Caraku Memahamimu

bookshelf

Aku termenung di depan rak-rak buku itu. Memandangi satu per satu judul yang berderet di sana. Apa judulnya tadi? Aku lupa mau mencari apa. Yang jelas apa yang kucari adalah buku yang kemarin kamu baca. Sebenarnya, aku ingin membaca apa yang kamu baca.

Tanganku mulai menyusuri buku-buku yang berjejeran itu. Jari-jariku lincah berpindah dari satu buku ke buku lainnya. Mungkin karena mataku telah terbiasa menangkap bayanganmu yang sekelebat itu, ya? Mataku cepat menangkap deretan aksara, mengeja, membaca, dan mengeliminasi buku yang tidak kucari. Hingga akhirnya kutemukan buku itu, buku bersampul kehijauan dengan nama penulis yang aneh dan judul yang sedikit susah dihapal: Daun yang Gugur...eh…Daun yang Jatuh Tak…apa? Masa bodoh dengan judul panjangnya. Yang kutahu buku itulah yang kucari, buku yang kemarin kamu baca.

Tengok kanan kiri, tak ada siapa-siapa. Tanganku nakal melepas pembungkus plastiknya. Kubuka sembarang halaman, mencicipi kata per kata yang kuyakin pernah kamu baca. Ah, pasti ini bukunya, buku yang kucari gara-gara kamu. Mantap kupilih buku itu. Tak lupa aku kembalikan buku yang sudah kulepas dari plastiknya dan kutukar dengan yang baru. Buku itu jadi buku wajibku. Buku yang katanya turut membentuk pemahamanmu, yang membuatku kagum atas pandangan-pandanganmu, yang membuatmu mengerti banyak hal dalam hidup. Sebenarnya, aku ingin mengerti apa yang kamu pahami.

**********

Tak banyak yang aku ketahui tentang kamu. Selain perkenalan canggung itu, pertemuan denganmu tak lebih dari sekadar mata berpandangan sepersekian detik, dihiasi senyum tersungging tipis, dilanjutkan dengan sedikit anggukan takzim, dan diakhiri dengan langkah cepat saling menjauhi. Itu bahkan bukan pertemuan. Hanya berpapasan.

Sulit sekali untuk menjangkaumu. Bukan karena kamu sombong atau apa, tapi karena lemahnya aku di depanmu. Pertahananku porak poranda dijebol senyummu. Sekuat apapun hatiku ditata, ia luluh lantak diterjang sapamu. Semua kata yang telah disiapkan tertelan begitu saja ketika kita bersitatap, ketika mataku bertemu matamu.

Bagaimana aku menjangkaumu? Secara fisik kita selalu jauh. Kalaupun dekat, aku tak pernah bisa menghampiri. Di antara kita, ada sekat yang tak terlihat. Ada jeda untuk menjaga. Ada jarak yang memang belum bisa kulewati, setidaknya untuk saat ini.

Lalu, bagaimana aku menjangkaumu? Sebegitu sulitkah untuk bisa memahamimu?

Tell me what you read and I will tell you who you are (François Mauriac)

Hanya lewat buku aku bisa menjangkaumu. Mungkin tidak secara fisik, tapi cukup untuk membuatku mengerti tentang kamu. Buku membantuku menjangkau ruang-ruang hatimu dan menelisik sudut-sudut pikiranmu. Cara kerjanya mudah, sama seperti bagaimana kita berinteraksi, tapi lewat buku. Kita berinteraksi dengan buku yang sama, aksara yang sama, paragraf yang sama, lembaran-lembaran yang sama. Dan bagiku, itu sudah cukup.

Kini aku mulai paham tentang kamu dan duniamu. Mulai paham perkataanmu tentang hidup yang harus saling menerima, tentang berdamai dengan keadaan, tentang menjaga perasaan, tentang semua yang dari hati akan sampai ke hati.

Aku membaca apa yang kamu baca, untuk bisa merasa apa yang kamu rasa, mengerti apa yang kamu pahami. Untuk memahamimu.

Surabaya, di bawah rintik hujan dini hari

15/4/2015

image source: tumblr

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

4 thoughts on “Caraku Memahamimu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s