Anomali

Aku suka waktu kita saling bertatapan. Mulut yang kadang berdusta kini membiarkan mata untuk saling bercengkerama. Tapi kadang aku harap kamu mau membuang muka. Karena seharusnya kita sama-sama tahu, makin lama mata memandang maka makin sulit untuk melepaskan.

Aku senang jika aku berhasil mendekatimu. Jarak yang katanya sakral bukan lagi jadi hal yang tabu. Tapi kadang aku justru ingin kamu mencegahku untuk ada di dekatmu. Karena sebenarnya kita sama-sama tahu, jarak memang tercipta untuk mereka yang belum saatnya bersatu.

Aku takut bila harus patah hati karenamu. Siapa pula yang ingin perasaannya tak berbalas? Tapi kadang aku pikir patah hati saat ini justru adalah hal baik. Kita sudah sama-sama tahu, saling berbalasnya perasaan bukan berarti kita berhak merayakannya.

Aku dan kamu sama-sama benci sendiri, karena artinya harus berkawan dengan sepi dan terbiasa dengan sunyi. Tapi justru dengan kesendirian itu kita jadi mengerti, anomali itu ada: Ketika keinginan hati yang serasa mendesak ternyata tak selalu serta merta harus dituruti. Ketika dorongan jiwa yang terasa kuat justru harus dibendung dengan akal sehat.

Anomali itu aneh, dan lebih aneh lagi karena anomali itu kita nikmati. Anomali itu bernama saling menjaga diri.

Surabaya, 3/9/2015

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

3 thoughts on “Anomali”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s