Tentang 2016

Saya mengawali 2016 di tempat dan posisi yang tidak pernah saya duga, dan saya mengakhiri 2016 di tempat dan posisi yang tidak pernah saya duga pula. 1 Januari 2016 dini hari, saya berdiri di Plaza Baru lantai 1 Teknik Informatika ITS di hadapan seluruh mahasiswa TC yang merayakan tahun baru. Tempat dan posisi yang belum pernah saya duga atau saya rencanakan sebelumnya. Dan hari ini, 30 Desember 2016, saat tulisan ini dibuat, saya sedang duduk di lantai 3 sebuah gedung perkantoran di Serpong, Tangerang Selatan. Sebuah tempat yang bahkan dalam pikiran saya sekali pun belum pernah terlintas sebelumnya.

Ada banyak orang yang hadir dalam hidup saya selama 2016, tapi tidak sedikit juga orang yang pada akhirnya harus pergi meninggalkan saya. Entah karena jarak yang memisahkan, atau komunikasi yang sudah menjarang, bahkan ada yang karena maut menjemput duluan.

Ada banyak tindakan nekat dan bodoh yang saya lakukan di 2016, yang anehnya, membuat saya harus berterima kasih. Terima kasih kepada mereka-mereka yang memberi dorongan kepada saya untuk melakukannya, yang meyakinkan saya -meski apa yang diyakinkan ini tidak sepenuhnya benar- bahwa dalam membuat kenangan yang hebat dibutuhkan perjuangan yang hebat. Dan saya meminta maaf kepada anda-anda semua yang mungkin terusik ketenangan hidupnya karena ulah bodoh dan nekat saya, yang justru malah saya bahasakan sebagai sebuah perjuangan. Semoga kesabaran anda berbuah indah.

Tentang perjuangan, 2016 merupakan tahun yang penuh perjuangan. Dua bulan desperate dalam mengerjakan TA, tiga bulan berjuang mencari kerja, dan setahun penuh memperjuangkan dia *halah*, membuat 2016 menjadi tahun yang padat dengan darah, keringat, dan air mata. Saya masih ingat ketika saya menelepon ibu saya di pertengahan bulan Juni, saya membuat Hujan Bulan Juni untuk diri saya sendiri. Dengan setitik air di pelupuk mata, dan segudang beban stress TA di kepala, saya meminta maaf kepada ibu saya.

“Maaf kalau mungkin Egin nggak bisa selesai semester ini, Bu. Maaf kalau Egin mengecewakan Ibu dan Bapak.”

Dan dengan pertolongan Allah, dengan segala rahmat dan kasih sayang-Nya, saya diizinkan untuk tidak jadi tidak selesai semester ini. Ah, air di pelupuk mata saya justru berpindah ke mata kedua orang tua saya. Bedanya, ia mengalir bukan karena stress TA, tetapi karena bahagia saat wisuda. Segala puji bagi Allah, yang dengan segala nikmat-Nya, segala kebaikan menjadi sempurna.

Terakhir, pelajaran paling penting yang saya dapat di 2016.

Ramadhan 1437 H

Maaf kalau mungkin Egin nggak bisa selesai semester ini, Bu. Maaf kalau Egin mengecewakan Ibu dan Bapak,” begitu yang saya katakan lewat panggilan telepon sore itu. Serak. Bukan karena suara saya yang habis, lebih karena harapan yang kian menipis.

Hening sepersekian detik.

Kamu udah tilawah hari ini?

Tilawah? Belum, Bu,” saya menjawabnya patah-patah.

Ibu menarik napasnya dalam.

Gin, gelar sarjana itu hanya gelar di dunia. Tapi gelar orang bertakwa?

Hanya suara kipas angin yang berani mengusik.

Ibu rela, ibu nggak apa-apa kalau akhirnya kamu nggak jadi lulus semester ini. Tapi ibu nggak rela kalau kamu justru menyia-nyiakan Ramadhan ini. Wisuda itu, semester depan pun masih bisa, insya Allah. Ramadhan? Siapa yang jamin kalau bisa ketemu lagi tahun depan?

Berpuasa itu tujuan akhirnya apa? La’allakum tattaquun, agar kamu menjadi orang yang bertwakwa. Kalau kamu sia-siain Ramadhan ini, apa bisa jadi orang yang bertakwa?

Dan ingat janji Allah untuk orang-orang yang bertakwa, Gin. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Ingat Gin, ada Allah. Dia yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kalau memang Allah yang menolong kamu, nggak ada yang perlu kamu khawatirkan. Tinggal kamu sendiri, bagaimana supaya Allah menolong kamu. Tawakal sama Allah, Gin.

Air yang tertahan di pelupuk mata itu akhirnya jatuh. Setitik. Setetes. Berderai-derai.

Segala puji bagi Allah, yang dengan segala nikmat-Nya, segala kebaikan menjadi sempurna.

Tangerang Selatan, sebelum adzan maghrib berkumandang
30 Desember 2016

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s