Logika

ada suatu ketika
aku harus melepaskan
metode, argumen, statistika
dan semua data

cukup
sami’na waatha’na

karena kurasa
inilah kasta logika
yang paling sempurna

******

Tulisan di atas adalah hasil karya dosen wali saya selama berkuliah di Teknik Informatika ITS. Maaf ya, Pak. Saya kepo tulisan-tulisan Bapak. Semoga saya makin cepat untuk tidak lagi harus bertemu Bapak tiap semester (baca: lulus).

Saya kira maksud puisi di atas sudah jelas. Bahwa ada kalanya kita harus menyerahkan logika kita kepada sesuatu yang lebih besar, kepada sesuatu yang mungkin di luar logika manusia, tapi justru nyata dan terjadi, bahkan wajib diyakini seyakin-yakinnya. Dan, dari bentuk penyerahan inilah, menjadikan diri kita dinamai sebagai seorang muslim, seorang yang berserah. Menyerahkan diri kepada agama Allah, berserah kepada syariat-syariat-Nya, menyerahkan diri pada apa-apa yang telah digariskan-Nya. [1]

Dan jika sebuah perkara sudah digariskan sedemikian rupa, masihkah berhak jumawa dengan logika kita?

“Seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya.”  -Ali bin Abi Thalib- [2]

Surabaya, sebelum subuh. 30/10/2015

 

___________________

[1] Tentang makna Islam, silakan dibaca di sini

[2] HR. Abu Daud no. 162. Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Marom bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini. Tentang apa yang dimaksud dengan mengusap khuf, bisa dibaca di sini

 

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s