Tekad 2868mdpl

“Naik gunung itu bukan cuma fisik lo aja yang dibutuhin. Lebih ke tekad, lebih ke mental.”

Begitu yang disampaikan temanku, Mochammad Satrio Ramadhana Yudhono aka Satrio aka Pahlawanq, di suatu ketika saat kami sedang beristirahat di sebuah masjid di Yogyakarta November 2015 silam. Pada saat itu aku sempat tidak percaya. Aku, yang sangat minim pengalamannya dalam urusan pendakian, masih berpikir bahwa fisik adalah segalanya ketika berkaitan dengan naik gunung. Hingga beberapa bulan kemudian, aku terpaksa memercayai apa yang dikatakannya itu. Karena mau tidak mau, aku harus memercayai pengalamanku sendiri, kan?

Surabaya, dini hari

Jarum jam malu-malu melewati angka 12, dan hari pun genap berganti 25 Maret 2016. 15 orang mahasiswa sudah berkumpul di kampus tercinta lengkap dengan segunung bawaannya. Di saat orang lain sudah lelap beristirahat, kami justru sedang sibuk bersiap-siap. Padahal di antara kami ada yang sudah terkuras tenaganya seharian. Ada yang sibuk dengan kuliahnya, ada yang sibuk dengan tugas-tugasnya, ada yang sibuk dengan demo praktikumnya, dan ada yang sibuk mengurus event angkatannya. Mata-mata lelah dan tubuh-tubuh letih itu berkumpul dengan membawa satu tekad bersama: menaklukkan puncak Gunung Butak.

Dari kampus kami berangkat menuju terminal bis yang akan membawa kami ke Malang dengan menggunakan motor. Jumlah kami bertambah menjadi 16 orang setelah salah satu dari kami dijemput dari kosannya. Perjalanan tengah malam cukup menyenangkan. Hanya hujan rintik-rintik yang berani menemani, mempersilakan doa-doa dilesatkan dan harapan-harapan dilangitkan.

Malang, jam 3 pagi

Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang perjalanan dari Surabaya menuju Princi, Kecamatan Dau, Malang, jalur yang kami pilih untuk melakukan pendakian. Setelah sampai di Terminal Arjosari, kami sempat menunggu beberapa menit untuk memesan angkot yang membawa kami ke Dau. Dengan teknik negosiasi yang luar biasa hebat, kami langsung mendapatkan dua angkot untuk perjalanan pulang pergi Dau-Arjosari.

Oh iya, tidak lupa kami sempat singgah beberapa kali untuk membeli makanan untuk sarapan dan makan siang nantinya. Beruntung, sang supir angkot berbaik hati rela memutar kendaraannya beberapa kali demi memuaskan kami penumpangnya. Pahlawan ternyata tidak selalu mengenakan jubah berkibar-kibar dan terbang di udara, kadang ia hanya berselempang handuk kecil dan duduk di belakang roda kemudinya.

Dau, waktu subuh

Angkot yang kami naiki berhenti tepat di samping sebuah musholla. Jadilah kami tahu persis waktu kami sampai adalah ketika jama’ah musholla sedang melafalkan dzikir setelah shalatnya. Kami pun singgah untuk shalat subuh dan mencuri-curi waktu istirahat hingga jam 6.

Memulai perjalanan

Jam 6 kami melanjutkan perjalanan. Belum, belum langsung ke gunung. Kami singgah dulu di sebuah warung untuk sarapan. Selesai sarapan, langsung dilanjutkan briefing dan doa bersama. Dan…perjalanan pun benar-benar dimulai.

*****

Kami memulai perjalanan kami layaknya salah satu iklan produk olahan kulit manggis. Matahari bersinar indah, langit pun cerah, burung-burung tak ketinggalan riuh bernyanyi, dan di sekeliling kami kebun-kebun terhampar luas. Hanya kurang lagunya saja, persis seperti di iklan.

