Untuk Sebuah Alasan

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah berkata dalam salah satu kitabnya, Al Fawaaid,

Carilah hatimu pada tiga tempat;

  • Ketika mendengarkan bacaan Al Qur’an
  • Ketika berada di majelis-majelis dzikir
  • Ketika saat-saat bersendirian

Apabila kamu tidak menemukannya pada tempat-tempat ini, maka mohonlah kepada Allah untuk mengaruniakan hati kepadamu, karena sesungguhnya kamu sudah tidak memiliki hati. [1]

Dan ketika aku lihat diriku sendiri, hatiku tak ada di tempatnya lagi. Lalu kulihat kamu, dengan hatiku yang kamu genggam dan kamu bawa lari. Jadilah aku raga hampa jiwa. Kosong. Lahirnya bebas tapi batinnya terpenjara karena hati yang kamu ambil pergi.

Hati yang terkungkung oleh syahwat akan terhalang dari Allah sesuai dengan kadar kebergantungannya kepada syahwat. Hancurnya hati disebabkan perasaan aman dari hukuman Allah dan terbuai oleh kelalaian. [2]

Jangan-jangan, selama ini gerakku sudah sebegitu bergantungnya pada gerakmu. Ada kerling mata yang selalu kuharap hadirnya, ada kelebat seseorang yang ingin kucari ridhanya. Diam-diam kamu menjelma sebagai niat, dan tak sadar aku sudah menjadi pendua yang hebat. Agenda yang tersusun dalam jadwalku nampak tertulis untuk memperjuangkan kebaikan, tapi yang tertulis sebagai niat malah justru namamu, untuk memperjuangkanmu.

Duhai, betapa dosa mendua (baca: syirik/riya’) begitu mudah terselip ke relung hati dan lantas mengotori. Tak heran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari perbuatan syirik sementara aku mengetahui, dan aku memohon ampun dari (perbuatan syirik) yang tidak aku ketahui.[3]

Mungkin karena inilah ikhlas disebut ikhlas. Karena sesuai artinya,  ikhlas adalah memurnikan. Ia jernihkan hati dari kotoran-kotoran yang mampu merusaknya, yang mampu membuat amal-amal itu hilang dan pergi.

Barangsiapa yang menginginkan kejernihan hatinya, hendaknya dia mengutamakan Allah daripada menuruti berbagai keinginan hawa nafsunya. [4]

Dan sekarang tinggal aku yang memeriksakan hati ini, saatnya aku memeriksa alasanku sendiri. Apakah aku memilihmu karena Allah atau karena hawa nafsu? Apakah perasaan cinta ini hadir sebagai upaya mewujudkan kecintaanku kepada Allah, atau hanya sebagai upaya memuaskan hawa nafsuku?

Dari sekian banyak alasanku untuk memilihmu, semoga -seperti kata Kurniawan Gunadi- Allah selalu menjadi (alasan) yang pertama.

Ketika malam Surabaya memasuki sepertiga terakhirnya

10/1/2016

____________

[1] Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Al Fawaaid, hlm. 143

[2] Ibid, hlm. 95

[3] HR. Ahmad 4/403, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahiihul Jami’ no. 3731

[4] Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Loc. Cit.

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s