Istidraj

Ketika kamu masih juga diberikan kelapangan dalam urusanmu meski kamu gemar bermaksiat kepada Allah, maka berhati-hatilah.

Jika hidupmu masih baik-baik saja, dirimu masih tenang-tenang saja, dan hatimu merasa biasa-biasa saja ketika kamu tidak menjalankan apa-apa yang diperintahkan-Nya dan justru melanggar apa-apa yang telah dilarang-Nya, maka waspadalah.

Karena ada kalanya, adzab yang Allah timpakan kepada hamba-hamba-Nya yang membangkang tidak selalu berupa angin puyuh yang membinasakan, atau air bah yang menenggelamkan, atau gempa bumi yang meluluhlantakkan. Adzab tidak selalu tentang kesulitan hidup atau siksaan fisik. Bentuk adzab paling mengerikan yang Allah timpakan adalah ketika Dia membiarkan makhluk-Nya bergelimang kemaksiatan, ketika Allah membiarkan pelaku maksiat dengan urusan-urusannya sementara ia tak sadar kalau ia terus saja berbuat dosa. Istilahnya: istidraj.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila kamu melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.”

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat,

“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

-HR. Ahmad (17349), Thabrani dalam Al Kabir (913). Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam As Shahihah (414)-

Apa yang lebih mengerikan daripada pembiaran Allah terhadap maksiat-maksiat kita?

Efek paling berat dari sebuah tindak maksiat bukan lemahnya tubuh atau sakitnya badan, tapi yang paling berat adalah lemahnya iman dan sakitnya hati. Ketika sedikit demi sedikit, lidah kita tak lagi sering berdzikir kepada-Nya, ketika tangan ini lupa bagaimana berbuat baik, ketika kaki ini tak lagi terarah ke masjid, ketika hati ini mulai menunjukkan tanda-tanda kematiannya.

Hati, kalau sudah mati, maka pemiliknya akan terhalang dari segala kebaikan. Dirinya kelak tidak bisa lagi membedakan mana benar mana salah, mana halal mana haram. Hingga kemudian ia terjerembab di lubang dosa dan tak tahu jalan keluar, hingga maksiat yang gelap malah dirasa terang, hingga ia terhalang dari segala bentuk ketaatan.

Apa yang lebih menyakitkan daripada terhalangnya seorang hamba dari ketaatan kepada Rabbnya?

Surabaya, 29/3/2016

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s