Kampung Halaman dan Menu Lebaran

“Gin, lo asal mana?”

“Asli mana sih, Gin?”

“Mas kok nggak mudik? Kampung mas di mana?”

Seringkali ketika gua ditanya pertanyaan di atas, gua sendiri yang kebingungan ngejawabnya. Sudah terbiasa merantau sejak kecil ngebuat gua nggak tau di manakah tempat yang layak gua sebut sebagai kampung halaman. Lahir di Sampit, tumbuh di Bogor, dan dibesarkan di keluarga asal Sulawesi. Sulawesinya campuran pula, ayah Buton dan ibu Makassar. Nah loh, gua orang mana?

Lahir di Sampit ga ngebuat gua jadi orang Dayak. Malah mungkin gua lebih banyak menguasai bahasa Banjar daripada bahasa Dayak (fyi, bahasa Banjar di sana udah jadi kayak bahasa pengantar yang umum). Kalimantan hanya jadi tempat lahir gua, tapi ga sedikit yang mengira gua orang asli Kalimantan. Alasannya? Katanya gua putih terus mancung kayak orang Dayak :v

Di Sampit cuma nyampe kelas 1 SD, terus abis itu gua pindah ke Pontianak. Nah kalo di Pontianak ini cuma setahun, tapi lumayan pengaruhnya. Gua jadi familiar sama cara ngomongnya Upin Ipin. Ngomongnya ala ala Siti Nurhaliza gitu.

“Iye ke? Macem tu ke?”

Dari Pontianak akhirnya pindah ke Bogor, kota yang pada akhirnya gua pilih sebagai “kampung” gua. Dari kelas 3 SD sampe lulus SMA coy, 9 tahun, rekor durasi terlama gua tinggal di sebuah kota sampe tulisan ini dibuat. Bukan cuma tentang durasi, tapi juga tentang memori. Di Bogor inilah gua banyak belajar mengenai hidup, di sinilah gua menghabiskan masa anak-anak sampe puber *halah*.

Tapi tetep aja gua ga bisa disebut orang Bogor. Kefasihan gua dalam bahasa Bogor cuma sekadar penggunaan kata gua lu dengan ditambah sedikit imbuhan teh, mah, meuni, sia, gandeng, dan bahasa Sunda kasar lain yang ala kadarnya. Listening dan speaking bahasa Sunda gua juga terbatas, hanya berguna ketika berkomunikasi dengan supir angkot.

Orang Makassar? Lebih malu-maluin lagi. Yang gua kuasai hanya logatnya dengan imbuhan ji, mi, to, pi, kah. Jadi kalo ngomong di rumah rada nyampur antara logat sama imbuhannya.

“Sakit kayak gitu mah nggak usah lebay. Ndak sakit ji itu.”

Orang Buton? Jangan tanya. Yang gua tau hanya satu kata: umbe, artinya “Iya”. Itu pun gua tau karena ayah gua sering ngomong begitu kalo lagi ditelpon atau lagi ngomong langsung sama keluarganya. Sisanya…sejenis bahasa asing yang bahkan nggak bisa gua tangkap.

“Umbe, @$#€¥!@&$”

Maafkan aku, Ayah.

Jadi lu orang mana, Gin?

Setiap gua ditanya begitu, hal pertama yang biasa gua lakuin adalah nyuruh orang itu nebak, seenggaknya nebak dari muka sama gaya bicaranya. Kebiasaan ini terbentuk ketika kuliah, pas kalo lagi ada yang kenalan atau sekadar kepo. Dan rata-rata mereka ngira gua orang Surabaya. Katanya sih karena di Surabaya banyak yang mirip gua, banyak yang mukanya kek gini -> (-_-)

Lebih ekstrem, ada yang bilang kalo dari muka gua mirip orang Uzbekistan, Tajikistan, dan sekitarnya. Duhai, dosa apa hamba sampe dikira penyelundup dari Asia Tengah sana.

Tapi akhirnya semua kegelisahan gua tentang asal usul dan kampung halaman berakhir di meja makan saat lebaran. Menu makanan lebaran itu, kalo kata keluarga gua, semacam identitas yang menunjukkan dari daerah mana kita berasal.

Kamu orang sudah ndak pernah mudik, ndak tau bahasa daerah aslinya, masa’ ndak tau makanan daerahnya juga,” begitu yang ibu gua ucapkan kira-kira.

Jadi begitulah, gua mengenal daerah asal gua dari menu yang dihidangkan ketika lebaran. Dan dari sana gua menyimpulkan kalo gua orang…..ga tau juga, menu lebaran gua macem-macem haha.

  • Coto Makassar, itu mah semua orang juga bisa. Temen gua yang orang Jawa aja demennya ginian.
  • Gogos. Gogos itu makanan yang orang Sulawesi aja belum tentu bisa bikin. Sejenis lemper tapi lebih gede terus dibakar. Ngebuatnya rada lama juga katanya. Beruntunglah ibu gua punya anak hobi makan. Eh, maksudnya beruntunglah gua punya ibu pintar masak.
  • Opor ayam, selera nasional rakyat Indonesia.
  • Rendang. Nah ini ga tau kenapa ada menu orang Padang nangkring di mari. Pasti Rendang selalu aja ada di antara makanan yang lain. Ga ngerti lagi gua.

Tapi alhamdulillah, meski gua mengalami sejenis krisis identitas kesukuan, tapi gua selalu punya tempat untuk balik, untuk pulang: keluarga gua. Dan alhamdulillah, keluarga gua masih diberi rizki untuk punya menu lebaran yang jauh lebih dari cukup.

Ga peduli lu asal mana, suku apa, atau kampung halaman lu di mana. Yang jelas lu harus tau ke mana lu harus pulang. Lu harus tau ke mana arah untuk mencari mereka yang bisa memberikan sebaik-baiknya kenyamanan buat lu, dan lu pun bisa memberikan sebaik-baiknya kenyamanan buat mereka 🙂

Terakhir, karena masih dalam suasana lebaran, taqabbalallaahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin. Happy Eid Mubarak! ^_^

Jakarta-Surabaya
6/9/1437 H – 11/7/2016 M

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s