Bukan Agama Hoax

Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang fasik datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.” (QS. Al Hujurat: 6)

Ayat di atas berkenaan dengan perintah meneliti kabar yang datang dari orang fasik. Sayangnya saat ini, dalam banyak kasus, saya justru lebih sering bertabayyun ketika mendapat informasi dari kaum muslimin sendiri, bahkan yang mengaku pendakwahnya. Ironis.

Tanya kenapa.

Karena ulah sebagian kaum muslimin yang mungkin niatnya ingin membesarkan agamanya, ingin menampakkan syiar-syiar Islam, tapi justru mempertontonkan kebohongan, menyampaikan kabar burung yang tidak jelas, dan menjustifikasi prasangka-prasangka sebagai sebuah berita. Dan yang lebih parah, tidak jarang kabar-kabar tersebut dibubuhi ayat-ayat Al Qur’an atau hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk pembenaran.

Mau contoh?

Contoh 1

hoax1Betul, saya juga tidak setuju dengan perilaku kaum Nabi Luth tersebut. Tapi menyiarkan sebuah kebohongan untuk menunjukkan bahwa seolah-olah ada adzab yang menimpa mereka sedemikian rupa juga bukan sesuatu yang bisa dibenarkan.

Kabar yang benar adalah bahwa insiden itu adalah insiden yang terjadi pada event Color Play Asia, bukan acara pesta gay atau semacamnya. Alhamdulillah, ada media Islam lain yang sudah meralat berita tersebut. Bisa dibaca di sini. Sementara media yang bersangkutan yang saya screenshot di atas? Masih saja menampilkan berita tersebut.

Contoh 2

Beberapa pekan terakhir sedang heboh kabar mengenai konflik Suriah (padahal revolusi Suriah sudah bergulir sejak bertahun-tahun yang lalu). Nah, di timeline media sosial saya muncul foto yang tersebar secara viral.

hoax

Tidak tanggung-tanggung caption yang ditulis: Anak Suriah yang memegang tangan ibunya yang putus. Sejak melihat gambar di atas, hanya dua harapan saya, semoga kaum muslimin di Suriah dimenangkan, dan semoga gambar tersebut bukan hoax. Dan ternyata, gambar tersebut gambar hoax.

Kita pun ingin dunia bersimpati kepada Suriah, tapi bukan berarti kita boleh menyebarkan gambar bohong. Bagaimana dunia bersimpati kalau justru kita membohongi dunia?

Contoh 3

Ini yang menurut saya paling parah, ketika ada korban jiwa berjatuhan malah disebut sebagai pengalihan isu. Adakah dalam agama kita dibenarkan untuk berprasangka buruk?

piyungan

Modalnya satu screenshot twitter pun cukup. Di-share berapi-api, dengan tambahan analisis (baca: prasangka) sendiri di sana-sini.

“Jauhilah oleh kalian prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dusta ucapan.” (HR. Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 2563)

Kalau mau analisis, silakan. Tapi tolong kalau tidak bisa analisis ya jangan sok-sokan jadi analis. Kalau tidak tahu apa-apa mending tahan lisannya, atau deraskan ia dengan dzikr dan doa. Tidak perlu menambah resah dengan share kabar burung yang tidak jelas, dengan prasangka-prasangka yang entah dari mana. Kita sudah sangat resah kok.

*****

Agama ini tidak pernah besar dengan kabar burung, apalagi kebohongan dan kabar hoax. Justru sebaliknya, agama ini besar atas dasar kepercayaan, atas dasar integritas para pendakwahnya. Lihat saja sang pembawa risalah-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak tanggung-tanggung gelar yang tersemat di belakang namanya: Al Amin, yang terpercaya.

Apa yang lebih ironis ketika nabinya dikatakan seorang yang terpercaya tetapi ummatnya justru suka menyebarkan kabar-kabar yang tidak jelas kebenarannya?

Apa yang lebih ironis ketika kita lebih memercayai berita dari media asing daripada berita dari media yang dikelola saudara seislam kita sendiri?

Padahal, agama ini adalah agama yang besar dengan kejujuran. Yang bahkan saking menjunjung tinggi kejujuran, dilarang menyebarkan segala yang kita dengar,

“Cukuplah seseorang itu dikatakan pendusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim no. 5 dan Abu Dawud no. 4992)

Sementara kita sekarang, yang hidup di tengah derasnya arus informasi, suka seenaknya menyebarkan berita yang entah datang dari mana. Bukankah kelak semua akan ada pertanggungjawabannya?

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (QS. Al-Isra’ : 36)

Saya percaya, masih banyak di antara kaum muslimin yang jujur, yang memiliki integritas, yang terpercaya dan teliti memilih berita, yang tidak mengikuti prasangka-prasangka. Ingat, kedepankan husnuzan dan usahakan tabayyun.

Cukup sudah dunia menjuluki agama kita dengan agama teroris dan kekerasan, jangan sampai ada julukan baru yang mereka sematkan nantinya: agama hoax.

Surabaya, waktu dhuha
13/5/2016

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s