Balada Mareza

Alkisah, di timur Kota Surabaya, hiduplah seorang mahasiswa rupawan yang sedang menunggu wisuda. Sebut saja namanya Mareza. Mareza ini kalau orang lihat, wajahnya tergolong eksotis karena memiliki perpaduan mata khas bangsa Timur Jauh dengan hidung yang ala-ala Timur Tengah. Rupawan sekali pokoknya, orang Korea pun iri karena mereka harus merogoh kocek lebih untuk operasi plastik demi hidung ala-ala itu.

Si Mareza ini biasanya kalau berkeliaran di kampus selalu tampil gagah dengan motor yang suara knalpotnya tiada dua. Tapi pada suatu hari di penghujung bulan Agustus, Mareza terlihat berjalan sendirian menyusuri jalanan kampus. Wajahnya tertekuk, kepalanya merunduk, peluh membasahi sekujur tubuhnya. Mareza menyeret langkah kakinya menembus keringnya udara musim kemarau di salah satu kota terpanas di Indonesia.

Beberapa adik tingkat Mareza yang kebetulan lewat berbaik hati menawarkan tumpangan,

Mau ke TC mas? Ayo bareng saya aja.

Mareza menyunggingkan senyum tipis, berusaha mengusir wajah lelah di hadapan adik tingkatnya,

Wah makasih ya, lu duluan aja. Gua mau ke kosan kok.

Adik tingkat baik hati itu pergi, Mareza berjalan lagi. Kembali berlelah-lelah sendiri. Lelahnya Mareza tidak hanya lelah di kaki, tapi juga di hati. Mood-nya rusak dalam sehari. Duhai, apa yang telah terjadi?

Begini ceritanya…

*****

Mareza adalah seorang anak kos yang budiman. Ia tidak akan meninggalkan kosnya kecuali karena ada urusan mendesak. Urusan mendesak itu pun macam-macam, tergantung desakannya apa. Desakan perut yang lapar untuk pergi makan, desakan mematuhi perintah agama untuk pergi ke masjid, begitu juga desakan ingin bertemu pujaan hati untuk pergi ke kampus.

Begitu pun hari itu, di suatu hari di penghujung Agustus, Mareza sejak bangun tidur hingga siang setia cuddling dengan guling tercintanya. Desakan perut yang lapar masih dapat teratasi dengan sebungkus abon yang dimakan begitu saja tanpa nasi tanpa lauk. Udah kayak makan snack aja. Hampir seharian kegiatannya hanya scroll semua media sosial yang ada. Namun, untung ia ingat sesuatu. Ia punya urusan mendesak di BAAK kampusnya. Jadilah ia berangkat meninggalkan kosannya dengan mengendarai motor gagahnya.

Singkat cerita, urusan penting tersebut akhirnya selesai. Begitu Mareza hendak pulang ke kosan, ia dicegat oleh bapak penjaga parkir. Biasa, diminta menunjukkan STNK.

Bentar, Pak.

Mareza merogoh kantong tempat di mana biasanya ia menyimpan STNK dan diraihnya STNK tersebut. Betapa terkejutnya Mareza ketika menemukan bahwa yang ada di kantong tersebut bukanlah STNK miliknya tetapi STNK milik temannya. Mareza berpikir, mungkin STNK miliknya tertinggal di kamar kosnya dan ia malah tertukar mengambil STNK milik temannya tersebut.

Duh, Pak. Saya ketuker bawa STNK teman saya,” jelas Mareza ke bapak penjaga parkir. Tidak terima alasan tersebut, bapak penjaga parkir melarang Mareza lewat.

Saya mahasiswa sini kok, Pak,” Lanjut Mareza sambil memamerkan KTM-nya. Berharap status sebagai mahasiswa bisa melepaskannya dari masalah dengan bapak penjaga parkir.

Wah mas, saya ndak berani (untuk mengizinkan Mareza lewat -pen). Mas buat surat keterangan dulu di bagian sarpras, di lantai 2 sana,” ujar bapak penjaga parkir sambil mengarahkan telunjuknya ke sebuah gedung.

Apa boleh buat, memang dirinya sendirilah yang salah. Mareza kemudian pergi ke tempat yang ditunjuk oleh bapak penjaga parkir.

Di Bagian Sarpras

Tidak sulit mencari bagian sarpras kampus. Cukup bertanya kepada salah satu staf tata usaha yang lewat, Mareza sudah mendapatkan jawaban yang ia butuhkan. Di meja bagian sarpras sana, sudah menunggu seorang bapak-bapak yang tampaknya sedang menganggur.

Permisi, Pak. Ini…bagian sarpras ya?” ujar Mareza berbasa-basi.

Iya. Kenapa, Mas?

Begini pak, saya mau buat surat keterangan. Saya salah bawa STNK. Yang saya bawa malah STNK teman saya.

Yaudah, suruh temen kamu bawain,” jawabnya ketus.

Tapi pak, teman saya itu lagi di luar kota.

Ya kan ada teman kamu yang lain. Suruh bawain STNK-nya ke sini,” jawabnya ketus, lagi.

Suara Mareza mulai meninggi.

Pak, sekarang teman-teman saya lagi banyak di luar kota, lagi banyak yang cari kerja. Pak, saya mahasiswa IT$. Ini KTM saya.

Sampeyan kan bisa minta tolong teman kos sampeyan,” tolak si bapak tidak peduli. Lagi, status mahasiswa tidak bisa menolong Mareza.

Kan kunci kosnya di saya, Pak. Nggak mungkin mereka masuk ke kamar saya. Teman-teman kos saya juga banyak yang nggak ada, Pak. Ini kan masih musim libur. Mereka juga punya urusan sendiri, nggak mungkin direpotin minta bolak-balik anterin saya,” ucap Mareza emosi.

