Drama Semesta

daun

“Kenapa kita harus begini? Bukankah tak ada gunanya lagi bersembunyi?” Kamu bertanya padaku, masih dengan sembap di pelupuk matamu. Bekas sedu sedanmu tadi.

“Haruskah semuanya terjawab sekarang juga? Tak bisakah kamu menunggu sedikit lagi?” Jawabku. Bukan memberikan jawaban sebenarnya, aku justru balik bertanya. Sejujurnya, aku tak bisa mencari kata yang mampu menenangkan dirimu.

“Tapi kan kita sudah sama-sama tahu. Apalagi yang kita tunggu? Bahkan dari awal, kita sudah terlalu lama menunggu. Dan saat ini, ketika perasaan kita tak bisa lagi dibohongi, kamu justru ingin menahannya sekali lagi. Apakah kamu sebegitu tega pada hatimu, mudah membiarkan ia membawa beban rindu itu sendirian?” Tangismu meledak lagi. Tajam menusuk ulu hati.

Aku menarik napas. Tanganku menggaruk kepala, mengacak rambut yang sejak awal memang sudah berantakan. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu.

“Apa kamu pikir ini mudah bagiku?”

Kamu masih tertunduk, meneruskan tangis yang mengiris.

“Mengertilah. Tidak ada yang mudah jika sudah menyangkut perasaan. Tapi coba kamu pikir ulang, apa yang bisa kulakukan untukmu saat ini? Aku bahkan belum bisa…”

“Tapi aku ingin merasakannya! Merasa bebas dari rindu yang menggantung di tiap pagi, merasa bebas memandangmu tanpa harus lagi malu-malu, merasa bebas bercerita tentang apa saja yang kurasa. Aku ingin membebaskan perasaanku!” Ungkapmu, yang memotong kalimatku dengan sengit.

Hening. Semesta mungkin berkonspirasi untuk membuat semua ini dramatis. Angin segan berbisik, jangkrik pun enggan berisik. Sengaja menunggu aku menjawab semuanya sekarang juga.

“Apa kamu mau kalau saat ini aku membebaskan perasaanmu, tapi nanti aku juga yang akan memenjarakannya?”

Demi mendengar kalimatku barusan, kamu usap wajahmu yang makin sembap, mengatur posisi duduk. Semesta tak lagi hening. Beberapa ekor jangkrik sudah ada yang berani mengusik.

“Untuk apa saat ini aku membebaskan perasaanmu, tapi nanti aku yang justru akan memenjarakannya? Untuk apa sekarang merayakan cinta, tapi nanti malah mengutuknya? Hari ini mungkin kamu melihatku sebagai kekasih yang selalu kamu puji, tapi bisa jadi besok kamu melihatku sebagai orang asing yang tak pernah kamu temui.”

Duhai, betapa berat kata yang kuucap tadi. Hari ini kekasih dan besok orang asing? Kejamnya perasaan memperlakukan orang yang pernah kita sayang. Membayangkannya saja sudah membuatku bergidik sendiri.

“Tapi…” Kamu menarik napas dalam-dalam, mencoba menghirup penjelasan yang aku berikan.

“Aku selalu merasa nyaman bila bersama denganmu, dan aku selalu yakin hal itu,” Ungkapmu. Tak sadar ada setitik air mata jatuh di sana.

“Mungkin sekarang aku bisa memberimu kenyamanan, tapi tidak dengan kepastian. Karena itu, dengarkan dulu penjelasanku. Aku bahkan belum bisa memberimu kepastian. Hati mudah sekali berubah, bukan? Hari ini mencinta, besok menista. Hari ini rujuk, besok merajuk. Hari ini merindu, besok beradu. Berikan hati ini waktu untuk menemukannya, menemukan seseorang yang berani memberi dan berani berjanji, seseorang yang akan membebaskan perasaan. Karena memang, perasaan tidak akan bebas jika tidak berujung kepastian.”

Hening, lagi. Kini hanya daun yang nekat bergerisik.

“Kapan? Kapan aku menjemput kepastian itu?” Tanyamu pelan. Semoga itu pertanda penjelasanku tadi mengikis bebanmu.

“Tidak ada yang tahu. Pupuk hatimu dengan pemahaman yang baik dan pengertian yang benar, dan biarkan ia yang akan menemukannya sendiri. Jika hati itu siap, maka pasti ia akan segera menemuinya, menemui kepastian itu tadi.” 

Hening. Sempurna sudah konspirasi semesta mendramatisasi: Meninggalkan kita berdua dalam sepi, membiarkan kita tenggelam dalam pikiran sendiri-sendiri. Tanpa angin yang berbisik. Tanpa jangkrik yang berisik. Tanpa daun yang bergerisik.

Surabaya, ba’da subuh

16/4/2015

image source: tumblr

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s