Surat Bohong

Kamu kira aku menulis puisi-puisi itu hanya untuk kamu? Yang benar saja.

Kamu kira aku berbahasa layaknya pujangga demi memenangkan hatimu? Jangan bercanda

Lantas apa bedanya baju-baju yang menjual kata-kata lucu dengan aku yang menjual kata-kata manis bagimu? Sama saja kan? Keduanya sama-sama menghiburmu dengan caranya masing-masing. Yang satu bisa membuatmu tertawa, yang satu lagi bisa membuatmu merasa dipuja.

Apa istilahnya zaman sekarang, GR? Ge-Er? Gede rasa? Yang itulah pokoknya.

Mungkin kamu kebanyakan nonton sinetron picisan di layar kaca. Sehingga baru kenalan sedikit saja sudah terbayang alur cerita sinetron itu akan terjadi di kehidupan nyata.

Atau mungkin kamu kebanyakan baca novel-novel romantis. Membayangkan dirimu layaknya tokoh utama yang seluruh kejadian di alam ini berporos pada geraknya.

Jadi tolong, berhenti berbaik-baikan kepadaku.

Berhenti menyapaku dengan ramah. Siapa pula yang kuat kalau setiap pagi harus terus berbasa-basi?

Berhenti menebar senyum padaku. Wajahku pegal menyambutnya dengan senyum yang sama.

Berhenti mendekat denganku. Aku lelah kalau harus terus berpindah.

Karena bagiku, kamu bukan siapa-siapa.

Yogyakarta, ketika aku sedang tidak ingin bertemu denganmu
29/07/2015

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s