Menunggu Wisuda: Ranu Kumbolo

img_20160821_061843_burst1

Bisa dibilang, ini adalah jalan-jalan terakhir gua sebagai mahasiswa sebelum akhirnya resmi mendapatkan gelar sarjana. Sedikit menyimpang memang, ketika harusnya waktu antara lulus sidang hingga wisuda digunakan untuk mencari kerja, waktu itu malah gua pakai untuk mencari hiburan atau jalan-jalan dengan alasan klasik: Kapan lagi bisa kayak gini. Maksud gua, menunggu wisuda adalah momen ketika lu masih berstatus mahasiswa, tapi udah nggak ada kuliah atau kesibukan lain, cuma tinggal nunggu waktu untuk lulus. Nah, momen-momen itulah yang menurut gua patut untuk dimanfaatkan, karena mungkin nggak bakal ada lagi kesempatan lu bisa main atau kumpul-kumpul sama temen-temen kuliah lu. Ke depannya, lu dan teman-teman lu akan menjemput nasibnya masing-masing, bertebaran di bumi ini dengan takdirnya sendiri-sendiri. Jadi ya, kapan lagi?

Sejujurnya, sebelum diajak berangkat ke Ranu Kumbolo ini gua sempat galau. Inginnya ada yang ngajak jalan, tapi ditunggu berhari-hari tak kunjung ada yang mengajak. Sementara timeline media sosial gua udah bertebaran foto-foto teman-teman gua yang udah jalan-jalan duluan, gua masih aja berkeliaran di kampus numpang internetan atau mendekam di kosan menghabiskan stok tontonan. Sedih memang.

Kalau kalian ingin tau seberapa sedih gua waktu itu, mungkin bisa terwakili oleh gambar ini.

14859382_1140467895990332_582827344_o-copyItu bukan akun Instagram gua kok, tapi sangat mewakili apa yang ada di hati. Sedih banget ya kayaknya? Ngode biar diajak jalan-jalan aja perlu sampai nge-post di Instagram.

Sebenarnya ada orang-orang yang gua harap bisa ngajak jalan-jalan. Masih ingat PAMOR yang waktu itu ngajak jalan-jalan ke Gunung Butak? Nah merekalah yang gua harapkan bisa ngajak jalan-jalan. Namun apa daya, personil-personil tangguhnya pada punya kesibukan sendiri-sendiri. Said waktu itu entah di mana, Rohmat sudah pulang kampung ke Bandung, dan Satrio pergi ke Pare untuk mempertajam bahasa Inggrisnya. Pupus sudah harapan diajak jalan-jalan sama mereka. Habis sudah angan-angan untuk naik gunung sebelum wisuda. Padahal sebelum Satrio pergi ke Pare, sempat-sempatnya dia berpesan yang kurang lebih intinya,

…Pokoknya lu harus nyoba ke Semeru, Gin. Rugi banget kalau lu belum pernah pegi ke sana…

Ah, mimpi.

*****

Tidak ada yang tahu persis bagaimana mekanisme cara doa bekerja. Apakah setiap doa perlu dilangitkan dengan cara mengangkat kedua tangan dan berucap lirih menghadap kiblat? Tidak. Bahkan memanggil nama seseorang pun bisa dihitung sebagai doa. Sesederhana itu ucapan yang terlintas di lisan kemudian bisa terangkat ke langit, melesat secepat kilat, dan kemudian mengubah takdir seseorang atau bahkan suatu kaum.

Nah, sama seperti memanggil nama yang mungkin ringan tapi dapat terhitung sebagai doa, sekadar menulis caption di IG pun ternyata bisa saja terhitung menjadi doa yang makbul.

Sore itu di lab NCC, Yunan Helmi Mahendra, si Ketua Umum KMI (yang) Santun Bersahaja, datang menjadi jawaban atas doa-doa gua yang kurang piknik ini. Gua yang lagi nonton anime di PC lab sempat terhenyak sepersekian detik demi mendengar kalimat itu,

Gin, mau ikut ke Ranu Kumbolo sama anak-anak nggak?

Sungguh, tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan Allah, sekalipun itu bisik-bisik kegelisahan di dalam hati hamba-hamba-Nya

*****

Singkat cerita, jadilah gua gabung ke grup jalan-jalan ke Ranu Kumbolo yang entah kenapa grup itu dinamakan ‘Kevin’, ada ceritanya sebenarnya, tapi tidak untuk konsumsi publik. Kevin squad ini dipimpin sama salah satu serigala PAMOR, Alief Yoga Priyanto alias Alip. Mas Alip ini luar biasa telatennya. Rombongan ini banyak noob-nya (termasuk gua), dan ya peralatannya pun seadanya jadi banyak yang sewa. Belum lagi syarat-syarat untuk naik Gunung Semeru itu rada ribet, enggak kayak Butak yang kalau mau naik tinggal naik aja. Beruntung, Mas Alip ini udah bolak-balik naik turun Semeru jadi udah hapal lah ya.