Tetapi jalan yang makin menanjak, dan tak terasa sudah memasuki medan yang mulai terjal, rupa-rupanya sudah berani menguji ketahanan kami. Kelompok kami pun terbagi dua, ada yang di depan dan ada yang di belakang. Dan aku termasuk yang di depan. Alasannya? Tidak ingin dikatakan newbie dan tidak ingin kalah dari angkatan bawah, perempuan pula. Mungkin ini yang dimaksud Satrio, naik gunung adalah tentang tekad.

Sebenarnya tidak selamanya kami selalu melewati trek menanjak yang terjal. Ada kalanya kami melewati jalan yang menyenangkan, dengan jalur landai dan sungai mengalir tenang di samping kami. Tapi ya namanya gunung, tidak ada yang tidak menanjak. Jadilah kami sering beristirahat, baik untuk sekadar mengambil napas, mengambil minum, bahkan hingga makan siang. Kami lakukan semuanya di sepanjang jalan menanjak.

Somewhere in the forest

Kutengok layar ponselku, pukul 1 siang. Langkah kaki kami yang sedari tadi terus berjalan akhirnya memutuskan berhenti. Istirahat. Tekad sampai ke puncak sih tekad, tapi tubuh ini juga perlu dipenuhi hak-haknya. Naik gunung ternyata tak seindah menyanyikan lagunya. Kami merebahkan diri dan…tidur. Ya, tidur.

Sekitar setengah jam kami terlelap, hingga kami bertemu dengan dua pemuda yang (tampaknya) gagah, yang kami sapa, dan kelak kami akan berterima kasih kepada mereka. Sebut saja mereka mas-mas pancake.

Bertemu mereka akhirnya membangkitkan semangat kami. Kami melanjutkan perjalanan. Seperti lirik lagunya Ninja Hattori, kami mendaki gunung turuni lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman bertualang. Melewati hutan yang pohon-pohonnya tampak terbakar, melewati semak belukar, dan sebagainya. Meski sempat turun hujan, syukurlah tidak mengganggu perjalanan.

Sabana

Kami sampai ke sabana ketika matahari sempurna tenggelam. Artinya kurang lebih kami mendaki selama 12 jam.  Malam berlalu dengan cepat. Dengan sigap kami mendirikan tenda, masak, makan, dan cepat-cepat tidur. Aku tidak ingat kami tidur jam berapa, yang jelas atas nama tekad yang membara, kami sepakat untuk naik ke puncak jam 4 pagi.

*****

Ternyata tekad yang membara bisa dikalahkan dengan suhu gunung yang dingin luar biasa, jadilah muncak jam 4 berakhir wacana. Alih-alih muncak jam 4, aktivitas kami baru dimulai hampir jam setengah 6. Mulai dari masak air dan segala rupa untuk mengganjal perut kami.

Sekitar pukul 6 pagi kami berangkat muncak. Dari 16 orang, 2 orang memutuskan untuk tetap di tenda. Yang satu disuruh masak, sementara yang satu lagi tidak jadi muncak akibat kurang fit.

Puncak Butak 2868 mdpl

Dari sabana ke puncak tidak sampai 1 jam perjalanan. Sesampainya di sana, layaknya ABG kekinian, ritual foto-foto tak ketinggalan kami lakukan. Di puncak Butak itu jugalah prosesi penting PAMOR itu dilakukan: Pengangkatan. Enam anggota baru PAMOR melaksanakan prosesi penting itu dengan tenang dan khusyuk, mungkin karena saat berbaris shaf mereka lurus dan rapat.

20160326_073519
Anggota baru PAMOR

Beberapa pendahulu PAMOR tak lupa memberikan wejangan kepada anggota barunya.

