Tolong Jangan Bercanda

Malam hari, 2 November 2015. Gerimis pertama di semester 7 menyapa. Tidak banyak, hanya sepercik dua percik. Sayangnya bagi sebagian orang, gerimis itu seperti sesuatu yang tidak diinginkan. Hanya karena ia merasa gerimis turun di waktu yang tidak tepat, atau mungkin gerimis turun ketika ia tidak berada di tempat yang tepat, ia mengumpat-ngumpat. Rintik hujan, yang selama ini dinanti-nanti penduduk bumi, yang diminta dengan shalat-shalat istisqa, yang dirindu tangan-tangan lemah menengadah, dengan mudahnya disumpah-sumpah.

“Dan ingatlah ketika Rabb kalian mengumumkan kepada kalian; Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku atas kalian. Dan jika kalian kufur, sesungguhnya siksa-Ku sangatlah keras.” (QS. Ibrahim : 7)

Bagaimana mungkin akan diberi hujan? Baru setitik dua titik air jatuh sudah langsung mencak-mencak. Dulu diminta sekarang dicela. Bahkan untuk bersyukur pun secepat itu kita lupa.

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad 4/278. Dihasankan Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 667)

Yang sedikit kita caci, yang banyak kita maki. Dan kita masih pede meminta apa-apa yang telah kita dustai? Tolong jangan bercanda.

Surabaya, ketika kumandang azan subuh membelah cakrawala

3/11/2015

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s