Sampai Kapan Mau Dipendam Dalam Hati?

Fulan is in a relationship with Fulanah

Begitulah yang tertera di depan gua saat ngebuka Facebook hari itu. Relationship status yang baru aja di-update sama temen gua itu dalam waktu singkat jadi hits di timeline gua dengan puluhan like dan belasan comment.

Ciee, selamat yaa

Langgeng ya sama Fulanah

#lapar #makanmakan #traktiran

Begitulah beberapa komentar yang gua baca di sana. Semuanya terlihat senang dan bahagia untuk kedua insan yang melepas status single-nya. Meski mungkin di antara mereka ada yang menyimpan cemburu di hati, tapi ah udahlah. Nggak mungkin kan sampai ada yang tega merusak euforia yang ada?

Sementara gua sendiri? Yah, cuma nyengir kuda. Pengen sih ikutan komentar yang beda dari yang lain,

#bukanmahram #belumhalal

Ketika jari gua udah siap pencet tombol Enter, ada rasa nggak enak datang menyerang. Dari nyengir kuda jadi nyengir cuka, gua tersenyum kecut.

“Ah, apa yang udah terjadi mau diapalagi. Ga bisa lagi berubah. Toh, yang penting udah diingkari dalam hati.”

Dengan cepat gua tekan tombol backspace, menghapus apa yang seharusnya disampaikan.

**********

Biasanya kalau abis kuliah gua usahain buat selalu mampir ke musholla. Sayangnya usaha gua itu sering gagal dan akhirnya malah lurus terus ke kantin, haha. Nah, hari itu juga sama. Habis kelas gua langsung cabut ke kantin, entah untuk apa waktu itu. Tapi yang jelas bukan buat ngedeketin ibu kantin, takut ada dosen yang meradang.

Di sana ada temen gua yang lagi minum dengan asiknya. Sayang, pemandangan itu gak enak buat gua liat. Tangan yang harusnya dia pakai cebok malah dipake buat minum. Sejurus kemudian mulut gua ini ceplas-ceplos dengan asalnya,

“Pake tangan manis dong minumnya,”

Gak ada reaksi. Dia masih minum, glek glek glek.

“Kalo minum pake tangan kananlah,”

Sama, cuma suara tegukan air yang gua terima. Dan akhirnya ketika tangan gua nyolek bahunya, dia langsung nengok ke gua. Dengan mata yang terkesan nggak suka sama tindakan gua tadi dia ngejawab,

“Gin, kok lu sekarang jadi fanatik sih?”

Gua terdiam. Membatin, “Sejak kapan nyuruh pakai tangan kanan disebut fanatik?

**********

Pernah nggak sih memperjuangkan sesuatu? Entah itu memperjuangkan apa pun. Tapi yang jelas, apapun yang kita perjuangkan itu pasti apa yang kita anggap benar, pasti apa yang kita nilai perlu kita perjuangkan. Contoh dari sejarah deh. Jenderal Soedirman yang sebelumnya cuma jadi guru Muhammadiyah angkat senjata sambil masuk hutan, bahkan sampai ditandu, itu buat memperjuangkan kebenaran yang dianut tiap bangsa: merdeka dari penjajahan bangsa lain.

Ya, siapapun yang punya kebenaran yang dipegangnya, tentu wajar kalau ia perjuangkan. Termasuk gua, termasuk kita.

Gua emang bukan pegiat kampus kalau kata orang, bukan juga aktivis dakwah yang hidupnya penuh agenda kajian dan liqa’ tiap harinya, apalagi alim ulama yang hapal Qur’an dan Hadits di luar kepala. Tapi selama yang gua dapet dari 12,5 tahun belajar agama di lembaga formal dari SD, SMP, SMA, sampai 1 semester matkul agama di tempat gua kuliah sekarang, ada standar baku nilai kebenaran bagi siapapun yang mengaku dirinya muslim. Ada aturan-aturan yang harus dipegang supaya bisa tau, “Ini loh yang benar, ini loh yang salah”. Kalau bahasa kerennya sih disebut sebagai syari’at.

