Pengejar Pelangi

umbrella

Jika hujan lebat mereda, wajar kalau setiap orang mengharap datangnya pelangi. Setelah sekian lama diguyur hujan dan dinaungi langit gelap berawan, tak salah kan jika kita menengok ke atas? Mencari sebusur me-ji-ku-hi-bi-ni-u melengkung tinggi, segaris pelangi yang dipuji dinanti penduduk bumi.

Tapi, tidak semua hujan berujung pelangi. Sering langit hanya menyisakan sebongkah awan menggantung dan seberkas sinar matahari. Tapi toh, tak apa kan? Hidup tidak perlu dibawa susah kalau hanya karena tak ada pelangi. Apa ada yang tega mengutuk semesta karena pelangi tiada?

Karena memang, yang sebenarnya perlu disyukuri bukan sekadar indahnya segaris pelangi. Karena ketika kita menunggu dalam hujan,  tidak melulu hanya menunggu pelangi. Kita menunggu hujan itu reda, menyisakan tanah dan aspal dengan semerbak khasnya. Kita menunggu alam kembali bersahabat, membiarkan sinar mentari mengusir awan pekat. Kita menunggu untuk kembali melangkah, menapakkan kaki melanjutkan kisah.

Tapi ada saja orang yang masih gelisah ketika hujan reda. Ketika yang lain telah siap melanjutkan langkah, ia urung bergerak. Meratap. Meronta karena tak ada pelangi di sana. Sang pengejar pelangi.

Ia hanya mengejar pelangi. Mengidamkannya. Mendambakannya. Ia rela lama menunggu hujan demi pelangi yang dinantikan. Ia rela bertahan di titik yang sama dalam bilangan waktu yang ujungnya pun tak ada yang tahu. Tapi ketika sudah sampai di ujung masa penantian itu, pelangi yang diharapkannya tak muncul. Kecewa. Hanya langit yang bisa ia salahkan. Mendustakan semua nikmat hujan.

Pengejar pelangi itu lupa, bahwa menunggu hujan tidak selalu dibalas dengan indahnya segaris pelangi. Bisa saja ia dibalas dengan wangi semerbak tanah dan bunga. Bisa saja ia dibalas dengan udara segar dan napas yang lega. Bisa saja ia dibalas dengan langit cerah bersahaja. Menunggu hujan itu pasti dibalas dengan indah kok, tergantung bagaimana penerimaan kitaTergantung apakah kita mau memperhatikan dan mensyukurinya.

Dan adakah kita seperti pengejar pelangi itu?

Selalu mendamba dan menunggu, mengejar dan memburu, hingga habis di ujung waktu. Dan ketika kita tidak meraih apa yang kita kejar, dengan sombongnya kita merasa berhak untuk menyalahkan langit. Merasa sah-sah saja mengumpat nasib. Jika terus dibiarkan demikian, maka nafsunya akan terus menuntut tanpa pernah merasa cukup. Meski tangan sudah penuh dengan pencapaian, tapi matanya masih penuh dengan ambisi. Masih sibuk mengejar pelangi.

Karena itu, jangan suka terburu-buru. Setelah lama bertahan menunggu hujan, jangan langsung keluar, mendongakkan kepala mencari pelangi yang ada di atas sana. Ada kalanya kita perlu mengambil satu langkah ke belakang, memberikan mata sudut pandang lebih luas, dan melihat apa-apa yang terhampar di depan. Coba lihat dedaunan basah sehabis hujan. Coba lihat kuncup-kuncup bunga kembang bermekaran. Coba hirup segarnya wangi petrichor jalanan. Agar sadar bahwa apa yang kita cari sebenarnya tidak selalu berada jauh di atas, tapi ternyata dekat di hadapan kita. Agar sadar bahwa masih banyak hal yang mesti kita hargai jika memang kita mau membuka mata. Agar kita menjadi makhluk yang pandai bersyukur.

Dhuha di Ahad ceria

Surabaya, 10/5/2015

 image source: tumblr

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s