Hadir Melayat

Hari ini ada yang meninggal. Kenalan sefakultas. Kubilang hanya kenalan karena memang aku hanya tahu nama. Bertegur sapa pun tak pernah. Hanya tahu bahwa di jurusan sebelah ada seorang mahasiswa yang bernama fulan, dan hari ini kudengar ia meninggal.

Ekspresiku dingin mendengar kabar itu, sekadar beristirja dengan wajah datar. Tak ada sembab di pelupuk mata, tak ada derai air mata, tak ada prosesi menundukkan kepala. Tapi yang perlu kamu tahu, wajah datar bukan berarti bebas dari beban pikiran. Justru pikiran ini sedang berkecamuk dengan berbagai pertanyaan,

Kenapa dia meninggal secepat ini?

Bagaimana perasaan keluarga dan teman-temannya?

Bagaimana dengan mimpi-mimpinya yang belum sempat terwujud?

Apa persiapanku seandainya aku adalah dirinya?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar cepat di kepalaku. Memang aku asing bagi dia, dan ia pun asing bagiku, tapi aku dan dia kelak memiliki ujung hidup yang sudah tidak asing lagi: kematian. Ingin aku masuk ke dalam perenungan tentang kematian, tapi sadar waktu adalah pemutus keinginanku tadi. Masih banyak yang harus kulakukan hari ini. Perkara duniawi ternyata masih lebih menarik perhatianku daripada perkara ukhrawi.

Kulihat teman-temanku bergegas untuk berangkat melayat. Aku? Urusan kuliahku sendiri saja masih belum beres. Aku masih harus bertemu dosen dan menyelesaikan masalah bentrok jadwal kuliah. Lekas kukenakan tasku, segera memeriksa tritunggal ketika berpergian: dompet, kunci, HP. Semua sudah siap, hanya tinggal menunggu waktu berangkat. Kuayunkan langkah kaki ke ambang pintu, dan di sana sudah ada dia.

“Tidak ikut melayat?”

“Untuk apa? Kenal pun tidak. Kenapa pula aku juga harus ke sana?”

Dia menarik napas pelan, kemudian melepaskannya beriring dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“Tidakkah kamu ingin membantunya? Membantu orang-orang yang ditinggalkannya? Membantu kedua orang tuanya?”

Bukankah kedua orang tuanya adalah orang yang mampu? Bahkan mungkin jauh di atas kemampuan kedua orang tuaku. Bagaimana aku bisa membantu mereka? Kenal dengan anaknya saja tidak, ingin menghibur juga tidak bisa. Untuk apa datang melayat jika hanya untuk memenuhi rumah duka?

“Bantulah mereka yang menyayanginya, dengan kehadiranmu. Iya, cukup hadir saja. Itu sudah sangat membantu mereka. Memang bukan dibantu dengan materi, tapi dengan dukungan untuk menguatkan,” lanjut dia seakan menjawab pertanyaan yang ada di benakku.

“Hanya dengan aku hadir di sana?”

“Iya. Karena dengan kehadiranmu, dengan keberadaanmu, setidaknya membuat mereka merasa tidak sendiri dalam menghadapi musibah ini. Dan kamu tahu, pamanku bilang pada hadirnya seseorang dalam sebuah prosesi pemakaman, terselip sebuah ketenangan sendiri. Banyaknya mereka yang ada di sana pada saat pemakaman membuat orang-orang yang menyayanginya yakin, bahwa ia yang meninggal adalah orang baik.”

“Jadi….?” Tanyaku berusaha menarik kesimpulan dari pembicaraannya yang sedikit berbelit.

“Hadirnya kamu, hadirnya teman-temannya, dan banyaknya pelayat yang datang pada pemakaman anaknya, bisa membuat orang tua yang ditinggalkannya yakin, bahwa anak mereka semasa hidupnya adalah anak yang baik. Dan sekurang-kurangnya, hal itu sudah membuat diri mereka jadi lebih tenang.”

***********

Terima kasih kepada dia, yang sudah mengajarkan saya tentang arti hadirnya diri kita. Mungkin kita pikir sekadar hadir dalam hidup orang lain yang bahkan tidak kita kenal tidak akan mengubah apa-apa, tidak akan ada nilainya. Tapi ternyata, berbuat baik sekecil apa pun itu tidak pernah bernilai sedikit, selama kebaikan kecil itu berarti bagi orang lain.

Surabaya, 9/9/2015

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s