Kangen Kamu, Detty

Jika kamu ingin tahu apa dan siapa itu Detty bagi saya, silakan merujuk ke tautan berikut ini.

29 September 2016, sehari sebelum saya akhirnya berangkat meninggalkan Surabaya, saya sempatkan diri saya untuk mengelus kepala mungilnya Detty, si semlohai doyan hamil -yang karena doyan hamilnya itu ia akhirnya dipanggil dengan sebutan jablay- di kosan saya. Ah, sedih rasanya meninggalkan dia. Masih teringat jelas malam pertama saya berhubungan dengan Detty. Berbekal tempe di tangan, saya menggoda Detty untuk masuk ke kamar saya dan bisa bermain dengan saya. Umpan saya berhasil. Belaian pertama saya terbukti membuat dia terangsang. Belaian demi belaian pun saya daratkan di kepalanya, punggungnya, hingga ke sekujur tubuhnya, sampai akhirnya ia puas dan meringkuk di kamar saya tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Ah, Detty….

Oke, cukup. Takut ada pembaca yang salah tangkap jika deskripsi paragraf di atas masih saya teruskan.

Detty adalah kucing kosan saya. Setahun saya ngekos di sana, dia dua kali hamil dan melahirkan. Total anaknya yang saya tahu lima. Diantara lima anaknya itu, tiga anak terakhir pun diberi nama. Tau namanya siapa? Bobby, Olong, dan Zahra. Jangan tanya saya kenapa nama mereka bisa sedemikian rupa.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya di post ini, Detty adalah kucing yang manis-manis-ngeselin, persis gebetan cakep yang sukanya gantungin perasaan. Awal saya ngekos, masih seringlah main-main sama Detty. Detty menjadi pelampiasan saya karena sejak kecil saya tidak punya hewan piaraan. Jadi bagi saya, Detty-lah hewan pertama yang saya rasa saya miliki seutuhnya. Saya kasih makan, saya rawat, dan saya mainin sesuka saya.

Selama saya ngekos di sana, hanya awal-awal saja interaksi saya dengan Detty begitu intim. Makin lama interaksi saya dengan Detty makin berkurang. Kesibukan saya selama mengerjakan TA membuat saya jarang pulang ke kosan. Tau-tau begitu saya pulang, udah nangkring aja tuh anak-anaknya Detty tanpa saya tahu siapa bapaknya. Dua kali Detty melahirkan anak-anaknya, dan dua kali pula saya gagal mendampingi Detty menjalani proses melahirkannya.

Anak-anak Detty lucu-lucu, tapi ya tetep aja ngeselin. Susah ditebak maunya apa. Serba salah. Saya ajak main ternyata lagi ngantuk, saya lagi ngantuk eh malah minta main. Saya kasih secuil makan sama sekali tidak digubris, giliran makanan saya nongol eh malah merengek minta. Dear anak-anaknya Detty, kita tidak bisa menjalani hubungan yang seperti ini. Kita butuh kesepahaman dan saling pengertian di antara kita. Coba tengoklah ibu kalian. Betapa ia paham apa yang saya rasakan dan saya pun merasa paham apa yang ia pikirkan. Bahkan tanpa harus berkomunikasi, kami sudah saling mengerti isi hati.

Begitu mudahnya untuk mengerti isi hati ibu kalian, namun tidak untuk kalian. Yang bisa dilakukan hanya menebak, menerka, dan bertanya-tanya. Terbuat dari apa hati kalian, Bobby, Olong, Zahra? Saya kira saya memiliki kalian, tapi ternyata tidak. Rasa memiliki itu hanya ada pada diri saya. Bukan Bobby, bukan Olong, apalagi Zahra.

Oh, Detty. Bagaimanapun juga, kamu masih tetap menjadi piaraanku nomor satu.

Ketika maghrib menyapa Serpong
3/2/2017

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s