Rumah

Anda pernah terusir dari kost-an yang Anda tempati? Saya pernah. Anda pernah merasa tidak memiliki tempat bernaung, sehingga Anda tidak tahu harus tinggal di mana? Saya pernah.

Bayangkan jika Anda adalah seorang mahasiswa perantauan. Anda baru saja kembali ke tanah rantau setelah sebelumnya menyempatkan pulang ke kampung halaman. Anda menempuh perjalanan dari kampung halaman sampai ke tanah rantau dengan jarak yang tidak dekat dan menghabiskan energi yang tidak sedikit. Anda tahu bahwa Anda butuh istirahat begitu tiba di kost Anda. Dan ketika Anda tiba di depan gerbang kost Anda, barang-barang Anda ternyata sudah dikeluarkan seluruhnya, sudah terbungkus rapi dengan kardus lengkap diikat tali. Pakaian-pakaian Anda, buku-buku Anda, semuanya, sudah dikeluarkan begitu saja dari kamar kost Anda. Di titik itulah Anda sadar, tidak ada tempat bernaung untuk Anda hari itu. Anda harus mencari tempat tinggal lain hari itu juga jika tidak ingin tidur menggelandang.

Nah, itu saya di awal tahun kedua perkuliahan saya, baru naik ke semester 3. Penyebabnya sepele, karena sebuah kesalahpahaman antara anak kost dan induk semangnya. Tidak perlulah saya jelaskan kesalahpahaman tentang apa, bukan masalah aneh-aneh kok.

Saya tiba di Surabaya tepat ketika matahari mulai meninggi. Panasnya matahari yang menyengat membuat saya sadar saya harus segera mencari tempat tinggal baru saat itu juga. Kost-kostan di sekitar kampus sudah hampir semuanya penuh karena memang masuk tahun ajaran baru, dan di Surabaya ini saya tidak memiliki saudara atau keluarga dekat. Ke mana saya harus mencari tempat tinggal baru?

Beruntung, saya punya mereka.

rmhBeruntung, ada rumah.

***

Rumah, R-u-m-a-h. Begitu orang-orang, termasuk saya, biasa menyebutnya. Kadang juga biasa disebut DWP. Disebut rumah mungkin karena memang tempat itu adalah rumah tinggal milik pribadi, bukan kontrakan. Disebut DWP karena kami suka ajeb-ajeb party ala-ala di sana, dan kebetulan yang punya rumah inisialnya DWP.

Penghuni aslinya cuma tiga orang, tapi penghuni tak resminya entah sudah berapa, karena tidak jarang rumah menjadi tempat tinggal bagi banyak orang. Seperti saya yang sempat menumpang tiga bulan, atau ada teman saya yang lain yang sempat menumpang beberapa minggu, dan ada yang sejak setelah sidang hingga setelah wisuda menumpang tinggal di sana. Menumpang tinggal di sini adalah menumpang tinggal dalam arti sebenarnya. Bukan hanya sekadar menginap semalam atau dua malam, tapi benar-benar tinggal dengan seluruh barang-barangnya juga disimpan di sana. Itu orang-orang yang sempat menumpang tinggal, yang sekadar menginap? Jangan tanya berapa. Rumah pribadi, tapi serasa milik bersama saking baiknya para penghuninya.

DWP

Sebut saja namanya DWP. Tapi kalau Anda beruntung ia bisa dipanggil Widdy. Pemilik rumah, anak juragan Petrokimia Gresik. Wajahnya sangar tapi berhati lembut. Hanya kamarnya yang memiliki AC sehingga paling sering jadi tempat tidur bagi mereka-mereka yang numpang nginap. Orangnya baik parah, rumahnya aja dibuat jadi public. Orang Jawa tulen, tapi lidahnya lentur banget ngomong “lo-gue”. Pernah ketika masih maba saya bertanya,

“Wid, kok plat motor lu W?”

“Emang kenapa?”

“Motor om lu ya?”

“Lah ini motor gua. Gua kan dari Gresik.”

“Lah lu orang Gresik? Gua kira orang Jakarta…”

Makasih ya Wid udah terlalu sering berbagi kasur, berbagi sabun, berbagi shampoo sama gua. Semoga nanti-nanti calon istri lu ga cemburu.

Sandy

Salah satu teman paling pertama saya di perantauan. Kami pertama kali bertemu di sebaik-baik tempat dan sebaik-baik waktu: Di masjid kampus, menunggu makanan gratis untuk berbuka puasa. Sungguh barokah sekali.

