Kesempatan (2)

Sesulit itukah kuharus berkenalan? Pintu pertamaku untuk masuk ke dalam hidupmu, masih saja kokoh berdiri menantang. Langkahmu cepat melesat, dan aku masih saja berharap bumi diam sekejap, mempersilakan.

Sebegitu rumitkah untuk memulai percakapan? Untuk sekadar ber-“hai” atau ber-“halo apa kabar” rasanya begitu kaku. Lidahku kelu, takut-takut semua perasaanku padamu tertumpah semuanya.

Sesusah itukah untuk bisa bertemu denganmu? Aku masih mengandalkan kebetulan, karena kebetulan adalah satu-satunya peluang semesta memberikan ruang untuk kita berdua. Sayangnya, aku bukan pemburu kebetulan yang baik. Aku selalu menanti sosokmu yang (kebetulan) lewat ketika aku di swalayan, di toko buku, di kampus, di warung, dan semua tempat yang kukunjungi. Dan tetap, kebetulan masih menjadi sebuah keajaiban yang belum juga datang. Terkadang aku pikir, aku justru lebih memperjuangkan kebetulan itu sendiri dari pada mememperjuangkanmu. Aku tidak memperbaiki diri sendiri supaya pantas untukmu. Aku malah sibuk menghitung, mengukur, dan mengakumulasi segala kemungkinan untuk dapat bersua denganmu.

Semua itu hanya untuk satu kesempatan. Kesempatan agar aku dan kamu, berada dalam ruang yang kuciptakan sendiri. Ruang dengan waktu yang beku dan gerak yang kekal. Ruang yang orang sebut sebagai kenangan. Ya, ini semua tentang kesempatanku untuk membuat kenangan terbaik, yang tentunya, dengan kamu.

Surabaya, 19/11/2015

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s