Tribute to Pak Hartoyo -Rahimahullah-

“Ini tarawih terakhir kita di Ramadhan tahun ini,”

Begitu sang imam mengingatkan jama’ah shalat isya sekaligus tarawih di masjid kampung gua malam ini. Suaranya bergetar, mungkin pertanda dalamnya perasaan beliau saat mengatakannya. Pandangan mata sang imam menyapu seluruh jama’ah. Menyapu seluruh shaf dari yang paling depan hingga yang paling belakang,  memastikan pesannya sampai ke semua yang hadir di masjid.

Sang imam terdiam sesaat. Mata uzurnya masih menelisik setiap barisan jama’ah.

“Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan,” pungkas beliau.

Seketika ruang utama masjid menggemakan “Aamiin”-nya para jama’ah yang serentak menjawab doa sang imam. Belum pernah masjid kampung gua ini punya suasana begini. Sedikit mengharu biru meski hari raya dan segala kegembiraannya sudah ada di pelupuk mata. Mungkin, karena masjid ini baru saja kehilangan salah satu jama’ah terbaiknya, salah satu jama’ah yang selalu setia mengisi shaf terdepan di tiap waktu shalat ditegakkan. Masjid ini baru saja kehilangan Pak Hartoyo rahimahullah.

***

Foto ini diambil saat Pak Hartoyo sedang memperbaiki AC masjid kampung gua Ramadhan tahun lalu. Ramadhan tahun ini, Pak Hartoyo meninggal, tidak lama setelah memperbaiki AC masjid kampung gua.

Kesimpulannya? AC masjid kampung gua cepet rusak.

Bukan. Ini jelas bukan tentang AC masjid kampung gua yang sering rewel. Tentu bukan tentang AC masjid yang tak jarang rusak tiba-tiba. Ini tentang seorang bapak yang selalu turun tangan untuk mengurusi AC yang rewel itu, secara cuma-cuma.

Namanya Pak Hartoyo. Jangan tanya gua nama lengkapnya karena gua pun nggak tau. Asli Malang. Usianya gua nggak tau persis, tampaknya seumuran dengan umur republik yang kita cintai ini. Pernah gua tanyain kelahiran berapa, tapi gua lupa. Yang jelas yang gua inget gua sempat terhenyak pas tau umur beliau, “Gila, di umur segini masih semangat manjat-manjat tangga buat benerin AC masjid.”

Beliau sebenarnya bukan warga kampung gua. Beliau aslinya tinggal di Depok -kalau nggak salah-, tapi beliau sering tinggal di rumah anaknya di Bogor ini. Beliau punya keahlian mesin dan mekanik, keahlian yang sering beliau banggakan dan beliau kenang,

Dulu lulusan STM masih jarang, Mas. Saya salah satunya.

Banyak cerita yang beliau sampaikan ke gua dengan gaya layaknya seorang kakek yang bercerita tentang masa lalu kepada cucunya. Beliau cerita tentang masa lalunya, tentang beliau yang enggan berkuliah karena sudah mendapatkan pekerjaan dan gaji yang lumayan, tentang beliau yang masuk ke perusahaan multinasional (gua lupa perusahaannya apa, Panasonic kalau nggak salah), tentang beliau yang harus hidup di tengah laut sebagai teknisi kapal, tentang godaan hebat ketika kapal bersandar di pelabuhan Hong Kong selama berbulan-bulan, daaan masih banyak lagi. Yah, jujur gua kagum.

Tapi ada cerita lain yang ngebuat gua selalu kagum sama beliau: cerita tentang kesungguhan beliau mendalami agama. Salah satu alasan kenapa beliau memilih tinggal dengan anaknya yang di Bogor, “Kajiannya di sini bagus, Mas.”

Tidak hanya itu. Kalau gua perhatiin, barang yang hampir selalu beliau bawa di masjid ada dua: buku agenda sama buku doa dan dzikr nya Ustadz Yazid hafizhahullah. Entah buku agenda tersebut untuk apa, tapi buku doa dan dzikr itu, “Saya kalau baca dzikr pagi petang kepanjangan, banyak yang belum ingat. Saya bisanya cuma baca dari buku ini aja.

