Menariknya Laqab Salafi

Berbeda dengan bertahun-tahun ke belakang, sekarang tidak sedikit orang yang tidak malu lagi mengaku bahwa dirinya adalah seorang salafi [1], tidak ragu untuk menisbatkan diri mereka pada dakwah salaf yang mulia ini. Meski nyatanya, bisa jadi tindak-tanduk kesehariannya tidak mencerminkan akhlak dan pemahaman salafi.

Sebegitu menariknya laqab (sebutan) salafi, sampai-sampai mereka yang menggemboskan dakwah salaf ini tetap juga ingin diakui salafi.

Saking inginnya diakui, istilah salafi pun dimodifikasi sedemikian rupa sehingga ‘cocok’ dengan kemauannya. Adalah yang menyebut mereka salafi sejati, yang mengaku kokoh tak tergoyahkan. Ada lagi yang menyebut dirinya salafi haraki, yang mungkin merasa salafi yang lain adalah salaf(i) atau salaf imitasi . Terakhir, ada yang justru bangga dengan menggunakan istilah salafi freethinker, yang merasa pikirannya paling terbuka dan menyebut salafi yang lain kurang piknik. Allahu Akbar, dikira perkara manhaj itu mainan sampai ada pikniknya segala?

Sebegitu ‘seksi’-nya kah laqab salafi, sampai-sampai mereka yang diam-diam menusuk dakwah salaf ini justru ingin juga diakui sebagai salafi, meski dengan embel-embel yang justru tidak ada salafnya?

Duhai, kalau belajar hanya ingin mendapat gelaran, alangkah ruginya. Jika hanya disibukkan dengan mengejar laqab salafi, kapan mau belajar manhaj salafnya? Terlalu sibuk telunjuknya menuding, sehingga lupa ngaji kitab yang justru paling penting. Toh, tidak perlu pengakuan orang lain untuk menjadi pribadi yang meniti cara beragama para salaf. Justru, mereka yang mengaku-ngaku salafi tak sedikit yang jauh dari manhaj salaf, baik akidahnya hingga akhlak kesehariannya.

Udahan ah berantemnya, udahan yuk saling tunjuknya. Tuh, kajiannya udah mau mulai loh. Ambil buku dan pulpenmu, ayo jangan gengsi buat menuntut ilmu.

Makanya kalau belajar jangan pongah duluan. Belajarlah untuk menghilangkan kebodohan dan diamalkan, bukan untuk jadi ajang bangga-banggaan. Ingat, yaltamisu! [2].

Semoga Allah menuntun kita untuk senantiasa berjalan di atas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Bogor, ba’da ashar.

___________

[1] Salafi secara singkat bisa diartikan sebagai mereka yang beragama sesuai dengan pemahaman tiga generasi terbaik yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Selengkapnya bisa disimak di https://rumaysho.com/3105-mengenal-salaf-dan-salafi.html

[2] Diambil dari potongan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu (yaltamisu fiihi ‘ilman), Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim).

Makna kata ‘yaltamisu‘ memiliki suatu keistimewaan. Silakan simak di rekaman kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri yang berjudul Nasihat Ulama bagi Para Penuntut Ilmu. Ga lama kok kajiannya, ga nyampe 40 menit. Jauh lebih singkat dari satu episode drama korea, kan? 🙂

Untuk link kajian, silakan klik di sini

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s