Kagum

Selalu kagum dengan orang-orang yang selalu memegang prinsip agama di manapun ia berada dan kapanpun waktunya. Mereka yang tidak menganggap pandangan sinis manusia sebagai suatu cela, tapi justru merasa bangga dengan menampakkan syiar-syiar agamanya.

Tidak, tidak perlu angkat senjata dan berangkat ke Suriah untuk menunjukkan seberapa teguhnya seseorang itu berprinsip dalam beragama. Cukup ia melakukan kebaikan-kebaikan yang sederhana, dan istiqamahlah.

Saya mengenal seorang ikhwan yang selalu menjaga adab dan akhlaknya di mana pun ia berada. Sehingga ketika ia diundang di sebuah acara standing party, ia tidak ambil pusing. Ia ambil makanan-makanan yang ia suka, dan dengan cueknya duduk di pojok ruangan, menikmati hidangan dengan cara syar’i 😅

Saya mengenal seorang akhwat yang selalu menjaga kehormatannya dengan menutup aurat secara sempurna. Sehingga dalam kondisi apapun ia berada, ia selalu memperhatikan bagaimana ia berbusana. Bajunya banyak, sering ganti-ganti. Tapi yang nggak pernah lepas: manset dan kaos kakinya. Sederhana, tapi justru dengan dua hal itu auratnya tertutup secara sempurna.

Saya mengenal seorang ikhwan yang selalu berusaha menjaga identitasnya sebagai seorang muslim dengan membiarkan jenggotnya tumbuh lebat dan celana yang ia kenakan tidak pernah isbal (melewati mata kaki). Syiar-syiar Islam yang kini dianggap berbahaya dengan bangga ia perlihatkan ke manapun ia pergi, meski cibiran dan pandangan sinis tak jarang ia temui.

Sederhana, bukan? Sesederhana menjaga diri agar makan tak berdiri, sesederhana dua helai manset dan kaos kaki, sesederhana jenggot dan celana yang di atas mata kaki [1]. Sesederhana itu, tetapi justru itulah yang membuat saya kagum kepada mereka setengah mati. Bukan hanya karena kesederhanaannya, tapi karena keistiqamahan mereka.

Karena memang, keistiqamahan selalu berhasil membuat segalanya menjadi istimewa. Apalagi di zaman sekarang yang…yaa tau sendirilah ya 🙂

Bogor, qabla maghrib
8 Oktober 2016

_________

[1] Untuk perkara celana yang melewati mata kaki (isbal), saya setuju bahwa hal tersebut mengandung khilafiyah (perbedaan pendapat) di antara para ulama. Tetapi yang harus dicatat, khilafiyah yang dimaksud adalah khilafiyah apakah isbal itu hukumnya mubah, makruh, atau haram. Tetapi bukankah untuk celana di atas mata kaki semuanya sepakat bahwa hal tersebut adalah sunnah? Bukankah yang lebih utama adalah keluar dari perselisihan, sehingga kalau dari awal kita sepakat bahwa tidak isbal adalah sunnah maka tidak ada yang perlu kita ributkan, bukan? 🙂

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s