Bukan Untuk Menunggu Alasanmu

image

Mungkin, waktumu sudah terlalu banyak digunakan di luar. Sehingga ketika kamu tiba di rumah, hanya sedikit waktu yang bisa kamu pakai untuk keluargamu. Apa alasanmu, tak punya waktu?

Mungkin, senyummu sudah terlalu banyak kamu umbar di luar. Membiarkan dunia luar ceria atas wajahmu yang menyenangkan. Sehingga ketika kamu tiba di rumah, yang tersisa hanya wajah penuh peluh. Bahkan keluargamu tidak berkesempatan melihat wajah menyenangkan itu. Apa alasanmu, lelah?

Mungkin, kamu memang aktivis penebar kebaikan. Sibuk di luar dengan agenda-agenda kebaikan yang sudah kamu jadwalkan. Sehingga ketika kamu tiba di rumah, tak ada lagi kebaikan yang bisa kamu tebar. Kebaikan yang kamu sebar di luar, tak ada satu pun terasa oleh keluargamu. Apa alasanmu, terlalu sibuk?

Dan ketika kesempatan itu datang padamu untuk mencurahkan waktu, untuk memberikan senyum terbaikmu, untuk menebar kebaikan kepada keluargamu, kamu justru sibuk dengan gadget kecilmu. Gadget yang konon mampu mendekatkan mereka yang jauh, tapi pada kenyataannya hanya menjauhkan mereka yang dekat.

Kamu sibuk merangkai kata-kata manis, menebar permohonan maaf lahir batin, sibuk bertanya kabar rekan kerja, rajin menyapa kawan sejawat, tapi lupa kepada mereka yang menunggu perhatianmu. Mereka, keluargamu. Apa alasanmu, untuk silaturahmi?

Bukankah keluarga adalah orang pertama yang paling berhak mendapatkan kebaikanmu? Bukankah merekalah yang paling layak mendapatkan senyum terbaikmu? Dan ketika kamu tak mampu melakukannya (atau mungkin tak mau?), kamu hanya bisa membuat-buat alasan. Alasan palsu yang kamu kira bisa mengisi kekosongan hati mereka.

Hei, hati mereka kosong bukan karena ketiadaanmu. Kamu ada. Kamu nyata. Kamu memang bersama mereka. Tapi ke mana jiwamu berada? Ke mana perhatianmu tertuju? Ke mana pikiranmu sebenarnya? Entahlah. Entah alasan mana lagi yang akan kamu gunakan.

Tak sadar kamu pun menjadi asing bagi keluarga sendiri. Dan keluargamu pun asing bagi dirimu. Hingga saat itu tiba, masih bergunakah alasan?

Sebuah catatan 5 Syawal. Dalam perjalanan Bandung-Bogor
20/07/2015

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s