Perjalanan dimulai 21 Agustus 2016 dini hari. Biasalah, Surabaya-Malang naik bus. Terus naik mobil lagi ke…(aduh lupa namanya)… ya intinya sampai ke kaki Semeru lah. Habis itu kita numpang istirahat di rumah warga. Di rumah warga ini semua syarat dicek supaya bisa diizinkan naik Semeru. Nggak ada yang ajaib di sininya.

Ajaibnya adalah ketika untuk menuju Ranu Pane, kita naik Trooper yang harusnya untuk 12 orang malah dinaiki 15 orang. Melanggar aturan memang, tapi yasudah masa’ disuruh balik ke Surabaya. Pas naiknya gua udah ngerasa kayak di film 5 cm itu loh, yang si Herjunot Ali mengangguk takzim ke penduduk yang dilewati, sambil menikmati kibasan rambut Raline Shah atau Pevita Pearce. Sayangnya hal itu mustahil. Pertama karena nggak mungkin Raline Shah atau Pevita Pearce mau headbang ngibasin rambut depan gua, kedua karena mereka enak naiknya cuma berenam, bisa santai di troopernya. Lah ini berlima belas bos, udah nggak bisa ngangguk takzim ala-ala ke penduduk.

Sampai di basecamp, nanti bakal ada briefing dulu sebelum naik. Percayalah, seluruh pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup atau PLH yang mungkin kalian dapatkan di bangku sekolah selama bertahun-tahun, langsung terangkum semuanya dalam satu briefing itu. Tentang lingkungan, tentang kebajikan alam, tentang bagaimana bersikap di alam liar, semuanya. Oiya, di sini juga tas kalian bakal diraba-raba gitu, dicek pada punya sleeping bag apa enggak. Tangan mereka terlatih membuka, merogoh, dan meraba-raba. Hebat ya. Jadi enggak bisa bohong kalau emang nggak punya sleeping bag.

Habis briefing, langsunglah berangkat. Untuk menuju Ranu Kumbolo, ada empat pos yang harus dilewati. Perjalanannya…ya gitu. Gimana sih kalo naik gunung, ya jalannya nanjak terus. Oh iya, selama perjalanan kalian akan menemukan keajaiban kedua, di setiap pos ada penjual makanan sama minuman. Makanannya ya cuma semangka sama gorengan gitu, tapi lumayanlah ya, kagum gua sama penjual-penjual perkasa itu.

Lumayan sih mendakinya, rombongan kami kurang lebih berjalan lima jam. Begitu nyampe di Ranu Kumbolo, sigaplah rombongan mendirikan tenda, siap-siap masak, shalat, de el el.

Nggak banyak yang bisa diceritakan di sini, karena memang sulit kalau harus diungkap dengan kata-kata. Diungkap dengan kata-kata aja sulit, gimana kalau disuruh nulis? Lebih sulit lagi. Harus dicoba sendiri biar tau rasanya gimana, hehe 😀

img20160822110954

Intinya, lagi-lagi saya mengutip kata-kata Satrio -yang tiba-tiba ikut H-1 jam sebelum berangkat-,

Bersyukur banget gua akhirnya bisa ke sini (Ranu Kumbolo) lagi. Terima kasih, Yaa Allah.

Setelah menginap semalam, besoknya langsung beres-beres siap-siap mau pulang. Mau enggak mau harus cepat-cepat pulang. Satrio (harusnya) balik lagi ke Pare, dan gua langsung ada tes di Jakarta. Mantab pisan.

Terakhir, terima kasih Kevin squad aka Jelly’s Potter 🙂

-Alief Yoga Priyanto
-Ardhiansyah Metana Putra
-Ardhya Perdana Putra
-Binoe Putra
-Dwi Al Aji Suseno
-Fadrian Merdianto
-Moch. Satrio Ramadhana Y
-Mukti Utami
-Fitra Anindya
-Ratri Berliana
-Regin Iqbal Mareza
-Risky Dwi S
-Rizkifika Asanul In’am
-Satriya Wicaksana
-Yunan Helmi Mahendra

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s