Pembawaannya (seakan-akan) pendiam, santai, cool gitu. Kalau Anda sedang bersama dia, seakan-akan angin sepoi-sepoi pun kalah adem. Kalau Widdy tadi orangnya baik parah, Sandy ini orangnya baik banget. Sampai-sampai pengagum (yang tidak lagi) rahasianya go-public menyatakan bahwa Sandy adalah “manusia suci baik hati”. Memang luar biasa sekali Sandy ini.

Quote yang akan selalu saya ingat dari Sandy adalah, “Hidup lu mah ga selow Wid!

Dipta

Orang yang hampir setiap malam di semester 1 mengajak saya untuk main ke kosannya hanya untuk membantai saya dalam permainan PES atau FIFA. Kalau Widdy orangnya baik baik parah, Sandy itu baik banget, kalau Dipta ini terlalu baik. Saking baiknya sampai-sampai banyak wanita yang jadi korban karena kebaikan hatinya. Beneran ini. Orangnya suka so sweet gitu. Tapi tenang ladies, Dipta ini orangnya bertanggung jawab kok. Terbukti pernah jadi ketua Osis di SMA-nya, sekretaris di ekskul Taekwondo, wakil ketua remaja masjid di daerah tempat tinggalnya, hingga wakil ketua ikatan Osis se-Bekasi, terakhir dia mendirikan startup sampai tembus ke Start Surabaya dan menghidupkan sebuah gerakan sosial non-profit di kampusnya. Kalau semua pengalamannya dilampirkan di CV, HR perusahaan mana yang tega menolak.

Sayangnya, cewek ternyata bisa jauh lebih jahat daripada HR perusahaan multinasional.

***

Nah, itu tiga penghuni asli rumah. Untuk orang-orang lain yang sering meramaikan rumah, mungkin yang bisa saya sebut hanya mereka yang ada di foto itu (sengaja nggak nampilin foto mereka satu per satu, ribet hehe).

Ivan

Seseorang yang ketika saya pertama kali berkenalan dengannya, saya langsung diajak main ke kamar kosannya begitu saja. Agak ngeri sih sebenarnya, takutnya dia om-om predator remaja sesama jenis. Untungnya enggak (ketahuan). Awal kenalannya di masjid. Barokah banget kan?. Awalnya saya sempat ragu dia anak informatika juga atau bukan. Dengan muka tebal pantang malu, saya beranikan diri aja sok kenal.

“Anak TC 2012 juga ya?”

Satu pertanyaan singkat itu rupanya berlanjut ke obrolan panjang yang berakhir beberapa jam kemudian. Dan saya pulang dari kosannya dengan membawa oleh-oleh berupa beberapa kaset film. Film apa? Gausah diceritain deh, aib.

Dia orang yang unik, seorang pemikir filosofis. Sering kalau ngobrol sama dia bisa dalem banget pemaknaannya.

Faris

Teman sekontrakan selama dua tahun. Orangnya idealis, jadi mungkin bagi sebagian orang cara berpikirnya agak susah dimengerti. Contohnya tentang gaya berpakaian di kampus. Sangat mudah mengenali Faris di kampus. Cari aja orang yang pake baju batik lengan pendek yang dimasukin ke celana kain hitam. Dan karena idealisme yang ia junjung, saya menghormatinya di sini dengan cara menyensor Faris. Faris ada di foto, tapi karena auratnya sedang terlihat jadi ya saya sensor pake emoticon.

Orangnya baik, solider, kecuali berkaitan dengan kegiatan-kegiatan himpunan. Prinsip boikoternya ia pegang erat selalu, sama seperti idealisme-idealismenya yang lain yang bagi sebagian orang tidak akan pernah mereka mengerti.

Idang

Temannya Widdy dari Gresik. Teman sesama penyuka anime dan drama-drama Jepang. Orangnya kalau kata yang lain sih sejenis Sandy, dan saya setuju, haha. Kayaknya dia orang yang paling sering tinggal di rumah, padahal udah punya kosan. Mungkin dia kesepian. Sedih sih, padahal mantan pacarnya cewek hits di kampus, tapi dia memilih jalan hidup ngotaku dan ngegame. Gapapa, saya juga gitu kok. Bedanya, saya ga punya mantan pacar.

Terima kasih sudah mengisi hidup saya di Surabaya, rumah. Terima kasih, Himahot.

Draft yang udah lama banget ngendap
9/2/2017

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s