Sudah emosi, Mareza juga heran. Sebegitu sibuknya kah bapak ini, sehingga alih-alih repot sedikit membuat surat keterangan, si bapak malah menyuruh Mareza meminta bantuan (baca: merepotkan) temannya? Padahal dari tadi, sepengelihatan Mareza di sepanjang lorong menuju meja si bapak, si bapak tidak sedang melakukan apa-apa.

Mas, sampeyan tinggal di mana?

Keputih, Pak

Owalaah, Keputih. Keputih mana?

Keputih Gang I

Yo deket itu mas. Sampeyan jalan aja ambil STNK-nya. Deket begitu kok,” ucap si bapak sok solutif. Tidak ketinggalan, ia memamerkan solusi briliannya itu pada pegawai yang ada di meja seberangnya yang mungkin sedari tadi ikut menguping, “Gang I aja kok.

Pak, kalau tempat tinggal saya jauh gimana?” Tanya Mareza berkilah, berusaha memperjuangkan surat keterangannya.

Maksudnya? Ya kalau jauh nggak usah diambil.

Terus apa bedanya, Pak? Kalau kos atau rumah saya jauh juga kan saya nggak perlu ambil. Kenapa ini saya disuruh ambil? Kan sama aja, Pak.

Mas, jalan dari sini sampai Keputih Gang I itu 10 menit aja mas. Saya ini, dari Keputih Gang II, jalan kaki nggak sampai 10 menit. Keputih Gang II, Mas” kali ini si bapak menajamkan pandangannya. Memasang muka garang dan, kalau menurut Mareza, sok benar.

Ya terus kalau misalnya jauh juga kan saya nggak usah balik ambil STNK-nya, Pak. Nggak ada bedanya kan? Saya juga mahasiswa sini, Pak. Yang saya butuh cuma surat keterangan.”

Mas, mas jalan cuma 10 menit. Saya juga jalan dari Keputih Gang II, Mas. Nggak sampai 10 menit. Mas tau bedanya?

Di detik itu, ingin rasanya Mareza berkata kasar. Ingin Mareza mengungkapkan kata-kata cinta,

Itu kan Bapak. Kalau saya ini ternyata sakit gimana, Pak? Kalau di tengah jalan saya jantungan, epilepsi, atau pingsan karena Bapak nyuruh saya jalan, nanti Bapak mau tanggung jawab?

Sayangnya, kata-kata tersebut tidak jadi diungkapkan. Mareza sadar ia hanya mahasiswa yang posisinya masih di bawah birokrasi. Percuma kalau terus berdebat, hanya mencari masalah saja dengan mereka. Akhirnya Mareza menyerah. Mareza keluar berjalan kaki dari BAAK menuju kosannya, dan terjadilah apa yang telah disebutkan di muka.

Sepanjang jalan, Mareza rasanya ingin terus mengumpat dengan segala umpatan yang telah dipelajarinya dari berbagai bahasa. Untungnya selain rupawan dan anak kos budiman, Mareza juga ternyata pernah jadi anak pengajian, rajin menabung, dan tidak sombong. Jadilah umpatan itu tertelan di hatinya sendiri. Tapi tetap saja, hatinya dongkol karena dua hal:

Yang pertama, sebegitu tidak percayanya-kah birokrasi kampus dengan mahasiswanya sendiri, yang bahkan mahasiswa itu tidak bisa mengambil barang dengan hak miliknya pribadi? Untuk barang atau aset yang hak miliknya sendiri saja begitu dipersulit, bagaimana dengan aset milik kampus? Mareza ingat ada temannya yang ingin ikut lomba dan butuh biaya, ketika temannya itu meminta ke jurusan, apa jawaban dari birokrasi jurusan?

Kamu yakin bakal menang? Kayak udah yakin bakal menang aja. Kalau kamu menang, jangankan uang jurusan, Saya bakal ganti pakai uang sendiri. Butuh berapa, sih?

Dan ternyata, teman-teman Mareza tadi memenangi lomba tersebut. Ah, alih-alih uangnya diganti oleh birokrasi, masih ingat janjinya saja sudah syukur.

Yang kedua, apakah ini potret birokrasi yang berjalan di negeri ini? Maka benarlah anekdot yang mengatakan bahwa cara kerja birokrasi di negeri ini adalah ‘bila bisa dipersulit, kenapa dipermudah?’ Entah apa maksud dan tujuan si bapak sarpras bersikap demikian. Daripada berdebat lama-lama menguras emosi dan tenaga, kenapa tidak dipermudah saja? Mungkin alasannya adalah ingin membuat jera, atau memberi pelajaran agar mahasiswa tidak berbuat teledor lagi. Tapi bukankah dengan mendatangi kantor sarpras juga sudah cukup? Setidaknya teguran verbal pun cukup (menurut Mareza). Lagi pula, bagaimana kalau misalnya mahasiswa yang disuruh jalan tersebut ternyata menderita sebuah penyakit kronis yang bisa kambuh sewaktu-waktu, apakah pihak birokrasi ingin bertanggung jawab? Untung Mareza sehat-sehat saja hari itu, hanya belum makan dari pagi.

Ah sudahlah, mungkin Mareza memang tidak berhak mendongkol. Mungkin dongkolannya hanya karena ia mabuk abon yang dimakannya dari pagi, tanpa lauk tanpa nasi.

*****

Sesampainya di kosan, jangankan reda, hati Mareza justru semakin mendongkol. STNK-nya tidak tertukar, STNK-nya benar-benar hilang.

Fin.

Surabaya, sebelum maghrib tiba
3/9/2016

*Kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan semata, mengingat cerita di atas adalah fiksi belaka (karena cerita yang asli bisa lebih panjang lagi)*

 

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

One thought on “Balada Mareza”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s