Kalian tau nggak tanggung jawab kalian sebagai anggota PAMOR apaan? jalan-jalan” -Muhammad Yarjuna Rohmat

*****

Setelah puas melakukan apa yang ingin dilakukan di puncak, kami pun segera kembali ke tenda. Sesampainya di sana kami langsung masak-masak untuk makan pagi (yang terhitung makan siang) dan makan siang (yang kelak dimakan sore). Menu-menu yang dihidangkan ternyata tidak kalah dari warung prasmanan di Perumdos Blok J. Ada sop, orek tempe, tahu telor, dan pecel lengkap dengan lalapannya. Nah, masih ingat dengan mas-mas pancake? Mereka datang ke tenda kami dan membuatkan pancake. Sebenarnya mereka berdua punya nama, sayangnya saya lupa.

Setelah sarapan di waktu siang, kami segera packing, dan kemudian shalat zhuhur-ashar. Sekitar jam setengah 1 kami turun dari sabana. Targetnya, sebelum maghrib sudah sampai di bawah. Oh iya, jika sebelumnya kami naik lewat jalur Princi, saat turun kami lewat jalur Panderman.

Perjalanan turun jauh lebih cepat (dan lebih enak) dari perjalanan naiknya. Tekad kami sama-sama sampai bawah, tapi dengan motivasi yang berbeda-beda. Ada yang termotivasi dengan es teh, es jeruk, kasur, hingga motivasi bertemu WC lebih dari apapun di dunia ini. Kami sampai di basecamp sekitar pukul setengah 8 malam. Apa daya tak sesuai target, beberapa dari kami mengalami keseleo kaki.

Sekitar pukul 8 malam, dua supir angkot yang berhati mulia itu datang menjemput kami. Tak buang waktu, kami langsung merangsek masuk, bahkan tak sedikit yang langsung tidur. Menyisakan aku dan sang supir yang baik itu. Tak usahlah kuceritakan apa yang kubicarakan dengannya sepanjang perjalanan. Ini kan catatan perjalanan, bukan catatan wawancara.

Kami sampai di terminal Arjosari sebelum jam 10 malam, dan begitu turun dari angkot langsung naik bis menuju Surabaya. Dengan kaki letih tak berdaya, dan perut kenyang karena makan malam sebelumnya (di warung dekat terminal yang menurut pak supir angkot itu adalah warung langganannya), begitu mendudukkan tubuhku di kursi bis, aku berkedip, seketika sudah sampai Surabaya.

Eh, tidur deng, bukan berkedip.

TAMAT.

******

Peserta Pendakian PAMOR ke Gunung Butak (25/3/2016 – 26/26/3/2016)

20160326_080213

Said Al Musayyab
Alief Yoga Priyanto
Ardhya Perdana Putra
Arif Fathur Mahmuda
Regin Iqbal Mareza
Mochammad Satrio Ramadhana Yudhono
Muhammad Yarjuna Rohmat
Irsyad Rizaldi
Bayu Tirta
Magista Bella Puspita
Nurhamidah Tyas Palupi
Nurul Wachidah
Frieda Uswatun Hasanah
Hania Maghfira
Nahda Fauziyah Zahra
Purina Qurota Ayunin

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

3 thoughts on “Tekad 2868mdpl”

  1. Masih rajin nulis ya pak hahaa
    kalo gw jadi lu mungkin gw lebih milih bikin vlog, atau seenggaknya video aftermovie aja ketimbang nulis 😦
    tapi dengan semangat kepemudaan yang berkobar regin lebih memilih menulis, SALUTE
    //apasihris

    1. Wih ada youtuber kondang! Sebenernya emang pengen pindah juga sih, berhubung blogging juga keknya udah mulai sepi, banyak yang beralih haha.
      1. Gua ga punya kameraa T.T adanya kamera hp
      2. Skill ngedit video masih cupu + laptop ga support. Malah make PC lab buat ngedit video
      Videonya ada kok,
      -Editan sendiri: https://www.youtube.com/watch?v=te91bBywuy4
      -Versi official: https://www.youtube.com/watch?v=GxOgZpV8OtQ
      Ya lu taulah bagusan mana, dari segi gambar sama hasilnya wkwk. Thx for your visit btw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s