FYI, bacaan dzikr pagi dan petang itu nggak singkat. Nggak bisa dibaca kayak tasbih, tahmid, dan takbir yang 3×33 kali itu tapi gerak jari,  gerak mulut, dan konsentrasi hati nggak sinkron saking cepetnya #ntms. Dzikr pagi petang kalau dibaca seluruhnya bisa makan waktu hampir setengah jam kali ya, makanya kalo gua lagi males pulang dan memilih ngaso di masjid, yang nemenin gua itu ya Pak Hartoyo yang lagi dzikr. Beliau terduduk khusyuk dan menunduk takzim, kalau dzikirnya dah beres baru bisa ngobrol sama gua.

Yah, mungkin lu bisa bilang, “Ah itu mah wajar kali, namanya udah sepuh ya pasti begitu. Ingetnya tobat.”

Hei, urusan taubat bukan soal umur atau apa, ini murni soal hidayah, soal petunjuk dari Allah. Buktinya banyak kok yang udah sepuh tapi urusan maksiat justru ngalahin ABG kekinian.

“…Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashash: 56)

Siapa yang bisa jamin kalo gua, lu, semua pembaca sekalian yang sekarang lagi baca tulisan ini kelak di hari tuanya bisa duduk bersimpuh di masjid setiap waktu shalat tiba? Begitulah kondisi Pak Hartoyo yang gua tau, bahkan sampai beliau meninggal. Sebelum beliau meninggal, beliau sempat memperbaiki AC masjid kampung gua yang rewel itu. Tiba-tiba beliau sakit perut dan pulangnya harus digotong oleh beberapa orang. Beliau kemudian dilarikan ke rumah sakit dan tidak lama setelah itu beliau meninggal. Semoga beliau diterima menjadi salah satu syuhada di jalan-Nya [1].

Gua juga kaget ketika dikabari meninggalnya beliau. Gua lagi di perjalanan Jakarta-Bogor, habis naik pesawat dari Surabaya untuk libur lebaran bareng keluarga. Pas lagi di mobil, Ayah gua bilang, “Jama’ah masjid ada yang meninggal, jadi kurang satu kasian [2]

Loh, siapa?” Tanyaku penasaran.

Pak Toyo…

Pak Toyo…Pak Hartoyo? Loh, kapan!?

Baru tiga malam yang lalu

Man…gua kehilangan salah satu teman ngaso di masjid kalau lagi males pulang ke rumah, gua kehilangan sosok yang mengajari gua banyak hal. Dan gua telat pulang tiga hari, melewatkan kesempatan untuk berterima kasih atas segala petuah dan nasihat yang beliau beri.

Salah satu nasihat beliau yang paling gua inget itu yang intinya,

Coba hati itu kamu hubungkan dulu ke Allah. Kenalan dulu sama Allah. Kalau udah begitu, insya Allah ibadah itu jadinya ringan. Mungkin ibadah kita ini terasa berat karena selama ini kita nggak kenal Allah.

Semoga Allah merahmati beliau, melapangkan kuburnya dan meneranginya dengan cahaya-Nya.

Dan semoga amalan-amalan kita di Ramadhan ini diterima seluruhnya, dan semoga kita masih diperkenankan untuk bertemu dengan Ramadhan selanjutnya. Aamiin.

Bogor, Malam 30 Ramadhan 1437 H – 5 Juli 2016 M

____________

[1] Salah satu tanda syahidnya seseorang adalah sakit perut sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Siapa yang terbunuh di jalan Allah, dia syahid. Siapa yang mati (tanpa dibunuh) di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena wabah penyakit Tha’un, dia syahid. Siapa yang mati karena sakit perut, dia syahid. Siapa yang mati karena tenggelam, dia syahid.” (HR. Muslim 1915).

[2] Kasian: Semacam imbuhan dalam logat Sulawesi, untuk menggambarkan kondisi keprihatinan. Dipakai di akhir kalimat.

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s