Pejuang Terbaikmu

Aku kira aku adalah orang yang paling serius mengejarmu. Selama ini, aku menganggap bahwa orang lain yang mengejarmu adalah orang-orang yang hanya ingin mempermainkanmu, bukan memperjuangkanmu. Dan aku menganggap hanya akulah yang sedang -dan berhak- memperjuangkanmu.

Persetan mereka dengan puluhan pesan singkat setiap malam. Persetan mereka dengan segala gombal rayu di setiap kesempatan. Mereka hanya sedang berusaha mempermainkanmu, mengaburkan pandanganmu dari pejuangmu yang sesungguhnya: Aku.

Jemawa. Aku sudah merasa perjuangan itu cukup ketika aku selalu merapal namamu di dalam doaku, di sebaik-baik waktu, ketika hujan misalnya. Sempurna. Aku terjebak di dalam kompleksitasku sendiri. Kombinasi semangat religiusitas, melankolisme hujan, dan obsesi posesif yang sedemikian kompulsif. Aku merangkai-rangkai postulatku sendiri: aku pejuang terbaikmu. Postulat yang tanpa teori, postulat yang tanpa teliti, apalagi bukti. Bukankah postulat adalah sebuah aksioma yang tak perlu bukti?

Hingga akhirnya postulatku runtuh, hancur berkeping-keping dilindas institusi megah bernama pernikahan. Ketika seorang laki-laki menunjukkan kesungguhannya berjuang dengan melafalkan ikrar suci, dan sang perempuan menunjukkan kerelaannya diperjuangkan dengan bersanding di pelaminan bersama si laki-laki.

Sebenarnya, postulatku akan terbukti bernilai benar, jika laki-laki itu aku, dan perempuan itu kamu. Kondisional DAN, bukan ATAU. AND, bukan OR. Tidak menerima nilai kebenaran selain kedua variabel harus bernilai benar.

Dan sekarang aku berdiri di sini, di pernikahanmu, dengan orang lain. Meruntuhkan segala teori tentang aku si pejuang terbaikmu. Mungkin aku lupa, adanya probabilitas pejuang lain yang luput kuperhitungkan. Pejuang yang lebih giat shalat malamnya, yang lebih kuat lisannya bermunajat, yang lebih mapan dan mandiri finansial, dan pasti, yang lebih baik dalam memperbaiki diri. Kamu memang pantas mendapat pejuang yang terbaik.

Sekarang, siapa yang harus bertanggung jawab? Kamu yang buat rindu, aku yang menanggung deritanya. Siapa yang bisa kusalahkan ketika aku gundah di saat hujan? Siapa lagi nama yang harus kurapal ketika hujan?

Tapi tidak apa-apa. Dengan demikian, aku bisa berpostulat kembali. Postulat yang tidak perlu bukti, dan kuyakin tidak ada yang ingin membuktikannya. Bahwa di balik sebuah institusi pernikahan yang megah, terdapat lusinan hati yang patah. Lusinan hati yang pernah berusaha untuk menjadi pejuang terbaik, tapi kemudian terhempas jatuh dan tercabik.

___________________

*Bukan cerita pribadi, hanya coretan yang terinspirasi dari sebuah chat tengah malam, haha.

BSD yang katanya damai, tapi hatiku enggak *halah*
6/2/2017 

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

2 thoughts on “Pejuang Terbaikmu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s