ya? Ngerasa nggak sih ada sepersekian detik saat-saat ketika kita hendak jatuh, saat-saat di mana tubuh kita pasrah sepenuhnya, di mana mungkin di saat itulah kita mengucapkan ‘kata-kata terakhir’ sebelum badan mencium aspal. Di saat itulah seluruh kesadaran kita terkumpul seluruhnya, sadar kalau kita akan jatuh, yang dengan refleks bisa saja mengatakan kata-kata sejenis,

“Anjrit gua jatoh”

atau,

“Waduh jatoh nih gua”

atau kalau orang yang agamis biasanya langsung mengatakan,

“Allahu Akbar”

atau,

“Astaghfirullah.”

Kata-kata itu muncul saat kita sadar kita jatuh di aspal. Jatuh cinta? Kita bahkan tidak pernah benar-benar sadar kapan kita jatuh cinta. Sampai terucap kata-kata itu. Kata-kata yang bukan diucapkan dengan refleks, tapi kata yang diucapkan dari lubuk hati terdalam. Kata-kata yang mampu menjatuhkan seseorang jatuh sejatuh-jatuhnya:

“Aku mencintaimu,”

Hati-hati kalau jatuh cinta, sakit loh.

Serpong, waktu dhuha
21/2/2017

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s