Gede Rasa aka Geer

Asal kamu tahu, geer itu terjadi karena kita yang berharap. Coba kalau kita nggak berharap, pasti kita biasa aja.

Geer itu sebenarnya muncul dari perasaan kita sendiri, yang ditambah dengan berbagai ekspektasi. Coba kalau kita nggak menaruh perasaan apa-apa, atau kita nggak punya ekspektasi apa-apa, ya mestinya nggak perlu geer.

Misal akan dipilih seorang mahasiswa yang akan mewakili kampusmu dalam sebuah lomba, kemudian kamu sudah merasa kalau kamu akan ditunjuk, kamu sudah berekspektasi kalau kamu yang pasti ditunjuk, dan kamu memang berharap untuk ditunjuk mewakili kampusmu, pasti kamu sudah kegeeran. Pasti kamu sudah merasa, “Kayaknya gua nih yang bakal ditunjuk.”

Padahal, alih-alih menunjukmu. Kampusmu saja jangan-jangan tidak mengakui kamu sebagai mahasiswanya.

Geer itu ketika mata dibutakan perasaan dan logika diganti dengan ke-sok tahu-an

Masalah perasaan ini memang tidak pernah sederhana. Apalagi kalau sampai-sampai mematahkan logika, sampai-sampai memutarbalikkan fakta, supaya sesuai dengan apa yang ingin kamu rasa, apa yang kamu harap. Jadilah kamu buta realita. Apa yang kamu lihat, kamu tafsirkan sesuai dengan apa yang kamu rasakan. Apa yang kamu kira kamu tahu, ternyata hanya buah dari sikap sok tahu, sok mengerti segala sesuatu.

Misal ada seseorang yang kamu sukai, dia sedang makan sendirian, dan ketika melihatmu dia langsung berseru, menyapamu, memanggil namamu.

“Duh dia nyapa duluan, pasti dia suka sama gua.”

Padahal dia hanya berusaha ramah.

Kemudian kamu datang menghampirinya, bergabung dengannya di meja makan. Lalu dengan lembut dia bertanya tentang apa rencanamu hari ini.

“Wah dia pake nanya-nanya agenda gua, pasti dia mau kepoin gua.”

Padahal dia hanya berbasa-basi.

Kamu menjelaskan rencana-rencana hebatmu hari itu, berusaha membuat dia terkagum. Tak lupa kamu mulai menggodanya dengan humor recehmu yang -sayangnya- malah membuatnya tertawa. Senyumnya terkembang, bahunya terguncang-guncang.

“Dia ketawa gara-gara gua, pasti dia suka sama candaan gua.”

Padahal dia hanya menghargai lelucon payahmu.

Di tengah tawanya yang seru, tiba-tiba terdengar bunyi halus bagai peluit yang ditiup di tangga nada re, mengalun merdu campur berderu, tak ketinggalan tercium bau. Di balik keanggunannya yang bagai bidadari, dia masih menunjukkan sisi manusiawi. Dia kentut. Pipinya yang putih terlihat makin cantik dengan semburat merah muda merona. Dia malu, dia tersipu.

“Wow, dia kentut. Pasti gara-gara gerogi ketemu gua.”

Padahal ada yang salah dengan pencernaannya.

Kasihan dia yang punya masalah dengan pencernaannya, tapi lebih kasihan kamu yang punya masalah dengan perasaanmu. Letup-letup perasaanmu sudah terlalu banyak membuat harapan-harapan, terlalu banyak menciptakan ekspektasi-ekspektasi, yang sialnya ekspektasi-ekspektasi itu malah kamu justifikasi menjadi sesuatu yang nyata, sesuatu yang riil, sesuatu yang kamu anggap sebagai sebuah fakta. Maka, jadilah kamu makhluk paling sok tahu di muka bumi, padahal sejatinya kamu tidak tahu apa-apa sama sekali.

Celakalah kamu dengan kegeeranmu yang menipu.

Sepertiga malam terakhir @Lab NCC
7/5/2016

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

2 thoughts on “Gede Rasa aka Geer”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s