Duh, gin. Hari gini ngomongin syari’at? Mau jadi ustadz?

Haha, status gua aja masih STMJ (Shalat Terus Maksiat Jalan), syukur-syukur kalau shalatnya di masjid. Tapi yang pengen gua sampein di sini, masa’ iya belajar agama 12 tahun nggak ada yang nyangkut? Minimal tau kan mana yang bener mana yang salah? Minimal ngerti lah. “Ini loh yang dibolehin, ini loh yang gak dibolehin”. Sayangnya, makin lama nilai mana-benar-mana-salah itu malah menguap gitu aja, hilang.

Dan parahnya, udah hampir gak ada lagi yang mengingatkan kita tentang hal itu. Maksiat depan mata tapi bisanya cuma diam aja, orang zina depan mata bukannya dinasehatin malah dikasih selamat. Iya, kita udah kebiasa sama kesalahan itu sendiri, tanpa kita sadari kalau kita larut di dalamnya. Dan seandainya ada orang yang mau ngelurusin, masih syukur kalau cuma disebut, “Alah, sok alim lu“, “Dasar fanatik, radikal“.

Karena alasan itulah kita sering ogah untuk meluruskan apa yang seharusnya diluruskan. Kita tau bahwa hal itu salah, tapi kita hanya bisa ikut dalam lingkaran setan itu, sulit untuk keluar dari jeratan-jeratannya. Padahal, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah merubahnya dengan tangannya, bila tidak mampu ubahlah dengan lisannya, bila tidak mampu ubahlah (ingkari) dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim)

Dah kelamaan berkubang maksiat, sampai hati nggak sanggup lagi untuk mengingkari. Bukannya diingkari, malah ikut maksiat sana-sini. Duh.

Untuk melakukan kebenaran, kita sering membuat alasan sendiri, membuat-buat rasa takut yang sebenarnya tidak perlu dan memang tak pernah ada yang ditakutkan sama sekali. Dan ini yang berbahaya, karena kita membiarkan kerusakan terjadi tanpa perlawanan apa pun. Tapi gua gak bilang harus ikut FPI ya supaya bisa ngelawan, haha [1].

The world suffers a lot. Not because of the violence of bad people, but because the silence of good people, begitu yang konon dikatakan oleh Napoleon Bonaparte. Dunia ini menderita bukan karena kejahatan orang jahat, tapi karena diamnya orang baik. Mau sampai kapan hati ini meronta karena maksiat? Mau sampai kapan iman kita ini lemah karena yang kita lakukan hanya diam dalam hati?

Yah, kita bukan orang baik 100 persen, tapi apa nggak mau jadi orang baik bareng? Nggak mau masuk surga bareng? Nggak mau saling menyelamatkan satu sama lain? Pantes kalau di Surat Al ‘Ashr ada 4 syarat jadi manusia yang beruntung: Beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Karena emang kita ini bukan manusia sempurna. Seburuk-buruknya kita, pasti ada aja sisi baiknya. Nah, sekarang tinggal kita yang putuskan, mau nggak sisi baik itu kita bagi bersama? Bukannya kita ini ada untuk bisa saling mengisi satu sama lain? Untuk saling meluruskan satu sama lain?

Dan hanya kepada Allah kami meminta pertolongan.

Surabaya, 26/10/2014 M – 2 Muharram 1436 H.
Sepertiga malam terakhir @Lab NCC

___________________________________________

[1] Niat FPI itu bagus kalau memang untuk mengubah kemungkaran dengan tangan, tapi caranya tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena yang berhak mengubah kemungkaran dengan tangan adalah pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam hal itu, bukan haknya some random guy yang pake jubah sambil teriak sana-sini. Simak pembahasan tentang mengubah kemungkaran dengan tangan di link berikut:

http://almanhaj.or.id/content/1350/slash/0/hukum-merubah-kemungkaran-dengan-tangan-tugas-siapa/

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s