Kita Tahu, Tapi…

Dictionary definition of Knowledge

Kalau kita selalu mendengarkan khutbah Jum’at, mungkin ada di antara kita -para ikhwan- yang bakal ngerasa bosan. Bosan dengan pembukaannya, bosan dengan khutbatul hajat yang selalu diulang di awal khutbah. Apalagi kalau udah masuk materi khutbah, hipnotisnya Romy Rafael kayaknya kalah deh.

Maafkan saya para khatib yang terhormat, jujur saja saya terkadang bosan kalau mendengarkan khutbah Jum’at. Materi-materi yang disampaikan umum, itu-itu aja, dan terkesan monoton. Atau mungkin saya aja yang agak kurang ikhlas ya? Haha. Tapi beneran deh, bukannya banyak materi khutbah Jum’at itu yang sebenarnya sudah kita tahu? Kita semua tahu kok tentang perintah bertakwa kepada Allah, menuruti segala perintah-Nya, dan menjauhi semua larangan-Nya.

Saya pernah mengadukan ini kepada guru agama saya,

“Kenapa sih khutbah Jum’at isinya gitu-gitu aja? Kan jama’ahnya udah pada tahu apa yang disampein,”

Dan kamu tahu apa jawaban dari guru agama saya tadi? Beliau berkata,

“Iya, sebenarnya banyak yang sudah kita tahu, tapi banyak juga yang sudah kita lupakan. Karena itu kita butuh orang-orang yang mengingatkan kita, bukan sekadar memberi tahu.”

**********

Banyak hal yang sebenarnya sudah kita ketahui, tetapi itu hanya sekadar tahu. Cukup tau aja lah kalau kata orang. Prakteknya? Nol besar. Padahal selama hidup kita, sudah berapa buku yang kita baca? Sudah berapa ceramah yang kita dengarkan? Bukankah sebenarnya banyak yang seharusnya sudah kita ketahui? Tapi kenyataannya? Ah, sudahlah.

Contoh nyata: Orang yang zina juga tahu kalau perbuatannya itu hina, tapi apakah ia ingat hal itu ketika ia melakukannya? Orang yang merampok juga tahu kalau tindakannya itu termasuk tindakan kriminal, tapi apakah ia ingat hal itu ketika melaksanakannya?

Hmm, mungkin contoh yang saya berikan terlalu besar, ya?

Kita tahu bahwa ada perintah ghadul bashar, menundukkan pandangan. Tapi sayang, mata kita terbiasa menikmati keindahan yang membinasakan. Kita tahu bahwa menggunjing adalah kebatilan. Tapi sayang, lidah kita terlanjur menikmati aib orang lain, menikmati bangkai saudara kita sendiri. Karena lupakah? Atau karena kita membiarkan diri kita lupa?

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa…(QS. Al Baqarah: 286)

Ah, betapa kita makhluk yang kurang ajar. Padahal mana yang benar dan mana yang salah telah jelas, tapi kita malah sering berlindung dengan alasan lupa, cari aman dengan alasan alpa.

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu batil dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya

Coretan setelah shalat Jum’at.

Surabaya, 10/4/2015

image source: lonza

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s