Perempuan Di Balik Kaca

baju

Kalau kata kakek saya, jadi perempuan itu…seperti baju yang dijual. Ada yang diobral di keranjang di luar toko, ada yang tersimpan di balik kaca dan terbungkus rapi dengan plastiknya.

Kalau baju diobral, semua orang bebas memegangnya, mencobanya, meraba bahannya. Kalau tidak suka, ya langsung dibuang, dikembalikan di keranjang obralan. Hasilnya? Banyak yang kusut kumal, harganya murah pula. Ia tak bisa memasang harga tinggi.

Kalau baju yang ada di balik kaca, semua orang hanya bisa melihatnya, mengidam-idamkannya, tapi tak bisa mencoba memakainya. Hanya mereka yang serius, yang memang punya niat dan kemampuan untuk membeli dan memiliki, yang sanggup untuk mengenakannya. Hasilnya? Harganya jelas di atas yang diobral di keranjang sana. Ia masih bernilai tinggi, bajunya pun masih rapi dan wangi.

Sama kayak baju, ada perempuan yang rela diobral. Ia biarkan dirinya dipegang dan dicoba banyak orang. Awalnya mungkin ia senang, karena terkesan semuanya berebut memilikinya. Hingga akhirnya ia sadar bahwa ia kusut dan tak lagi berharga, bahwa ketika orang tak suka maka dengan mudah ia dikembalikan dan dilupakan.

Ada juga perempuan yang tersimpan di balik kaca. Ia hanya bisa diam, menunggu seseorang akan menjemputnya. Ia bungkus baik-baik keindahannya, agar yang bisa menikmatinya hanya yang layak seorang. Mungkin ia kesepian menanti di balik kaca, sepi melihat orang lalu lalang mengabaikan. Hingga akhirnya seseorang datang menjemput dengan sebaik-baiknya persiapan, seseorang yang menghargainya dengan sempurna.

Ya, jadilah perempuan di balik kaca, yang tak membiarkan sembarang orang untuk masuk ke dalam kehidupannya. Jadilah perempuan di balik kaca, yang tak mudah memberikan hatinya ke siapa saja yang mendekatinya. Jadilah perempuan di balik kaca, yang tak rela direndahkan oleh rayu cinta picisan.

Jadilah perempuan di balik kaca, yang walau ia menunggu sendirian sejatinya ia idaman yang layak diperjuangkan.

 

Surabaya, ba’da subuh. 

8/3/2015

image source: youtube

 

Advertisements

Published by

Regin Iqbal

penuntut ilmu | pengagum sejarah | penggemar detective conan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s