Peduliku

Aku tidak ingin mendramatisir semua ini.

Aku tidak ingin menggunakan pilihan kata cinta, apa lagi terang-terangan mengungkapkannya. Karena bagiku, diksi cinta itu begitu vulgar, terlalu sensasional, luar biasa hebat mendramatisir suasana.

“Aku mencintaimu”

Duh…melodrama sekali kata-kata itu, persis sinetron stripping dalam negeri. Belum lagi perbendaharaan kata dari drama luar negeri yang tak tanggung-tanggung diserap seluruhnya oleh remaja-remaja labil penganut paham kekinian: I love you, aishiteru, saranghae.

Cukup. Kata cinta itu terlalu mewah, sedangkan aku hanya ingin sederhana saja. Sesederhana kata peduli. Sesederhana kepedulianku selama ini.

Sesederhana peduliku menyapamu. Sesederhana peduliku menolongmu. Sesederhana peduliku menyemangatimu. Semua kepedulianku yang tak terucap, semua kepedulianku yang tersirat, dengan begitu sederhana menjangkaumu. Peduli, tidak sedahsyat ucapan cinta, tapi begitu kuat dan bersahaja.

Peduliku, mampukah kamu merasakannya?

Surabaya dini hari

5/10/2015

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s